
Black Aura membeku di depan kamar Chloe yang bagian dalam ruangannya penuh akan darah yang kecipratan di sembarang arah. Darahnya berwarna merah. Terdapat beberapa genangan darah yang masih baru menggenang di atas lantai kamar Chloe.
Bau anyirnya menyengat. Sampai-sampai membuat wajah Black Aura yang sudah pucat, semakin pucat dibuat oleh ruangan tersebut.
Black Aura meneguk salivanya. Maniknya bergetar hebat.
“Ini… Mimpi kan?” pikir Black Aura takut.
Dadanya sakit. Tambah sesak saat dirinya tidak menemukan jejak kaki Chloe di dalam rumah yang berantakan tanpa alasan tersebut.
Pikirannya tak karuan. Dia mulai bertanya-tanya, dimana Chloe dan Midnight saat ini.
Nggak mungkin, kan? Nggak mungkin darah itu punya Chloe.
Black Aura melirik ke sekitarnya. Berusaha mencari benda-benda yang sekiranya bisa menjadi petunjuknya untuk mencari kekasihnya yang mendadak hilang.
Kejadian ini persis dengan kejadian dimana hilangnya Aoi. Namun, hilangnya Aoi bukan karena ulah Legend Aura melainkan karena keinginan orang jepang itu ingin menjauh dari musuh dan fokus pada rencana mereka.
Sementara Chloe, gadis itu menghilang begitu saja. Tidak ada surat, jejak kaki, ataupun benda berharga yang sengaja Chloe tinggal andaikata Black Aura tidak kembali tepat waktu ke rumahnya.
Kedua kakinya lemas. Black Aura tersungkur dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. Hatinya seakan digerogoti oleh rasa bersalah.
“Dimana? Dimana Chloe?”
Black Aura menunduk. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir. Antara takut, panik, dan kehilangan itu bersatu untuk mengganggu pikiran Black Aura.
Ketenangan yang tadinya bersamanya seketika memudar layaknya keberadaan Chloe dalam rumahnya yang perlahan mulai menghilang.
Tidak ada waktu untuk diam. Tidak ada waktu untuk menangis.
Black Aura mengangkat kepalanya yang semulanya tertunduk. Dia beranjak dari kamar menuju dapur dan… Lihat saja, apa yang dia temukan?
Sebuah surat yang sebagian kertasnya basah akan cipratan darah.
__ADS_1
Darahnya merah. Sudah jelas, itu darah manusia.
Black Aura menggeleng cepat kepalanya. Berusaha menghilangkan bayang-bayang mengerikan setiap kali hatinya menyebut nama Chloe. Setiap kali hatinya mengkhawatirkan kekasihnya tersebut.
Perlahan-lahan, Black Aura mulai menyobek amplop tersebut dan mengeluarkan suratnya. Beruntunglah, yang basah amplop-nya sehingga, tulisan yang tertulis di kertas itu tidak memudar karena darah.
Dari tulisannya, Black Aura bisa menebak kalau itu tulisan Chloe.
Surat itu bertuliskan:***“Pepohonan yang tumbuh secara acak; Di atas dua puluh; Percaya adalah kuncinya; Luka dalam dan luar memiliki akhir yang berbeda; Gadis kecil itu tak lagi tersesat”***
Black Aura mengernyit penuh tanda tanya. “Kode apaan ini? Atau… Ini petunjuk?” pikirnya.
~
Jarum pendek mengarah ke pukul sebelas tujuh pagi dimana rumah Chloe saat ini masih dalam kondisi hening. Tidak ada kehidupan ataupun suara langkah kaki yang bersahutan dari ruang atas.
Black Aura membuka pelan kedua matanya usai tiga jam tertidur. Dia lelah. Mau diputar atau dihancurkan sekalipun rumah Chloe, pacarnya itu tidak akan menampakkan dirinya. Sosoknya menghilang dan hanya meninggalkan sepucuk surat dengan serangkai petunjuk berwarna merah.
Black Aura mulai frustasi dan khawatir. Dia menyesal karena keluar belanja semalam. Tak Cuma Chloe, Midnight yang sebelumnya bersama Chloe apa juga ikut menghilang?
Black Aura akhirnya bangkit setelah pikirannya sendiri muak menyusun rencana terus menerus.
Dia butuh seseorang. Seseorang yang bisa dia gandeng. Seseorang yang bisa dia andalkan suka dan duka. Akan tetapi, menjalin ikatan dengan orang baru lagi sama dengan memulai sebuah cerita dari nol. Merepotkan!
Hal terbesar yang sangat Black Aura takutkan saat bertemu dengan orang baru adalah, ingatan berharganya bersama orang pertama perlahan akan memudar.
Dirinya yang sudah terlanjur cinta dengan Chloe tak ingin membiarkan ribuan kenangannya bersama Chloe menghilang tergantikan oleh kenangan yang baru. Meskipun nyatanya hidup itu seperti itu, Black Aura tetap tak ingin menerima kenyataan dimana dirinya akan menjadi dekat dengan orang baru.
“Bagaimanapun juga, hanyalah Chloe yang bisa memilikiku. Aku hanya untuk Chloe dan Chloe hanya untuk aku,” tegas Black Aura pada dirinya sendiri. Tangan kanannya terkepal keras menarik jaket hitamnya.
Surat tadi, dia rampas sambil berlari menembus angin di pagi hari.
Musim panas ini ramai. Black Aura yang terjebak di tengah keramaian jadi bingung sendiri ingin pergi ke arah mana. Memang, tujuannya Cuma satu; mencari Chloe. Akan tetapi, jalan yang diberikan kota padanya terlalu banyak dan sulit untuk dipilih. Belum lagi dengan ribuan pejalan kaki yang berjalan ala kadarnya mengikuti alur hidup mereka masing-masing.
__ADS_1
Memandang keramaian itu, Black Aura terdiam. Hati dan pikirannya perlahan-lahan merasakan betapa nyatanya pekerjaan mereka ini. Rasa lelah dan pikiran yang penuh itu juga bisa Black Aura rasakan meski demikian dia tidak begitu mengerti dengan jalan pikir manusia.
“Chloe… Chloe… Chloe… Chloe…”
Hanya nama gadis itulah yang terlintas di benak Black Aura.
Tak peduli dengan pikiran yang kacau sampai-sampai mengundang rasa pusing, Black Aura tetap melanjutkan perjalanannya mencari sang kekasih.
Dia juga mengaktifkan mata periksa nya untuk mencari Chloe. Saat mencari, bukannya Chloe yang ia dapat tapi malah Yira yang tiba-tiba muncul dihadapannya disertai senyuman lebar kebangaannya.
Sambil melambaikan tangannya, Yira menyapa, “Hai, Aura!” sapanya.
Nafas Black Aura tercekat sekaligus terkejut jantungnya mendapati sosok Yira yang tiba-tiba muncul tanpa ia sadari suara langkah kakinya.
Black Aura berdecak sebal setelah menyadari sisi waspadanya perlahan-lahan mulai kendor.
“Kau sedang apa di tengah kota gini? Kelihatannya, kau bingung,” ujar Yira tanpa basa-basi. “Eh? Surat apa itu?” tunjuknya.
Black Aura memicingkan matanya dan segera menjauhkan surat tersebut dari tangan jahil Yira.
“Bukan urusanmu,” lirih Black Aura disertai tatapan tajam yang mengarah langsung ke Yira.
“Hm? Kau marah? Santai… Aku nggak bakal yang aneh-aneh kok. Aku juga udah tahu apa yang kau cari sekarang,” ujar Yira santai sambil berjalan memutari Black Aura yang kelihatan bingung.
“Kau tahu apa yang kucari?”
“Yap! Aku tahu semuanya. Dari mimpiku,” Yira menghentikan kakinya tepat di hadapan Black Aura.
“Mimpi?”
“Yep, mimpi. Itulah kenapa aku sampai repot-repot kesini hanya untuk mencari tahu siapa kalian ini sebenarnya. Aku juga mendengar beberapa rumor orang hilang dengan misterius dari kenalanku. Aku yakin, insiden ini ada hubungannya dengan hilangnya pacarmu, Black Aura.”
Saat Yira menyebut nama panjang Black Aura, saat itulah Black Aura terkejut dalam diam.
__ADS_1
Dari mana dia tahu?
~