Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 104 {Season 2: Aura vs Alter (END)}


__ADS_3

Black Aura berlari kencang mengitari area pertarungan mereka dengan kedua matanya yang fokus pada tangan kiri Alter. Tiga pisau dapur yang dibaluti dengan api Alter selipkan di sela-sela jarinya tangannya. Setelah itu, dilemparnya dengan bebas. Disusul dengan pisau api lainnya.


Tak hanya api, tanah yang menjadi pijakan Black Aura ikut mengeluarkan api. Betapa terkejutnya Black Aura mendapati api yang berkobar di depannya. Panas. Kekuatan es Aoi pastinya berguna melawan kekuatan Alter yang berkaitan langsung dengan elemen api.


Black Aura menghela nafas berat. Memang keras kepala Alter ini. Sudah dibilang hentikan bertarungnya masih saja lanjut. Memanglah… Kalau udah dendam itu kepala terasa batu dibuatnya.


Karena musuhnya type yang keras kepala, mau nggak mau Black Aura mengeluarkan seluruh kekejamannya sebagai bukti bahwa dirinya memang ditakuti semua Aura plus sebagai pelajaran bagi Alter untuk tidak ceroboh dalam memilih lawan.


Black Aura menebas api dihadapannya hingga lenyap kemudian maju dengan kecepatan tinggi. Menghampiri Alter tanpa memperdulikan seberapa dekat jarak mereka. Alter mengeluarkan tombak sementara, Black Aura hendak melayangkan permukaan sabitnya ke pinggang Alter.


“Matilah!”


Sabit itu meluncur cepat menuju pinggang Alter. Sayang sekali, kecepatan Alter untuk menghindar kalah dengan kecepatan Black Aura  menyerang. Alhasil, darah orange kehitaman itu bercipratan deras membasahi wajah Black Aura.


Alter meringis kesakitan. Rumor yang selama ini mewarnai paginya bukan main-main rupanya. Meskipun Alter belum menemukan dimana letak kekejaman Black Aura dalam bertarung, Alter bisa menyimpulkan kalau serangan Black Aura ini memiliki efek rasa sakit yang berlebihan. Anak kecil saja langsung mati, orang dewasa saja bisa tumbang kalau tubuhnya tidak sanggup menahan rasa sakit luar biasa tersebut.


Black Aura tersenyum tipis. AKhirnya, raut ketakutan yang ia nantikan itu muncul. Tentunya, di wajah musuhnya yang tempo ini tengah menahan rasa sakit sekaligus berusaha menghentikan pendarahannya dibagian pinggang.


“Kubilang juga apa.”


Black Aura memperlihatkan tatapan dingin menusuknya pada Alter yang bisa dibilang kondisinya saat ini sekarat. Kalau masih susah dibilang juga, mau tak mau harus menggunakan kekerasan agar  Aura itu diam dan menyerah melanjutkan pertarungan mereka.


“Cih!” Alter berdecak kesal. Dia masih belum menyerah. Aura itu memiliki setidaknya ada lima cara yang sudah ia persiapkan sebelum berhadapan langsung dengan Black Aura. Ada satu kemampuan yang belum pernah digunakan. Kekuatan itu besar dan karena besar itulah dapat merubah penampilannya.


“Kau belum tahu kemampuanku yang satu ini! Maka dari itu, jangan kabur dulu selagi aku masih bisa berdiri!”


Suara penuh penekanan itu membuat tanah disekitarnya memanas. Kobaran api yang sempat menghilang itu muncul kembali . Bersamaan dengan itu, kemampuan Alter akhirnya aktif. Sebuah lingkaran merah di bawah kakinya muncul. Dari lingkaran itu juga, Alter menciptakan  naga raksasa.


“Gimana? udah takut belum?” Alter tersenyum licik. Aura itu menatap Black Aura dengan tatapan merendahkannya.


Black Aura tersenyum tipis, “Kalau belum kenapa?”


Karena tak ada jawaban dari Alter, Black Aura mengklaim kalau pertarungan ronde kedua mereka sudah dimulai. Naga yang menjadi bantuan Alter itu menembak puluhan bola api besar kearah Black Aura tanpa jeda. Hawa panas dari hembusan nafas naga itu sampai terasa di leher Black Aura. Membuat Aura itu yah… Merasa ngeri walaupun sedikit.


Black Aura berbalik, menjentikkan jarinya dan waktu pun berhenti. Dalam ruang tanpa waktu itu, Black Aura bergerak dengan menebas seluruh bagian tubuh naga tersebut. Begitu menemukan ada darah yang mengalir, cepat-cepat Black Aura jentikkan jarinya sebanyak dua kali dan ledakan darah pun muncul.


Waktu kembali berjalan. Bagaikan air mancur, darah itu muncrat. Membasahi tanah di sekitarnya. Alter menegang mengetahui luka yang naganya alami terlihat parah sekali. Tak hanya di bagian tangan, ada kaki, leher, punggung, perut, dan kepala. Tidak, hampir semuanya berdarah.


Naga itu nyaris tumbang. Di lain sisi, tak ingin mengecewakan Alter yang menaruh harapan banyak padanya. Naga itu ingin membanggakan pemiliknya meskipun dengan sekali cakaran di tubuh lawannya.


Naga yang diberi nama EX itu menghantamkan telapak kakinya ke tanah hingga membuat retakan tanah tersebut melayang. EX pun berlari maju seraya menyemburkan api dari mulutnya. Alter melompat ke udara, lalu membantu EX menyerang dengan puluhan panah api yang diarahkan ke Black Aura langsung. Sekarang, lihat bagaimana cara Aura berkemampuan rasa sakit itu mengatasi luka bakar yang ia peroleh dari serangan Alter dan EX.

__ADS_1


Ketika hendak melompat menjauhi area berbahaya, entah dari mana asalnya, tangan EX muncul dan menghantam tubuh Black Aura bagian kiri hingga terpental menembus batang pohon yang membeku.


“Gila, cepat banget!” Black Aura mengerjap-ngerjap tak percaya. DIa bangkit kembali, lalu maju dengan kecepatan tinggi. Aura itu mengeluarkan serangan balasan berupa lima belas panah yang diluncurkan ke punggung EX hingga menimbulkan ledakan darah untuk kedua kalinya.


EX pun ambruk dan menghilang. Sekarang, giliran sang pemilik.


“EX!” teriak Alter tak percaya dengan kenyataan yang ia lihat di depan mata kepalanya langsung.


Bodo amat dengan air mata Alter yang mengalir, Black Aura kembali melancarkan serangannya yang lain. Kali ini dia nekat. Menebas pinggangnya hingga terbelah. Dalam hitungan satu, dua, dan tiga, luka dan rasa sakit tersebut ia pindahkan ke tubuh Alter.


“Aarrgghh!” Alter jatuh, tersungkur ke tanah. Darahnya mengalir dengan deras hingga membentuk genangan.


Nafasnya menjadi tidak stabil lantaran dirinya yang sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit tersebut. Menyesal ya? Kalau dipikir-pikir, Alter merasakannya sedikit. Benci mengakuinya tapi, rasa sakit yang ia alami ini membuatnya menyesal telah berhadapan langsung dengan Black Aura.


Aura bermanik violet itu kalau sudah masuk mode serius, dia tak akan ragu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghajar lawan yang mengganggu  pandangannya. Apa Alter termasuk lawan yang mengganggu penglihatannya?


“Inilah akibatnya kalau kau terlalu keras kepala. Sudah ku peringatkan, jangan bertarung masih juga bandel.”


Black Aura berjalan pelan menghampiri Alter yang semakin sekarat. Nyawanya saat ini sedang dipertaruhkan dengan rasa sakit yang menjalar cepat hampir ke seluruh bagian tubuhnya.


“Aku kesini bukan untuk membunuh. Tapi, menyelesaikan masalah dunia kita. Kalian yang nggak tahu apa-apa, silahkan saja anggap aku penjahat. Anggap aja diriku sebagai pembunuh yang membunuh pacar kalian,” Black Aura mengatakan semua itu dengan nada dan wajah yang sama datarnya. Tidak ada emosi lain yang berani ikut campur dalam situasi canggung seperti ini. Bahkan senyuman yang sering Chloe ajarkan itu kehilangan kekuatannya, mencairkan dinding es sudah menjadi bagian dari hidup Black Aura.


Tap!


Black Aura menunduk cepat, memandang datar wajah ketakutan Alter. “Aku punya dua pilihan. Satu, mati ditanganku atau bekerja sama denganku?”


~


“Wah keren-keren!”


Okka bertepuk tangan sebagai komentarnya terhadap rekaman yang mereka lakukan selama lima menit di istana Asoka. Mereka berdua sukses membuat Asoka mengamuk dan membuat Aura itu terkesan memangsa mereka.


“Nanti pas udah balik ke bumi, kita upload ke YT!” seru Kenzo bersemangat. Kemudian, video rekaman itu mereka matikan. Takut baterai ponselnya habis.


Okka menelengkan kepalanya, berpikir. “Jalan pulang, ya? Waktu kita terlempar ke sini, kita masuk lewat portal, kan?”


Kenzo mengangguk pelan, “Kudengar, cermin untuk kita kembali ke dunia asal kita ada sama orang lain. Dia manusia sama seperti kita. Hm, aku jadi heran. bagaimana bisa manusia sepertinya menemukan dunia seajaib ini. Kalau dia yang menemukannya itu artinya, pekerjaan orang itu sejenis professor, ilmuan, atau…”


“Jangan-jangan, makhluk Carnater ini yang justru membuat cermin itu. Kemudian, datang ke bumi dan berteman dengan manusia di sana. Menurutku begitu.”


Okka dan Kenzo saling mengeluarkan argumen mereka. Sambil menonton video hasil rekaman mereka beberapa menit yang lalu. Sebenarnya, Okka dan Kenzo sudah berada di Carnater selama satu bulan lebih. Dan mereka bisa berbaur dengan mudah di dunia yang tidak memiliki warna ini. Dunia yang dipenuhi oleh Aura yang sifatnya bisa jadi jahat bisa jadi baik. Tritagonist begitu.

__ADS_1


Sekarang, mereka berdua malah terobsesi dengan kekuatan dan juga senjata Aura. Mereka pernah mendengar tentang Aura yang memiliki darah ajaib yang bisa menghidupkan makhluk hidup yang mati. Aura itu masih misterius keberadaannya. Tapi, sebisa mungkin mereka temukan dimana posisi Aura itu berada.


Jalan pulang sudah bukan prioritas utama mereka. Bertarung, membunuh Aura, dan mencuri senjata merekalah yang menjadi hiburan mereka saat ini. Seperti bermain game rpg. Mereka diberi misi mencari sesuatu, kemudian bertemu musuh, lalu membunuh musuh tersebut. Bukankah seperti itu menyenangkan?


“Sudahlah, lupakan yang itu. Jadi, misi kita sekarang apa, beb?” tanya Okka, menarik lengan kenzo dengan manja. Gadis itu masuk ke dalam dekapan hangat pacarnya.


“Nanti kita pikirkan lagi ya! Kita istirahat dulu setelah itu lanjut lagi!”


“Kita bakal jadi petarung hebat, kan?”


“Yep! Petarung yang bisa mengalahkan para bos di dunia fantasi.” Tambah Kenzo. Kedua pasangan itu saling memamerkan senyuman terbaik mereka.


“Black Aura… Aku pernah bertanya soal Black Aura ke salah satu Aura. Katanya, dia Aura paling kejam. Kalau bertarung nggak pernah pakai hati.” Tutur Okka antusias.


“Oh, ya?” Kenzo membulatkan kedua matanya tak percaya. “Lalu?”


“Kau mau coba, nggak? Lawan Black Aura sekalian rekaman. Kan bakalan epic kalau bertarung melawan Aura itu.”


Kenzo berpikir sejenak. Tak perlu memakan waktu lama, pria itu mengangguk setuju. “Kapan-kapan ya! Kita belum tahu semua kemampuan Aura itu.”


“Kalau bisa, secepatnya-lah!” paksa Okka dengan nada manja. Gadis itu menggoyang-goyangkan tangan Kenzo. Membuat pria itu merasa geli.


“Iya, iya… Akan kuusahakan. Tapi sebelum itu, kita tanya dia dulu dimana cermin yang bisa mengantarkan kita pulang. Kalau dia nggak mau jawab, baru kita bunuh.” Jelas Kenzo yang langsung mendapatkan anggukan antusias dari Okka.


Sejak terjebak di dunia Carnater, Okka jadi tertarik ingin menjadi petarung sejati. Kemana-mana selalu membawa pedang dan penampilan acak-acakan hasil dari pertarungan sengitnya melawan makhluk fantasi.


“Kukira, fantasi Cuma bisa kita temukan di komik dan film. Tapi rupanya, fantasi itu memang ada.” Ujar Okka sambil membayangkan betapa menakjubkannya kekuatan yang ditebarkan Aura yang ia lawan sebelumnya. Asoka. Sihir-sihir hitamnya menakjubkan. Tapi, bisa Okka atasi dengan sifat percaya dirinya dan keahlian berpedangnya.


Cita-cita masa kecilnya akhirnya terkabulkan di dunia Carnater ini. Okka benar-benar bersyukur dengan serangkaian kejadian aneh yang menimpanya bersama Kenzo pacarnya. Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Okka dan Kenzo yang diserang rasa panik itu kini tak lagi bisa mengingat bagaimana detail saat mereka terlempar ke dunia yang sunyi, hening, dan terkesan abu-abu itu. Yang masih melekat diingatan mereka adalah dorongan keras dan gelak tawa seorang perempuan.


“Aku nggak tahu kenapa kita dilempar ke sini? Tapi, berkat semua kejadian ini, kita bisa lebi kreatif lagi membuat konten kita. Aku rasanya nggak sabar mau upload ke YT.” Ujar Okka.


“Sama, aku juga. Intinya, apapun konfliks yang akan menghampiri kita, kita harus sama-sama ya!” Kenzo menggenggam erat tangan pacarnya. Mereka berdua saling berbagi kehangatan dengan kedua mata mereka yang terpejam.


Jam tangan mereka menunjukkan waktu makan siang tak lama lagi tiba. Untunglah, di Carnater memiliki makanan yang tak jauh beda dengan makanan di dunia manusia. Salah satunya bolu. Makanan itu mereka temukan di minimarket yang entah kemana perginya pemiliknya. Hanya ada makanan dan minuman tersedia di sana. Dan anehnya, makanan dan minuman tersebut tidak basi. Bahkan tidak ditemukan tanggal kadaluarsanya.


“Ken, kau nggak kangen rumah?”


“Nggak juga. Aku sekarang,,, Lebih memprioritaskan kebahagiaanmu. Aku tahu kau suka sekali yang namanya fantasi. Kalau diibaratkan, fantasi itu seperti melihat bulan biru. Aku lupa berapa lama kita harus menunggu bulan biru itu muncul. Yang jelas, umur kita itu nggak akan sampai untuk melihat betapa indahnya bulan itu. Karena itulah, selama di Carnater, mari kita manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Ya, Okka?”


Okka mengangguk patuh, "Ya, aku setuju!"

__ADS_1


 


~


__ADS_2