
“Yang buat surat ini emang rada miring otaknya,” gerutu Midnight di depan empat remaja itu.
Okka meneleng penasaran, “Memang, apa isinya?”
“Perhatikan kentang itu… Begitulah,” ulang Midnight. Lepas itu, suratnya ia buang begitu saja seolah tidak berarti apa-apa. Bersama dengan hembusan nafas kasar, Midnight bangkit kemudian menghampiri tumpukan piring yang tersedia di atas nakas yang ia bawa langsung dari kamarnya di bumi. “Ayo, makan siang dulu!” ajaknya.
Dengan patuh, remaja-remaja itu menuruti perkataan Midnight dan mengambil piring mereka masing-masing. Jacqueline, dan dua youtuber itu memilih memisahkan diri karena mereka tidak ingin bau air asin di tubuh mereka mengganggu teman-temannya yang sedang makan.
“Ao, aku kesana dulu ya!” izin Jacqueline disertai tawa kecilnya sebab, di saat bersamaan, dia juga menertawakan lelucon yang diutarakan Kenzo.
“Pergilah, jangan lama-lama ya! Ada yang mau aku bicarakan soalnya,” teriak Aoi.
“Oke!”
Selepas dengan Jacqueline, Aoi beralih ke Chloe dan Black Aura yang saat itu sedang asyik-asyiknya berbincang. Akan tetapi, Aoi menangkap ada rasa tidak nyaman dari wajah Black Aura. Senyumannya kaku seolah ada yang disembunyikan Aura itu. Terlebih lagi, di dekat Chloe juga ada Ethan yang ikut nimbrung bercerita.
“Hm, ada yang salah…” gumamnya.
“Terus, dia membunuh rivalnya dengan cara disekap. Parah sih. Saking cintanya dia sama senpai-nya,” ujar Chloe yang saat itu tengah membahas game kesukaan mereka.
“Betul, betul. Habis itu kan…”
Sementara Black Aura hanya diam di tempat sambil menyeruput es kelapa miliknya. Lagi-lagi diabaikan. Ditambah lagi, dia tidak mengerti topic apa yang Chloe sukai. Ketika mendengar Chloe dan Ethan berbicara, Black Aura bisa menangkap kalau kedua remaja itu kerap kali membahas sesuatu yang berkaitan erat dengan darah dan pembunuhan. Dan juga, soal percintaan.
“Black Aura,” panggil Aoi sedikit berbisik.
Black Aura menyahuti panggilan tersebut, tanpa pikir panjang, segera pindah ke tempat Aoi.
“Apa?” tanyanya singkat.
“Kenapa kau diam aja? Kau dan Chloe lagi kelahi?”
Black Aura menggeleng pelan. Wajahnya terlihat ragu walaupun sebenarnya dia ingin mengungkapkan pada Aoi betapa kesepiannya dia.
“Bukan kelahi. Tapi diabaikan.”
__ADS_1
“Diabaikan?”
“Jangan disini ngomongnya,” Black Aura menghela nafas seraya bangkit dari duduknya. Tak lupa, dia mengulurkan tangannya pada Aoi.
Aoi tersenyum. Kemudian menjabat tangan Black Aura seerat mungkin. Mereka berdua pun pergi tanpa sepengetahuan Chloe dan Ethan.
~
“Jadi, itu alasannya kenapa kau nggak suka Ethan? Wajar sih, lagi pula, dia kan udah tahu kalau kalian pacaran tapi tetap aja berusaha mengajak Chloe ngomong. Jujur, kalau aku di posisimu, udah kuajak ribut duluan orangnya,” komentar Aoi. “Kenapa nggak kau lawan aja Ethan? Kalau kau lawan, bisa aja kan Ethan ngerti dan menjauhi Chloe.”
“Entahlah. Aku ragu kalau aku mengganggu waktu mereka. Aku takut kalau Chloe marah dan nggak mau menganggapku lagi,” ungkap Black Aura. Kali ini, Aura itu terlihat lebih murung dari ekspresi sebelumnya.
Sungguh, ini kali pertamanya Aoi melihat Black Aura semurung itu. Biasanya, Aura itu selalu tampil datar dan dingin. Tapi kali ini, dia terlihat lemah sekali.
“Jadi begitu. Selain takut nggak dianggap, kau juga takut ditinggalkan. Hah, kau nggak sendirian Black Aura. Aku juga sering berpikir seperti itu. Setiap kali melihat Jacqueline berbaur dengan yang lain, kekhawatiranku semakin bertambah. Apalagi waktu melihatnya bersama pria lain selain aku.
“Cemburu itu manusiawi, kok. Jadi, kau nggak perlu merasa takut.” Jelas Aoi panjang lebar.
Black Aura mengernyit bingung, “Manusiawi? Tapi aku bukan manusia. Harusnya, Aurawi.”
“Jorok.”
“Ma-maaf! Abisnya, kau lucu sih!” balas Aoi sambil berusaha menahan tawanya agar tidak menyinggung Black Aura yang sedang murung itu.
“Aura, kalau kau mau tahu, Chloe itu memang gampang banget perhatiannya teralihkan. Karena itulah, kau harus perhatikan betul kesukaan dia apa saja. Chloe itu gamer. Dia suka main game. Dari SMA, kalau ada waktu luang, dia selalu menyempatkan diri ke rumahku Cuma mau main game di komputerku,” tutur Aoi. Aoi memejamkan matanya bermaksud ingin mengingat kembali memori menyenangkan itu. Saking menyenangkannya, Aoi bahkan bisa mendengar suara ketawa Chloe dari dalam benaknya. Jelas sekali.
Membayangkan Chloe tertawa lepas saja sudah membuat Aoi bahagia.
“Kebahagiaanku itu adalah melihat sahabatku bahagia. Aura, kau itu sahabatku juga. Karena itulah, aku ingin kau menikmati apapun. Saat Chloe bersama orang lain pun, kau setidaknya harus berbaur dengan yang lain. Aku gak keberatan kok bermain denganmu,” beber Aoi diakhiri dengan senyuman manisnya. Segala yang keluar dari mulut Aoi entah kenapa terdengar sangat tulus di telinga Black Aura.
Black Aura sama sekali tidak bisa merasakan kebohongan dari setiap kalimat yang terucap di bibir Aoi.
Black Aura tersenyum kecil. “Hah… Maaf, tiba-tiba aku jadi curhat. Makasih ya, untuk sarannya.”
“Sama-sama. Kalau kau butuh apa-apa, hit me up, ok!”
__ADS_1
Kali ini, Black Aura tidak merespon. Di saat bersamaan, Midnight datang menghampiri Black Aura. Wanita itu terlihat memeluk buku tebal di depan dadanya.
“Aura,” panggilnya pelan sambil melirik ke belakang bermaksud mengajak Black Aura pergi ke tempat yang jauh dari keramaian. Ingin Midnight sampaikan.
Black Aura menghela nafas pelan seraya bangkit. Aura itu berjalan mengekor wanita berkacamata itu tanpa melirik ke mana-mana.
Saat ini, dunia antara Midnight dan Black Aura terasa sangat sunyi. Keduanya diam dalam pikiran dan kegelisahan masing-masing.
“Mikirin Chloe?” tanya Midnight akhirnya buka suara setelah sekian menit diam.
Black Aura tersenyum tipis. “Begitulah.”
“Cemburu?”
“Bisa dibilang begitu.”
Midnight terkekeh, “Wajar sih. Kan, udah kubilang. Kalau mau menjalin ikatan sama manusia itu harus sabar. Aku yang manusia aja sabar apalagi kau yang bukan manusia.”
Black Aura membuang wajahnya ke samping. Merasa perkataan Midnight itu tidak dapat membuat suasana hatinya tenang. Aneh memang, dirinya merasa ada yang salah sejak dirinya bisa merasakan semua emosi yang umumnya dirasakan manusia.
“Hah, bagaimanapun juga, ini urusanku. Ibu jangan ikut campur pokoknya.”
“Hm? Oke? Tapi, kalau kau punya pertanyaan, katakan saja. Hari ini aku punya banyak waktu luang. Aku juga punya rencana mau ajak Ethan ja…”
“Aku nggak butuh bantuanmu. Aku juga punya sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, ibu. Sekarang, aku mau nanya. Ritualnya kapan? Aku ingin cepat-cepat kembali ke dunia manusia meskipun rumahku ada di sini,” potong Black Aura dengan raut seriusnya. Di lain sisi, Black Aura sebenarnya juga tahu bahwa Midnight sedang tidak ingin kembali ke dunianya lantaran masalah pribadinya dengan seorang gadis berambut ikal.
Namun, pekerjaan dan tanggung jawab Midnight sebagai dosen itu juga tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Semua orang tidak tahu akan keberadaan dunia Carnater dan juga Aura-nya. Yang semua orang tahu adalah Midnight sering izin libur beberapa hari karena demam. Karena itulah, banyak orang mengira kalau wanita berkacamata bulat ini tidak bisa terlalu lelah dalam bekerja.
Midnight tersenyum tipis mendengar omongan Black Aura. Kali ini, rasanya berbeda sekali dengan empat belas tahun yang lalu. Black Aura yang dingin sampai-sampai berbicara aja jarang bisa memotong omongannya dengan rentetan kalimat yang panjang bahkan sampai berparagraf. Tentu saja semuanya karena Aura itu berbaur dengan Chloe.
Rasanya, perlahan-lahan, Midnight tidak lagi bisa merasakan kehadiran Carmine disekitarnya. Keberadaan gadis itu seolah menjauh setiap jamnya.
“Kau melakukan itu untuk Chloe? Baik, semangat ya, kalau gitu!”
Setelah memberi dukungan kecil untuk Black Aura, Midnight akhirnya berlalu ke tempat lain meninggalkan Aura itu seorang diri.
__ADS_1
~