Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 156 {Season 2: Debat}


__ADS_3

“Beri tahu aku apa yang mengganggumu,”


“Eh, Nggak papa kok, Au. Aku baik-baik aja… Tadi itu Cuma bengong


aja.”


Chloe berusaha menjaga jarak wajahnya dengan Black Aura yang


semakin penasaran setiap detiknya. Untuk beberapa menit ke depan, mereka belum


merasakan sinyal bahaya dari lorong lantai atas maupun bawah. Semuanya aman


terkendali.


“Hmm, oke…” Black Aura akhirnya menjauhkan wajahnya dari


Chloe. Aura itu menghela nafas berat. “Kalau ada masalah, bilang ya…”


Chloe mengangguk pelan. Belakangan ini, kepalanya dipenuhi


oleh orang-orang yang tidak ia kenali. Mulai dari Carmine, lalu gadis berambut


coklat panjang, dan yang terakhir adalah seorang gadis yang ia dengar tidak


akan menjadi seorang putri itu. Yah, dari ketiga orang itu semuanya menarik


Chloe untuk mencari tahu apa maksud dari mimpinya tersebut.


“Udah aman ya?” tanya Chloe setelah beberapa menit terdiam


dengan pikirannya.


Black Aura berpikir sambil memejamkan kedua matanya.


“Kayaknya sih, aman…”


Baru saja mengatakan ‘aman, seseorang menarik mantel Chloe


dengan cepat hingga membuat gadis itu menembus kaca jendela yang berada di


ujung lorong. Kini tubuh Chloe berada di udara bersamaan dengan serpihan kaca


dan juga mungkin ada beberapa butiran kecil cairan berwarna merah kental di


sekitarnya.


Waktu seakan melambat. Chloe memandang kea rah Balck Aura


yang berusaha menyelamatkannya akan tetapi di halang oleh Yui. Kedua Aura itu


terlibat dalam pertarungan sengit sedangkan Chloe, dirinya melayang membawa


kemungkinan serta bayangan dirinya yang akan terluka ketika punggungnya


menghantam tanah di bawah sana.


Ctak!


Suara jentikan jari berhasil mengembalikan Chloe dari


lamunan singkatnya. Seolah baru saja terkena terpaan angin, Chloe kini


menyadari tubuhnya dibopong oleh Black Aura untuk kesekian kalinya. Tidak


diragukan lagi, Aura itu pasti memiliki banyak cara untuk melindungi Chloe.


Bahkan dengan cara menukar seperti itupun.


Aku selamat? Jadi, yang melayang disana…


Chloe menoleh ke belakang. Kedua matanya terbelalak


mendapati sosok Ayano baru saja melayang cepat ke bawah setelah itu disusul


dengan suara seperti benda jatuh di bawah sana.


“Oh, jadi kau menukarku dengannya?” tanya Chloe setengah tak


percaya. Keputusasaan yang tadi melahap dirinya melalui lamunan kosong, semuanya


pecah oleh usaha Black Aura yang tidak ingin kehilangan dirinya.


Bagaimanapun serangan musuh menyerangnya, Black Aura pasti


akan selalu punya banyak cara untuk menyelamatkannya. Hanya dia satu-satunya


yang menjadi pelindung Chloe saat ini. Dia satu-satunya orang yang tidak pernah


mengabaikan Chloe dan mungkin menjadi orang yang kekhawatirannya nyaris


menyetarai kekhawatiran Jacqueline dan Aoi.


Chloe sadar, tidak selamanya dia sendirian. Tak peduli


dengan bujukan kematian yang berulang kali berbisik di telinganya, Chloe pasti

__ADS_1


akan menemukan seseorang yang menjadi dinding penghalang bagi bujukan itu.


“Iya. Yang penting, kau selamat,” jawab Black Aura.


Tangannya membelai puncak kepala Chloe dengan lembut. Padahal, dia sedang


terluka saat ini. Malah lebih parah dari luka sebelumnya.


“Begitu ya… Kau nggak bosan ngelindungin aku terus?”


“Nggak. Memangnya kau nggak suka kulindungi?” Black Aura


tersenyum centil di hadapan Chloe hingga membuat gadis itu tersipu malu.


Sayang, Chloe tidak bisa kemana-mana selain terus menatap kea rah Black Aura


dan membiarkan rona merahnya itu tertangkap basah oleh manik violet Aura itu.


“Suka sih… Tapi, kalau keseringan kan juga nggak enak. Aku


jadinya merepotkanmu terus, Au,”


Black Aura terkekeh sembari menurunkan Chloe. “Di luar ada


Aoi dan Jacqueline. Kau mengkhawatirkan mereka kan?”


“Eh? Aoi Jacqueline ada disini? Sejak kapan?”


“Barusan. Waktu kau melamun, aku mendengar teriakan mereka


di bawah sana,” jelas Black Aura.


Setelah dihantam dengan palu milik Black Aura, Yui bangkit


kembali dengan tangan kanannya menggenggam tongkat yang ia ciptakan dari


genangan air di sekitarnya. Sebenarnya bukan kemauan Yui bertarung apalagi


mengamuk sampai menciptakan tsunami besar yang akan menewaskan sebagian besar


warga Carnater. Akan tetapi, rasa sakit yang ia terima di dunia nyata ternyata


lebih menyakitkan dan rasanya ingin sekali ia lampiaskan pada orang lain.


Satu-satunya yang bisa membuatnya terlepas dari rasa sakit


adalah dengan bertarung. Berbagi rasa sakit dengan musuh meskipun harus terluka


parah.


“Jadi, bagaimana? Kau ke bawah?” tawar Black Aura. Sementara


“Kalau aku ke bawah, berarti kau sendirian disini?”


“Hmm…”


“Nggak jadi deh. Aku mau sama Aura aja.”


“Lah? Kenapa? Kau bilang kau mengkhawatirkan mereka?”


“Memang iya! Tapi, aku lebih mengkhawatirkan yang bertarung


ini! Kenapa kau nggak kabur aja dari sini?”


“Hm, benar juga.”


Chloe mendengus. Entah apa Cuma perasaannya saja, Black Aura


saat ini terkesan ingin bercanda dengannya. Yah, lucu saja bagi Chloe karena


Aura ini sejak pertama kali bertemu sama sekali tidak memiliki humor dan jarang


tertawa. Tapi sekarang, Chloe mungkin bisa mengambil celah untuk membuat Black


Aura tertawa tanpa memperdulikan situasi saat itu.


“Bercandanya nanti dulu ya. Kita berdua harus keluar dari


sini atau nggak…”


“Kalian nggak selamat?”


~


“Aku ubah rencana kita. Kita sekarang membunuh mereka,” ucap


Midnight mengejutkan semuanya.


Okka dan Kenzo terbelalak bukan main mendengar pernyataan


Midnight tadi. Sampai-sampai membeku dan tidak tahu harus menjawab apa.


Sedangkan Jacqueline dan Aoi yang sebelumnya lebih mendukung rencana pertama


yaitu hanya mencari Ethan dan mengumpulkan bahan ritual itu kelihatannya

__ADS_1


menolak.


“Kok gitu? Kita kan nggak ada salah apa-apa sama mereka!


Okka dan Kenzo yang sebelumnya pernah terlibat kau marahin juga kan, gara-gara


mereka menyakiti Aura-aura disini!” protes Jacqueline.


“Aku tahu. Memang ini terdengar  nggak adil. Tapi, aku udah nggak punya cara


lain selain membunuh mereka semua kecuali kelompokku. Karena, dari semua Aura


hanya kelompokku yang masih terjaga kewarasannya. Kalau kita cari tahu dalang


yang membuat Aura-aura ini gila akan memakan waktu lama. Kita juga nggak bisa


pulang ke bumi dengan cepat,” jelas Midnight dengan raut serius. “Kalau kalian


nggak setuju, lebih baik pulang aja. Daripada kita berdebat nggak jelas


begini.”


“Anu, Midnight… Mungkin lebih baik kita cari dalangnya


dulu.  Dari pada membunuh mereka yang tak


bersalah,” timpal Aoi ragu-ragu.


“Dia benar. Meskipun aku tahu aku pernah menyakiti beberapa


Aura disini. Tapi aku lebih mendukung rencanamu yang pertama. Midnight, bagaimanapun


juga kita ini manusia. Mungkin sebagian dari kita pasti punya keinginan untuk


membunuh. Apalagi orang yang kita benci. Akan tetapi, Aura ini… Mereka semua


nggak sengaja terlibat,” komen Kenzo. Suara pria itu melembut seolah merasa


kasihan dengan Aura-aura yang tidak bersalah tapi justru terlibat dalam konflik


antara Megaville dengan Legend Aura.


Midnight terdiam


“Midnight, pikirkan baik-baik. Daripada membunuh mereka,


bukankah bagusnya kita memutuskan benang merah itu lalu membicarakan masalah


ini baik-baik dengan mereka. Dengan begini, semuanya akan membantumu. Kan nggak


ada salahnya menjadi teman,” tambah Okka.


“Hahh… Kalian ini. Baiklah, aku kalah. Kalau kalian punya


rencana yang lebih baik lagi, susun sama-sama. Rencana yang dihasilkan dari


satu otak belum tentu sebagus yang empat otak hasilkan, bukan?” Midnight


tersenyum. Kali ini, omongannya entah kenapa terkesan menyindir atau menantang.


Yah, kalaupun merasa tersindir, mungkin tidak ada salahnya membuktikkan pada


wanita berkacamata itu kalau membunuh bukanlah cara terbaik menyelesaikan


masalah.


“Kok aku merasa diejek ya?” bisik Jacqueline.


“Ah, biarin aja. Midnight juga udah capek ngurusin masalah


ini. Kita  yang punya cara lebih bagus


mending gas aja!” balas Okka sambil cekikikan. Gadis itu juga mengedipkan


matanya sebelah.


Sementara menunggu keempat remaja itu berdiskusi, Midnight


berjalan-jalan sebentar memeriksa keadaan di sekitar gedung terbengkalai


tersebut. Semuanya basah. Tak ada satupun yang kering.


“Jangan-jangan Yui…”pikirnya.


Silentwave keluar dari lengan kemejannya dan berdiri di


sampingnya. Aura itu jari telunjuknya mengarah ke depan sehingga menyadarkan


Midnight akan sesuatu yang janggal di sekitarnya.


“Musuh?” Midnight mengernyit bingung. Wanita itu pun


mengarahkan pandangannya ke depan. Benar saja yang diucapkan Silentwave lewat


telepati. Di depan mereka berdirilah sesosok Aura dengan dres hitam panjang

__ADS_1


selutut. Tanduk kambing di kepalanya terlihat familiar di mata Midnight.


“Asoka?”


__ADS_2