Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 158 {Season 2: Pelakunya}


__ADS_3

Pertarungan sengit di luar gedung sampai detik ini kian memanas lantaran kehadiran Grimoire di sekitar mereka. Aura berkekuatan duri itu terus menerus menyerang Midnight dan Silentwave. Untunglah, Midnight bisa menahan Grimoire dengan menendang keras kepala bagian kanan Grimoire. Yah, bodo amat, mau sejauh apa Aura itu terlempar asalkan remaja-remaja itu selamat.


Hanya melihat darah Aoi dan Okka yang terus menerus mengalir tanpa henti membuat Midnight tidak tega membiarkan remaja-remaja itu ikut campur lebih jauh lagi. Dugaannya selalu benar. Meskipun pemikirannya terkesan egois dan kejam, bagaimanapun juga Midnight berpikir seperti itu lantaran tidak mau ada orang sekitarnya terluka. Sekarang, kenyataannya sudah jelas. Terlalu baik dengan Aura itu mungkin bagus untuk mengubah jalan pikir Aura yang menjadi lawan mereka. Dan kalaupun beruntung, mereka bisa menjalin ikatan layaknya seorang teman. Akan tetapi, kenyataan di depannya justru memperjelas dirinya bahwa tidak semua niat baik berakhir baik juga.


Midnight sudah lelah bersikap baik dengan orang lain. Tidak masalah menjadi setengah-setengah, asalkan dirinya tidak melibatkan orang lain. Midnight menggigit ujung bibirnya. Boomerang yang baru saja ia tangkap berubah menjadi katana hitam.


“Silentwave, jaga mereka.”


“Baik, mama.”


Sebelum pergi, Midnight meninggalkan beberapa obat untuk menetralisir rasa sakit Aoi dan Okka. Tidak peduli dengan skill bertarung kedua remaja itu, spesies mereka tetap saja manusia. Dari mereka lahir sampai tumbuh besar sekalipun, mereka tetaplah manusia.


“Sebenarnya, siapa sih yang bikin benang merah ini?!” geram Midnight menghampiri Grimoire yang sudah siap akan menghajar Midnight dengan pedang durinya.


“Mama, hati-hati…” lirih Silentwave disela kesibukannya mengobati Aoi dan Okka. Di samping itu, dia juga berusaha menghibur Jacqueline dan Kenzo yang panik sambil mengacak-acak rambut mereka. Seperti orang frustasi begitu.


“Kalian berdua… Jangan terlalu dibawa kesal,” Katanya.


“Huft… Aku harus tenang. Bagaimanapun caranya!” tegas Midnight pada diri sendiri.


Layaknya hembusan angin, Grimoire yang tadinya terinjak oleh batang pohon raksasa tiba-tiba saja melayang di belakang Midnight. Tampak jelas Aura itu siap ingin menusuk pedangnya ke punggung Midnight. Tapi, menusuk wanita berkacamata itu bukanlah hal yang mudah.


Midnight lebih gesit daripada Grimoire. Wanita itu dengan seringainya menebas Grimoire bahkan tidak ragu sampai membelah Aura itu dari pundak kanan hingga ke pinggang . Alhasil, darah hitam Grimoire bercipratan deras menodai wajahnya serta pakaiannya.


“Menyenangkan sekali kalau bisa balas dendam,” bisik Midnight. Senyumannya masih terukir di wajah manis tersebut. Kenzo dan Jacqueline membeku melihat senyuman itu. Mereka merasa Midnight yang mereka kenal jutek, dingin, dan suka menyindir ini ternyata memiliki sisi dingin yang tak jauh berbeda dengan pembunuh.


“Pasti ulahmu, kan?” Midnight menggenggam erat benang merah Grimoire. Lalu, dia memotongnya dengan katana hitam miliknya. “Pasti ulahmu, kan? EMMA?!”


DEG!


Seketika semuanya membeku begitu telinga mereka mendengar nama yang terdengar asing tersebut. Terutama Jacqueline yang ingatannya otomatis bermain saat dirinya berada di tengah keramaian, mengamati sosok gadis berambut pirang dan yang duduk di atas motor sport miliknya.

__ADS_1


“Emma…” Jacqueline menelan salivanya saat itu juga.


Jadi, selama ini yang membuat kekacauan di Carnater itu Emma? Dengan benang merah itu… Dia melukai… Aoi.


Jacqueline melirik ke arah Aoi dengan kedua bola matanya yang bergetar. Amarah, sedih, dan balas dendam ketiganya beradu dalam benak Jacqueline. Ingatannya sekali lagi memutar saat-saat dimana Aoi ditusuk oleh pedang Grimoire. Darah yang sangat berharga bagi Aoi itu terbuang cukup banyak. Jacqueline tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Aoi kehabisan berliter-liter darah? Apa jadinya kalau Aoi tiba-tiba sudah tak bisa lagi menemani harinya? Tentu saja, Jacqueline tidak mau ditinggal oleh orang yang ia sayangi.


Seketika, penyesalan menyerbu hati dan pikirannya. Kebaikan itu tidak selamanya berakhir baik. Semua tergantung dengan orang yang menerima kebaikan kita.


Jacqueline menyeka air matanya. Dia bingung, sebenarnya untuk apa air matanya mengalir? Karena ketakutan atau marah atau justru sedih? Kenapa?


Dalam diam, Jacqueline mengangkat tangannya dan membiarkan telapak tangannya bersentuhan dengan genangan darah milik Aoi. Genangan itu nyata meskipun dirinya berada di dalam genre fantasi. Fantasi itu tidak selamanya indah dan terlihat memukau di mata mereka. Ada kalanya Fantasi itu memperlihatkan kekelaman mereka.


“Kalau Aoi mati… Aku… Pasti sendirian…”


~


“Chloe! Tunggu!” seru Black Aura. Di tengah perjalanan, tanpa sepengetahuannya, ujung sepatunya berhadapan langsung dengan batu hingga membuat Aura itu tersandung.


“Jangan pergi tanpaku,” ucap Black Aura.


“Iya, iya…” Balas Chloe sambil memapah Black Aura yang kaki kanannya terkilir akibat tersandung tadi.  Ceroboh sekali. “Aura, kayaknya kita bisa menyelesaikan masalah ini kalau kita menemukan pelaku yang membuat benang merah ini,” jelas Chloe.


“Memangnya, kau udah ketemu siapa pelakunya?”


“Belum. Tapi, benang ini kurasa bisa memberi kita petunjuk. Selain itu, ada teman-teman kita yang di luar pasti menyadari kalau benang ini terhubung ke suatu tempat.”


Black Aura terkekeh, “Ceroboh.”


“Kenapa ketawa? Justru kalau diejek, entar dia malah menyadari kesalahannya. Lebih baik diam daripada memberitahu kesalahan orang,” respon Chloe sambil mengamati benang merah yang masih berada digenggamannya tersebut.


“Memberitahu kesalahan orang ya?” Black Aura bergumam. “Aku jadi ingat Carmine.”

__ADS_1


Seperti biasanya, Chloe menoleh ke arah Black Aura dengan raut bingung. Aura itu suka sekali menggantung kata-latanya sekaligus membuat Chloe penasaran. Belakangan ini, Chloe merasa sensitif setiap kali mendengar nama Carmine. Nama dari seorang gadis yang sudah lama meninggal tapi tidak diketahui penyebabnya. Gadis itulah yang menciptakan Black Aura dan anggota Megaville lainnya. Sungguh fantasi yang luar biasa!


“Ada apa dengan Carmine? Kau rindu?”


“Hmm, agak aneh kalau dibilang rindu. Aku Cuma merasa janggal dengan kata-katamu. Makanya aku jadi teringat Carmine yang nggak gitu suka memberitahu kesalahan orang. Sebenarnya sih, penting. Bahkan saat mengerjakan MTK sekalipun, jawaban ataupun angka yang salah pasti bakal disalahkan guru kan?” jelas Black Aura. Kelihatanya, suasana hati Black Aura sedang bagus sekarang. Dilihat dari cara dia berbicara dan ekspresi yang tidak begitu datar itu.


“Guru? Kukira kau nggak tahu guru,” gurau Chloe.


“Aku tahu. Aku melihat apapun yang Carmine lihat. Setidaknya aku juga tahu rumus menghitung luas permukaan tabung.”


“Hihi, kau lucu. Tapi, kau benar. Lucas bilang padaku kalau orang mengkritik kita itu adalah orang yang sebenarnya memperhatikan kita dari jauh. Sejauh ini, Cuma Lucas, Aoi, Jacqueline, Rara, dan kau yang seperti itu. Aku senang kalau kalian memperhatikanku,” setelah mengatakan isi hatinya, Chloe tersenyum. Baginya, berbagi pendapat dan cerita dengan Black Aura itu menenangkan. Dia tidak menyangka akan memiliki ikatan yang lebih dalam lagi dengan makhluk fantasi yang umumnya hanya bisa dia lihat di komik ataupun film.


Langkah Chloe tiba-tiba berhenti. Black Aura meneleng heran. “Kenapa berhenti?”


“Bukan apa-apa. Aku Cuma penasaran kenapa kau lebih memilih bertarung daripada kabur? Setiap kali ada musuh, tak peduli sekuat apapun musuhnya, kau tetap menghadapi mereka,” ungkap Chloe pada Black Aura. “Kau nggak capek ya, terluka terus?”


Untuk beberapa saat, Black Aura belum merespon pertanyaan Chloe. Aura itu termenung, lalu tersadar akan cahaya oranye yang masuk lewat jendela yang sudah tidak ada kacanya lagi. Cahaya itu berasal dari langit telah terbebas dari awan cumulus tebal. Langitnya berwarna oranye sore. Langit itulah yang sangat Black Aura idamkan selama ini. Warna yang sebelumnya dia kira hanya bisa dia temukan di dunia Chloe, kini muncul kembali menerangi dunia Carnater tersebut. Cahaya matahari senjanya tak berubah. Kecantikan dan kehangatannya masih sama.


“Terus terang, aku lebih memilih bertarung. Memang sejak awal, itulah diriku. Bertarung itu sama saja dengan menghadapi masalah di dunia nyata. Selain itu, aku juga sudah bersahabat dengan rasa sakit. Kalau nggak ada rasa sakit, aku nggak bakal bisa merasakan warna-warna yang gelap. Kalau aku terlalu sering bahagia, aku pasti menangis saat berhadapan dengan rasa sakit. Kau tahu? Pertarungan Aura ini diam-diam ada kaitannya dengan konflik di duniamu,” beber Black Aura yang kemudian diakhiri dengan senyuman manisnya.


“Begitu ya? Ternyata, dunia kita berhubungan.”


Black Aura terkekeh, “Aku juga baru tahu. Aku sadar kalau aku ini lahir dari perasaan seorang gadis. Meskipun begitu, bukan berarti aku ini perempuan ya!”


“Iya. Aku tahu. Setiap orang punya caranya masing-masing ketika sedang berhadapan dengan bujukan kematian. Dibujuk mati itu… Terkadang membuatku bingung. Kita stress tapi pada akhirnya merasa kalau bunuh diri itu bukan cara terbaik menyelesaikan masalah. Darimu saja, aku jadi belajar banyak hal. Carmine memang hebat ya! Memanfaatkan fantasi demi menghadapi bujukan kematian,” tutur Chloe diakhiri dengan helaan nafas. Meskipun tidak bertemu langsung dengan orangnya, Chloe bisa tahu kalau Carmine sebenarnya telah melewati banyak sekali masa-masa sulit. Seandainya gadis itu masih hidup, Chloe ingin sekali berteman dengannya dan berterima kasih telah melibatkannya masuk ke dunia fantasi yang selama ini dia inginkan.


“Bujukan kematian ya… Aku pernah mendengarnya. Rata-rata, cewek mudah kali terbujuk. Kalau perasaannya sudah terluka apalagi hatinya, luka itu akan sulit disembuhkan. Karena itulah, aku yang meskipun laki-laki ini paham sedikit perasaan perempuan. Disamping itu, aku paham dengan dendam seorang gadis.  Dendamnya begitu kuat sampai-sampai ingin melenyapkan orang lain. Awalnya aku dilahirkan hanya untuk itu,” saat Black Aura menutup mulutnya sambil terkekeh menertawakan dirinya di masa lalu, Chloe tersentak kaget disertai seruan “Eeh?!” yang khas.


“Ja-jadi… Kau diciptakan hanya untuk balas dendam?”


~

__ADS_1


__ADS_2