
Seorang gadis menendang kasar tumpukan salju yang tengah menikmati kedamaian di bawah ketenangan cuaca pagi ini. Perasaan tenang dan tentram milik tumpukan salju itu tidak bisa disadingkan dengan pikiran gadis yang selang beberapa menit yang lalu sempat kacau.
Kejadian di perpustakaan sebelumnya, membuat dirinya sulit mengatur stabil nafasnya. Jika ditanya, apakah dirinya sehat atau tidak? Ya, dia sehat secara fisik. Namun batin berkata lain.
Tidak disangka, ia akan mendapat semburan amarah dari temannya. Dibilang teman juga bukan. Dibilang orang asing tapi, mereka saling mengenal. Konflik tadi membuatnya pening akan ikatan mereka.
Yah, begitulah. Rasa sakit di masa lalu yang Chloe tumpahkan dengan bebas di depannya.
Sesekali, ia berdecak sebal dan membuang nafasnya kasar. Sehingga, orang-orang yang berlalu lalang di depan pertokoan itu memilih untuk berjarak dengannya. Disangka orang gila atau stres.
"Huft... Dia segitunya. Hebat juga emosinya."
Ia membatin geram disertai dengan kepalan tangan yang menanggung beban berat.
Tak hanya kepalan tangan, gadis itu juga melibatkan kedua kakinya. Memijak bumi sekeras-kerasnya seraya berharap, tanah tersebut retak dibuatnya.
Minji masih tak habis pikir. Memang, dirinya saat itu mengincar Rara bukan karena dia tidak normal. Mohon diingat sekali! Minji masih normal dan tidak memiliki perasaan apapun terhadap Rara. Sama halnya dengan Chloe. Mereka berdua dikenal sebagai orang terdekat Rara. Akan tetapi, rata-rata menganggap bahwa Chloe yang cenderung lebih dekat dan selalu berbagi kegilaan dengan Rara.
"Kurasa, dia benar-benar membenciku. Tapi... Apa pedulinya denganku? Dia begitu karena iri nggak bisa sekampus dengan Rara. Dia iri karena nggak punya banyak waktu berbagi kesenangan dengan Rara. Di saat Rara membutuhkan dirinya, ia malah ditimpa sibuk dan mengatakan kalau dirinya sibuk.
"Chloe... Selalu menempatkan kesibukan sebagai alasan utama ketidakhadirannya untuk Rara. Dasar! Pentingkan saja pekerjaanmu ketimbang kami. Toh, sekarang sudah nggak ada lagi yang mengingat namamu." Omel Minji kesal.
Karena sudah menghabiskan beberapa menit untuk berjalan, Minji memutuskan untuk menghampiri salah satu cafe dan memesan secangkir coklat hangat di dalamnya. Cuaca dingin seperti ini memang cocok sekali menyantap makanan dan minuman hangat.
Seorang pelayan cafe menghampirinya kemudian, menghidangkan secangkir coklat hangat pesanannya.
Tanpa basa-basi, Minji segera meneguk setengah coklat tersebut. Perasaannya perlahan membaik.
Jika sebelumnya isi kepalanya membahas tentang perilaku Chloe, kini beralih seratus persen pada remaja laki-laki berpenampilan bak cosplayer handal dengan penampilan yang sangat menyerupai karakter fiksinya.
Minji duduk bersandar di sandaran kursi. Ia menghela nafas sekali.
Akhir-akhir ini, aku melihat Chloe memiliki beberapa teman laki-laki. Apa sejak berpisah dengan kami dia jadi tertarik berteman dengan laki-laki? Atau justru karena lelah berteman dengan perempuan, ia memutuskan untuk berteman dengan laki-laki? Kemarin Aoi... Lucas itu... Abangnya atau temannya ya? Remaja tadi...
Minji terdiam untum sesaat. Melamun di tengah keramaian yang berusaha mengusik pikirannya. Di dalam benaknya menampilkan sosok Chloe yang mengenakan seragam pramuka. Gadis itu berada di ambang pintu kelas dengan mengukir senyum miris.
Minji tahu pasti bahwa dibalik senyuman mirisnya itu, Chloe berjuang keras menyembunyikan amarahnya. Chloe tidak menerima kenyataan dimana ia harus dipisahkan dengan Rara tanpa harus berbuat apa-apa.
"Kenapa dia tidak memarahiku saat itu? Dia takut padaku?"
~
Setelah menempuh ribuan meter menjauhi musuh, Black Aura akhirnya menemukan tempat pemberentian yang pas yaitu, hutan. Ia menghentikan langkahnya spontan. Kemudian, menurunkan Chloe dari gendongannya
Chloe segera mengambil posisi duduk menyandar di salah satu batang pohon. Raut wajahnya kian memucat seiring dengan serangkaian kejadian yang turut menimpanya.
"Lagi-lagi, aku tertipu. Kenapa aku bisa semudah itu tertipu?" Chloe bergumam di bawah pohon yang saat ini tengah menopang beratnya salju.
Black Aura tidak merespon.
Setelah merasakan panik, kecewa, menyesal, Chloe akhirnya bisa mengontrol dengan baik emosinya. Ia merasa bersalah karena menangis begitu saja di depan Black Aura. Ia seakan menumpahkan beban yang sangat sulit pada Remaja Aura itu.
__ADS_1
"Aku minta maaf udah membuatmu repot. Aku sulit melupakan kejadian tadi. Aku nggak menyangka bakal sesulit ini." Ungkap Chloe merasa bersalah.
"Jangan meminta maaf." Celetuk Black Aura tanpa memandang Chloe sedikitpun.
"Eh?" Chloe terbelalak meskipun hanya sebatas angin lewat. "Kau marah?"
Akhirnya, Black Aura melirik ke arah Chloe. Ia menghembuskan nafasnya beratnya lalu, ia menunduk menyamai tingginya dengan Chloe.
"Untuk apa kau meminta maaf padaku? Toh, bukan ulahmu juga yang membuat Aoi hilang."
Chloe membungkam. Dia marah...
"Aku nggak marah." Balas Black Aura singkat. Sebenarnya, ia memiliki kemampuan membaca isi pikiran orang.
"Bisa telepati juga rupanya." Ujar Chloe terkekeh kaku.
Menanggapi tingkah Chloe, Black Aura memutar malas kedua bola matanya. "Bukankah kau sudah tau? Astaga..."
"Kau frustasi melihatku menangis terus?" Chloe membuang nafas lelah dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu, hilangnya Aoi memang bukan salahku. Tapi, aku..."
"Baik... Baik... Aku tahu, kau sedih karena kehilangan Aoi. Aku tahu itu. Aku juga sama di posisimu." Pangkas Black Aura lalu, terdiam untuk sesaat.
Tak lama kemudian, kembali melanjutkan pembicaraannya. Dia rasa, mungkin inilah saat yang tepat untuk memberitahu Chloe sesuatu yang ia pendam setiap kali menyaksikan gadis itu menangisi hilangnya Aoi.
Black Aura beranjak berdiri dan kembali melanjutkan kata-katanya sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Aku tanya, sebenarnya apa sih yang kau tangisi? Ya! Aku tahu, kau menangisi Aoi. Tapi...! Lama-lama, tangisanmu itu justru memperparah keadaanmu. Kau bisa saja dibuat nggak waras hanya karena tangisan itu.
"Aoi begini, kau nangis... Aoi sama ini, kau kesal... Kau nggak bisa nyelamatin Aoi yang hilang... Tambah nangis. Buat apa mengingat hilangnya Aoi terus-terusan? Oke. Kau boleh mengingatnya..Boleh. Tapi, jangan sampai menjadi penghambat buatmu untuk maju.
"Oke, kembali pada Aoi. Kau tahu fakta bahwa sahabatmu hilang. Lalu, kau mengira itu ulahnya Legend Aura sejak kau bertemu denganku, kan? Kalau kau sudah tahu, lanjut aja ke depan! Perkara mau ada jurang atau monster ya, hantam aja! Lawan aja, Chloe! Suka nggak suka, hadapi. Ketimbang harus kembali ke belakang."
Suara remaja itu yang semulanya datar perlahan, menjadi lebih berekspresi.Tapi cendurung ke marah dan tegas?
"Kalau kau mau tahu perasaanku terhadap duniamu? Jujur saja, aku nggak suka. Sejak awal, aku memang benci berisik. Tapi, karena ada masalah yang harus kuhadapi dan keluargaku terpecah disini karena perang, mau nggak mau, aku harus menghadapinya. Balik ke belakang? Berarti, diam di duniaku dan membiarkan keadaan yang menyelamatkan keluargaku? Tentu saja, nggak bisa.
"Terus terang juga, aku benci berbicara panjang lebar. Karena, itu melelahkan. Tapi, lama-lama aku belajar. Beginilah rasanya memiliki teman yang berbeda dunia. Aku belajar menerima apapun di duniamu termasuk dirimu. Aku juga belajar mencari cara agar bisa berdiri. Memang, aku Aura dan kekuatanku berkaitan erat dengan rasa sakit. Oleh karena itu, aku tidak bisa merasakan rasa sakit dari serangan apapun yang menghantamku."
Black Aura bercerita sepanjang lebar sembari berusaha mengembalikan sifat datarnya. Ia tidak ingin terkesan marah lewat kalimat yang ia lontarkan pada Chloe.
"Tapi, aku bisa menjadi gila jika terlalu banyak disakiti." Sambungnya yang langsung membuat Chloe terkejut.
"Huft... Entahlah. Aku nggak tahu, bicara panjang lebar begini apa ada gunanya atau tidak? Tapi, ingatlah kata-kataku Chloe! Kau nggak sendirian. Kau, aku, Aoi dan semua orang juga sama menghadapi masalah. Jadi, hadapi saja apapun yang ada di depanmu. Dengan begitu, kau akan mengerti rasa sakit yang kau rasakan dan kau akan menemukan beragam cara untuk berdiri. Kau juga akan belajar cara menghargai dirimu sendiri.
"Chloe. Kau pernah bilang, kau akan menjadi tour guide-ku selama di duniamu, kan? Kalau begitu, aku akan menjadi tour guide-mu yang akan menuntunmu untuk menjadi yang lebih kuat menghadapi rasa sakit. Mulai sekarang, jangan pernah menoleh belakang, oke?"
Black Aura mengulurkan tangannya tepat di depan Chloe. Kedua mata gadis itu memperlihatkan dengan jelas bayangan Black Aura yang memberikan uluran tangan tulus padanya.
Ia bimbang namun hatinya berkata ingin tetap bersama remaja itu. Chloe setidaknya bisa bersyukur tidak memiliki masalah apa-apa dengan para Aura itu. Terutama dengan Legend Aura. Cukup masalah dengan dirinya sendiri yang bahkan masih sulit ia atasi seorang diri. Ia masih saja membutuhkan dorongan orang lain untuk membuatnya tersadar akan kesalahannya.
Untuk saat ini, seperti yang kita lihat. Gadis menunduk. Ia terenyuh akan perkataan Black Aura yang menyuruhnya untuk tidak melihat ke belakang.
__ADS_1
Di bawah puluhan ranting yang dibaluti salju serta suhu dingin yang merambat di sekitar tubuh mereka, Chloe pada akhirnya menemukan titik kesadaran dan menatap instan ke arah Black Aura.
Siapa sangka, bukannya menjabat tangan Black Aura, gadis itu justru melakukan hal yang lain. Ia melompat cepat dan memeluk temannya seerat-eratnya. Kendati ia tidak ingin menitikkan air matanya - sayangnya, matanya masih sulit ia kontrol dan air matanya tetap bercucuran deras.
"Black Aura! Aku... Hiks... Aku nggak maksud membuatmu susah. Maaf! Aku terlalu egois memikirkan Aoi ketimbang dirimu. Hiks... Sesuai katamu, aku nggak akan lagi menoleh ke belakang untuk masalah apapun. Aku akan... Hiks... Belajar menerima kenyataan apapun. Aku akan terus berusaha. Sampai masalah kita benar-benar beres." Ucap Chloe yang memecah air matanya.
Black Aura masih diam di tempat dan membiarkan gadis itu menghabiskan kesedihannya.
"Udah kelar belum? Kalau kelamaan, entar malah kehilangan jejak Aoi." Ujar Black Aura datar.
"Udah kok. Udah!" seru Chloe berulang-ulang. Meskipun aslinya. ia masih diam-diam menahan air matanya sekuat mungkin. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Black Aura lagi. Kalau bisa, tidak akan lagi. Karena, hampir setengah jam ia menangis di dalam pelukannya.
Chloe merenggangkan pelukannya lalu menatap wajah Black Aura yang nggak pernah berubah rautnya. Seperti ada yang kurang disana. Ah, senyuman!
Andai Black Aura tahu bagaimana caranya tersenyum, mungkin saat ini, ia akan memperlihatkan senyumannya sebagai bentuk apresiasinya akan semangat Chloe. Kalau perlu pun, ia akan membelai puncak kepala Chloe dengan lembut.
Sungguh angan-angan yang manis. Sayangnya, belum sekarang Chloe bisa melihat angan-angan tersebut beserta senyuman Remaja Aura itu.
Tidak apa meskipun datar, suatu hari, Black Aura pasti akan menemukan bagaimana caranya mengukir senyuman di wajahnya dan merasakan warna-warna baru dari senyuman tersebut.
"Ayo, jangan membuatku terjebak di hutan terus." Ajak Black Aura yang masih setia membuka tangannya untuk Chloe.
Chloe terkekeh geli sambil mengusap air mata terakhirnya. Yep! Mulai hari ini, ia bertekad untuk tidak menumpahkan kesedihannya lagi di depan remaja itu.
"Ayo!" Chloe meraih cepat tangan Black Aura dan giliran gadis itu yang membawa Black Aura keluar hutan.
Chloe masih bisa merasakan kehangatan walau sebatas genggaman tangan yang saling mereka bagikan. Betapa senangnya dirinya bisa berlari bersama teman dunia lainnya di bawah pengawasan langit musim dingin.
*Saat pertama kali menemukan buku itu, aku jadi semakin tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang dunia kalian. Bahkan termasuk kalian sekalipun. Sampai aku membuka di salah satu lembaran buku itu dan aku menemukan namamu tertera disana. Namamu terkesan fiktif. Tapi anehnya, aku malah semakin tenggelam.
Kau. Kalau kau tidak nyata, aku menganggapmu sebagai salah satu tokoh yang paling kusukai. Aku menyukai kemampuanmu meskipun tahu bahwa kau berperan sebagai antagonist dan terlihat sangat berbahaya di dalam buku itu.
Akan tetapi, kenyataan berkata sebaliknya. Kau nyata bersama dengan fenomena fantasi yang kau bawa ke duniaku*.
Chloe tersenyum tanpa sadar. Ia tidak bisa lepas menatap Black Aura dalam-dalam. Benar yang dikatakan Morgan. Black Aura sudah membantunya sangat banyak. Ia bahkan mengajari gadis ini untuk kuat menghadapi apapun.
"Kau dari tadi melamun tentangku ya?" celetuk Black Aura disertai dengan lirikan singkatnya.
Sontak, Chloe terbelalak malu tanpa bisa menyembunyikan rona merah yang mewarnai pipinya. Ia baru sadar bahwa Black Aura memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.
Tak hanya malu, Chloe juga merasakan jantungnya berdetak tak stabil.
Entah kenapa, ia malah dibuat kepanasan oleh sesuatu yang ia rasa tengah berkobar di dalam dadanya. Perasaan apa ini? Malu? Tapi, kenapa cenderung lebih berdebar-debar?
Black Aura mengerutkan keningnya heran. Kecepatan lari Chloe melambat sampai akhirnya, ia memilih untuk berhenti.
"Chloe? Kau nggak papa, kan?"
Ketika hendak menyentuh pundak gadis itu, tangannya tiba-tiba mendapatkan tepisan kecil dari Chloe. Lantas, tepisan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Black Aura.
"Nggak papa... Aku..." Chloe membeku untuk sesaat sampai pada akhirnya, ia menyadari sesuatu yang aneh dalam dirinya.
__ADS_1
Perasaan ini... Jangan bilang, aku... Aku Menyukainya...?
~