
“Besok sore? Baiklah, akan kuusahakan. Mmm…
Midnight, kabar Black Aura ba…”
DING! DONG!
Chloe menunda pertanyaannya, menanggapi
suara bel depan rumahnya yang berbunyi. Chloe melirik kea rah jam dinding yang memperlihatkan
pukul lima sore.
“Maaf, Midnight. Ada tamu.”
Sambungan mereka terputus. Chloe bangkit
dari meja belajarnya. Melangkah tanpa minat menuju ruang tamu. Jiwa malasnya
kembali menguasai tubuhnya. Kepalanya kosong. Rasa penasaran yang dulu sering
mengusik pikirannya tak berani lagi menghampirinya.
Sesampai dirinya di depan pintu ruang tamu,
Chloe tanpa pikir panjang membukanya dan menemukan sosok pria jepang yang
wajahnya sangat familiar di mata Chloe. Penampilan pria itu serba hitam hari
ini. Mengenakan hoodie hitam, celana jins hitam, serta ransel hitam yang dengan
sukarela dia bebankan di atas punggungnya.
“Hai!”
Aoi menyapa disertai senyuman lebar tepat
di depan Chloe yang baru saja membuka pintu rumahnya. Berbeda dengan Aoi yang
memperlihatkan senyuman cerahnya, Chloe justru memperlihatkan wajah murungnya
di depan Aoi. Seakan gadis itu tidak senang dengan kehadiran Aoi di rumahnya.
Kalau dihitung-hitung, sebenarnya Chloe dan Aoi sudah jarang sekali bermain.
Pada awalnya, Chloe merasa tak rela saat pria itu lebih sering berjalan dengan
Jacqueline. Singkatnya, Chloe cemburu melihat Aoi bersama Jacqueline.
Berbincang berdua di dalam café, nonton bioskop, belanja, dan masih banyak
kegiatan romantis yang mereka jalani bersama. Sejak saat itu, Chloe merasa
dirinya diabaikan. Dia merasa Aoi telah sepenuhnya melupakannya. Berat rasa
bagi Chloe melepaskan Aoi dan Jacqueline. Namun, tekadnya sudah bulat sekarang.
Chloe memilih fokus pada dunianya ketimbang memikirkan orang lain. cukup
memikirkan Black Aura saja yang hingga saat ini masih dipertanyakan kapan
pulangnya.
“Ada perlu apa ke sini? Mana Jacqueline?”
tanya Chloe tanpa basa-basi. Wajahnya datar, begitu pula dengan suaranya.
Dalam sekejap, senyuman yang Aoi ukir itu
berubah menjadi garis lengkung ke bawah. Aoi tidak menyangka gadis itu
menyambut dirinya dengan pertanyaan yang terkesan tak ramah lingkungan itu.
Bunga saja bisa layu dadakan mendengarnya, apalagi dirinya yang memiliki hati
juga perasaan. Auto down semangatnya.
“Kok gitu sih, nyambutnya? Nggak senang
__ADS_1
ya lihat aku datang? Kita kan udah lama nggak main.” Protes Aoi dengan nada
memelas.
“Nggak usah sok melas napa?! Sadar diri juga
dong! Aku nggak mau cari masalah sama orang yang udah punya gandengan!” Ketus
Chloe disusul dengan pintunya yang hendak ia tutup serapat-rapatnya tapi,
langsung ditahan cepat oleh Aoi.
Pria itu meringis mendapati kakinya yang
terjepit di tengah dinding dan pintu. “Jangan ditutup dulu, dong! Aku ke sini
kan baik-baik. Nggak ada niatan mau kelahi denganmu, Chloe.” Katanya sambil
menahan sakit yang lumayan menguji kelancaran pembuluh darahnya.
“Aku tahu niatmu baik. Tapi, seandainya
Jacqueline kebetulan lewat depan rumah bagaimana, HUH? Kalau ada setan lewat,
bisa-bisa aku disangka mau ngambil cowok orang. Bisa-bisa dia ngira kau juga suka
sama aku dan berpacaran diam-diam denganku.” Omel Chloe. Otaknya encer sekali
kalau sedang marah.
Aoi tercengang mendengar omelan gadis itu
yang kian meningkat, beberapa hari ini. Chloe yang ia kenal dulu berbeda jauh
dengan Chloe yang berdiri di depannya sekarang. Senyum yang biasanya dia
tebarkan terhapus oleh perasaan sedihnya. Ingin sekali Aoi mengembalikan sosok
Chloe yang dulu. Sayangnya, keingina
tersebut sulit sekali diwujudkan.
sendiri yang belum punya pasangan. Tapi, jangan salahkan aku juga dong! Aku kan
nggak ada hubungannya sama masalah Black Aura itu. Kau kan udah paham sendiri
soal perasaan Chloe. Oke, kami minta maaf karena diam-diam saling menyukai
bahkan berpacaran diam-diam saat kau tidak ada. Tapi, bukannya saat itu kau
biasa saja? Kenapa sekarang malah marah denganku yang udah berpacaran dengan
Jacqueline? Chloe, Jacqueline itu sahabatmu. Dia nggak mungkin berpikiran
negative padamu. Dia paham posisimu saat ini.
“Kemarin, dia menyuruhku menemanimu. Dia
merasa kau kesepian belakangan ini. Sebetulnya, dia ingin sekali datang ke sini
dan menemanimu. Kalau bisa pun, dia ingin sekali mengajakmu jalan-jalan dengan
kami. Chloe… Aku ini masih Aoi yang dulu. Walau udah berpasangan, perhatianku
padamu masih sama sewaktu Jacqueline nggak ada di samping kita.” Ungkap Aoi
meskipun Chloe tampaknya biasa saja dengan omongannya.
“Chloe… Kalau ada yang ingin kau
ceritakan, hubungi saja aku. Aku janji akan selalu ada di sampingmu dan…”
Chloe berdecak sebal. Tanpa pikir
panjang, menyela omongan Aoi. “Kau salah orang, Ao! Mending kau bilang itu sama
Jacqueline aja! Bukan aku!”
“Astaga… Kau ini galak banget sih. Sebenarnya
yang nggak beres itu aku atau dirimu? Chloe, nggak usah pura-pura kuat deh. Aku
__ADS_1
tahu kau itu butuh seseorang untuk mendengarkan curhatmu.” Ujar Aoi dramastis,
bermaksud meredakan amarah Chloe yang membara.
“Hah… Aku nggak butuh siapapun, asal kau
tahu itu!”
“Tu-tunggu…! Jangan ditutup dulu
pintunya, hey!” terlanjur di kuasai amarah, Chloe menarik kembali pintunya,
kemudian mendorongnya kencang. Sayang, dorongan itu dikalahkan dengan mudah
oleh keteguhan Aoi kepada sahabatnya. “Chloe, dengarkan aku! Aku kesini emang
niatku mau menemanimu. Aku tahu kau kesepian. Aku tahu kau kangen Black Aura
dan kau butuh seseorang mendengar ceritamu, kan? Yah, kau pasti cemburu kan
melihat Devil Mask dan Yumi masih di sini dan kadang suka menemani waktu kencan
kami. Sedangkan kau…” Aoi terdiam sesaat. Dia rasa, tidak perlu dilanjutkan
omongannya seputar Black Aura. Yang ada hanya membuat gadis itu larut dalam
kesedihannya.
“Lalu? Cepat beritahu aku niatmu! Waktuku
semakin sedikit sekarang! Banyak tugas yang mau kuselesaikan termasuk novelku
ini. Kalau kau datang Cuma sekedar menceritakan kisah mesramu dengan
Jacqueline, mending nggak usah deh! Ceritain aja sama yang lain. Masih ada
Devil Mask, Yumi, dan Midnight di luar sana!” beber Chloe kesal.
Aoi menghela nafas menanggapinya. Saat
ini, dirinya berusaha mungkin menerima sifat Chloe yang dingin dadakan semenjak
ditinggal pergi orang yang sangat ia sukai itu. Selain itu juga, Aoi tidak
menyangka sahabatnya akan berubah secepat ini. Yang awalnya selembut Nona
Hinata berubah menjadi Uchiha Sasuke yang dingin penuh akan dendam. Jika
dilihat dari sisi perasaan dan hati Chloe, saat ini dirinya tengah dipenuhi
oleh rasa bersalah juga rasa rindu. Aoi tahu betul kalau Chloe ingin sekali
berjalan-jalan berdua dengan Black Aura. Apalagi mengingat mereka berdua yang
diam-diam saling menyukai.
Aoi menggenggam keras pintu Chloe. Pelan-pelan
tapi dengan tenaga penuh, dia mendorong pintu itu sampai memperlihatkan tiga
perempat ruang tamu Chloe yang klasik itu. di sudut ruangannya terdapat alat
sedot debu yang menyala. Kelihatannya gadis itu sedang beres-beres rumah
diselingi kegiatan yang lain.
“Chloe! Dengarkan aku!” seru Aoi.
“Apa?”
“Ayo, ke rumah Midnight!”
“Ngapain? Midnight menyuruhku datang
besok sore. Bukan sekarang!”
“Pokoknya sekarang kau harus datang! Ada
sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu!”
~
__ADS_1