
Chloe dan Jacqueline mematung setelah mengetahui aktivitas mereka ternyata diperhatikan oleh seseorang yang kini berdiri di ambang pintu. Aura dengan rambut hijau, jaket hijau, dan telinga serigala itu juga mematung dengan ekspresi heran.
Jean namanya. Gadis itu menelengkan kepalanya tidak percaya dengan kehadiran kedua remaja yang tengah mengacak-acak gaun di sebuah toko pakaian dengan wajah sembab. “Kalian manusia kan?” tanyanya berusaha memberanikan dirinya. Selain itu, Jean juga telah mempersiapkan katana panjang di balik punggungnya. Sekedar antisipasi jika kedua remaja itu tiba-tiba bergerak dan memburunya.
Jean berjalan perlahan-lahan, mendekati Chloe dan Jacqueline yang terlihat memasang posisi waspada. Terutama Chloe yang tampak tak senang dengan kehadiran Jean.
“Kau di belakangku saja. Telpon Aoi!” bisiknya yang langsung ditanggapi cepat oleh Jacqueline.
Jari-jari Jacqueline dengan lihai menari di atas layar ponsel sambil menekan huruf-huruf hingga membentuk nama Aoi. “Halo, Ao… Kau sama Black Aura dimana? Cepat ke toko baju! Kami dalam bahaya!”
“Kenapa beb? Ada Aura lain?” tanya Aoi diseberang sana. Samar-samar, Jacqueline mendengar suara langkah kaki Aoi dan Black Aura yang terburu-buru. Lalu, disusul dengan suara pintu yang terbuka.
“Iya. Aku nggak tahu dia siapa. Intinya, aku dan Chloe terdesak. Kalau kami kabur, kami bisa dilahap sama dia!” bisik Jacqueline nyaris saja berteriak. Teleponnya dengan Aoi segera dia matikan lantaran khawatir dengan Chloe yang tengah melindunginya saat ini.
Sementara, langkah Jean semakin mendekat ke arah mereka. “Jangan takut. Aku kesini bukan untuk membunuh kalian. Aku ditugaskan mencari manusia yang tersesat. Karena itulah…”
“BEB! CHLOE! KALIAN DI DALAM?!” sambar Aoi usai mendobrak pintu toko yang aslinya tidak terkunci itu. Alhasil, pintu yang ia dobrak itu terlempar menghantam meja kasir dan melayang tepat di belakang Jacqueline.
__ADS_1
Tubuh Jacqueline seketika menegang karena kehadiran pacarnya bersamaan dengan suara pintu yang terjatuh. Epic bukan?
Terlepas dari kegaduhan itu, pandangan Black Aura yang mengarah kemana-mana karena panik itu akhirnya berhenti dan tertuju pada Jean yang kebetulan pandangan mereka bertemu di waktu yang sama. Black Aura segera mengeluarkan pandangannya mana tahu Jean termasuk salah satu Aura yang dikendalikan kewarasannya. Begitu pula dengan Jean yang masih menganggap Black Aura itu sebagai musuhnya. Meskipun sudah dikatakan berulang kali oleh Megawave kalau mereka dan Megavile harus bekerja sama demi membangun kembali Carnater, selain Aoi, masih ada Jean dan Chariot yang menaruh dendam pada Midnight karena telah memisahkan mereka dengan sahabat manusia mereka Afra.
Mereka juga menganggap kalau Chloe, teman medis mereka sekaligus pacar Megawave itu tewas di tangan Black Aura. Kebencian yang selama ini mereka pendam itu ternyata itu sanggup lagi mereka bending dengan kesabaran. Sehingga perasaan itu mudah sekali menguasai mereka.
Berhubung waktunya tepat dimana Jean dan Black Aura saling bertemu, Jean berpikir, mungkin sudah saatnya dia meluapkan kekesalannya atas kepergian pacar Megawave yang sangat berharga itu. Sangat disayangkan, temannya yang bernama Chariot tidak sedang bersamanya melainkan sedang berpatroli ke tempat lain. Entah di mana Aura api itu berada yang jelas, Jean dengan katananya sendiri harus bisa setidaknya melumpuhkan Black Aura.
Jean berdecak sebal. Sepertinya, manusia yang hendak ia tolong ini berteman dekat dengan Black Aura. Mau tak mau, dia harus membuang jauh niat baiknya menolong tiga remaja itu dan beralih menjadi menghajar Black Aura dan ketiganya.
Black Aura mengeluarkan rantainya bersamaan dengan Jean yang mengeluarkan katananya.
Kesempatan mumpung Jean meronta-ronta karena kesakitan, Chloe dengan cepat menarik Jacqueline dan menjauh dari Jean. Mereka berdua berjalan cepat tanpa memperdulikan sepatu mereka yang menginjak-injak gaun yang berceceran di lantai itu. Jacqueline sempat menyayangkan keindahan gaun tersebut. Akan tetapi, tidak ada waktu untuk mengasihi benda mati. Nyawa dan keselamatan merekalah yang diutamakan.
Sekali lagi, Jean berdecak sebal. Gadis itu mengeluarkan dua katana panjangnya kemudian melemparnya ke atas. Saat jatuh, katana yang awalnya berjumlah dua itu bertambah menjadi dua puluh katana yang berjatuhan di lantai.
Suara angin yang sedari tadi tidak bersama mereka akhirnya muncul dan menyapu leher mereka. Baik Black Aura maupun ketiga remaja itu terkejut akan kehadiran dua puluh Jean. Ya, Aura bertelinga serigala itu menggunakan kemampuan bayangan serta pengalihan perhatian lawannya menggunakan suara angin.
__ADS_1
Jean menyeringai, meskipun dalam hatinya ia ragu. Bisa tidaknya dia melawan Black Aura itu nanti. Yang diutamakan terlebih dahulu adalah bagaimana cara dia mengalahkan Black Aura dan mencari tahu alasan kenapa pedang Black Aura itu bisa tertancap di dada temannya.
“Rasakan ini!” Dua puluh Jean beserta yang asli itu mengeluarkan tebasannya. Sungguh di luar dugaan Chloe dan kedua sahabatnya kalau tebasan gadis bertelinga serigala itu bisa merusak bahkan melukai siapapun di depannya. Apalagi, jumlah Jean dan bayangannya adalah dua puluh. Peluang mereka untuk kabur dan menghindar sangatlah kecil.
Chloe menggigit bibirnya panik. Tapi Black Aura yang berada di belakangnya selalu punya solusi dalam situasi yang tidak mendesak seperti ini.
Black Aura maju, membelakangi Chloe yang ketakutan. “Kalau dia mengeluarkan tebasan lagi, usahakan kalian bertiga langsung menunduk ya!” pinta Black Aura dengan suara lembut.
“Heh?” Chloe menelengkan kepalanya. Dia yang dulunya tidak mengerti itu, tak memakan waktu lama akhirnya paham. Chloe menghela nafas pelan. Dia mengerti dengan rencana Black Aura. “Oke, honey…”
Ada yang aneh. Chloe merasa ada yang janggal dengan sekitarnya terutama Jean yang berdiri di hadapannya. Chloe mengira, gadis itu akan mematung dengan ekspresi terkejut saat melihat wajahnya yang mirip dengan pacarnya Megawave. Namun, kenyataan yang ia lihat saat ini berbanding terbalik dengan pekerjaannya. Chloe jadi semakin ragu dengan sepuluh menit ke depannya. Dia takut, kalau dirinya ini disangka sebagai reinkarnasi Chloe pacar Megawave.
Suara angin itu lagi-lagi terdengar. Seperti lantunan piano yang dimainkan dengan penuh penghayatan. Tanpa mereka sadari, ketiga remaja itu tenggelam dalam alunan musik di dalam angin yang tidak memiliki suara sama sekali.
Rasa kantuk perlahan-lahan menyerang mata mereka. Seketika, Chloe kehilangan keseimbangannya. Sama seperti Jacqueline dan Aoi. Mereka berdua malah lebih dulu terjatuh dan tanpa mereka sadari, wajah mereka sudah bersentuhan langsung dengan lantai toko yang berdebu itu.
Black Aura terkejut mendapati teman-temannya yang jatuh pingsan karena musik tidur dari sang angin. Musik tidur dari sang angin adalah salah satu kemampuan Jean. Jika lawannya terserang rasa panik, dengan bantuan angin, Jean menetralisir panik tersebut hingga berujung ke rasa kantuk yang tak tertahankan. Mereka yang belum terbiasa dengan serangan itu sudah otomatis akan tertidur selama pertarungang itu berlangsung.
__ADS_1
Tatapan Black Aura berubah menjadi heran. Aura itu menepuk jidatnya. “Hahh… Kalian ini bagaimana sih?” gumam Black Aura. Kalau begini jadinya, terpaksa Black Aura harus mengangkat satu per satu tubuh tiga sahabat itu sebelum akhirnya Jean mengamuk layaknya tornado yang melahap rumah-rumah.
~