Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 200 {Season 3: Patah}


__ADS_3

Suara jangkrik dari dalam hutan terdengar jelas sampai ke rumah Jacqueline yang saat itu baru Aoi seoranglah yang berada di dapur, memasak sambil mendengarkan irama musik untuk menemani Selasa paginya.


Dengan lihai, Aoi membolak-balikkan pancake yang ia buat dengan melempar beberapa kali menggunakan Teflon.


Sesekali, Aoi melirik ponselnya. Yap, kondisinya masih sama saat dirinya baru bangun tidur tadi. Kosong. Tidak ada notifikasi chat apapun yang terpampang di layarnya.


Aoi menghela pelan, kemudian melanjutkan lagi aktivitas membuat pancake-nya.


Benak pria itu penuh akan Chloe dan Black Aura. Meskipun sudah memiliki pasangan masing-masing, Aoi merasa bertanggung jawab harus menjaga Chloe dimanapun gadis itu berada. Padahal, dia sudah bersama Black Aura yang sudah pasti akan melindunginya dari apapun. Memang, ada yang bisa melindungi nyawanya. Tapi, bagaimana dengan hati dan perasaannya.


“Huft… Chloe baik-baik aja nggak ya?” gumamnya pasrah. Demi menjaga kecantikan pancake-nya, Aoi meletakkan sejenak Teflonnya di kompor. Tak lupa, dia mematikan apinya.


Aoi menarik kursi dan duduk. Dia membuka aplikasi chat, mencari kontak Chloe, lalu mengechat gadis itu.


“Apa aku telpon aja kali?”


“Yo, udah bangun aja?”


Aoi tersentak kaget saat suara seorang gadis tiba-tiba muncul dari ambang pintu. Beruntunglah, ponselnya tidak jatuh dan menghantam lantai.


“Astaga, bikin kaget aja kau ini!” celetuk Aoi mengelus layar ponselnya.


Jacqueline terkekeh. Gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah apalagi meminta kaaf. Dia justru menghampiri meja makan dan tanpa basa-basi menyantap pancake buatan Aoi.


“Gimana habis sarapan sama mandi nanti kita ke rumah Chloe? Udah lama nih, nggak ke rumah dia. Aku jadi kangen lempar bantal dengannya,” ujar Jacqueline dengan mulutnya yang penuh akan pancake.


Aoi menatap Jacqueline malas, “Mulutmu penuh,”


“Aku tahu. Kalau mau telpon Chloe, telpon aja. Aku juga mau mampir ke rumahnya nih,” balas Jacqueline santai dan lagi-lagi dengan mulutnya yang penuh akan pancake.


Aoi menghela nafas berat. Yah, terserah gadis itu saja. Tersedak atau tidak, dia juga yang rasain.


Sesuai yang Jacqueline bilang, Aoi langsung mencari kontak Chloe dan menelpon gadis itu. Walaupun Aoi tahu semua rutinitas pagi yang biasa Chloe lakukan dan di jam berapa gadis itu bangun, Aoi tetap yakin kalau deringan ponsel Chloe lebih ampuh membangunkan gadis itu dari dunia mimpi ketimbang suara jam bekernya yang berdering ria.


~


Sesuai perkiraan Aoi di sana, Jam weker Chloe berdering keras menggetarkan meja kecil yang terletak di samping ranjang tidur Chloe. Suara itu mengusik tidurnya.


Chloe bangun dari tidurnya dan duduk. Chloe merentangkan kedua tangannya ke depan. Sambil melakukan pemanasan kecil di atas kasur, gadis itu memandang pemandangan luar di balik jendela kamarnya.


Semalam benar-benar melelahkan tapi menyenangkan.


Rasa kantuk semalam masih berbekas di permukaan matanya. Membuat gadis itu ingin memejamkan matanya sekali lagi.


“Lima menit lagi lah,” gumannya kembali merebahkan dirinya tapi tidak jadi karena suara deringan ponselnya.

__ADS_1


Chloe berdecak sebal sambil bertanya-tanya, siapa yang menghubunginya pagi-pagi? Tanpa pikir panjang, Chloe merampas ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ketika dilihat siapa yang menelponnya ternyata, Aoi.


Mau tak mau, juga karena sahabat sendiri, Chloe langsung mengangkat panggilannya. Chloe berpikir kalau pria jepang itu mengkhawatirkannya


“Halo, Aoi… Ada apa telpon pagi-pagi?” tanya Chloe dengan nada suara yang terdengar masih mengantuk.


Diseberang sana, Aoi terkekeh. “Bukan apa-apa kok… Aku Cuma mau nanya soal jalan-jalanmu kemarin sama Aura. Gimana? Seru?”


Chloe kembali merebahkan dirinya di atas kasur seraya menjawab pertanyaan yang Aoi lontarkan, “Seru kok. Aku merasa nggak sendirian lagi. Yah, gitulah, merasa diriku yang sekarang ini lengkap gitu. Hoammm….”


Di sela menelpon Aoi, samar-samar, Chloe mendengar suara benda dari dapur. Chloe mengernyit seakan, ada orang lain yang sedang  beraktivitas di dapur. Kira-kira siapa? Saat diingat lagi, malam menjelang Chloe tidur, Black Aura pamit pulang. Aura itu juga mengingatkan Chloe seandainya ada kejanggalan di rumahnya, segera hubungi dia atau Aoi.


Nah, kebetulan ponsel yang dia genggam ini sedang menelpon Aoi, langsung saja Chloe memberitahukan aktivitas aneh yang ia dengar dari arah dapur. Mengingat dirinya yang tinggal sendirian di rumah bertingkat dua ini membuat Chloe merasakan sedikit ketakutan andai kata orang yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya adalah pria berbadan besar dengan menggenggam sebilah pisau bernoda darah.


“Hei, Aoi…” bisik Chloe. Pelan-pelan, dia menggerakkan kakinya ke pinggiran kasur agar dirinya tidak ketahuan sedang berada di kamar. “Aku rasa, ada orang di dapurku. Tapi aku nggak tahu siapa, Ao. Jangan-jangan maling...”


“Heh? Yang benar? Ya udah deh, aku otw kesana. Black Aura mana?”


“Semalam abis jalan-jalan, dia langsung pulang. Tapi, sih, dia ada ingetin aku buat nggak lupa nelpon dia kalau ada kejadian yang aneh-aneh di rumahku,” jelas Chloe. Mendadak, jantungnya berdebar-debar. Perasaan takut dan gelisah itu lambat laun mulai menyerang pikirannya.


“Ao, cepetan ya…” lirihnya.


“Iya, nih lagi nyalain mobil. Kau juga telpon Black Aura. Dia lebih pandai kelahi, kan?”


“Iya. Nih, aku telpon dia.”


Selain harus fokus mengetik, Chloe tidak sengaja mendengar suara lemari makannya yang dibuka. Kemudian, suara pintu dari ruang lain yang di buka. Tak salah lagi, ada maling.


“Diangkat, halo, Aura! Kau dimana? Please, please! Kau harus ke rumahku sekarang!”


“Oke, oke. Aku ke sana,”


Panggilan mereka berakhir dengan cepat. Bukannya lega, Chloe semakin pasrah dan gelisah. Sedari tadi, telinganya mendengar suara langkah kaki seseorang dari lantai satu. Orang misterius itu seolah sedang menggeledah isi rumahnya demi mencari barang-barang yang memiliki nilai jual tinggi.


Setahu Chloe, dirinya punya tiga emas di dalam lemari pakaiannya. Sisanya Cuma barang elektronik seperti tv, laptop, dan HP. Yah, semoga saja, orang misterius itu tidak sampai menggedor-gedor pintu kamarnya.


Chloe melirik ke lemarinya. Gadis itu beranjak dari kasurnya dan berjalan sambil menginjitkan kedua kakinya menghampiri lemari itu. Saat dibuka, dia menemukan kunci kamarnya.


“Apa kukunci aja kali kamarku?” pikirnya. Tanpa pikir panjang, Chloe segera berlari kecil menghampir pintu kamarnya, kemudian, dia kunci pintu tersebut.


“Huft… Semoga aja aku aman…”


Untuk sementara waktu juga sambil menunggu Aoi dan Black Aura sampai, Chloe memilih untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya. Untung saja, di dalam lemarinya dia tidak menyimpan plastic ataupun benda keras seperti logam yang bisa berbunyi kapan saja jika sesuatu menyenggol benda tersebut dan membuatnya berbunyi.


“Cih, sebenarnya siapa sih, yang menyelinap masuk ke rumahku pagi-pagi gini?! Kurang kerjaan kali dah!” gerutunya.

__ADS_1


~


Tak sampai lima menit, akhirnya Aoi dan Black Aura sampai di waktu bersamaan. Aoi segera keluar dari mobil begitu melihat sosok Black Aura yang berdiri di depan pintu masuk Chloe.


Setelah menarik nafas panjang, Black Aura pelan-pelan, memutar kenop pintu rumah Chloe.


“Eh? Di kunci?” gumam Black Aura penuh tanda tanya.


“Bisa dibuka?” tanya Aoi dengan nafas terengah-engah. Padahal baru berlari kecil saja sudah begitu nafasnya.


Black Aura menggeleng, “Dikunci.”


“Aish, gimana kalau kudobrak aja?” usul Aoi.


“Jangan, ntar kalau pas pintunya kebuka, malingnya di depan mata bawa senapan gimana? Bisa mati dong kamunya,” celetuk Jacqueline mengejutkan dua remaja di depannya.


“Astaga… Aduh, jadi gimana? Black Aura, kau bisa masuk lewat jendela nggak? Suruh pacarmu buka jendela dan keluar dari sana!” seru Aoi panik.


Black Aura mengangguk cepat. Aura itu segera melompat ke atap lantai dua dimana jendela kamar Chloe berada. Sama seperti pintunya, jendelanya dikunci. Hal itu membuat Black Aura ingin menepuk jidatnya karena pagi-pagi, bukannya membuka jendela dan menghirup udara segar, pacarnya ini justru membiarkan kamarnya kedinginan. Gorden kamarnya masih tertutup lagi.


Untunglah, Black Aura tak kehabisan ide. Dengan mengaktifkan kemampuan mata pelacaknya sambil menghubungi nomor Chloe, Black Aura mencari keberadaan Chloe dan juga maling yang masuk tanpa izin ke rumah Chloe. Setelah diamati semua ruangan dan jalan masuk ke dalam rumah Chloe, Black Aura menemukan semua pintu dan jendela Chloe terkunci.


Untuk cerobong asap, memang Chloe beri batu bata di dalamnya. Enah dengan alasan apa yang jelas, Chloe sudah pasti tidak mau seandainya ada orang asing masuk dan keluar lewat lubang cerobong asap dan berkeliaran di ruang tengahnya. Membayangkannya saja sudah mengerikan sekali apalagi jika merasakannya secara langsung, menurut Black Aura.


“Chloe di dalam lemari. Orang satu lagi ada… Hm?” Black Aura terkejut ketika matanya mengarah ke dapur Chloe dan disana ada seorang pria yang tengah membolak-balik buku tebal Chloe. Entah buku apa itu yang jelas, pergerakan orang itu sangat mencurigakan.


Jika dilihat dari tingginya, pria itu cukup tinggi dan lumayan berotot. Bisa bahaya jika Chloe sampai bertemu dengan pria itu. Yah, tanpa pikir panjang, Black Aura segera mencari tempat yang pas untuk memindahkan orang itu dari rumah Chloe ke tempat yang jauh dari rumahnya.


Wajah pria itu juga asing bagi Black Aura. Tapi aneh. Karena dia mengenakan topeng putih polos serta di dalam jaketnya juga terdapat beberapa pisau kecil. Benar-benar maling sepertinya. Lalu, disamping pria itu juga ada koper berukuran sedang. Isinya computer dan beberapa ponsel.


“Cih, memang pencuri. Kalau gitu… Black Aura mengeluarkan pedangnya kemudian melemparnya ke tempat yang sangat jauh. Lalu, menjentikkan jarinya untuk menukar orang tersebut. Yah, ta peduli seberapa jauh dan bingungnya orang itu dengan tempat yang Black Aura pilih, Chloe adalah prioritas utamanya.


Black Aura menjentikkan jarinya dan saat itulah, orang itu berpindah tempat. Pedang Black Aura yang terlempar itu kembali ke genggamannya.


“Ao, masuklah. Udah aman,” ucap Black Aura melompat dari atap ke bawah. Saat mendarat, tiba-tiba kakinya keseleo. Bahkan, Black Aura mendengar suara krak di kaki kanannya.


“Argh!”


Bruk!


Aoi dan Jacqueline yang hendak mendobrak pintu Chloe jadi tertunda ketika mendengar suara benda jatuh. Tanpa pikir panjang, mereka segera berlari ke asal usul suara itu.


“Lho? Black Aura? Kau kenapa?” tanya Aoi panik ketika mendapati Aura itu duduk sambil memegang kaki kanannya yang patah.


Jacqueline bengong, “Kakimu patah?”

__ADS_1


Black Aura nyengir kemudian, mengangguk pelan.


~


__ADS_2