Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 53


__ADS_3

“Seperti yang kuduga, pasti akan ada manusia yang menjalin ikatan dengan Aura milikku.”


Aoi masih terdiam sambil menggambar sketsa seseorang. Sedari tadi dia hanya mendengarkan cerita  wanita berkacamata bulat itu. Posisi mereka saat ini berada di dalam café mall. Sebenarnya Aoi sudah meminta wanita itu untuk ikut dengannya. Hanya saja, Midnight menolak karena mereka harus melewati keramaian yang tentu saja pasti akan ada banyak Aura melintas. Midnight juga


tidak memiliki kemampuan mendeteksi keberadaan Aura.


“Memangnya salah, ya?” Aoi akhirnya bertanya sembari memotong bolu coklat yang dipesannya.


“Eh? Siapa yang bilang salah? Tentu saja aku senang jika anak-anakku memiliki teman seperti kalian. Mereka selama ini sangat kaku dan jika mereka berubah menjadi lebih terbuka, aku sebagai seorang ibu akan sangat


senang. Dan… Tergantung kalian juga bagaimana mempertahankan ikatan kalian.


Biasanya akan ada banyak masalah yang mengikuti kalian dari belakang dan kalian


harus kuat menghadapinya. Sama sepertiku dulu…” Suaranya turun satu oktaf.


Aoi melirik wajah Midnight. Wanita itu selalu memperlihatkan senyumannya. Malam itu juga. Midnight memandangnya dengan senyuman walau mata biru malam itu menyala dingin terhadapnya. Saat nada suaranya turun satu oktaf, dia masih setia dengan senyumannya. Jelas sekali, wanita ini orang yang


tertutup dan senang menyembunyikan perasaannya.


“Maaf, aku memang lancang tapi, berapa usiamu kalau boleh tahu? Agar aku mudah memanggilmu.”


“26 tahun.”


“Heh? Bukankah kau sudah menikah? Memangnya kau menikah di usia berapa?”


Mata Midnight yang sipit itu terpejam disertai helaan nafas singkat. “Aku menikah di usia yang tergolong muda. Sembilan belas tahun. Saat itu, aku masih berstatus mahasiswa. Aku masih kuliah dan aku juga tinggal di


Carnater bersama suamiku. Aku bertemu Megawave di usia tujuh belas tahun. Saat


itu adalah puncak dimana aku benci dengan dunia ini. Saat itu, aku kabur dari rumah yang seperti neraka itu. Aku melihat pemandangan di atas jembatan. Indah sekali.”


Saat Midnight bercerita, Aoi sambil membayangkan bahwa wanita ini telah melewati masa-masa sulit. Aoi dibuat terenyuh ketika imajinasinya bermain sekaligus menggambar sosok Midnight yang masih remaja, memandang dunia dengan mata berbinar di atas jembatan meski dirinya berniat


untuk mengakhiri hidupnya kala itu. Rambutnya seperti melambai-lambai. Senyuman girang yang ia bentuk meski berat hatinya menahan beban di dunia ini.


“Memori-memori fantasi itu… Masih sangat melekat di benakku. Dia yang bukan manusia yang bahkan dia tidak tahu apapun yang namanya cinta tapi, justru dialah yang memberiku cinta yang bahkan tak pernah diberikan oleh orang lain. Dia orang yang baik.” Ucap Midnight


Meskipun Aoi tidak pernah mengenal wanita itu, dia bisa merasakan sepanjang apa perjalanan yang telah dia raih hingga sampai ke titik


dimana dirinya menjadi seorang ibu. Aoi merasakan pahit di dalam hati wanita


itu.


“Anak-anakmu luar biasa ya! Mereka semua tidak jahat seperti yang kubaca di buku.” Ujar Aoi.


“Buku? Memangnya ada buku yang membahas tentang kami?”


“Ya. Buku itu entah dimana Chloe meletakkannya. Tapi, dari buku itulah aku bisa mengenal Aura itu lebih dalam. Aku merasa bersyukur bisa menjadi teman dari beberapa anak-anakmu.”


Midnight terkekeh. “Meskipun kalian nantinya bakal tahu latar belakang mereka, apa kalian masih ingin menjalin ikatan dengan mereka.


Biasanya, latar belakang juga menjadi pertimbangan seseorang dalam menjalin


ikatan dengan orang lain. Jika latar belakang temanmu dulunya adalah seorang


pembunuh berantai dan pacarmu adalah salah satu dari korban temanmu ini. Apa yang akan kau lakukan? Memutuskan ikatan atau mempertahankannya?” tanya Midnight.


Kali ini, raut tatapan sekelam malam itu berubah menjadi dinginnya suasana malam. Gadis dengan nama yang bermakna malam itu memandang Aoi lekat-lekat. Dia tidak memperdulikan ketakutan yang Aoi rasakan saat pandangan mereka saling bertatapan.


“Aku… Aku…”


“Pasti akan ada keraguan di dalam hatimu, bukan? Kalau aku, pasti akan mempertahankannya.”


“Kenapa begitu?”


“Yah, kau cari sendiri alasannya. Kau yang menjalin ikatan, kau yang punya alasan kenapa kau mau bersamanya. Kalau kau memang memihak kami, beri aku alasan kenapa kau mau berteman dengan Yumizuka? DIlihat dari sifatnya yang suka mencari perhatian dan seenaknya sendiri pasti menjengkelkan, bukan?


Kau sendiri orang yang terkesan introvert dan Yumizuka orang yang extrovert.” Midnight


mengambil segelas kopi yang ia pesan lalu meneguknya pelan-pelan karena masih


panas. Asap kopi yang masih panas itu membawa getaran yang menenangkan baik


dari kopinya maupun aromanya.


“Kalau kau menanyakan alasanku…” Aoi terdiam sejenak. Ia meletakkan tangannya di bawah dagu lalu berpikir. Perasaannya agak kurang


nyaman saat bersama Midnight. Perkataan wanita itu membuatnya menjadi takut


menyeruakan alasannya.

__ADS_1


“Jangan takut, bukan hanya kau saja. Jacqueline dan Chloe. Mereka sangat penting bagiku. Alasan kalian adalah penentu seberapa jauh ikatan kalian.” Tegas Midnight. “Untuk saat ini, silahkan kalian pikirkan baik-baik. Aku


harus memikirkan banyak rencana untuk menghindar dari Yuuki.Tidak. Lebih tepatnya menyerang Yuuki. Dia harus segera dihentikkan sebelum semuanya terjadi.


“Ah, aku penasaran. Apa Yuuki itu benar-benar manusia? Kenapa ada dua manusia seperti kalian bisa memiliki hubungan dengan hal


fantasi?”


“Manusia pertama yang pernah ke Carnater dan diminta langsung ke Carnater adalah, AKU. Ingat itu baik-baik, nak! Yuuki hanya


pengganggu. Kalau kalian menganggap Black Aura, Devil Mask, Yumizuka, dan yang


lainnya tidak berperasaan, kalian belum mendengar ceritaku dan belum melihat


Yuuki yang sebenarnya. DIa mengincarku karena cinta dan aku menolaknya. Tapi,


aku tidak menyangka kalau dampaknya akan sejauh ini.


“Aku Cuma mau hidup normal. Itu saja… Tapi, selalu saja ada orang yang menghalangi jalanku. Yuuki salah satunya.” Midnight kembali membuka matanya dan membenarkan letak kacamatanya.


“Yuuki itu… Siapamu?”


“Heh? Ah… Uhmm… Gimana cara menjelaskannya, ya? Ini hanya cerita klise tentang anak sekolah. Sudahlah! Aku mau focus dengan rencana dulu! Dasar anak zaman sekarang!” gerutu Midnight lalu mengambil bolu yang Aoi potong tadi dan mengunyahnya.


“Kau mau membantuku?” tanyanya.


Aoi terkesiap. Dia segera menyembunyikan gambarnya dan mengangguk cepat pada Midnight. “Aku akan mencobanya!”


“Aku nanya, mau membantuku? Kalau mau ya, bilang ‘mau’! Kalau nggak, pamit dan pergilah dari pandanganku! Btw, panggil saja aku Midnight. Aku benci terlihat lebih tua di mata kalian.”


“Ak-aku mau! Tentu saja! Aku berada di pihak kalian kok.” Seru Aoi berusaha meyakinkan Midnignt yang curiga.


Wanita itu melipat kedua lengannya layaknya boss. Dia sama sekali tidak keberatan jika Aoi menganggapnya arogan dan tidak sopan. Bahkan, dia tidak segan-segan mengatakan hal-hal yang membuat pria jepang itu pusing


tujung keliling.


“Kalau begitu, ada satu syarat!”


“Eh? Kenapa begitu?” Aoi memucat seketika.


Memandang reaksi Aoi yang mudah sekali panik, Midnight terkekeh. “Kelihatannya kau adalah anak sulung yang terlalu ditekankan


orangtuamu untuk menjadi teladan yang baik, bukan? Kau harus mengikuti petuah dan nasehat mereka agar kau bisa sukses dan terpandang di mata orang lain, benar kan?”


“Bukan. Aku guru matematika dulunya. Aku hanya suka menebak saja.” Ucap Midnight santai.


Sebenarnya Midnight itu orang yang lembut juga. Dia hanya memiliki beberapa sisi sebagai bentuk waspadanya dalam menjalin ikatan dengan oranglain. Kurasa, dia dulunya…


“Di sekitarku memang banyak orang jahat berkeliaran. Baik Yuuki, Auranya, maupun keluargaku sendiri. Tapi maaf! Aku tak ingin membahas perasaanku disini. Aoi! Hanya ada satu syarat jika kau mau menemaniku disini


sampai semua masalah ini selesai. Yaitu…”


Merasa penasaran, Aoi memajukan posisi duduknya.


“Hargailah usaha seseorang yang ingin bersamamu. Itu saja!”


“A-apa?!” Aoi terbelalak langsung mendengar kalimat itu bahkan sampai memukul meja dan membuat seisinya bergetar. Orang-orang di


sekitar café semuanya teralih langsung pada seruan Aoi.


“Yap. Itu saja. Ayo kita pergi! Kita harus pergi ke tempat yang jauh dari keramaian.”


Tanpa basa-basi lagi, Midnight mendorong beranjak dari posisi duduknya usai meneguk segelas kopi panas itu. Langkah kakinya membawanya langsung ke pintu dan keluar dari café. Entah disengaja atau tidak, Aoi


ditinggalnya seorang diri.


“Di-dia meninggalkanku?” gumam Aoi bingung. Untunglah, bingung tersebut tidak berlangsung lama dan langsung dipecahkan oleh ketukan


tajam di jendela yang Midnight arahkan langsung pada Aoi.


“Ikuta tau tidak?” dia bertanya di balik jendela café tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang terlihat heran ke arahnya.


Dengan terburu-buru, Aoi segera meninggalkan bangku dan bolunya yang masih tersisa tiga potong. Dia berlari menghampiri Midnight seperti orang yang memiliki sifat ceroboh sejak lahir.


Midnight berdecak pelan melihatnya. “Bisakah kau terlihat lebih keren saat berlari? Aku agak jijik melihatnya.” Ledeknya dengan kedua


mata yang ia sipitkan.


“Ah, kau ini, nona. Langkahmu saja yang terlalu cepat.”


“Banyak sekali alasanmu! Ayo!”

__ADS_1


Akhirnya, mereka berdua berbalik dan melanjutkan perjalanan mereka. Kemana  arah mereka itu urusan nanti menemukan musuh yang pastinya akan mengganggu perjalanan mereka.


...🍁...


Chloe sedari tadi asyik menatap kentang goreng yang masih utuh di atas piring itu. Tatapan kosong itu bukan berarti dia sedang tidak dalam mood yang bagus, melainkan bengong tanpa alasan. Black Aura yang duduk


berhadapan dengannya hanya bisa diam sambil menunggu gadis itu duluan mengambil


kentang.


Selain bengongnya gadis ini, Black Aura menduga bahwa keberadaan Minji yang tak jauh dari bangku Chloe duduk merupakan pemicu gadis ini bertingkah tak biasa dan kaku.


“Eh! Chloe! Jangan bengong! Nanti kau kerasukan lagi!” Black Aura tiba-tiba mengejutkan Chloe sehingga gadis itu beneran terkejut dan menggertak meja. Nyaris saja getarannya menumpahkan sepiring kentang yang masih hangat itu.


Tingkah Chloe benar-benar membuat Black Aura trauma. Dia tidak ingin lagi hal yang buruk terulang untuk kedua kalinya. Dan lagi, gadis


itu ceroboh juga.


Black Aura menghela nafas berat. Dia kembali memperingatkan Chloe untuk tidak bengong lagi. “Jangan bengong lagi atau kau akan celaka.”


Chloe melirik Black Aura kemudian tertawa cekikikan. “Iya, maaf ya! Aku memang berniat ingin menyusun rencana dan mengingat tempat yang biasanya Aoi datangi. Tapi, aku malah bengong. Sama ya, seperti hantu!”


“Jangan membahas hal-hal yang tidak kumengerti. Auranya sangat kental. Anehnya, aku tidak bisa menebak yang mana satu orangnya. Yuuki itu benar-benar berbahaya meskipun aku nggak pernah sekalipun berhadapan dengannya. Aku masih waspada dengan rencana Yuuki selanjutnya.” Ungkap Black Aura cemas.


Raut wajah yang tak biasa itu ikut membuat Chloe merasakan cemas. Seakan baru saja mengulangi kesalahan yang sama.


Kedua remaja itu akhirnya saling berdiam diri dan membiarkan suasana di sekitar mereka dikuasai oleh heningnya disertai dengan topic pembicaraan yang mati.


Belum ada dari mereka yang mau mengutarakan suara mereka kecuali


seorang pria yang main mendatangi meja mereka dan lagi-lagi membuat mereka


terkejut. Astaga, tampaknya terkejut sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka


saja. Bahkan sampai tak terhitung berapa kali mereka terkejut dalam satu hari.


“Maaf. Aku mau nanya…”


Sebuah garis berwarna merah terlintas cepat di benak Black Aura dan menyadarkan Aura itu akan keberadaan orang asing di dekatnya.


“Yohan? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Chloe tanpa pikir panjang.


“Wah, kelihatannya mengganggu ya!" ujar Yohan merasa tak enakan.


Berbeda dengan Chloe yang bisa memakluminya, Black Aura melayangkan tatapan tajam pada pria korea itu.


"Yap. Pergilah! Gadis ini punya urusan penting denganku!" usir Black Aura dingin.


"Hah... Dia mulai lagi." Gumam Chloe dan membiarkan Black Aura mengurusi Yohan yang kebingungan.


"Eh? Begitu. Tapi, aku juga punya urusan dengan Chloe." Kata Yohan malu-malu.


"Urusan?" kedua remaja itu menoleh curiga.


"Iya hahaha... Jadi, Hyori memintaku agar mengundangmu ke dalam acara reuni SMP yang kedua."


"Temanmu merepotkan sekali, Chloe." Celetuk Black Aura malas.


"Yah, begitulah. Aku bahkan nggak menyangka kalau Hyori masih peduli padaku. Tapi yah, aku senang masih ada yang menganggapku ada."


Chloe tiba-tiba berdiri dan menghampiri Yohan. Tentu saja Black Aura kaget rupanya, Chloe berpikiran lain dengannya.


Lantas, Black Aura segera mencengkram lengan Chloe dan menahan gerakan gadis itu.


"Apa-apaan kau ini?! Kita harus mencari Aoi bukan bermain!" bisik Black Aura tidak terima.


"Ehm... Benar juga sih." Chloe terlihat ragu.


"Kenapa kau malah melarang gadis ini? Dia kan mau bersenang-senang dengan sahabatnya." Timpal Yohan disertai dengan senyuman.


Black Aura berdecak sebal karena Yohan terlihat ingin mencampuri urusan mereka. Tanpa memandang sekitarnya yang tengah menikmati hidangan cafe dengan tenang, Black Aura membanting satu tangannya sambil mempertahankan raut dinginnya.


"Itu karena... Gadis ini memiliki urusan yang harus diselesaikan!" Sahut Black Aura disertai tatapan dingin dan mengancam itu.


"Ooh... Kau berani juga."


Siapa yang menyangka kalau Yo-han yang dikira akan ketakutan malah menatap Black Aura dengan arogannya. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Kemudian, memajukan selangkah mendekati Black Aura.


Orang-orang yang ada di dalam cafe tidak dapat berbuat apa-apa selain memperhatikan mereka dari jauh atau kembali ke dalam kesibukan mereka lagi.


Yohan menginjitkan kakinya. "Lama tak jumpa." bisiknya.

__ADS_1


...🍁...


Authornya nggak enak badan😅


__ADS_2