
“Nggak dianggap itu menyakitkan lho… Bahkan saat
kau sedang berjuang bersama orang lain.”
Sekolah pagi ini berjalan normal. Semua murid
bergegas ke sekolah sambil menggendong ransel mereka masing-masing. Pintu di setiap
kelas satu persatu mulai dibuka setelah mendengar suara para murid yang tak
jauh beda dengan dengungan lebah di dalam sarang.
Chloe yang saat itu sedang memandang dirinya
dengan gaun biru putih berpita di bagian pinggang merasa gugup akan hari jumat
dimana hari itu akan diselenggarakannya lomba fashion show.
Di lapangan, Chloe bisa merasakan betapa
menikmatinya murid-murid serta para guru di bawah sana. Tidak ada belajar,
hanya ada lomba dan ke kantinlah yang selalu mereka nantikan. Mendukung teman-teman
yang sedang berjuang keras di arena lomba demi menaikkan derajat kelas mereka.
Bukankah diberi tepukan tangan itu menyenangkan?
“Pasti tiba aku maju, mereka semua bakalan
diam…” gumam Chloe murung. Dia sengaja mengikuti lomba fashion show agar orang lain
menyadari kalau dirinya itu ada. Diabaikan dan dianggap tidak ada itu
menyakitkan. Bahkan selama Chloe hidup, hanya Lucas satu-satunya yang
menganggap dia ada dan bisa tertawa ketika mendengar lelucon yang Chloe buat.
Tapi sayang, orang sehangat Lucas tidak mudah Chloe temukan di lingkungan
sekolahnya. Semuanya hanya memandangnya dengan tatapan datar. Terkadang merasa
tidak senang dengan kehadiran dan tergganggu.
Apa seburuk inikah diri Chloe?
Terlintas di benak Chloe akan perkataan salah
satu temannya yang tidak jauh beda dengan dirinya. Ya, persamaannya terletak di
ketidakpandaian mereka dalam bergaul.
“Chloe, kau jangan sering-sering sakit ya! Kalau
kau sakit, nanti aku nggak punya teman.”
“Nggak punya teman apanya? Setidaknya kau
bersyukur bisa diterima meskipun Cuma satu atau dua orang.”
“Percuma kalau kalian berbakat tapi sendirian,” ucap
walikelasnya.
“Kira-kira, siapa yang akan menyemangatiku? Apa
Lucas akan datang?” Chloe mendongakkan kepalanya ke langit. Tampaknya seseorang
tidak sengaja menerbangkan balon berwarna hijau. Yah, tidak ada makna apapun
dari warna balon tersebut kecuali suara tangisan kencang yang berasal dari
lapangan. Suara anak kecil yang merasa kecewa lantaran dirinya tak sengaja
membiarkan balon itu lepas.
“Pasti nggak ada yang mau dukung aku. Pasti
nggak ada yang suka punya lawan sepertiku…”
Chloe sadar kalau tindakannya ini hanya akan
membuatnya tersakiti. Mendapatkan perhatian dari orang lain itu tidaklah mudah.
__ADS_1
Apalagi dengan wajah memelas. Sejak awal, bahkan sejak dirinya menginjak usia
lima tahun pun, tidak ada satupun keluarganya yang menganggapnya ada. Semuanya
sibuk dengan kepentingannya masing-masing sehingga Chloe dibiarkan di sudut
ruangan sambil memandang orang-orang yang memiliki kegiatannya masing-masing.
“Apa aku harus berjuang?”
~
TRANG! TRANG!
Black Aura seperti biasa menangkis serangan dari Aura yang
ia menurutnya mengancam nyawanya. Sedangkan Chloe yang baru saja diberi
semangat oleh Black Aura memilih bersembunyi di belakang. Dia mengumpulkan
beberapa benda yang sekiranya bisa ia gunakan untuk melukai Aura bernama Ayano
tersebut.
“Oh, benar juga! Kelemahan Aura itu manusia. Tapi, bukannya
Midnight ngelarang kita membunuh Aura?”
Bruk!
Chloe terkejut bukan main sampai-sampai jantungnya seakan
mau melompat keluar. Kepulan asap tebal dengan cepat mewarnai seisi lorong
lantai empat itu. Meski tidak minus, Chloe tetap tidak bisa melihat benda apa
yang terlempar sampai-sampai menghancurkan dinding ruangan yang berada tepat di
sampingnya. Chloe tidak bisa mengatakan detail nama ruangan itu karena pintunya
tertutup rapat dan kacanya berwarna hitam.
“Aura!” teriak Chloe setelah kepulan asap itu menipis dan
belas ceret dan gelas-gelas yang terbuat dari tanah liat. Aura itu tak kunjung
bangkit dari posisinya. Mungkin karena serangan dari Ayano tadi terlalu kuat.
Dengan langkah terburu-buru, Chloe menghampiri Black Aura.
Baru saja sampai, tangan Black Aura yang semula terkulai lemas tiba-tiba menjentikkan
jari tengahnya dengan jempol. Alhasil, luka yang Black Aura terima berpindah ke
tubuh Ayano.
“Cih!” Langkah Ayano reflex ke belakang usai mendapatkan
rasa sekali dari Black Aura. “Kekuatanmu benar-benar merepotkan ya, Aura,”
katanya. Kemudian, Ayano mengeluarkan buku tebal yang saat dia buku
mengeluarkan puluhan kupu-kupu Kristal dengan targetnya adalah Black Aura,
Di tengah pertarungan itu, Chloe tertegun. Matanya tak lepas
dari kupu-kupu yang berterbangan dengan sayap indah nan berkilau mereka itu.
Kalau dipikir lagi, semua kupu-kupu itu sudah pasti arahnya ke Black Aura.
Lantas, untuk apa dirinya di sini?
Chloe menoleh kea rah Black Aura yang berusaha bangkit meski
sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka seperti goresan ataupun memar.
Mereka mengincar Aura?
Sepuluh kupu-kupu berhasil pecah usai Black Aura serang
menggunakan palu ditambah dengan kemampuan mata penghancurnya. Pecahan Kristal
itu mewarnai lantai gedung yang kotor.
__ADS_1
“Kayaknya kurang keras kupu-kupuku,” pikir Ayano. Aura itu
membuka lagi bukunya di lembar tengah dan memilih kupu-kupu diamond yang akan
ia gunakan untuk membunuh Black Aura.
“Hancurkan kepalanya!” perintah Ayano.
Hancurkan… Kepalanya? Chloe
membeku. Wajahnya mendadak pucat ketika membayangkan sesuatu yang buruk menimpa
Black Aura apalagi jika yang dikatakan Ayano itu memang benar-benar akan
terjadi lima menit ke depan. Nggak! Jangan sampai!
Prang!
Satu persatu kupu-kupu itu pecah karena kemampuan mata
penghancur Black Aura. Sementara sisanya masih berterbangan dengan bebas hingga
akhirnya ada beberapa yang sukses menggores Black Aura. Darah hitam pun
mengalir dengan cepat di pipi Black Aura.
Black Aura berhenti dari aktivitasnya, lalu mengelap darah
di pipinya menggunakan lengan kirinya. Hanya luka gores tapi regenerasi Black
Aura tak mampu menyembuhkan luka gores tersebut.
Ayano menyeringai di ujung lorong bersamaan dengan kupu-kupu
diamond-nya yang masih berterbangan mengincar Black Aura.
Ketika Black Aura hendak menangkis kupu-kupu itu, tiba-tiba
Chloe melesat dengan cepat di samping Black Aura dengan menggenggam sabit.
“Jangan anggap aku nggak ada dong!” teriak Chloe disusul
dengan sabit yang tertancap hingga tembus di punggung Ayano dan membuat Aura
itu tumbang dengan rasa sakit melebihi kemampuan Black Aura.
“Akh!” Ayano tumbang dengan darah yang awalnya berwarna pink
kini berubah menjadi merah pekat.
Sementara itu, Black Aura hanya melongo tak percaya dengan
tindakan nekat Chloe barusan. Teriakan dan juga cara Chloe melumpuhkan Ayano
entah kenapa terkesan lucu di mata Black Aura. Ingin ketawa tapi takut
Chloe-nya kecewa. Berpikir kalau usahanya itu dianggap hanya sekedar
gaya-gayaan saja. Namun, di lain kelucuan tersebut. Black Aura menyadari
sesuatu yang kelam. Kata-kata Chloe barusan.
“Dia bilang, ‘jangan anggap aku nggak ada’?” ulang Black
Aura. Aura itu pun melangkah tanpa suara menghampiri Chloe yang tengah sibuk
menstabilkan alunan nafasnya. Chloe syok dengan aksi nekatnya tadi
sampai-sampai paru-parunya ikutan tidak stabil.
“Chloe, sebenarnya ada apa?” tanya Black Aura menundukkan
badannya di hadapan Chloe.
“Eh… Uhm, sorry. Keceplosan hehe…” ujar Chloe sembari
menarik sabit Black Aura, kemudian memberikannya pada Black Aura.
“Bukan. Memangnya siapa aja yang menganggapmu tidak ada?
Katakan padaku, siapa?” tanya Black Aura serius.
~
__ADS_1