Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 85 { season 2 }


__ADS_3

 


 


“Besok sore? Baiklah, akan kuusahakan. Mmm…


Midnight, kabar Black Aura ba…”


DING! DONG!


Chloe menunda pertanyaannya, menanggapi


suara bel depan rumahnya yang berbunyi. Chloe melirik kea rah jam dinding yang memperlihatkan


pukul lima sore.


“Maaf, Midnight. Ada tamu.”


Sambungan mereka terputus. Chloe bangkit


dari meja belajarnya. Melangkah tanpa minat menuju ruang tamu. Jiwa malasnya


kembali menguasai tubuhnya. Kepalanya kosong. Rasa penasaran yang dulu sering


mengusik pikirannya tak berani lagi menghampirinya.


Sesampai dirinya di depan pintu ruang tamu,


Chloe tanpa pikir panjang membukanya dan menemukan sosok pria jepang yang


wajahnya sangat familiar di mata Chloe. Penampilan pria itu serba hitam hari


ini. Mengenakan hoodie hitam, celana jins hitam, serta ransel hitam yang dengan


sukarela dia bebankan di atas punggungnya.


“Hai!”


Aoi menyapa disertai senyuman lebar tepat


di depan Chloe yang baru saja membuka pintu rumahnya. Berbeda dengan Aoi yang


memperlihatkan senyuman cerahnya, Chloe justru memperlihatkan wajah murungnya


di depan Aoi. Seakan gadis itu tidak senang dengan kehadiran Aoi di rumahnya.


Kalau dihitung-hitung, sebenarnya Chloe dan Aoi sudah jarang sekali bermain.


Pada awalnya, Chloe merasa tak rela saat pria itu lebih sering berjalan dengan


Jacqueline. Singkatnya, Chloe cemburu melihat Aoi bersama Jacqueline.


Berbincang berdua di dalam café, nonton bioskop, belanja, dan masih banyak


kegiatan romantis yang mereka jalani bersama. Sejak saat itu, Chloe merasa


dirinya diabaikan. Dia merasa Aoi telah sepenuhnya melupakannya. Berat rasa


bagi Chloe melepaskan Aoi dan Jacqueline. Namun, tekadnya sudah bulat sekarang.


Chloe memilih fokus pada dunianya ketimbang memikirkan orang lain. cukup


memikirkan Black Aura saja yang hingga saat ini masih dipertanyakan kapan


pulangnya.


“Ada perlu apa ke sini? Mana Jacqueline?”


tanya Chloe tanpa basa-basi. Wajahnya datar, begitu pula dengan suaranya.


Dalam sekejap, senyuman yang Aoi ukir itu


berubah menjadi garis lengkung ke bawah. Aoi tidak menyangka gadis itu


menyambut dirinya dengan pertanyaan yang terkesan tak ramah lingkungan itu.


Bunga saja bisa layu dadakan mendengarnya, apalagi dirinya yang memiliki hati


juga perasaan. Auto down semangatnya.


“Kok gitu sih, nyambutnya? Nggak senang

__ADS_1


ya lihat aku datang? Kita kan udah lama nggak main.” Protes Aoi dengan nada


memelas.


“Nggak usah sok melas napa?! Sadar diri juga


dong! Aku nggak mau cari masalah sama orang yang udah punya gandengan!” Ketus


Chloe disusul dengan pintunya yang hendak ia tutup serapat-rapatnya tapi,


langsung ditahan cepat oleh Aoi.


Pria itu meringis mendapati kakinya yang


terjepit di tengah dinding dan pintu. “Jangan ditutup dulu, dong! Aku ke sini


kan baik-baik. Nggak ada niatan mau kelahi denganmu, Chloe.” Katanya sambil


menahan sakit yang lumayan menguji kelancaran pembuluh darahnya.


“Aku tahu niatmu baik. Tapi, seandainya


Jacqueline kebetulan lewat depan rumah bagaimana, HUH? Kalau ada setan lewat,


bisa-bisa aku disangka mau ngambil cowok orang. Bisa-bisa dia ngira kau juga suka


sama aku dan berpacaran diam-diam denganku.” Omel Chloe. Otaknya encer sekali


kalau sedang marah.


Aoi tercengang mendengar omelan gadis itu


yang kian meningkat, beberapa hari ini. Chloe yang ia kenal dulu berbeda jauh


dengan Chloe yang berdiri di depannya sekarang. Senyum yang biasanya dia


tebarkan terhapus oleh perasaan sedihnya. Ingin sekali Aoi mengembalikan sosok


Chloe yang  dulu. Sayangnya, keingina


tersebut sulit sekali diwujudkan.


sendiri yang belum punya pasangan. Tapi, jangan salahkan aku juga dong! Aku kan


nggak ada hubungannya sama masalah Black Aura itu. Kau kan udah paham sendiri


soal perasaan Chloe. Oke, kami minta maaf karena diam-diam saling menyukai


bahkan berpacaran diam-diam saat kau tidak ada. Tapi, bukannya saat itu kau


biasa saja? Kenapa sekarang malah marah denganku yang udah berpacaran dengan


Jacqueline? Chloe, Jacqueline itu sahabatmu. Dia nggak mungkin berpikiran


negative padamu. Dia paham posisimu saat ini.


“Kemarin, dia menyuruhku menemanimu. Dia


merasa kau kesepian belakangan ini. Sebetulnya, dia ingin sekali datang ke sini


dan menemanimu. Kalau bisa pun, dia ingin sekali mengajakmu jalan-jalan dengan


kami. Chloe… Aku ini masih Aoi yang dulu. Walau udah berpasangan, perhatianku


padamu masih sama sewaktu Jacqueline nggak ada di samping kita.” Ungkap Aoi


meskipun Chloe tampaknya biasa saja dengan omongannya.


“Chloe… Kalau ada yang ingin kau


ceritakan, hubungi saja aku. Aku janji akan selalu ada di sampingmu dan…”


Chloe berdecak sebal. Tanpa pikir


panjang, menyela omongan Aoi. “Kau salah orang, Ao! Mending kau bilang itu sama


Jacqueline aja!  Bukan aku!”


“Astaga… Kau ini galak banget sih. Sebenarnya


yang nggak beres itu aku atau dirimu? Chloe, nggak usah pura-pura kuat deh. Aku

__ADS_1


tahu kau itu butuh seseorang untuk mendengarkan curhatmu.” Ujar Aoi dramastis,


bermaksud meredakan amarah Chloe yang membara.


“Hah… Aku nggak butuh siapapun, asal kau


tahu itu!”


“Tu-tunggu…! Jangan ditutup dulu


pintunya, hey!” terlanjur di kuasai amarah, Chloe menarik kembali pintunya,


kemudian mendorongnya kencang. Sayang, dorongan itu dikalahkan dengan mudah


oleh keteguhan Aoi kepada sahabatnya. “Chloe, dengarkan aku! Aku kesini emang


niatku mau menemanimu. Aku tahu kau kesepian. Aku tahu kau kangen Black Aura


dan kau butuh seseorang mendengar ceritamu, kan? Yah, kau pasti cemburu kan


melihat Devil Mask dan Yumi masih di sini dan kadang suka menemani waktu kencan


kami. Sedangkan kau…” Aoi terdiam sesaat. Dia rasa, tidak perlu dilanjutkan


omongannya seputar Black Aura. Yang ada hanya membuat gadis itu larut dalam


kesedihannya.


“Lalu? Cepat beritahu aku niatmu! Waktuku


semakin sedikit sekarang! Banyak tugas yang mau kuselesaikan termasuk novelku


ini. Kalau kau datang Cuma sekedar menceritakan kisah mesramu dengan


Jacqueline, mending nggak usah deh! Ceritain aja sama yang lain. Masih ada


Devil Mask, Yumi, dan Midnight di luar sana!” beber Chloe kesal.


Aoi menghela nafas menanggapinya. Saat


ini, dirinya berusaha mungkin menerima sifat Chloe yang dingin dadakan semenjak


ditinggal pergi orang yang sangat ia sukai itu. Selain itu juga, Aoi tidak


menyangka sahabatnya akan berubah secepat ini. Yang awalnya selembut Nona


Hinata berubah menjadi Uchiha Sasuke yang dingin penuh akan dendam. Jika


dilihat dari sisi perasaan dan hati Chloe, saat ini dirinya tengah dipenuhi


oleh rasa bersalah juga rasa rindu. Aoi tahu betul kalau Chloe ingin sekali


berjalan-jalan berdua dengan Black Aura. Apalagi mengingat mereka berdua yang


diam-diam saling menyukai.


Aoi menggenggam keras pintu Chloe. Pelan-pelan


tapi dengan tenaga penuh, dia mendorong pintu itu sampai memperlihatkan tiga


perempat ruang tamu Chloe yang klasik itu. di sudut ruangannya terdapat alat


sedot debu yang menyala. Kelihatannya gadis itu sedang beres-beres rumah


diselingi kegiatan yang lain.


“Chloe! Dengarkan aku!” seru Aoi.


“Apa?”


“Ayo, ke rumah Midnight!”


“Ngapain? Midnight menyuruhku datang


besok sore. Bukan sekarang!”


“Pokoknya sekarang kau harus datang! Ada


sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu!”


~

__ADS_1


__ADS_2