Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 178 {Season 2: Ilusi}


__ADS_3

“Chloe! Chloe! Oi! Nanti bolunya gosong lho!”


Chloe tersentak kaget ketika mendapatkan tepukan keras di kepala bagian belakangnya. Rupanya Midnight. Wanita berkacamata bulat itu geleng-geleng kepala melihat Chloe yang baru saja terbangunan dari lamunannya.


Sementara, di belakang Midnight, Jacqueline dan Okka sibuk menertawakannya kemudian kembali bekerja tepat saat Midnight berbalik untuk memeriksa kejanggalan yang ada di belakangnya.


Midnight menoleh ke depan, tepatnya berhadapan dengan Chloe langsung.


“Kamu itu mikirin apa sih? Lama kali bengongnya. Udah tahu kamu bikin bolu. Kalau ditinggal bengong gitu, yang ada jadinya bolu neraka,” cibir Midnight pelan. Bermaksud menasehati Chloe tapi cenderung menyindir gadis itu agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.


Chloe yang baru sadar dirinya tadi membuat bolu pandan, reflex bangkit dari kursi makannya, kemudian dengan gesit mengenakan sarung tangan. Gadis itu membuka ovennya, memastikan kematangan bolu yang dia panggang tersebut. Syukurlah, bolunya terpanggang secara merata.


Saat ditusuk menggunakan tusuk lidi. Bolu pandannya tidak kempes. Itu artinya, Chloe memanggangnya dengan sempurna. Baguslah kalau begitu. Artinya, Chloe tinggal memotong bolu pandannya kemudian meletakka beberapa potong kentang goreng dan tiga potong bolu pandang untuk Black Aura.


Di tengah asyiknya merangkai hidangan yang akan ia berikan pada Black Aura, saat itulah, Chloe membeku. Sesuatu yang aneh baru saja terjadi.


Tunggu dulu… Aku… Apa yang kulakukan sekarang? Bukannya aku udah kasih makan malam ini ya? Bukannya tadi aku naik tangga, terus ketemu Black Aura? batin Chloe penuh tanda tanya.


Gadis itu menelan salivanya susah payah. Lantas, apa maksudnya dengan bolu gosong tadi? Apa maksudnya melamun tadi?


Iris birunya bergetar hebat. Perasaannya diguncang oleh shock berat yang misterius asalnya. Ketika dilihatnya jarum pendek di jam dinding, ternyata masih menunjukkan pukul setengah enam.


“Masih sore?” gumamnya tak percaya.


Iris matanya kemudian mengarah ke Midnight dan Okka yang sedang asyik mengomentari es timun buatan Jacqueline. Di samping mereka, terlihat Jacqueline mengomel karena tidak senang mendengar komentar pedas dari Midnight yang dibantu Okka.


Saat iris birunya kembali memandang piring yang berisikan beberapa potongan kentang dan tiga potong bolu pandan, waktu di sekitar Chloe mendadak berhenti. Seakan semuanya terkesan tak bernyawa dan bergerak.


Chloe tidak yakin kalau yang ia lakukan sebelumnya hanyalah sebatas lamunannya. Chloe tidak yakin bolu yang baru saja ia hidangkan ini nyata. Dia yakin bahwa dirinya saat ini berada di alam mimpi. Yang mana dirinya yang asli sedang tertidur sambil meletakkan kepalanya di pundak Black Aura.


“Lho, Chloe? Kenapa diam aja? Mau bawain Black Aura makan malam ya?” tanya Jacqueline.


“Oh, Black Aura ada di atap sekarang. Mumpung sendirian, samperin aja dia langsung,” timpal Midnight santai.


“Cye… So sweet kali sih kalian! Gimana kalau kita biarkan Chloe dan Black Aura makan berdua aja di atap. Rasanya agak gimana gitu kalau makan bareng sama orang yang lagi pacaran,” gurau Okka setelah itu meledaklah ketawanya.


“Nggak lucu sih, haha…” ejek Jacqueline.


Terlepas dari perang mulut antara Jacqueline dan Okka, Chloe dalam diam membalikkan badannya menghadap pintu dapur. Benar yang dikatakan Midnight. Black Aura di pukul 17.40 ini sedang menikmati indahnya langit oranye di senja hari. Hanya Aura itulah yang menempati atap tersebut. Tidak ada yang lain.


Chloe masih ingat dengan jelas pembicaraan mereka saat itu. Salah satunya adalah:


“Ya, capeklah, bodoh!”

__ADS_1


“Tapi, kalau sudah terlanjur cinta, bagaimana?”


Saat jarum panjang mengarah ke angkat sebelas, isi kepala Chloe seketika berantakan. Gadis itu mendadak sulit membedakan mana yang nyata dengan tidak. Selama ini, Chloe merasa mentalnya baik-baik saja. Meskipun dia sering melamun di saat tertentu, Chloe jarang sekali sampai mengalami istilah halusinasi.


Kata-kata yang Black Aura katakan waktu itu terdengar sangat jelas di telingannya. Senyum tipis Aura itu juga. Manik violet dan air matanya juga. Lantas, kenapa kejadian di atap itu harus berakhir sebagai ilusi?


Nggak mungkinkan? Aku nggak mungkin berhalusinasi!


Chloe yang muak dengan kekacauan di pikirannya, memutuskan untuk mencari kedamaian di atap tempat di mana Black Aura bersantai.


Jantungnya berdegup kencang. Tapi, kesannya berbeda dari yang sebulan lalu ia rasakan. Jantungnya berdegup tak stabil bukan karena berdebar melainkan, takut melihat Black Aura menolak kehadirannya.


“Black Aura masih mau menerimaku, kan? Ya, kan?” gumam Chloe gugup.


Di depannya saat ini terdapat puluhan anak tangga yang akan mengantarkannya ke rooftop. Pintu yang menghubungkan gelapnya lorong yang akan Chloe lewati nanti dengan rooftop tempat Black Aura bersantai terlihat jelas tertutup sangat rapat.


Sebelum kaki kanannya menaiki anak tangga pertama, Chloe menarik nafasnya perlahan. Kemudian membuangnya.


“Aku pasti bisa! Aku pasti bisa membuat Black Aura kembali bersama…”


Kriet…


Jauh di luar dugaannya, Black Aura yang Chloe kira masih menonton proses tenggelamnya matahari itu ternyata membuka pintu yang tertutup rapat itu dan membeku di tempat.


Black Aura yang lumayan terkejut mendapati Chloe yang berdiri tak jauh di depannya, kembali melangkah menuruni beberapa anak tangga.


Sempat Chloe kira Black Aura akan menghampirinya dan tersenyum ke arahnya. Tapi, kenyataan kali ini justru lebih menyakitkan dari Chloe yang menyadari bahwa kejadian manis di atap beberapa menit yang lalu hanya sebatas ilusi. Siapa sangka, Aura itu tetap melanjutkan langkahnya tanpa menyapa Chloe sedikitpun. Seolah Chloe di sampingnya hanyalah angin lalu tak berarti. Hanya sebatas lampu jalan yang sudah lama mati.


“Eh?”


Dia mengabaikanku? Nggak mungkin kan?


Chloe menoleh ke belakang dan tertegun mengetahui Black Aura yang semakin jauh sosoknya dari Chloe. Langkah Aura itu membawa pemiliknya ke ruang makan tempat seharusnya mereka berkumpul malam ini.


“Jadi begitu ya? Kau marah padaku. Karena aku…” Chloe memandang sejenak piring yang berisikan kentang dan tiga bolu pandan itu. Renyah dan lembut tampaknya agak sulit dipadukan. Terlebih lagi, bolu itu termasuk dalam kategori dessert.


“Padahal, ritualnya besok. Tapi, kenapa hari ini aku malah menghancurkan segalanya? Kenapa?”


Chloe terdiam. Tampaknya, dibujuk dengan untaian kata manis pun percuma. Aura itu tak akan kembali menjadi sosok Black Aura yang perhatian dan hangat seperti dulu.


Mungkin, inilah akhir dari ikatan mereka. Chloe merasa bodoh telah masuk ke dunia fantasi ini. Black Aura yang merupakan alasan Chloe datang ke Carnater pergi meninggalkannya. Sakit. Sakit.


Chloe sampai kesulitan bernafas saking sakitnya dadanya saat itu.

__ADS_1


Black Aura yang biasanya akan datang menolongnya, menyembuhkan rasa sakitnya, dan memberi kehangatan kini tidak ada lagi di sampingnya.


“Dia pergi… Dia pergi… Ini semua salahku. Salah Ethan. Salahku. Salah Ethan.”


Chloe mulai membual tak jelas bersamaan dengan air mata yang meluap. Meskipun suhu di lorong saat itu terasa sangat dingin, Chloe justru merasa kepanasan. Kedua kakinya melemas hingga akhirnya tersungkur bersamaan dengan piringnya yang menghantam permukaan lantai.


Berantakan sudah hidangan yang tadinya Chloe niatkan untuk diberikan pada Black Aura kini berserakan di atas lantai.


“Aura… Nggak mungkin kita putus, kan? Nggak mungkin, kan? Nggak mungkin!” Isak tangisnya semakin kencang. Chloe kesepian. Sendirian, tanpa pelukan seseorang menanggung rasa sakitnya seorang diri.


Chloe berharap sekali, semua rasa sakit yang menyerang dadanya itu adalah ilusi.


Chloe berharap, Black Aura yang melintasi dirinya tanpa menyapa itu juga adalah ilusi.


Chloe berharap, kesepiannya ini adalah ilusi.


Chloe berharap, hari ini adalah ilusi.


Cukup. Dirinya sudah tak sanggup lagi menanggung rasa sakit yang tak tertahankan ini. Seperih apapun ujung pedang yang menembus tubuhnya, malah lebih menyakitkan lagi diabaikan oleh orang yang ia sayangi.


Mengabaikan dan diabaikan.


Chloe mengerti sekarang. Black Aura tetaplah Black Aura. Tak peduli berapa banyak dirinya menghadapi perubahan dunia, waktu, dan zaman, sifat pendendamnya sudah menjadi bagian dari dirinya.


“Hiks… Aku nggak mau sendirian. Nggak mau! Aku masih ingin bersama Aura! Aku ingin digendong, gandengan tangan, dan makan kentang bareng dia…”


“Aku ingin bertarung bersamanya. Aku ingin merasakan lebih banyak fantasi bersamanya… Hiks.”


Saat matanya terpejam dan berusaha menghentikan derasnya air matanya, muncullah beberapa potongan memori indah Chloe bersama Black Aura.


Mulai di tengah hutan bersalju, di tengah kota, di hotel, di café, di kapal pesiar, dan di atas pohon.


Bukannya merasa baikan, dada Chloe justru semakin sesak dibuatnya.


Terus terang, cinta pertama Chloe bukanlah Aoi. Bukanlah Ethan. Melainkan Black Aura. Black Aura-lah veronica Chloe.


Warna ungu kelopak veronica itu adalah manik violet Black Aura yang bersinar di tengah gelapnya malam di bawah heningnya rintikan salju. Chloe ingat saat-saat dimana Aura itu berusaha melindunginya dari Aurora yang hendak membunuhnya dengan pisau andalannya.


Saat Chloe ketakutan atau ketika nyawanya terancam, Black Aura selalu memiliki banyak cara untuk melindunginya. Bahkan sampai merelakan dirinya terkena serangan lawannya.


“Apa ini akhir dari cerita fantasi kita?”


~

__ADS_1


__ADS_2