
“Kenapa… Kenapa mereka pergi begitu cepat? Memangnya apa salahku selama ini? Kenapa aku harus dihukum seperti ini? Bukankah hidupku sudah jauh lebih menderita?”
Chloe terbangun dari tidurnya. Gadis itu agak terkejut mendapati dirinya berada di kamar orang lain akan tetapi, barang-barang di dalamnya berserakan tak beraturan di atas lantai. Gorden yang menghalangi cahaya matahari itu sobek seakan telah dicabik dengan kasar oleh hewan buas yang tak sengaja menyelinap masuk ke dalam tersebut.
Chloe bertanya-tanya sekarang. “Dimana aku sekarang?” sambil memperhatikan seisi kamar yang berantakan tersebut. Melihat kamar yang kondisinya tidak teratur tersebut, terlintaslah sebuah pemikiran yang mana ada seorang gadis yang mengalami frustasi berat hingga membuatnya harus mengacak-acak barang kesayangannya demi meluapkan emosi di dalam hatinya.
Tak sampai semenit, dugaan Chloe akhirnya benar terungkap adanya.
Di pojok ruangan, ada seorang gadis kira-kira berusia empat belas tahun. Duduk meringkuk dengan penampilan amburadul. Rambut pirangnya tak jauh beda dengan kabel yang kusut. Kedua matanya bengkak seperti dirinya telah menangis selama sebulan tanpa henti. Bahkan, isak tangisnya masih bisa Chloe dengar meskipun samar.
Tidak tahu apa yang ditangisi gadis itu. Chloe berniat ingin menghampiri gadis itu namun dia takut lantaran pisau dapur yang digenggam gadis itu. Terdapat cairan kental berwarna merah mengalir di setiap sisi pisau dan menetes ke lantai tanpa suara. Seolah cairan itu tidak ingin mengganggu ketenangan yang tengah menyelimuti kamar gadis yang terlihat depresi dan kehilangan harapan tersebut.
Chloe menggigit ujung bibirnya berusaha berpikir keras cara agar dirinya bisa memanggil gadis yang frustasi itu tanpa harus membiarkan dirinya terluka. Singkatnya, tidak ada perlawanan antara Chloe dengan gadis itu.
Sialnya lagi, tidak ada Black Aura di sampingnya dan hal itu membuat Chloe mau tak mau harus berani menghadapi gadis di hadapannya seorang diri. Dengan bermodal keberanian dan pikiran positif dalam benaknya, Chloe pun menghampiri gadis itu.
Dilihatnya juga beberapa kertas dengan coretan kasar, tak jelas, dan tinta merah yang tersebar di dalam kertas yang hampir remuk tersebut.
Chloe menyipitkan matanya berusaha mengamati dengan jelas objek yang digambar gadis itu. “Black Aura? Devil Mask? Yumi? Ada Captain juga?” gumam Chloe mulai bingung dirinya sekarang.
Sementara, gadis yang meringkuk di pojok ruangan masih tak berkutik. Isak tangisnya naik turun. Tergantung suasana hatinya saat itu.
Chloe meraih satu kertas. Disana terdapat gambar kuda poni dengan latar belakang boba, ponsel yang menampilkan gambar gadis itu dengan orang yang tak dikenal, pisau, rantai, cakaran, dan gandengan tangan. Heran Chloe dibuatnya.
“Percuma. Mau kau pandang sampai mati pun, kau nggak akan pernah memahaminya.”
Chloe tersentak, reflex menoleh ke arah gadis yang duduk meringkuk itu. Kali ini, dia memperlihatkan tatapan dinginnya pada Chloe. Tidak peduli seberapa tua usia Chloe ataupun seberapa takutnya Chloe terhadapanya, gadis itu tetap menganggap semua orang termasuk Chloe tidak akan pernah paham dengan apa yang dia rasakan.
“Carmine?” Chloe menelengkan kepalanya begitu tahu rupa gadis itu. Ternyata Carmine. Tapi, kenapa dia sekacau ini penampilannya?
“Cih, kau bukannya membantu justru merepotkan diriku saja.”
__ADS_1
“Eh? Apa maksudmu?” Chloe semakin tak mengerti dengan apa yang Carminer lontarkan. Suara gadis itu dingin sekali. Bahkan, Midnight kalah dinginnya dengan dia.
“Sudah kubilang, kau nggak akan paham.”
“Nggak! Bukan begitu! Kalau kita bisa bicarakan dengan baik, semuanya akan…”
“Baik-baik saja? Itu yang mau kau katakan, bukan? Ya, aku tahu. Semuanya bilang begitu. Tapi, coba kau lihat sekelilingku. Tak siapapun yang bisa melindungiku. Hanya ada aku sendiri yang bisa melindungiku. Aku bahkan, memecah perasaanku menjadi tujuh,” Carmine tertawa masam. Sedangkan Chloe hanya menatapnya dengan raut bingung.
“Memecah perasaanmu menjadi tujuh? Tunggu, maksudmu Aura kan? Kau ini… Sebenarnya udah mati kan?”
Carmine mendongakkan kepalanya. Memperlihatkan wajahnya yang pucat seperti mayat dan senyuman tipis miliknya. “Oh, kau udah tahu?”
Chloe mengangguk. “Aku tahu dari kakakmu. Dan aku nggak tahu bagaimana bisa aku berada di kamarmu dan bertemu denganmu.”
“Ini mimpi, Chloe. Karena kau menjalin ikatan dengan Aura, maka kau bisa bertemu denganku di mimpi. Meskipun nyatanya aku udah lama mati,” tutur Carmine. Gadis itu memandang telapak tangannya, lalu pergelangan tangannya yang memiliki banyak sekali luka sayatan.
Chloe semakin prihatin melihat kondisi Carmine. Akan tetapi, karena gadis itu sudah mati, Chloe rasa, dirinya tidak perlu lagi mengkhawatirkan kondisi gadis itu. Sebenarnya, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan mumpung dirinya diberi kesempatan bertemu dengan Carmine. Seingatnya, selain Midnight, Carmine memiliki pengetahuan banyak mengenai Aura. Terutama, Black Aura dan kemampuannya.
“Belum. Kami lagi cari bahan ritualnya. Tapi, ada Aura berambut hijau…”
Carmine tersenyum kecut. Tanpa pikir panjang, memotong omongan Chloe sebab dia tahu siapa Aura yang menjadi biang keladi bangkitnya amarah Black Aura. Sejujurnya, Carmine telah melihat semua yang Chloe, Midnight, dan teman-temannya lakukan. Melalui mata para Aura seperti Black Aura, Captain, Devil Mask, dan Yumi. Keempat Aura itu adalah bagian dari perasaan negatif yang selama ini sangat dia jaga dengan baik. Carmine juga menganggap mereka sebagai saudaranya sendiri.
“Jean namanya. Sudah kuduga, pasti bakal ada banyak Aura yang membenci Megaville. Transparan tapi topeng mereka bisa kulihat dengan jelas. Kau juga. Kau yang nggak ada kaitannya dengan masalah Black Aura dengan kelompok Megawave jangan seenaknya melarang dia. Memang terus terang, aku senang kau bisa menjadi teman Black Aura. Tapi, kau tak boleh begitu saja mencampuri urusannya. Apalagi kakakku. Pokoknya, jangan memperbesar masalah!” tegasnya. Carmine memejamkan matanya berusaha menetralisir kekesalannya terhadap Chloe. Selama ini yang dilihat di matanya, Chloe itu banyak maunya. Dia ingin seperti ini dan itu tapi tidak memahami situasi.
Memang ada sisi Carmine yang merasa senang melihat Black Aura bisa tersenyum karena kehadiran Chloe. Akan tetapi, jika Chloe terus menerus mengatur Black Aura sehingga membuat pikiran Aura itu terganggu, Carmine mau tak mau harus menceramahi Chloe sekaligus memberi ancaman lembut agar gadis itu tidak menjadi pengatur hidup orang lain.
“A-aku tahu… Tapi, aku dan Black Aura udah pacaran…” intonasi Chloe menurun saat mengucapkan kata ‘pacaran’. “Karena itulah, aku bertekad untuk terus bersamanya. Kalau bisa, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk melindunginya juga!”
“Oh, kau berani juga. Nah, kalau gitu… Pas kau bangun nanti, coba saja hentikan pacarmu yang mengamuk itu. Tak semua orang bisa menghentikan Black Aura yang sedang mengamuk kecuali aku dan kakakku,” tantang Carmine disertai seringai lebar.
“Baik! Akan kucoba!” bukannya takut, Chloe malah menerima tantangan tersebut dengan senyum positifnya. Dia juga memperlihatkan pose seperti menghormat bendera. Hanya saja, objeknya diganti menjadi Carmine yang terbelalak sedikit menanggapi respon Chloe.
__ADS_1
Bukan hanya positifnya, Chloe tampak dengan senang hati ingin membantu Carmine. Apa memang pada dasarnya, dia ingin membantuku ya? Batin Carmine walau dirinya sulit mengakui hal itu lantaran minimnya kepercayaan yang ia taruh pada orang lain. Sulit bagi Carmine untuk mengandalkan orang lain selain kakaknya, Midnight dan dirinya sendiri.
Bagi Carmine, di dunia ini yang memahaminya hanyalah keluarganya yang sudah lebih dulu meninggal, lalu Meg, dan yang terakhir adalah Midnight. Wanita berkacamata yang telah menjadi motivasinya untuk terus hidup dan bersemangat mencintai dirinya sendiri.
Sebuah helaan nafas singkat dari Carmine terdengar jelas di telinga Chloe. Untuk kesekian atau mungkin puluhan kalinya, Chloe menelengkan kepalanya. Sebuah kebiasaan disaat dirinya merasa bingung dan tidak mengerti dengan situasinya saat ini.
Carmine terkekeh lemah, “Yah, gimana ya? Kalau Black Aura percaya padamu, itu artinya… Aku percaya denganmu, Chloe,” katanya seperti baru saja menghela nafas lega.
“Aku selama ini kesepian. Bahkan setelah keluargaku pergi meninggalkanku, aku selalu merasa kesepian. Aku tidak percaya dengan kerabatku dan malah menaruh dendam pada mereka. Mereka orang-orang yang senang sekali membuat keluargaku susah. Mereka juga santai sekali memanfaatkan kebaikan orang tuaku. Karena itulah, aku bertekad menjadi pribadi yang berbeda jauh dari orang tuaku. Aku tahu, terkadang kita butuh juga bersikap baik pada orang lain. Namun, kalau sudah tiba dimana orang yang menerima kebaikan kita menjadi ngelunjak…”
Carmine menelan salivanya susah payah. Bola matanya memandang kedua kakinya yang dibaluti kaos kaki hitam dengan polkadot pink yang mewarnai kaos kaki tersebut. Aneh, padahal sebelumnya, dia merasa perasaannya semrawut. Ingin menangis tapi di sisi lainnya ingin membunuh seseorang yang telah membuatnya menderita. Orang itu sedang kritis kondisinya saat ini. Beberapa hari yang lalu ditemukan Midnight dengan luka parah dan tembakan di sekujur tubuhnya. Carmine tidak menyangka saja, kalau dirinya akan bermusuhan dengan sepupunya sendiri.
Dulu, tidak ada satupun yang ia percayai. Bahkan saat pertemuan pertamanya dengan Midnight, Carmine tidak ragu-ragu membentak gadis itu. Sebab, orang-orang yang menolongnya pasti akan meminta imbalan suatu hari nanti. Dan hal itulah yang sangat Carmine waspadai. Dia tidak ingin dirinya dicemooh, dibicarakan yang buruk oleh orang-orang yang pernah menyelamatkannya.
Memang kenyataan dan hatinya juga mengatakan bahwa dirinya membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya. Akan tetapi, dengan pengalaman dan masa lalu yang kelam membuat Carmine menutup diri dari dunia luar. Membiarkan kesepian melahap jiwanya.
“Aku nggak tahu lagi… Aku pusing tapi aku bahagia. Aku bahagia bisa memiliki Midnight dalam hidupku. Selain itu juga, aku menyesal karena…”
“Kau meninggal lebih dulu darinya?” potong Chloe ikut merasa sedih.
Carmine tertegun, lalu mengangguk pelan. “Midnight itu kakak yang baik. Dia dibenci keluarganya dan memutuskan untuk kabur. Aku setidaknya bersyukur karena masih memiliki keluarga yang menerimaku. Aku… Nggak nyangka aja, pengalaman kelam Midnight justru membuatnya menjadi lebih penyayang. Dia melakukan segalanya demi kebahagiaanku. Dia menyayangiku layaknya adik sendiri. Aku… Hiks…” Air mata Carmine bercucuran deras.
Melihat pemandangan itu, Chloe melangkah kakinya menghampiri Carmine. Kemudian, memeluk gadis itu. Tak lupa dengan usapan lembut dipuncak kepala gadis itu. Bisa Chloe rasakan dari tangisan gadis itu, Carmine kesepian. Bahkan saat bukan manusia sekalipun, Carmine masih merasa kesepian. Parahnya lagi, dia sampai membagi perasaannya menjadi tujuh hanya untuk melindungi diirnya dari orang-orang jahat. Memang, keajaiban bisa saja datang kapanpun. Di waktu yang tidak mereka duga tentunya.
“Jangan khawatir, aku akan melindungimu. Aku juga, mau berterima kasih karena sudah percaya padaku. Kau gadis yang baik Carmine. Sekarang, kau nggak kesepian lagi. Midnight juga akan aman bersama kami. Kakakmu itu nggak sendirian lagi kok. Anggap aja, aku dan teman-temanku adalah keluargamu,” bisik Chloe. Setelah itu mengecup pelan puncak kepala Carmine. Setidaknya, dia bisa memberikan Carmine ketenangan.
Memang di hadapannya sekarang, Carmine itu adalah gadis muda. Tapi, jika dilihat lebih dekat terutama menggunakan perasaan, Chloe bisa menangkap kesamaan yang Carmine miliki dengan Black Aura. Apalagi, saat memeluk Carmine, Chloe merasa dirinya seperti sedang memeluk Black Aura.
“Nyaman…” gumam Carmine spontan. Isak tangisnya perlahan memudar. Tersapu oleh kenyamanan yang Chloe berikan padanya dengan hati yang tulus.
“Hmm… Aku juga.”
__ADS_1
~