
“Eden? Kenapa Jacqueline memanggilmu dengan nama itu? Dia nggak suka sama nama aslimu ya?” celetuk Chloe sambil menyandar di pintu kanan mobilnya. Dia berbicara tanpa memperdulikan mulutnya yang penuh akan kentang goreng.
“Bukan nggak suka. Dia bilang, wajahku mirip dengan teman masa kecilnya yang bernama Eden,” ralat Devil Mask kembali memasangkan topeng di wajahnya usai melahap lima batang kentang goreng. Meskipun sempat membuka topengnya, Devil Mask tetap merahasiakan wajahnya dari Chloe yang berdiri di hadapannya.
Jika dipikirkan lagi cara makannya, Devil Mask berbalik ke belakang, lalu membuka topengnya. Kemudian, melahap kentang goreng Chloe.
“Enak…”
Chloe manggut-manggut mengerti, “Ooh, aku baru tahu kalau Jacqueline punya teman masa kecil,”
“Yah, itu wajar sih. Karena setiap orang punya teman pertama dalam hidup mereka. Kau sendiri?”
“Hmm… Aku nggak punya teman masa kecil kecuali teman SMA. Punya SMP dan SD, tapi mereka nggak menyenangkan. Nggak seperti Aoi dan Jacqueline. Mereka kawan SMA-ku.”
Chloe menoleh ke kanan ketika telinganya merespon suara mesin mobil yang menyala menghampiri pekarangan rumahnya.Rupanya Jacqueline dan Aoi. Mereka secara bersamaan keluar dari mobil dan menghampiri Chloe.
Setiap kali pergi bersama Aoi, tangan Jacqueline tak pernah kosong. Selalu saja ada yang dia genggam setiap kali berkunjung ke rumah Chloe.
“Ambil ini! Mochi!” suruh Jacqueline.
“Makasih!” balas Chloe menerima kotak mocha tersebut dengan senang hati.
Setelah Jacqueline, Aoi melangkah pelan menghampiri Chloe. Pria jepang itu sempat melirik ke kiri dan kanan. Memperhatikan suasana rumah Chloe yang hangat.
“Black Aura masih belum bangun?” tanya Aoi sambil menutup kembali pintu mobilnya. Setelah itu, dia membuka ponselnya untuk melihat jam. “Masih pagi,” katanya.
“Belum. Ini udah tiga hari tapi nggak ada respon juga pas aku bangunin,” jelas Chloe. Yang tadinya wajahnya cerah, mendadak jadi murung karena pertanyaan yang Aoi ajukan padanya.
Menyadari itu, Jacqueline langsung menyentil telinga Aoi karena sudah membuat hati Chloe terluka. “Kau ini! Jangan mengingatkannya pada pacarnya dong!”
“Sorry, sorry! Aku Cuma penasaran gimana kabar Black Aura. Selain itu, kami nggak ada menemukan keberadaan Elena sedikitpun. Aneh. Kemana sih, dia? Ini berlebihan tahu sampai-sampai menghilangkan orang lain!” kata Aoi kesal.
“Kau benar. Midnight bilang, hari ini dia mau cari Elena… Cih, aku nggak nyangka kalau dia itu merahasiakan nama aslinya. Aku nggak nyangka, orang yang udah merebut kebahagiaanku itu kawannya Midnight,” gerutu Chloe tiba-tiba.
Aoi dan Jacqueline mematung mendapati Chloe seperti itu. Aish, lagi-lagi, anak itu terjerat ingatan masa lalu lagi. Tapi, wajar saja. Karena Chloe itu manusia. Dan manusiawi jika dia sulit memaafkan orang lain.
“Yah, simple aja, Chloe. Kalau kau nggak mau ikut, ya, kau di rumah aja. Ngapain kek gitu yang bisa menghibur perasaanmu,” timpal Jacqueline enteng.
“Aku tahu. Tapi, aku masih nggak nyangka aja, orang-orang ini ternyata punya hubungan dengan Midnight. Tapi, apa jangan-jangan, salah satu keluargaku juga punya hubungan dengan Midnight? Kalau punya, berarti aku ini bisa terlibat dalam hal-hal yang berbau fantasi dong?!” Chloe yang awalnya murung, mendadak menjadi senang ketika pikirannya teralihkan ke kejadian fantasi yang dialami selama ini dan Midnight sebagai salah satu tokoh yang memiliki pemahaman yang lebih tentang fantasi tersebut.
Seketika, matanya berbinar sekaligus kagum akan dirinya yang sudah memperoleh pengalaman terbaik tersebut.
“Nah, kau nggak perlu menyentilku tadi. Chloe itu bisa menghibur dirinya sendiri,” bisik Aoi pada Jacqueline.
Jacqueline yang heran dengan tingkah Chloe mau tak mau mengiyakan saja apa yang Aoi bilang. Meskipun dia masih sulit menghilangkan rasa herannya. Akan tetapi, melihat Chloe sedikit membaik itu sudah cukup.
__ADS_1
“Chloe, kalau Black Aura udah bangun, kabari kami ya!” ucap Jacqueline.
“Lho? Kalian mau pergi lagi?” tanya Chloe. Matanya membulat sempurna. Tanpa dia sadari, ekspresinya itu membuat Aoi terenyuh karena keimutan gadis berambut pirang tersebut.
Ingat, Aoi! Kau udah punya pacar! Batin Jacqueline sedikit jengkel setelah menyadari ekspresi terenyuh Aoi.
“Iya. Bibi Sato sakit, jadi kami mau jenguk dia,” jelas Jacqueline.
“Eh? Bibi Sato sakit? Kenapa nggak bilang dari kemarin? Anu, aku juga mau ikut jenguk!” seru Chloe beranjak dari mobilnya kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Selang beberapa detik setelah Chloe masuk ke dalam rumahnya, Jacqueline melirik kearah Devil Mask disertai dengan senyuman licik.
“Kenapa gitu senyumnya?” tanya Devil Mask merasa aneh.
“Nggak ada… Cuma, kok tumben sekali kau diam,” balas Jacqueline.
Devil Mask menghela pelan. “Kalian nggak ada ngajak aku ngobrol sih, makanya aku diam.”
“Benar juga. Oh, ya! Ethan masih sama kalian?”
“Masih. Dia lagi jagain Black Aura sekarang,” Devil Mask menoleh ke pintu masuk. Rupanya Chloe disana sedang mengenakan sepatu talinya kemudian, beranjak menuju tempat mereka berkumpul saat ini.
Rautnya datar. Jelas sekali artinya Black Aura masih belum bangun dari tidurnya. Aneh.
“Aneh apanya?” tanya Aoi penasaran.
Saat daun terjatuh dan mengapung di atas genangan air, di sanalah bayangan wajah Jacqueline terpantul. Gadis itu mulai membeberkan isi kepalanya mengenai keanehan yang dialami Black Aura saat ini.
“Spesies kalian itu nggak tidur kan?”
“Hah?”
Hening. Semuanya seolah berhenti bahkan daun-daun yang berjatuhan mendadak tidak beraktivitas sama sekali karena omongan Jacqueline barusan.
“Aneh ya?” ulang Devil Mask dengan tangan yang diletakkan di dagunya.
“Mungkinkah ini, ulahnya Legend Aura? Tapi siapa?”
“Midnight pasti tahu. Cuma, dia lagi nggak disini,” Jacqueline membuka ponselnya lalu mencari kontak Midnight. “Mungkin, Okka tahu dimana Midnight berada.”
“Tunggu Jacqueline! Lebih baik, kalian bertiga nggak usah ikut campur lagi!” halang Devil Mask tiba-tiba.
Jacqueline dan Aoi terperanjat disertai ekspresi penuh tanda tanya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Pokoknya, yang ini udah bukan urusan kalian lagi. Aku minta, kalian urusin hidup kalian aja daripada ngurusin hidup orang lain,” jelas Devil Mask. “Aku pergi dulu, bye!” pamitnya setelah itu membuka portal dan masuk ke dalamnya.
Tidak diketahui kemana perginya Aura bertopeng kucing itu. Yang jelas, Aoi dan Jacqueline tidak bisa menolak perginya Devil Mask.
“Kalau urusan Elena, kayaknya biar mereka aja yang urus…” ucap Aoi memandang ke arah pintu rumah Chloe dimana sahabatnya itu baru saja selesai mengikat tali sepatunya.
“Iya. Kita juga harus memberitahu ini pada Chloe,” tambah Jacqueline.
~
Black Aura masih belum bangun ya? Ini udah tiga hari lho… Batin Chloe murung.
Gadis itu melangkah menuju tempat Aoi dan Jacqueline berada. Dengan tampilan yang menarik tentunya.
Sesampai disana, Chloe tertegun. “Mana Devil Mask?”
“Dia pergi,” jawab Jacqueline. Punggungnya yang tadi menempel dengan pintu mobil Aoi, kini menjauh untuk mendekati Chloe.
Jacqueline menarik tangan Chloe sambil berkata, “Yuk, jalan-jalan!”
“Jalan-jalan?!”
“Iya! Kita ke toko bunga yuk!” timpal Aoi.
“Hmm, apa nggak papa kalau aku ikut? Entar, aku malah ganggu kencan kalian pula,” lirih Chloe tak percaya diri.
“Ah, ngapain ganggu! Kau kan bestie kami! Yuk!” Jacqueline membuka pintu mobil bagian kursi belakang, setelah itu, mendorong Chloe masuk ke dalamnya.
Akibat dorongan Jacqueline yang begitu kuat, Chloe jadi tersandung dan menghantam permukaan kursi mobil bagian belakang.
“Aduh!”
“Maaf, abisnya, Chloe lama sih!” seru Jacqueline disusul dengan suara pintu yang tertutup rapat.
“Yuk, Ao!”
“Ayo!”
Kedua remaja itu tanpa pikir panjang masuk sekaligus membanting pintu mobil Aoi. Selang beberapa menit setelah memanaskan mobil, Aoi langsung tancap gas menuju tempat yang akan mereka kunjungi.
Dengan mengajak Chloe keluar, Jacqueline berharap, Chloe tidak terus-terusan mengkhawatirkan Black Aura.
Terlalu sering mengkhawatirkan orang itu melelahkan lho, meskipun itu kebaikan.Batin Jacquline sambil memandang Chloe yang tengah menyisir rambutnya.
~
__ADS_1