
“Eh, bunyi?”
Kening Midnight berkerut saat dirinya yang tengah fokus membaca buku mantra, teralihkan sebentar oleh Silentwave yang menghampirinya sambil menepuk pelan pundak mamanya.
Mereka berdua bertelepati mengenai ponsel Midnight yang berdering saat Silentwave hendak memenangkan game balapan mobil. Aura itu terpaksa menelan pil pahit lantaran, garis finish yang tersisa sepersekian meter itu harus kandas karena seseorang atau nomor mistirius muncul di layar ponsel ibunya. Hal itu membuat Silentwave mau tak mau harus memberikan ponsel tersebut pada pemiliknya, Midnight.
“Siapa ini? Kalau mahasiswa… Semuanya udah kusimpan nomornya,” gumam Midnight sambil berusaha mengingat nama mahasiswa di kampusnya yang belum dia simpan nomornya. Dari yang paling berisik, hingga paling diam, semuanya sudah Midnight simpan. Untuk tetangga, tidak ada satupun yang Midnight kenal. Boro-boro kenal, punya saja tidak.
“Haruskah ku angkat? Lagian Cuma nomor.”
Di lain pihak, Okka dan Kenzo asyik bercanda. Terkadang, mereka menertawakan meme yang mereka simpan di dalam galeri milik Kenzo. Salah satunya wajah Aoi saat tidur. Kebetulan tapi aslinya disengaja, Kenzo menjepret wajah longor tersebut di sela nyenyaknya pria Jepang itu tidur. Yah, selama tidak dijadikan konten, ya tidak masalah.
“Halo? Maaf ini dengan siapa?” usai berdiskusi dengan Silentwave, Midnight akhirnya mengangkat panggilan tersebut, daripada membiarkan suasana tenang tersebut terganggu.
Silentwave menyilangkan kedua lengannya di depan dada sambil memejamkan kedua matanya. Duduk menyandar di sandaran kursi taman. Angin siang ini bertiup kencang. Sejuk sekali rasanya. Meskipun pohon yang masih berdiri kokoh dengan rimbunan daun hanya tersisa sedikit, setidaknya bisa membantu sang angin mempersejuk daerah tersebut.
Tangan Midnight seketika membeku saat orang yang berada di seberang sana merespon pertanyaannya. Bola mata Midnight bergetar. Bibirnya kelu seolah kehilangan kata-kata yang biasanya sangat mudah ia ucapkan apalagi saat sedang menyindir orang.
Suara seorang gadis yang menanyakan kabarnya dengan nada yang terkesan mengkhawatirkannya. Gadis itu panik. Terus menerus menanyakan keberadaan Midnight juga mengatakan bahwa dia bersyukur akhirnya bisa menemukan nomor Midnight. Gadis itu memohon pada Midnight untuk kembali ke rumah. Dia berbicara tanpa memberi celah sedikitpun untuk Midnight merespon.
Kekhawatiran terlalu mendalam itu menyulitkan gadis di seberang sana untuk mengerem omongannya. Bahkan ingin mengakhiri panggilan itu saja tidak bisa. Rasa rindu yang mendalam serta bayang-bayang yang selalu mengharapkan kehadiran sang kakak di istana yang dibangun orangtuanya. Berkumpul dalam keluarga kecilnya sembari menikmati hangatnya masakan ibu. Kemudian diiringi dengan gelak tawa ringan yang biasanya muncul saat salah satu dari anggota keluarganya melontarkan lelucon yang sanggup mengocok perut mereka.
__ADS_1
Midnight sungguh tak bisa berkata-kata lagi. Rasa rindu gadis itu sangatlah besar. Hal itulah yang membuat Midnight tak sanggup menjawab semua untaian kata penuh kekhawatiran tersebut. Selain diam, ada perasaan marah terselubung dalam hati kecil Midnight. Wanita itu menggigit ujung bibirnya kesal. Sejak awal, dia sama sekali tidak menginginkan kehadiran gadis yang menelponnya itu. Boro-boro kehadirannya, mendengar suaranya saja Midnight tidak mau.
Midnight sudah sangat muak tinggal di istana yang mana semua orang menganggap tempat itu sebagai tempat pulang Midnight. Namun, bagi Midnight sendiri, tempat itu bukanlah tempatnya untuk pulang. Ingatan buruk mengenai perlakuan orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu pada Midnight, membuat Midnight enggan menginjakkan kakinya ke sana.
Tidak ada minat bahkan dia sudah bertekad untuk tidak lagi menemui keluarga itu. Keluarga yang hanya akan menghancurkan masa depannya. Hanya akan menyakiti hatinya dan merusak mentalnya. Keluarga yang selalu menjadikannya gadis gila.
Midnight benar-benar tak ingin lagi kembali ke sana. Sama sekali tak mau. Lebih baik bertarung dengan luka berat ketimbang harus menanggung luka di hati yang cukup parah.
Tanpa berkomentar apapun, Midnight segera mematikan ponselnya. Lalu, melempar ponsel tersebut dengan tenaga besar yang sudah dia kumpulkan di lengan kanannya.
Akibat lemparannya tersebut, ponselnya melayang dengan kecepatan tinggi hingga menabrak tiang lampu tepat di samping dua youtuber yang sedang asyik tertawa. Kedua youtuber itu sontak terkejut mendapati ponsel dengan layarnya yang pecah hingga berkeping-keping.
Kenzo menganga heran. Pria itu bertanya-tanya, ponsel siapa yang rusak di sampingnya? Jika dilihat dari mereknya, tentu saja ponsel yang rusak itu bukan ponsel murahan.
“Astaga… Ponsel siapa ini?!”
“Aduh, ngilu! Sayang banget dilempar,”
Okka dan Kenzo terkejut sampai keceplosan tak jelas mendapati ponsel Midnight yang melayang cepat lalu pecah di sebelah mereka.
Karena tidak mengerti, perhatian Okka dan Kenzo langsung teralihkan ke Midnight yang diam dengan tangan kanannya terkulai lemah usai melempar benda kesayangannya. Wanita itu bahkan tidak mempermasalahkan kerusakan yang diterima ponselnya. Seolah dirinya merasa mampu membelikan ponsel yang baru bahkan dengan merek yang mahal.
__ADS_1
Memang penampilan luarnya baru. Namun, Midnight harus membangun seluruh kenangan baru dari nol. Karena penasaran, Okka pun bertanya. “Kenapa kau melempar ponselmu? Bagaimana caranya kau berkomunikasi nanti?”
“Jangan khawatir. Bisa kuatur.”
Midnight melangkah dengan wajah datar, melewati dua youtuber itu. Dia menunduk seraya meraih ponselnya yang sudah tewas di tangannya. Yang Midnight incar hanyalah kartu memori dari ponsel itu. Selebihnya, ia biarkan berceceran di tanah.
“Oi, komunikasi. Kau tahu sendirikan kalau tiga mahasiswa itu ada di tempat lain. Mereka bertiga juga nggak punya nomor kami. Jadi, gimana cara mereka…”
“Sudah kubilang, bisa kuatur,” ulang Midnight. Suaranya terdengar datar tapi Okka merasa kalimat itu terdengar tegas di telinganya.
Midnight bangkit setelah membungkuk singkat untuk mengambil kartu memorinya. “Kalian saking sibuknya dengan dunia sendiri sampai lupa kalau ada Silentwave yang bisa membuka portal. Diabaikan itu menyakitkan lho,” lirih Midnight. Wajahnya tertunduk menghadap sepatu.
“Lupakan saja ponselku. Masih ada banyak hal yang ingin kulakukan. Termasuk mengurus portal kalian pulang.”
Tanpa melirik sedikitpun, Midnight main berlalu begitu saja. Meninggalkan Okka dan Kenzo yang masih terdiam karena bingung.
Di belakang mereka, Silentwave menghela nafas berat. Aura itu paham betul dengan apa yang Midnight pikirkan saat ini. Dia tahu siapa gadis yang menelpon Midnight tadi. Omong-omong, gadis itu adalah orang yang sangat ia benci. Dari semua orang, gadis itulah satu-satunya orang yang membuat Midnight ingin sekali membunuh dirinya.
Silentwave kira, dengan mengganti nomor ponsel, medsos, dan pindah rumah, gadis itu tidak akan bisa lagi menghubungi Midnight. Namun, dugaannya ternyata salah. Justru rasa rindu itulah yang menjadi kekuatan gadis itu untuk terus mencari Midnight.
Padahal sudah empat belas tahun yang lalu. Gadis itu masih saja mencari dan menginginkan kehadiran Midnight di rumah. Sekarang, bagaimana kabar gadis itu ya? Gadis berambut coklat kemerahan, ikal, dan periang. Dia juga memiliki sisi naïf yang sangat Midnight benci. Tapi, dicintai banyak orang. Cita-cita gadis itu aneh. Yaitu, menjadi tokoh utama yang baik bagi semua orang. Mungkin maksudnya, dicintai dan melihat senyuman semua orang.
__ADS_1
“Silentwave, bisa jelaskan apa yang terjadi?” tanya Okka akhirnya angkat bicara selang beberapa menit yang lalu terdiam sambil berunding dengan dirinya. Meskipun gugup, inilah kali pertamanya Okka berbicara dengan Aura. Karena sebelumnya, yang selalu mereka lakukan dengan Aura di Carnater adalah menyakiti, menantang mereka bertarung, dan mencuri senjata mereka. Tapi sekarang, Okka dan Kenzo menyerah dengan keinginan mereka menjadi petarung sejati. Menjadi sabar menghadapi hidup saja sudah bersyukur mereka.
Mendengar kalimat itu, Silentwave mengangguk setuju. Aura itu berjalan pelan menghampiri Okka dan Kenzo. Kemudian menceritakan semua yang ia tahu tanpa ada yang terlupakan sedikitpun. Sebab ingatannya sangat tajam. Dia mampu mengingat plat nomor mobil Yuuki sebelum kecelakaan. Dia bahkan masih ingat letak rumah pertama Midnight.