Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 11


__ADS_3

Chloe membuka kedua matanya usai terpejam sangat lama sebelumnya. pemandangan hutan yang sebelumnya gelap gulita itu berubah menjadi terang benderang diwarnai hangatnya sinar mentari pagi.


Sebagian salju yang hinggap di atas dahan pohon itu meleleh dengan sendirinya. Sungguh menenangkan bukan. Sayangnya, perasaan tenang itu tak bertahan lama ketika dia sadar bahwa dirinya masih menyandarkan punggungnya di badan pohon tanpa nama. Pohon yang sama lagi.


Dia masih berada di tempat yang sama. Di sana, ada pagar pembatas hutan dan dirinya justru ditemukan menyandar di batang pohon. Astaga...


Chloe yang masih setengah sadar itu memaksakan diri untuk bangun dan segera meninggalkan hutan tersebut. Satu lagi! Dimana Black Aura? Tega sekali dia meninggalkan seorang wanita di hutan sendirian. Bukan di hutan, maksudnya membiarkan Chloe tertidur seorang diri di dunia luar.


Chloe berdecak sebal sembari berputar-putar mencari arah jalan yang benar.


"Dasar! Bisa-bisanya dia membiarkanku terbaring kek orang gak punya rumah disini! Setidaknya gendong aku dan bawa aku ke rumah kenapa? Astaga..." omel Chloe sambil mengacak-acak rambutnya kesal.


Emosinya mendadak berubah. Dari yang larut karena kedatangan Black Aura menjadi naik darah karena kepergiannya yang tanpa didasari dengan izin.


Chloe menatap layar ponselnya yang redup. Tak lama lagi mau lowbat. "Jam 6 pagi... Ke rumah Aoi aja kali?" pikirnya.


Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Chloe menentukan keputusannya untuk menjenguk rumah Aoi yang super berantakan itu.


Harapannya, ia bisa menemukan petunjuk baru di dalamnya. Ia juga berharap tidak mau kesepian lagi untuk kedua kalinya.


~


"Aaargh! Lagi-lagi kelepasan!" gerutu seorang pria berjas hitam.


Sedari tadi, ia asyik menggerutu karena misi anak buahnya yang kerap kali gagal. Yah, memang gak mudah bertindak di dunia orang. Mereka butuh mempelajari beberapa kebiasaan dan aktivitas manusia di dunia ini.


"Tubuh ini dingin. Aku gak bisa berlama-lama lagi di dalam tubuh yang nyaris busuk ini."


"Tuan Dark Fire... Seseorang membawa pesan kepada anda." Muncul seorang wanita berpakaian manis membawakannya sepucuk surat.


"Letakan saja di meja!"


"Baik tuan."


Usai kepergian maid tadi, pria bernama Dark Fire ini kembali mengamuk atas apa yang telah terjadi pada anak buahnya semalam.


Ia merutuki semuanya. Ia benci dengan Mega Vile yang memiliki kekuatan besar dan kemungkinan besar memiliki kemampuan untuk menguasai dunia.


"Tidak kali ini. Baik Carnater atau dunia nyata, semuanya akan kurengkuh. Seluruh Legend Aura yang tertindas akan kembali menindas kalian!" tegasnya kemudian membanting meja kerjanya. Sampai muncul retakan besar disana.


"Yui! Kagura!" Dark Fire memanggil dua anggotanya dengan lantang. Bahkan sampai menggema memenuhi ruang kantornya.


Suara langkah dua orang muncul dan mendekati pria berjaya hitam itu.


"Apa yang bisa kami bantu, Dari Fire?" tanya Yui serius. Ia tampil seperti remaja pada umumnya. Mengenakan seragam perempuan sekolah jepang dengan katana yang ia tempel di atas pundaknya. Rambut pirang pendek yang berkibar itu membuatnya terlihat sangat keren.


Berbeda dengan gadis di sampingnya. Berdiri tegap mengenakan hoodie hitam dengan rok hitam bergaris putih di atas lutut. Rambut coklat panjang yang terurai bebas dan pentungan baseball yang mengerikan.


"Aku gak tahu dimana para Mega Vile itu bersembunyi. Yang jelas, temukan mereka dan bunuh mereka. Sebelum itu, temukan pecahan Cermin Carnater agar misi mereka semakin kacau!" perintah Dark Fire sekaligis menunjukkan manis oranye menyala miliknya.


"Wah... Dia benar-benar Gak waras kali ini." Bisik Yui.


"Ssssttt jaga omonganmu!" Laguna memperingatkan.


"KAMI LAKSANAKAN TUAN!" seru mereka bersamaan lalu menghilang seperti ninja.

__ADS_1


~


BRAAAKKK!


Chloe mendobrak kasar main door rumah Aoi. Usai berlari puluhan meter menuju rumah sahabatnya dan kembali berhadapan dengan kondisi ruang tamu yang berantakan. Chloe tahu bahwa polisi tak akan membereskannya karena ada beberapa hal penting terselip di dalamnya.


Chloe melirik ke berbagai arah berharap tidak ada seorang pun yang melihat gerak-geriknya. Merasa aman, Chloe pun masuk.


Aroma lembab yang langsung menyerbu hidungnya mengharuskan Chloe menutup sebagian wajahnya dengan kain. Baunya seperti sampah basah yang sudah lama dibiarkan terbuka di suatu ruangan.


"Aoi... Kau kemana sih?" pikir Chloe cemas. Ia mengedarkan pandangannya hingga mencakupi ruang tengah Aoi. Pemandangannya tak jauh berbeda dari sebelumnya. Masih berantakan.


Televisi yang terbaring lemah di atas lantai, kertas yang bertebaran mewarnai lantai ruangan, genangan darah yang menodai sebagian besar dinding, dan suasana mencekam yang mencekik lehernya.


"Makin seram aja nih rumah...".


Setelah berkeliling di sekitar ruang tengah, ia memilih menaiki beberapa anak tangga menuju dapur rumah Aoi. Salah satu tempat paling kacau.


Sambil berjalan, sambil pula ia melihat sekelilingnya mana tahu ada hal baru di dalam rumah Aoi.


"Gak ada yang baru. Heh?? Black Aura?!!" teriak Chloe histeris begitu ia menemukan sosok remaja berambut putih dengan manik violet itu tengah memperhatikan piring kusam Aoi.


"Hmmm?" respon Black Aura santai.


Remaja itu berdiri di depan kulkas Aoi. Tampaknya, ia baru saja memandang beberapa foto hasil jepretan Chloe dan Aoi.


"Apa yang kau lakukan disini? Jangan bilang... Kau pelakunya?!" Tuduh Chloe disusul dengan pisau yang ia tunjukkan untuk Black Aura.


Black Aura memandang Chloe datar. Ia sadar bahwa gadis itu mengancamnya menggunakan pisau. Namun, itu sungguh tidak berarti baginya.


"Jangan asal tuduh. Disini aromanya beragam. Aku perlu mengeceknya selagi gak ada manusia yang lewat.".


Black Aura tidak merespon dan pergi ke ruangan yang lain. Dari arah jalannya, sepertinya ia akan memasuki ruang tengah.


Chloe berdecak sebal. Berbeda dari yang semalam sangat tergiur dengan kenyataan ia bertemu dengan Black Aura.


"Hei! Jawab aku dulu!!" Chloe menarik pundak Black Aura kasar. Ia kembali terkejut dengan tangannya yang ternodai darah hitam usai menyentuh pundak remaja itu yang terluka semalam.


"Eh? Maaf-maaf. Sakit gak? Bentar, akan biar kucari perbanan untuk nutupin lukaimu.".


Gadis itu panik dan segera berkeliaran di sekitar ruangan Aoi. Black Aura hanya melihat punggungnya serta langkah kakinya yang melangkah acak.


"Gak perlu. Luka ini akan sembuh dengan sendirinya.".


"Gak! Ntar infeksi!" bantah Chloe mentah-mentah. Meskipun mereka berbeda spesies, baginya, yang namanya luka tetap luka. Dan apabila tidak segera ditangani bisa saja infeksi.


"Nah! Ketemu juga kan!" Chloe mengangkat perbanan yang ia temukan di dalam kotak P3K Aoi.


Black Aura tidak merespon dan hanya memandang gadis itu berjalan mengitari meja makan dan menghampirinya.


"Yuk, ke kamar! Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.".


"Silakan...".


~

__ADS_1


"Aku masih mencari Aoi sampai saat ini. Aku juga udah janji sama diriku kalau akulah yang akan menemukannya nanti. Dan selama perjalanan ini, aku harus menciptakan satu novel yang sudah siap untuk dibaca Aoi." Tutur Chloe usai mengobati luka Black Aura.


"Kalau gak ada Aoi... Rasanya seperti ada yang kurang. Selama ini, cuma dialah satu-satunya orang yang bisa kupercaya.".


"Satu-satunya? Keluargamu?".


"Mereka udah lama pergi.".


"Oh.".


Chloe tersenyum kemudian terkekeh kecil. sebenarnya agak aneh dengan respon Black Aura. Tapi lama-kelamaan ia paham.


"Lupakan saja. Aku yang sekarang harus menemukan Aoi. Dia udah banyak membantuku. Sekarang, giliran aku...".


"Gak perlu. Sebaiknya kau berdiam diri di rumah. Duniamu ini lagi dalam masa agak aman." Cegah Black Aura. Tatapan yang ia pasangan sangat serius.


Chloe terdiam untuk sesaat lalu bertanya.


"Kenapa? Biarkan aku ikut denganmu! Diam di rumah saja itu membosankan. Ditambah lagi, aku gak punya teman untuk di ajak bercanda. Aku juga butuh inspirasi menulis novel melalui pengalaman berhargaku.".


"Bahkan sampai hal itu mengancam nyawamu?".


Chloe mengangguk namun terlihat sisi keraguan di dalam dirinya.


Melihat hal itu, Black Aura menghela nafas berat. Ia bingung dengan kondisinya saat ini. Dunia yang tak seharusnya terhubung malah jadi terhubung karena ulah musuh. Dan juga berdampak parah pada manusia yang tak bersalah disini.


"Aku turut bersedih atas hilangnya temanmu. Tapi, aku akan tetap berusaha menemukannya untukmu. Sebenarnya manusia tak boleh terlibat." Jelas Black Aura dengan pandangannya yang terpaku kearah jepretan foto Chloe dan Aoi.


Mendengar pernyataan Black Aura, Chloe kembali murung tak bersuara. Kehilangan seorang sahabat yang mampu membuatnya kembali tersenyum itu rasanya sakit sekali. Lebih sakit jika dirinya tak mampu berbuat apa-apa demi Aoi.


"Tapi..." Black Aura kembali bersuara. "Aku belum pernah menjalin ikatan dengan manusia. Midnight pernah bilang padaku sebelum dirinya menghilang bersama yang lain. Dia bilang, aku akan menemukan banyak hal unik jika menjalin ikatan dengan manusia. Jadi, mau tidak...".


"Tentu saja!".


Black Aura membuka matanya lebar.


"Kau ingin berteman denganku bukan? Kenapa gak bilang?" Chloe mengulas senyuman tulusnya pada Black Aura.


"Sejak pertama kali mendengar namamu. Aku merasa bahwa kau itu memang ada. Aku merasa, jadi ingin bertemu denganmu dan berteman denganmu. Dan lagi, dunia fantasi memang sulit di terima keberadaannya di dunia nyata. Begitu pula dunia kami.


"Tapi, sekali keajaiban terjadi dan dunia kita terhubung, aku ingin setidaknya bisa berbagi ikatanku denganmu. Aku juga ingin mencantumkan namamu di dalam cerita novelku." Ungkap Chloe tersipu malu.


"Jadi... Mulai sekarang, kita teman ya!" Chloe mengulurkan tangan kanannya di depan Black Aura.


Tak memandang dimana mereka berdiri saat ini, Chloe hanya berpikir bahwa hari ini adalah hari terlangka dalam hidupnya. Selain kesendirian yang sebelumnya menguasai pikirannya, kini Chloe ingin mengubah kesendirian tersebut menjadi hal baru.


Berteman tidak hanya dengan manusia saja. Kita bisa berteman dengan siapapun asalkan kita mau membuka diri dan berbaur dengan mereka.


"Kita teman mulai sekarang." Black Aura menjabat tangan Chloe.


Seketika, hal baru masing-masing mereka rasakan dalam satu genggaman.


Disisi Chloe, ia merasakan dinginnya tangan Aura. Sementara Black Aura, ia merasakan hangatnya genggaman tangan manusia.


"Apa jangan-jangan ini yang dimaksud Aoi?" batin Chloe.

__ADS_1


"Apa ini yang Midnight maksud?" begitu pula Black Aura.


~


__ADS_2