Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 54


__ADS_3

“Lama tak bertemu…” Bisik Yohan menyeringai.


Black Aura melirik tajam ke arah Yohan.


“Apa maksudmu?” tanyanya seakan meminta penjelasan dari pria tersebut.


Di sisi lain, Chloe memandang canggung pada sepasang pria yang kini saling bertatap tajam satu sama lain itu.


“Hei, kalian?” panggil Chloe berusaha mengalihkan perhatian mereka. Namun apa daya, dirinya terlalu takut untuk melerai kedua pria tersebut. Sampai-sampai, ia memutuskan untuk mundur dan bersembunyi di belakang Black Aura.


Melihat Chloe tengah bersembunyi seperti


anak kucing yang baru saja mengenal dunia luar, Yohan mendengus.


“Pfft! Hahaha! Jangan dibawa serius dong! Aku kan cuma bercanda! Nggak ada maksud lain.” ujar Yohan disertai gelak tawa ringan kemudian ia menjauh dari Black Aura.


Kini, Yohan mengarahkan seluruh pandangannya pada Chloe. Dia menunduk menyamai tingginya dengan gadis itu. Yohan merasa ada sesuatu menarik yang pada gadis ini. Tapi, dia menahan diri dulu. Bukan saat yang tepat untuk mendekati Chloe karena gadis itu sedang tidak sendirian.


Seperti ada kilat yang melintas lurus di benaknya, Yohan tertegun. Teringat akan sesuatu yang nyaris saja ia lupakan.


“Oh, ya, Chloe! Jadi, kau ikut atau tidak?”


Kedua mata Chloe membelalak.


“Eh? Apa ya? Lain kali aja, deh!” jawabnya.


“Ooh... Okelah. Kalau begitu, jangan menyesal ya kalau mereka memiliki kenangan lebih banyak darimu!” seru Yohan seraya berlalu meninggalkan mereka dengan santai.


Chloe tersentak mendengar perkataan Yohan barusan. Dadanya seperti baru saja dipukul.


Pria itu tampaknya memaksa Chloe dengan cara yang halus. Tapi, siapa sangka bahwa trik seperti itu dengan mudah Chloe sadari. Bahkan Black Aura sekalipun.


"Jangan mudah terpancing Chloe." Bisik Black Aura sambil menggenggam kuat tangan Chloe.


"Aku tahu. Aura yang kau cari itu bisa saja ada di dalam salah satu pengunjung di cafe ini." Balas Chloe serius.


"Tapi Black Aura, kurasa yang membuatmu terpancing ke cafe ini bukanlah Aura." Chloe menambahkan dengan senyuman penuh keyakinan. Meski sadar dirinya mendapatkan tatapan heran dari Black Aura.


"Kenapa begitu?"


"Itu karena, setiap kali kau merasakan keberadaan Aura, pasti mereka mendatangimu. Mereka juga selalu tampil sendirian tidak bersama orang lain. Kalau menurut perasaanku, aku mencurigai Yohan. Dari tadi, aku merasakan hawa aneh setiap kali pria itu mendatangiku." Jelas Chloe. Dia kembali duduk dan mengambil sebatang kentangnya.


"Kurasa kau benar. Tapi, aku tidak mengenal siapa Yohan ini. Ah, dia juga bilang padaku "lama tak bertemu." Ucap Black Aura. Aura itu ikut duduk kemudian meneguk segelas kopi panas pesanannya.


"Begitu ya? Astaga! Nyaris saja lupa!"


"Apa?"


Sebelum menjawab, Chloe mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Rara, dan menunjukkan pada Black Aura riwayat chat mereka.


"Rara pernah bilang padaku bahwa Yohan punya hubungan khusus dengan Legend Aura. Pertanyaanku adalah, Yohan punya hubungan apa dengan kalian? Kau saja tidak mengenalinya." Ujar Chloe santai.


"Yohan ya? Kenapa nggak bilang dari kemarin?"


Chloe terdiam sesaat. Kemudian, dia menyengir lebar seperti orang tolol.


"Lupa."


Tidak ada respon dari Black Aura. Aura itu memandang heran disusul dengan hela nafas beratnya.


Oh, ya! Sekilas, Black Aura menangkap sosok Yohan menuju mejanya. Terlihat Hyori dan Minji yang tengah berbincang hangat di sana.


Pria itu menarik kursinya sambil menerima omelan tanpa jeda dari Minji.


Kalau dipikir-pikir, Yohan dan Yuuki memiliki tinggi yang sama. Mereka sama-sama memiliki kulit putih, wajah tirus, dan warna rambut yang sama. Hitam.


Akan tetapi, jika sifat mereka dibandingkan, Yuuki itu sangat overprotektif terhadap orang yang dicintainya. Yuuki juga rela menerima semua omelan tak berguna dari kekasihnya. Sementara Yohan, dia type orang yang selalu banyak pertimbangan. Dia juga kurang suka diomeli.


"Kurasa, Yohan bukan Yuuki. Tapi, kenapa Yohan memiliki hubungan dengan Legend Aura? Memangnya, apa yang dia inginkan dari Legend Aura?" pikir Black Aura.


Ketika mereka terjebak dalam keseriusan, sesuatu yang tak terduga terjadi di saat bersamaan.


Terdengar suara benda keras yang menghantam gedung disertai dengan jeritan khas dari masyarakat yang melintasi daerah tersebut. Chloe dan Black Aura refleks berdiri dan menoleh ke sumber suara. Ternyata, keributan itu terjadi tak jauh dari posisi mereka berdiri saat ini.


Suasana di dalam café yang semula setenang


alam, kini berubah menjadi riuh dan kacau seakan badai besar melanda kota


mereka. Hampir semua orang di dalam café berlarian keluar dan ada pula yang


menggunakan gawai mereka untuk merekam kejadian yang membuat jantung mereka


berpacu sangat cepat.


“Apa-apaan tuh?”


“Rekam! Rekam!”


“Woi! Panggil polisi!”


Beragam celetukan orang mewarnai seisi café.


Bahkan terlihat beberapa pelayan keluar dengan raut penasaran seraya merekam gedung yang dipenuhi oleh asap tebal tersebut. Tidak jelas apa yang baru saja menabrak gedung itu. Kamera ponsel yang canggih saja dibuat tak berguna karena ketebalan asap.


“Black Aura…” Chloe bergumam cemas seraya kedua tangannya mencengkram kuat lengan Black Aura.


Dari dalam café, terlihat sangat jelas sebuah gedung perkantoran dengan salah satu sisinya yang remuk karena ada sesuatu yang menabraknya. Benda apa itu?


Black Aura melirik Chloe yang terlihat


cemas. Untuk menenangkan gadis itu, Black Aura menggenggam punggung tangan


gadis itu dan membiarkan rasa takutnya memudar perlahan-lahan.

__ADS_1


“Aku ada di sini.” Bisik Black Aura


diakhiri dengan senyuman singkatnya.


Chloe ikut tersenyum melihatnya.


“Ada apa lagi ini?” Minji tiba-tiba sudah berada


di samping Chloe tanpa sepengetahuannya sambil mengomentari keadaan yang jelas-jelas


membuat semua orang panik. Dia sempat melirik Chloe, namun segera membuang


wajahnya ke arah lain.


Chloe memasang raut malas begitu mendengar


ocehan Minji di sampingnya. Apa-apaan gadis ini?! Nggak paham situasi, ya?!


“Tu-tunggu dulu…!”


“Eh? Ada apa Black Aura? Apa kau sudah tahu


apa yang menabrak gedung itu?” tanya Chloe penasaran.


Black Aura tidak merespon kecuali


memperlihatkan kedua matanya yang membelalak tak percaya. Chloe menduga lasti ada sesuatu di gedung itu yang berhubungan dengannya. Oleh karena itu, Chloe langsung mengarahkan penglihatannya penuh pada gedung yang asapnya mulai berkurang.


Memang jarak antara gedung dengan posisi


mereka lumayan jauh. Namun, sedikit demi sedikit asap itu memperlihatkan


kenyataan yang disembunyikannya.


Setelah asap menipis, terlihatlah oleh


mereka sepasang sepatu, cakaran panjang yang tak berkutik sama sekali dan... cairan


magenta yang mengalir tanpa henti.


Pita suara mereka seakan putus. Seolah mereka dibuat bisu untuk sementara.


Chloe dan Black Aura benar-benar dibuat


kaget sampai-sampai tubuh mereka sulit untuk digerakkan. Bola mata mereka mengecil. Tidak menyangka bahwa kenyataan memberi mereka sebuah pemandangan yang bahkan tak pernah mereka bayangkan beberapa menit yang lalu.


“Itu… Kan…?” jari telunjuk Chloe gemetaran.


“Devil Mask…” Ditambah dengan suara Black Aura yang bergetar.


Benar sekali! Sesuatu yang tersangkut di antara celah dinding dan kaca gedung itu tak lain adalah Devil Mask. Akan tetapi, siapa yang melakukannya? Berani sekali mencari keributan di dalam kesibukan kota.


“Itu orang, kan?”


“Astaga! Apa aku berada di dalam mimpi?”


Seperti angin, Hyori berlari kencang melewati Chloe lalu, keluar café sembari mencubit pipi kirinya.


“Black Aura!” panggil Chloe setelah puas


larut dalam ketegangan.


Black Aura mengangguk singkat seakan dia


sudah mengetahui maksud Chloe.


Tak perlu basa-basi lagi, mereka melangkah cepat keluar café. Mereka tidak peduli apabila ada pengunjung yang terjatuh karena ulah mereka yang asal terobos saja.


Kenapa di kota? Jangan bilang Dark Fire? Chloe membatin. Saat ini, Chloe sulit menjelaskan bagaimana perasaannya kali ini. Kaget, tegang, dan cemas. Mereka beradu di dalam pikiran Chloe.


Ketiga perasaan itu berotasi bersamaan dengan langkah kaki Chloe yang membawa gadis itu ke tempat kejadian. Dia tanpa sadar melontarkan satu harapan.


Kumohon, jangan mati.


Sementara itu, ruangan café mulai terasa


sepi karena semua pengunjungnya keluar untuk merekam kejadian tersebut.


Minji menghela nafas pelan. Akhirnya, gadis


itu memutuskan untuk kembali ke kursinya, berpikir bahwa dirinya tidak seharusnya terlibat dalam momen tersebut. Begitu sampai di kursi, Minji segera mengambil posisi duduk nyaman dan menyalakan ponselnya.


“Lagu mana yang bikin baper ya?” gumamnya


sambil men-scroll ratusan lagu yang ia simpan di dalam aplikasi musiknya.


Saat tidak ada seorangpun di sekitar Minji,


Yohan menghampirinya dengan kedua tangan yang ia sembunyikan di dalam saku celananya.


“Minji, ada sisir?”


Minji mendongak kepalanya datar. “Oh, kau


rupanya. Untuk apa?”


Yohan tertegun untuk sesaat. Kemudian, ia


terkekeh pelan sambil mengusap rambutnya ke belakang.


“Ini loh! Rambutku berantakan. Masa nggak


lihat sih?”

__ADS_1


“Lihat. Cuma malas aja ngebahas begituan.


Nih!” Minji menyahuti perkataan pacarnya seraya merogoh isi tasnya. Tak lama


kemudian, dia menemukan sisirnya dan memberikannya langsung pada Yohan.


“Jangan lupa kembalikan!”


“Ah, kau ini! Aku bukan pencuri tahu!” omel


Yohan dengan nada bicara yang terdengar banci oleh Minji.


Setelah menerima sisir yang diinginkannya,


Yohan segera menjauh dari Minji. Pria itu berjalan tegap seraya mengubah gaya


rambutnya. Kedua matanya terpejam. Tak lama kemudian terbuka. Rambutnya yang


semula tersisir rapi, berubah menjadi ivy league haircut.


Sisir Minji semena-mena ia buang seakan sampah yang tak berarti baginya. Sepatu botnya melangkah penuh keberanian. Pria itu menerobos di antara keramaian. Dia menyeringai di tengah kepanikan.


“Akhirnya... Udara segar.” Ucapnya.


...🍁...


Keributan di tengah kota masih belum berakhir sampai beberapa sirine mobil polisi memenuhi area tersebut. Para warga yang menyaksikan kejadian itu malah dibuat tambah penasaran dan merekam kejadian tersebut lalu mempostingnya ke media sosial.


Chloe melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Sudah kuduga, pasti mereka akan merekam.


Setelah berlari cukup lama, akhirnya Chloe dan Black Aura tiba tepat di bawah Devil Mask yang tersangkut di atas sana.


Chloe melirik ke kiri dan kanan. Dia tidak menemukan sosok Jacqueline dan Yumizuka sekalipun. Apa mereka berpisah kali, ya?


Sementara itu, Black Aura sibuk memeriksa keadaan Devil Mask. Telinganya terasa mau pecah setiap kali mendengar suara sirine polisi. Sialnya lagi, sudah ada tiga mobil polisi menghampiri tempat kejadian. Mau bagaimana lagi? Pasti akan terlihat aneh di mata orang apabila dirinya menutup kedua telinganya dengan tangan.


Usai puas memandangi keadaan gedung, Chloe menghembuskan nafas cemas dan menghampiri Black Aura.


"Aku akan mencari Jacqueline." Katanya.


Saat Chloe berkata begitu, alis kanan Black Aura terangkat sebelah. Dia tampaknya meragukan perkataan Chloe.


"Nggak. Lebih baik kau bersamaku. Kau membawa ponsel, kan?" cegah Black Aura.


Chloe tertegun menyadari tangannya dicengkram kuat oleh Aura itu.


"Okelah... kutelpon saja." Ucap Chloe ragu-ragu.


"Iya."


Chloe memasukkan tangannya ke dalam saku jaket dan mengeluarkan ponsel hitam kesayangannya.


Tak ingin waktunya terbuang banyak, Chloe pun menghubungi Jacqueline langsung melalui telepon. Dia menempelkan layar ponselnya ke telinga kanannya.


Tak lama, Jacqueline mengangkat panggilan telponnya.


"Jacqueline! Ada apa barusan? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Chloe tanpa basa-basi.


"Tadi kami bertemu perempuan aneh. Aku merasa terus diperhatikan oleh perempuan itu. Tapi, entah dari mana... Ada orang lain yang menghajar Devil Mask. Aku dan Yumizuka nggak bisa melihat siapa sosok tersebut." Jelas Jacqueline di seberang sana.


"Kalian dimana?"


"Kami otw ke tempat kalian."


"Oke... Ngomong-ngomong, wanita yang kau maksud seperti apa rupanya?"


"Rambutnya pirang sepinggang. Dia memakai helm hitam. Jadi, tidak terlihat jelas wajahnya. Oh, ya! Yumizuka bilang, dia merasakan keberadaan Aura. Akan tetapi, Aura itu tidak jelas bagaimana bentuk dan keberadaannya."


"Begitu ya? Hmm... Kau tahu gedung kantor yang berdiri tak jauh dari cafe kesukaanku?"


Pertanyaan Chloe tadi menghasilkan jeda singkat diantara mereka.


"Oh! Aku tahu!" seru Jacqueline bersamangat seolah berhasil mengingat dimana letak gedung yang Chloe maksud.


"Chloe... Tolong, jaga Devil Mask, ya! Jaga dia sampai aku tiba di sana." Pinta Jacqueline sedikit berbisik.


"Jangan khawatir. Kami ada disini. Devil Mask-mu aman sampai kau tiba nanti." Balas Chloe yakin.


"Thanks..."


Panggilan mereka akhirnya terputus. Chloe menghela nafas lega lalu menyimpan ponselnya.


"Black Aura! Kurasa, kita nggak punya cara lain lagi!"


Black Aura melirik Chloe datar setelah beberapa saat memandangi Devil Mask yang tersangkut itu.


"Oke. Kalau begitu, berikan aku sesuatu!"


"Dengan senang hati!"


Dengan cepat, Chloe mengambil pot bunga di depan toko bunga kemudian melemparkannya pada Black Aura.


Aura itu menangkap pot tersebut dengan sigap tanpa membiarkan setitik pun tanahnya terjatuh dari pot.


"Semoga nggak ada yang melihat!" ujar Black Aura disertai dengan jentikan jarinya yang terdengar keras. Tak lama setelahnya, pot yang ia genggam tadi bertukar menjadi Devil Mask. Buru-buru, Black Aura membopong tubuh Aura bertopeng itu agar tapak sepatunya tidak menyentuh dan menimbulkan suara di atas tanah.


Betapa terkejutnya Black Aura mendapati retakan yang cukup besar pada topeng kucing Devil Mask. Darah magentanya mengalir di sela-sela retakan tersebut.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Black Aura dalam hati.


Karena penasaran, Chloe menghampiri Black Aura. Namun, dia malah menutup mulutnya setelah melihat luka yang dialami Devil Mask sangat parah.


"Disini tidak aman. Ayo!" seru Black Aura mecengkram tangan Chloe dan menjauh dari area tersebut.

__ADS_1


...🍁...


__ADS_2