Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 205 {Season 3: Traveler Malam}


__ADS_3

“Oh, ya…. Sekarang jam berapa?”


“Hm? Jam sepuluh malam. Kenapa memangnya? Kenapa kau bangun?”


Chloe tertegun sejenak. Gadis itu mendadak bangun dari tidurnya setelah mengalami mimpi buruk singkat dimana dirinya melihat Midnight yang mengetuk pintu masuk rumahnya berulang kali tapi tidak mendapatkan respon apapun dari dalam rumah.


Chloe memijat keningnya karena merasa pusing selepas dirinya memaksakan diri untuk membuka mata dan bangun. Dia bahkan memaksakan tubuhnya untuk duduk juga membangunkan paksa Black Aura yang sedang nikmat-nikmatnya tidur pulas.


Kalau tidak salah ingat, Midnight mau datang ke rumahku malam ini? Tapi jam berapa? Batin Chloe terserang panik.


Sementara itu, Black Aura yang masih antara sadar dengan tidak terpaksa berdiri lantaran pacarnya menariknya paksa plus mengajaknya berjalan ke bawah menuju ruang tamu.


“Aduh, bahaya kalau sampai membiarkannya di luar jam segini!” celetuk Chloe merasa bersalah.


Kunci ruang tamu yang tadinya tersimpan dengan baik di dalam laci, dirampas oleh Chloe yang sudah tak sabaran ingin membukakan pintu untuk dosennya.


Chloe mendorong pelan Black Aura yang masih mengantuk itu ke sofa, lalu membiarkan Aura itu tidur sebentar.


Sebelum membuka pintu Chloe menarik nafas nya sebentar. Kemudian membuangnya pelan dan barulah dia membuka pintu ruang tamunya. Tentu saja setelah kuncinya sudah dibuka.


Benar saja, rupanya Midnight menunggunya di dalam mobil.terlihat jelas dari kaca depan mobil Midnight yang transparan. Wanita itu sedang fokus memainkan jari telunjuknya di atas layar ponselnya.


Merasa tak enak, tanpa pikir panjang Chloe segera menghampiri dosennya. Dia mengetuk tiga kali kaca kiri mobil Midnight.


“Midnight…” panggilnya.


Sadar akan ketukan serta kehadiran seseorang, Midnight segera mematikan ponselnya dan menurunkan kaca jendela mobilnya. Raut wajahnya terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa dengan wanita itu.


“Kukira kau udah tidur,” ujar Midnight tersenyum hangat.


“Aslinya sih, udah ketiduran. Cuma tiba-tiba aku keingat sama Midnight yang mau datang ke sini. Jadi, yah… Gitu,” balas Chloe seadanya.


“Oh, Itu… Aura ngantuk?” tunjuk Midnight terkekeh kecil.


Saat Chloe menoleh ke belakang, ke tempat dimana Black Aura duduk di kursi teras dan tertidur disana, Chloe jadi ikutan tertawa dibuatnya. Lalu, dia mengangguk sebagai respon omongan Midnight tadi.


“Dia ngantuk. Midnight kesini ada keperluan apa?”


“Nggak ada… Cuma mau ngomong sama kalian aja. Udah lama kita nggak ngomong. Malah kita jarang ngomong. Juga, kalian berdua kan pacaran. Aku ‘kan’ sebagai orangtua maksudku, wali pacarmu kan seenggaknya juga perlu membahas tentang hubungan kalian,” jelas Midnight malu-malu.


Chloe yang mendengarnya juga ikut malu-malu. Seperti bertemu dengan ibu mertua saja.


“Ya udah deh… Daripada di luar dingin, mending kita masuk aja yuk! Aku juga habis masak makan malam. Mungkin agak dingin karena kami ketiduran tadi.”


“Santai… Aku juga bawa cemilan kok!” Midnight keluar dari mobilnya kemudian, menutup rapat pintu mobil tersebut.


Mereka berdua masuk ke pekarangan rumah Chloe sampai akhirnya tiba di depan pintu masuk rumahnya. Black Aura masih tertidur pulas di samping mereka. Sampai akhirnya, Midnight membangunkan Aura tersebut dengan sedikit tepukan kecil di keningnya.


“Bangun… Mau sampai kapan kau tidur di luar?” tanya Midnight—berhasil membangunkan Black Aura.

__ADS_1


“Aura, ayo masuk! Kita makan malam sama-sama!” ajak Chloe.


“Iya… Bentar…” sejenak sebelum masuk ke dalam, Black Aura melakukan sedikit pemanasan kecil agar tubuhnya tidak begitu kaku saat diajak berjalan bersamanya.


“Oh, aku lupa… Chloe, ibu… Aku pergi sebentar,” ucap Black Aura tiba-tiba, ada sesuatu yang penting itu melintas cepat di kepalanya.


“Kemana?” tanya Chloe.


“Devil Mask.”


“Oalah… Jangan lama-lama ya!” seru Chloe sambil melangkah menghampiri Black Aura kemudian, mengecup pipi kanan Aura itu hingga membuat rona merah mengambil alih area pipi Aura tersebut.


Serangan kejutan lagi tapi kali ini lembut.


“Chloe! Jangan suka tiba-tiba dong!” bisik Black Aura malu. Dia sedikit menunduk lantaran tidak ingin Midnight melihat wajahnya yang memerah merona.


Chloe tertawa jahil, “Biar nggak ada yang ambil ciuman kita, Aura.”


“Heh?” Black Aura membeku seketika mendengar perkataan itu.


“Dasar… Kalau penting, langsung aja pergi sana! Nggak usah pakai acara bengong segala!” Chloe menggenggam erat kedua lengan Black Aura. Lalu, memutar paksa Aura itu menjadi menghadap pintu luar dan mendorongnya sampai langkah Aura itu membawa tubuhnya keluar dari rumah Chloe.


“Oh, ya! Habis sama Devil Mask, tolong belikan kami susu kotak ya!” pinta Chloe seraya menyerahkan dompetnya pada Black Aura.


“Jangan hilang lho!”


“Pft. Nggak bakal kok…”


~


“Kak, bangun…”


Yira membuka matanya dan mendapati dirinya ketiduran di dalam kereta api. Seorang pria tua kira-kira berusia delapan puluh tahun itu menepuk pelan pundaknya ragu. Takut jika sosok yang dia bangunkan ini bukanlah manusia melainkan… Penunggu kereta api


“Ini udah jam sepuluh malam. Bahaya kala tidur di kereta sendirian,” tambahnya.


Yira tidak merespon kecuali mengikuti omongan kakek tua tersebut. Rambutnya berantakan setelah menjalani mimpi yang lumayan panjang di Carnater. Lagi-lagi, mimpi fantasi itu terulang kembali.


“Makasih banyak sudah membangunkan saya, pak,” ucap Yira merasa tak enak.


Kakek itu hanya mengangguk ramah pada Yira.


“Oh, ya, pak! Itu… Saya mau bertanya, boleh?” panggil Yira tiba-tiba. Untung tak sampai jantungan kakek-kakek itu.


“Uhm, boleh-boleh… Kamu mau nanya apa, nak?” kakek itu kemudian duduk di samping Yira.


Sebelum mengutarakan apa yang terlintas di benaknya barusan, Yira menarik pelan nafasnya. Dia tahu kalau pertanyaan ini memang jelas tak masuk akan jika ditanyakan langsung oleh orangtua disampingnya ini. Akan tetapi, jika memang benar Aura-aura yang ada di mimpinya itu memang nyata adanya dan andaikata kakek itu tahu, kenapa tidak.


“Begini, kek… Belakangan ini, sering terjadi yang aneh-aneh tidak di sekitar kota ini?” tanya Yira setelah membulatkan tekadnya.

__ADS_1


“Yang aneh-aneh ya? Hm… Kakek nggak tahu, nak. Tapi, belakangan ini banyak gosip tentang orang-orang yang berperilaku aneh. Biasanya kakek dengar dari anak-anak sekolah. Beberapa bulan yang lalu ada tuh, ibu-ibu yang hilang dan anak perempuannya nyariin. Tau-taunya ketemu di sekolah. Ada saksi mata yang melihat kalau di gedung olahraga di sekolah itu hancur. Padahal, nggak ada pesawat ataupun benda besar yang terlempar kesana. Habis itu, di ruang lab sekolah itu juga ada banyak cipratan darah. Pokoknya, seram deh,” beber kakek itu. Lucunya, sampai merinding pundaknya.


Mendengar cerita kakek itu, Yira hanya manggut-manggut. Tanpa sepengetahuan kakek itu, Yira merekam semua omongan kakek itu lantaran malas menulis.


Rupanya, tak Cuma sebatas di sekolah saja kejadian aneh yang diceritakan sang kakek. Masih ada beberapa tempat yang mengalami serangkaian kejadian aneh dan masuk akal.


“Lalu, kapal pesiar. Di sana ada banyak bercak darah hitam dan merah. Habis itu, gedung terbengkalai. Habis itu gedung perkantoran terbengkalai, pintu depan museum yang tiba-tiba hancur. Yang paling aneh itu, banyak orang yang pingsan di jalan raya. Padahal, kondisi waktu itu siang dan jalan raya penuh oleh kendaraan. Tapi, semua orang yang disekitar kota itu tidur semua. Habis itu, ada orang yang terlempar ke gedung tinggi. Tapi, pas di cek sama team penyelamat, orang yang nabrak kaca gedung itu nggak ada.


“Polisi udah pada nanyain tuh sama pekerja kantoran yang waktu itu lagi kerja di gedung itu. Aneh banget, nak. Nggak ada satupun yang tahu ataupun nyadar.”


Kakek itu akhirnya diam. Untuk beberapa saat mengumpulkan nafasnya dan meminta izin pada Yira bahwasannya dia ingin pulang. Yira tertegun, otomatis menemani pria tua itu pulang.


Aku masih belum puas sama cerita kakek ini. Meskipun nada suaranya terdengar bersungguh-sungguh, tetap aja… Aku butuh bukti video dan fotonya. Batin Yira


Dua jam berlalu dan Yira akhirnya sampai di halte setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan mengantar kakek itu ke rumahnya.


Yira meneguk setengah botol mineral, lalu membuka buku diary-nya. “Aneh… Tapi menarik.”


“Kalau saja, mereka ada… Memangnya apa yang bakal kulakukan kedepannya? Kalau mereka memang jahat… Lalu menyerangku… Ah, nggak ah! Aku nggak bakal mati kok!”


“Ngomong-ngomong, aku nginap dimana nih? Bisa repot kalau aku nggak punya tempat buat tiduran.”


Yira mulai mengamati lingkungan sekitarnya. Di tengah kota memang banyak berdiri bangunan megah dengan beragam fungsi. Jika menginap di hotel, sudah pasti akan ada banyak uang yang harus Yira keluarkan. Menginap di apartemen, entah kenapa Yira merasa boros lantaran dirinya sudah memiliki apartemen tempat gadis itu tinggal.


Sementara, Yira tidak memiliki seorang pun kenalan di Chicago. Boro-boro kenalan, teman saja dia tak punya.


Yira pun mulai frustasi. Tak ada gunanya menghubungi keluarganya. Sejak awal, Yira ingin tinggal mandiri. Ingin mengatur segalanya seorang diri.


Yira menggenggam erat ponselnya. Masa remaja memang ada-ada saja masalahnya. Belum lagi dengan dirinya yang labil.


Meskipun begitu, rasa penasaran Yira terhadap mimpi yang ia alami beberapa minggu ini membuatnya bisa menghadapi semua masalah yang kerap kali menghampiri masa remajanya. Seorang diri, tidak masalah karena pikiran anti-social-nya sudah mengambil alih jiwa dan raganya.


Sekarang, tinggal bagaimana cara dia menemukan tempat untuk dia tinggali sementara dan mungkin… Yira mau tak mau harus mencari teman.


“Teman ya? Aku nggak yakin bakal bertahan lama…” gumamnya.


Saat itu, pandangan Yira seluruhnya mengarah ke tanah. Ketika memikirkan teman, mendadak semangatnya turun drastis seolah merasa mencari teman itu adalah tanggung jawab yang berat.


Karena terlalu down, ditambah dengan arah jalannya yang entah kemana arahnya, Yira tak sengaja menabrak seseorang hingga membuat dirinya dan orang itu terjatuh bersamaan.


“Aduh!” seru Yira merasakan sakit di bagian punggungnya.


Orang itu cepat-cepat bangkit dan membantu Yira berdiri. “Maaf, kau nggak papa?” anehnya, nada suaranya terdengar santai dan lurus. Seakan jatuhnya mereka bukanlah masalah besar baginya.


Yira berhasil meraih tangan orang tersebut dan terkejut begitu pandangannya berpapasan langsung dengan wajah orang tersebut.


Wajah yang familiar. Persis seperti di mimpinya minggu ini.


Tangan dingin, kulitnya yang pucat. Penglihatannya tentu saja tak salah.

__ADS_1


“Black Aura…” gumamnya terkejut.


~


__ADS_2