Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 155 {Season 2: Jangan Abaikan Aku}


__ADS_3

“Nggak dianggap itu menyakitkan lho… Bahkan saat


kau sedang berjuang bersama orang lain.”


Sekolah pagi ini berjalan normal. Semua murid


bergegas ke sekolah sambil menggendong ransel mereka masing-masing. Pintu di setiap


kelas satu persatu mulai dibuka setelah mendengar suara para murid yang tak


jauh beda dengan dengungan lebah di dalam sarang.


Chloe yang saat itu sedang memandang dirinya


dengan gaun biru putih berpita di bagian pinggang merasa gugup akan hari jumat


dimana hari itu akan diselenggarakannya lomba fashion show.


Di lapangan, Chloe bisa merasakan betapa


menikmatinya murid-murid serta para guru di bawah sana. Tidak ada belajar,


hanya ada lomba dan ke kantinlah yang selalu mereka nantikan. Mendukung teman-teman


yang sedang berjuang keras di arena lomba demi menaikkan derajat kelas mereka.


Bukankah diberi tepukan tangan itu menyenangkan?


“Pasti tiba aku maju, mereka semua bakalan


diam…” gumam Chloe murung. Dia sengaja mengikuti lomba fashion show agar orang lain


menyadari kalau dirinya itu ada. Diabaikan dan dianggap tidak ada itu


menyakitkan. Bahkan selama Chloe hidup, hanya Lucas satu-satunya yang


menganggap dia ada dan bisa tertawa ketika mendengar lelucon yang Chloe buat.


Tapi sayang, orang sehangat Lucas tidak mudah Chloe temukan di lingkungan


sekolahnya. Semuanya hanya memandangnya dengan tatapan datar. Terkadang merasa


tidak senang dengan kehadiran dan tergganggu.


Apa seburuk inikah diri Chloe?


Terlintas di benak Chloe akan perkataan salah


satu temannya yang tidak jauh beda dengan dirinya. Ya, persamaannya terletak di


ketidakpandaian mereka dalam bergaul.


“Chloe, kau jangan sering-sering sakit ya! Kalau


kau sakit, nanti aku nggak punya teman.”


“Nggak punya teman apanya? Setidaknya kau


bersyukur bisa diterima meskipun Cuma satu atau dua orang.”


“Percuma kalau kalian berbakat tapi sendirian,” ucap


walikelasnya.


“Kira-kira, siapa yang akan menyemangatiku? Apa


Lucas akan datang?” Chloe mendongakkan kepalanya ke langit. Tampaknya seseorang


tidak sengaja menerbangkan balon berwarna hijau. Yah, tidak ada makna apapun


dari warna balon tersebut kecuali suara tangisan kencang yang berasal dari


lapangan. Suara anak kecil yang merasa kecewa lantaran dirinya tak sengaja


membiarkan balon itu lepas.


“Pasti nggak ada yang mau dukung aku. Pasti


nggak ada yang suka punya lawan sepertiku…”


Chloe sadar kalau tindakannya ini hanya akan


membuatnya tersakiti. Mendapatkan perhatian dari orang lain itu tidaklah mudah.

__ADS_1


Apalagi dengan wajah memelas. Sejak awal, bahkan sejak dirinya menginjak usia


lima tahun pun, tidak ada satupun keluarganya yang menganggapnya ada. Semuanya


sibuk dengan kepentingannya masing-masing sehingga Chloe dibiarkan di sudut


ruangan sambil memandang orang-orang yang memiliki kegiatannya masing-masing.


“Apa aku harus berjuang?”


~


TRANG! TRANG!


Black Aura seperti biasa menangkis serangan dari Aura yang


ia menurutnya mengancam nyawanya. Sedangkan Chloe yang baru saja diberi


semangat oleh Black Aura memilih bersembunyi di belakang. Dia mengumpulkan


beberapa benda yang sekiranya bisa ia gunakan untuk melukai Aura bernama Ayano


tersebut.


“Oh, benar juga! Kelemahan Aura itu manusia. Tapi, bukannya


Midnight ngelarang kita membunuh Aura?”


Bruk!


Chloe terkejut bukan main sampai-sampai jantungnya seakan


mau melompat keluar. Kepulan asap tebal dengan cepat mewarnai seisi lorong


lantai empat itu. Meski tidak minus, Chloe tetap tidak bisa melihat benda apa


yang terlempar sampai-sampai menghancurkan dinding ruangan yang berada tepat di


sampingnya. Chloe tidak bisa mengatakan detail nama ruangan itu karena pintunya


tertutup rapat dan kacanya berwarna hitam.


“Aura!” teriak Chloe setelah kepulan asap itu menipis dan


belas ceret dan gelas-gelas yang terbuat dari tanah liat. Aura itu tak kunjung


bangkit dari posisinya. Mungkin karena serangan dari Ayano tadi terlalu kuat.


Dengan langkah terburu-buru, Chloe menghampiri Black Aura.


Baru saja sampai, tangan Black Aura yang semula terkulai lemas tiba-tiba menjentikkan


jari tengahnya dengan jempol. Alhasil, luka yang Black Aura terima berpindah ke


tubuh Ayano.


“Cih!” Langkah Ayano reflex ke belakang usai mendapatkan


rasa sekali dari Black Aura. “Kekuatanmu benar-benar merepotkan ya, Aura,”


katanya. Kemudian, Ayano mengeluarkan buku tebal yang saat dia buku


mengeluarkan puluhan kupu-kupu Kristal dengan targetnya adalah Black Aura,


Di tengah pertarungan itu, Chloe tertegun. Matanya tak lepas


dari kupu-kupu yang berterbangan dengan sayap indah nan berkilau mereka itu.


Kalau dipikir lagi, semua kupu-kupu itu sudah pasti arahnya ke Black Aura.


Lantas, untuk apa dirinya di sini?


Chloe menoleh kea rah Black Aura yang berusaha bangkit meski


sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka seperti goresan ataupun memar.


Mereka mengincar Aura?


Sepuluh kupu-kupu berhasil pecah usai Black Aura serang


menggunakan palu ditambah dengan kemampuan mata penghancurnya. Pecahan Kristal


itu mewarnai lantai gedung yang kotor.

__ADS_1


“Kayaknya kurang keras kupu-kupuku,” pikir Ayano. Aura itu


membuka lagi bukunya di lembar tengah dan memilih kupu-kupu diamond yang akan


ia gunakan untuk membunuh Black Aura.


“Hancurkan kepalanya!” perintah Ayano.


Hancurkan… Kepalanya? Chloe


membeku. Wajahnya mendadak pucat ketika membayangkan sesuatu yang buruk menimpa


Black Aura apalagi jika yang dikatakan Ayano itu memang benar-benar akan


terjadi lima menit ke depan. Nggak! Jangan sampai!


Prang!


Satu persatu kupu-kupu itu pecah karena kemampuan mata


penghancur Black Aura. Sementara sisanya masih berterbangan dengan bebas hingga


akhirnya ada beberapa yang sukses menggores Black Aura. Darah hitam pun


mengalir dengan cepat di pipi Black Aura.


Black Aura berhenti dari aktivitasnya, lalu mengelap darah


di pipinya menggunakan lengan kirinya. Hanya luka gores tapi regenerasi Black


Aura tak mampu menyembuhkan luka gores tersebut.


Ayano menyeringai di ujung lorong bersamaan dengan kupu-kupu


diamond-nya yang masih berterbangan mengincar Black Aura.


Ketika Black Aura hendak menangkis kupu-kupu itu, tiba-tiba


Chloe melesat dengan cepat di samping Black Aura dengan menggenggam sabit.


“Jangan anggap aku nggak ada dong!” teriak Chloe disusul


dengan sabit yang tertancap hingga tembus di punggung Ayano dan membuat Aura


itu tumbang dengan rasa sakit melebihi kemampuan Black Aura.


“Akh!” Ayano tumbang dengan darah yang awalnya berwarna pink


kini berubah menjadi merah pekat.


Sementara itu, Black Aura hanya melongo tak percaya dengan


tindakan nekat Chloe barusan. Teriakan dan juga cara Chloe melumpuhkan Ayano


entah kenapa terkesan lucu di mata Black Aura. Ingin ketawa tapi takut


Chloe-nya kecewa. Berpikir kalau usahanya itu dianggap hanya sekedar


gaya-gayaan saja. Namun, di lain kelucuan tersebut. Black Aura menyadari


sesuatu yang kelam. Kata-kata Chloe barusan.


“Dia bilang, ‘jangan anggap aku nggak ada’?” ulang Black


Aura. Aura itu pun melangkah tanpa suara menghampiri Chloe yang tengah sibuk


menstabilkan alunan nafasnya. Chloe syok dengan aksi nekatnya tadi


sampai-sampai paru-parunya ikutan tidak stabil.


“Chloe, sebenarnya ada apa?” tanya Black Aura menundukkan


badannya di hadapan Chloe.


“Eh… Uhm, sorry. Keceplosan hehe…” ujar Chloe sembari


menarik sabit Black Aura, kemudian memberikannya pada Black Aura.


“Bukan. Memangnya siapa aja yang menganggapmu tidak ada?


Katakan padaku, siapa?” tanya Black Aura serius.


~

__ADS_1


__ADS_2