
“Beri tahu aku apa yang mengganggumu,”
“Eh, Nggak papa kok, Au. Aku baik-baik aja… Tadi itu Cuma bengong
aja.”
Chloe berusaha menjaga jarak wajahnya dengan Black Aura yang
semakin penasaran setiap detiknya. Untuk beberapa menit ke depan, mereka belum
merasakan sinyal bahaya dari lorong lantai atas maupun bawah. Semuanya aman
terkendali.
“Hmm, oke…” Black Aura akhirnya menjauhkan wajahnya dari
Chloe. Aura itu menghela nafas berat. “Kalau ada masalah, bilang ya…”
Chloe mengangguk pelan. Belakangan ini, kepalanya dipenuhi
oleh orang-orang yang tidak ia kenali. Mulai dari Carmine, lalu gadis berambut
coklat panjang, dan yang terakhir adalah seorang gadis yang ia dengar tidak
akan menjadi seorang putri itu. Yah, dari ketiga orang itu semuanya menarik
Chloe untuk mencari tahu apa maksud dari mimpinya tersebut.
“Udah aman ya?” tanya Chloe setelah beberapa menit terdiam
dengan pikirannya.
Black Aura berpikir sambil memejamkan kedua matanya.
“Kayaknya sih, aman…”
Baru saja mengatakan ‘aman, seseorang menarik mantel Chloe
dengan cepat hingga membuat gadis itu menembus kaca jendela yang berada di
ujung lorong. Kini tubuh Chloe berada di udara bersamaan dengan serpihan kaca
dan juga mungkin ada beberapa butiran kecil cairan berwarna merah kental di
sekitarnya.
Waktu seakan melambat. Chloe memandang kea rah Balck Aura
yang berusaha menyelamatkannya akan tetapi di halang oleh Yui. Kedua Aura itu
terlibat dalam pertarungan sengit sedangkan Chloe, dirinya melayang membawa
kemungkinan serta bayangan dirinya yang akan terluka ketika punggungnya
menghantam tanah di bawah sana.
Ctak!
Suara jentikan jari berhasil mengembalikan Chloe dari
lamunan singkatnya. Seolah baru saja terkena terpaan angin, Chloe kini
menyadari tubuhnya dibopong oleh Black Aura untuk kesekian kalinya. Tidak
diragukan lagi, Aura itu pasti memiliki banyak cara untuk melindungi Chloe.
Bahkan dengan cara menukar seperti itupun.
Aku selamat? Jadi, yang melayang disana…
Chloe menoleh ke belakang. Kedua matanya terbelalak
mendapati sosok Ayano baru saja melayang cepat ke bawah setelah itu disusul
dengan suara seperti benda jatuh di bawah sana.
“Oh, jadi kau menukarku dengannya?” tanya Chloe setengah tak
percaya. Keputusasaan yang tadi melahap dirinya melalui lamunan kosong, semuanya
pecah oleh usaha Black Aura yang tidak ingin kehilangan dirinya.
Bagaimanapun serangan musuh menyerangnya, Black Aura pasti
akan selalu punya banyak cara untuk menyelamatkannya. Hanya dia satu-satunya
yang menjadi pelindung Chloe saat ini. Dia satu-satunya orang yang tidak pernah
mengabaikan Chloe dan mungkin menjadi orang yang kekhawatirannya nyaris
menyetarai kekhawatiran Jacqueline dan Aoi.
Chloe sadar, tidak selamanya dia sendirian. Tak peduli
dengan bujukan kematian yang berulang kali berbisik di telinganya, Chloe pasti
__ADS_1
akan menemukan seseorang yang menjadi dinding penghalang bagi bujukan itu.
“Iya. Yang penting, kau selamat,” jawab Black Aura.
Tangannya membelai puncak kepala Chloe dengan lembut. Padahal, dia sedang
terluka saat ini. Malah lebih parah dari luka sebelumnya.
“Begitu ya… Kau nggak bosan ngelindungin aku terus?”
“Nggak. Memangnya kau nggak suka kulindungi?” Black Aura
tersenyum centil di hadapan Chloe hingga membuat gadis itu tersipu malu.
Sayang, Chloe tidak bisa kemana-mana selain terus menatap kea rah Black Aura
dan membiarkan rona merahnya itu tertangkap basah oleh manik violet Aura itu.
“Suka sih… Tapi, kalau keseringan kan juga nggak enak. Aku
jadinya merepotkanmu terus, Au,”
Black Aura terkekeh sembari menurunkan Chloe. “Di luar ada
Aoi dan Jacqueline. Kau mengkhawatirkan mereka kan?”
“Eh? Aoi Jacqueline ada disini? Sejak kapan?”
“Barusan. Waktu kau melamun, aku mendengar teriakan mereka
di bawah sana,” jelas Black Aura.
Setelah dihantam dengan palu milik Black Aura, Yui bangkit
kembali dengan tangan kanannya menggenggam tongkat yang ia ciptakan dari
genangan air di sekitarnya. Sebenarnya bukan kemauan Yui bertarung apalagi
mengamuk sampai menciptakan tsunami besar yang akan menewaskan sebagian besar
warga Carnater. Akan tetapi, rasa sakit yang ia terima di dunia nyata ternyata
lebih menyakitkan dan rasanya ingin sekali ia lampiaskan pada orang lain.
Satu-satunya yang bisa membuatnya terlepas dari rasa sakit
adalah dengan bertarung. Berbagi rasa sakit dengan musuh meskipun harus terluka
parah.
“Jadi, bagaimana? Kau ke bawah?” tawar Black Aura. Sementara
“Kalau aku ke bawah, berarti kau sendirian disini?”
“Hmm…”
“Nggak jadi deh. Aku mau sama Aura aja.”
“Lah? Kenapa? Kau bilang kau mengkhawatirkan mereka?”
“Memang iya! Tapi, aku lebih mengkhawatirkan yang bertarung
ini! Kenapa kau nggak kabur aja dari sini?”
“Hm, benar juga.”
Chloe mendengus. Entah apa Cuma perasaannya saja, Black Aura
saat ini terkesan ingin bercanda dengannya. Yah, lucu saja bagi Chloe karena
Aura ini sejak pertama kali bertemu sama sekali tidak memiliki humor dan jarang
tertawa. Tapi sekarang, Chloe mungkin bisa mengambil celah untuk membuat Black
Aura tertawa tanpa memperdulikan situasi saat itu.
“Bercandanya nanti dulu ya. Kita berdua harus keluar dari
sini atau nggak…”
“Kalian nggak selamat?”
~
“Aku ubah rencana kita. Kita sekarang membunuh mereka,” ucap
Midnight mengejutkan semuanya.
Okka dan Kenzo terbelalak bukan main mendengar pernyataan
Midnight tadi. Sampai-sampai membeku dan tidak tahu harus menjawab apa.
Sedangkan Jacqueline dan Aoi yang sebelumnya lebih mendukung rencana pertama
yaitu hanya mencari Ethan dan mengumpulkan bahan ritual itu kelihatannya
__ADS_1
menolak.
“Kok gitu? Kita kan nggak ada salah apa-apa sama mereka!
Okka dan Kenzo yang sebelumnya pernah terlibat kau marahin juga kan, gara-gara
mereka menyakiti Aura-aura disini!” protes Jacqueline.
“Aku tahu. Memang ini terdengar nggak adil. Tapi, aku udah nggak punya cara
lain selain membunuh mereka semua kecuali kelompokku. Karena, dari semua Aura
hanya kelompokku yang masih terjaga kewarasannya. Kalau kita cari tahu dalang
yang membuat Aura-aura ini gila akan memakan waktu lama. Kita juga nggak bisa
pulang ke bumi dengan cepat,” jelas Midnight dengan raut serius. “Kalau kalian
nggak setuju, lebih baik pulang aja. Daripada kita berdebat nggak jelas
begini.”
“Anu, Midnight… Mungkin lebih baik kita cari dalangnya
dulu. Dari pada membunuh mereka yang tak
bersalah,” timpal Aoi ragu-ragu.
“Dia benar. Meskipun aku tahu aku pernah menyakiti beberapa
Aura disini. Tapi aku lebih mendukung rencanamu yang pertama. Midnight, bagaimanapun
juga kita ini manusia. Mungkin sebagian dari kita pasti punya keinginan untuk
membunuh. Apalagi orang yang kita benci. Akan tetapi, Aura ini… Mereka semua
nggak sengaja terlibat,” komen Kenzo. Suara pria itu melembut seolah merasa
kasihan dengan Aura-aura yang tidak bersalah tapi justru terlibat dalam konflik
antara Megaville dengan Legend Aura.
Midnight terdiam
“Midnight, pikirkan baik-baik. Daripada membunuh mereka,
bukankah bagusnya kita memutuskan benang merah itu lalu membicarakan masalah
ini baik-baik dengan mereka. Dengan begini, semuanya akan membantumu. Kan nggak
ada salahnya menjadi teman,” tambah Okka.
“Hahh… Kalian ini. Baiklah, aku kalah. Kalau kalian punya
rencana yang lebih baik lagi, susun sama-sama. Rencana yang dihasilkan dari
satu otak belum tentu sebagus yang empat otak hasilkan, bukan?” Midnight
tersenyum. Kali ini, omongannya entah kenapa terkesan menyindir atau menantang.
Yah, kalaupun merasa tersindir, mungkin tidak ada salahnya membuktikkan pada
wanita berkacamata itu kalau membunuh bukanlah cara terbaik menyelesaikan
masalah.
“Kok aku merasa diejek ya?” bisik Jacqueline.
“Ah, biarin aja. Midnight juga udah capek ngurusin masalah
ini. Kita yang punya cara lebih bagus
mending gas aja!” balas Okka sambil cekikikan. Gadis itu juga mengedipkan
matanya sebelah.
Sementara menunggu keempat remaja itu berdiskusi, Midnight
berjalan-jalan sebentar memeriksa keadaan di sekitar gedung terbengkalai
tersebut. Semuanya basah. Tak ada satupun yang kering.
“Jangan-jangan Yui…”pikirnya.
Silentwave keluar dari lengan kemejannya dan berdiri di
sampingnya. Aura itu jari telunjuknya mengarah ke depan sehingga menyadarkan
Midnight akan sesuatu yang janggal di sekitarnya.
“Musuh?” Midnight mengernyit bingung. Wanita itu pun
mengarahkan pandangannya ke depan. Benar saja yang diucapkan Silentwave lewat
telepati. Di depan mereka berdirilah sesosok Aura dengan dres hitam panjang
__ADS_1
selutut. Tanduk kambing di kepalanya terlihat familiar di mata Midnight.
“Asoka?”