Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 14


__ADS_3

Di bawah teriknya matahari yang terhalang oleh


bangunan dengan segudang ilmu di dalamnya, seorang guru IPS yang tengah


mengajar murid-muridnya itu dengan riang menunjukkan rentetan tulisannya di


permukaan papan tulis yang halus. Ia menuliskan sebuah kalimat yang sudah tidak


asing lagi bagi seluruh umat manusia.


“Keluarga”.


“Baiklah anak-anakku sekalian. Tugas kalian


hari ini adalah menggambar keluarga kalian. Nah, ibu mau tanya sekali lagi.


Keluarga itu terdiri dari siapa saja?”.


Serentak, anak-anak menjawab,“Ayah… Ibu… Kakak…


Dan adik!”.


Senyuman lebar berhasil terukir di wajah sang


guru. Betapa senangnya dirinya melihat para muridnya menjawab dengan penuh


semangat.


“Bagus! Nah, sekarang kerjakan tugas kalian.


Yang sudah siap, akan ibu panggil namanya dan jelaskan siapa nama dari ayah,


ibu, kakak, dan adik kalian!”.


Begitu mendengar perintahnya, murid-murid itu


langsung menggambar keluarga dengan semangat. Contohnya seorang anak laki-laki


berkacamata itu. Tampak antusias sekali dia menggambar seluruh anggota


keluarganya. Berbeda dengan seorang gadis yang duduk di pojokkan dengan raut


datar yang sangat ia pertahankan.


Gadis ini tak pernah henti diperhatikan oleh


beberapa guru. Meskipun di kelas ada beberapa anak-anak yang tampil mencolok


karena kepribadian mereka yang terbuka, justru gadis inilah yang menarik banyak


peratian guru karena perbedaan yang ia tampilkan lebih mencolok.


Anak ini… Bahkan saat membahas


keluarga tadi, dia masih mempertahankan wajah datarnya itu. Sebenarnya apa yang


terjadi dengan anak ini?


Batin sang guru resah. Sebenarnya ada banyak


sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. Namun, ia segan karena


rumor yang ia dengar dari beberapa rekan kerja mengenai gadis itu.


Anak ini tak pernah berbicara sama


sekali. Ia juga tidak menunjukkan interaksinya dengan beberapa teman di


kelasnya. Saat menerima raport pun, ia tidak pernah menunjukkan siapa


orangtuanya. Apa jangan-jangan anak ini… Yatim


“Bu guru! Kami sudah selesai!” sorak salah satu


muridnya yang berdiri tepat di depan mejanya. Ia dengan semangat melambaikan


kertas HVS-nya yang telah berisikan coretannya yang lucu.


“Baiklah… Gibran, kamu maju ke depan!”.


Setelah pelajaran selesai nanti, aku


akan berbicara dengannya. Kuharap, dia mau mnerima posisiku sebagai guru sosialnya.


1 jam berlalu, pelajaran social pun akhirnya


ditutup dengan ucapan “Sampai jumpa besok” oleh sang guru.


“Nak, bisakah kamu menemui ibu di ruang


konseling. Ada banyak yang ingin ibu tanyakan padamu.” Ucap sang guru pada


gadis yang masih termenung di depan buku tulisnya yang kosong.

__ADS_1


Tidak ada respon darinya selain anggukan lemas.


“Oke… Ibu segera ke konseling ya! Tenang saja,


kamu bukan murid bermasalah kok. Santai saja.”.


~


Gadis itu berjalan lemas seolah tidak memiliki


gairah untuk menjalani kesehariannya sebagai seorang siswa SD yang periang. Ia


menghabiskan 5 menit hanya untuk menghampiri ruang BK yang tak jauh dari


kelasnya. Ia melepaskan sepasang sepatunya. Kemudian, meletakkannya di atas rak


sepatu.


Tok! Tok! Tok!


3 kali ketukan kecilnya langsung disambut


hangat oleh guru social tadi. “Wah, akhirnya kamu datang juga! Ayo, masuk!”.


Bu guru itu mempersilahkan gadis pendiam ini


untuk masuk dan duduk bersebelahan dengannya di sofa yang empuk.


“Karena kamu disini, ada beberapa yang ingin


ibu tanyakan. Kamu jangan takut, ibu tak akan membeberkannya pada siapapun.


Sebenarnya ibu heran dengan kamu, nak. Kamu terlihat tanpa emosi di berbagai


event. Kamu punya masalah di rumah?”.


Gadis itu tidak merespon. Memang pertanyaan


yang sensitive baginya.


“Nak, kalau kamu punya masalah di rumah.. Kamu


bisa ke BK kapanpun yang kamu mau. Ibu disini, selain mengajar IPS—ibu juga bekerja sebagai guru BK. Ibu sebisa


mungkin akan memberimu solusi di setiap masalah yang kalian hadapi. Termasuk


kamu, sayang. Nah, ibu mau bertanya satu hal. Saat sedang materi tentang


keluarga, kenapa kamu diam saja saat ibu menyuruh kalian menyebut satu persatu


“Dulu Carmine kira, mereka itu orang baik-baik…


Carmine kira, mereka sayang dengan keluarga Carmine. Rupanya, setelah Carmine


tau kenyataan kalau Carmine hidup diantara orang-orang jahat, rasanya ingin


sekali balas dendam.” akhirnya setelah sekian lama, gadis bernama Carmine ini


menunjukkan keberaniannya dalam mengungkapkan apa yang ia rasakan. Akan tetapi,


bukan begini cara siswa kelas 4 SD berbicara. Lebih dewasa dari siswa SD pada


umumnya.


Gadis bernama Carmine itu mengangkat kepalanya


dan menatap guru itu dengan tatapa datar namun sangat jelas kesedihan yang


gadis itu rasakan.


“Kalau boleh tau, apa status keluargamu…”.


“Sangat di bawah. Bahkan untuk membeli sayuran


saja kami gak bisa. Sehari-hari, tempe tahu dan nasilah yang kami makan. Itupun


terkadang gak cukup buat kami berempat.”.


Ungkapan Carmine terdengar sangat menyayat hati


bagi siapapun yang mendengarnya. Siapa sangka? Gadis yang selalu dijauhi


temannya, tidak memiliki teman, selalu datang terlambat, dan dinilai aneh oleh


sebagian guru itu menyimpan rasa sakit yang mendalam.


Tak heran kalau gadis ini selalu


pingsan saat upacara di hari senin.


“Aku bingung harus berbuat apa? Ayah dan ibuku.


Mereka berjuang mati-matiab kesana kemari demi membiayai sekolahku.  Aku juga benci dengan sekolah yang meminta

__ADS_1


banyak kali bayaran. Uang kas, patungan buat inilah, buat itulah… Aku jadi


semakin takut dengan kondisi kami di masa depan nanti. Belum lagi dengan mereka-mereka yang tak berotak.” Lanjutnya. Kali ini, nada bicaranya semakin


tajam.


Guru tersebut sempat terkejut mendengar kalimat yang terdengat menusuk itu.


“Baiklah. Ibu paham. Ibu akan bicarakan ini


pada kepala sekolah agar kamu bisa diberi keringanan, oke? Kalau kamu tak


cerita dari awal, kamu bisa bertambah susah. Terima kasih ya, udah mau cerita


sayang. Untuk usiamu, kamu sangat kuat. Kamu melebihi siapapun.” Ucap ibu guru


itu.


“Carmine pikir begitu. Carmine mau pulang. Ayah


pasti sudah menungguku diluar.”.


“Iya, sayang. Hati-hati ya!”.


~


“Hah!”.


Chloe terbangun secara tiba-tiba. Nafasnya tak


beraturan karena mimpinya barusan. Chloe juga menemukan keringat dingin yang


bercucuran disekitar pergelangan tangannya.


“Mimpi tadi… Carmine? Siapa Carmine? Kenapa


menyedihkan sekali mimpiku?” gumam Chloe resah. Tapi, ia memutuskan untuk tidak


terlalu focus dengan mimpinya dan melirik ke sekitar kamar hotelnya yang gelap.


AC-nya masih menyala sehingga membuat suhu di dalamnya semakin dingin. Teringat


akan Black Aura, Chloe segera turun dari ranjang tidurnya dan menghampiri Black


Aura yang tengah asyik mendengarkan lagu.


“Black Aura…?” panggilnya pelan. Rasa kantuk


masih menguasainya. Ia menarik pelan lengan jaket Black Aura.


“Chloe?”.


“Bisa temani aku keluar? Ada sesuatu yang ingin


kubicarakan.”.


"Oke.".


~


"Gadis bernama Carmine itu... Aku pernah mendengarnya. Di keluarga kami, kami memiliki Carmine sebagai anak yang paling dilindungi. Ibu kami, Midnight benar-benar menyayanginya. Dia bilang, anak ini istimewa. Dan jangan sampai ada orang lain yang melukainya bahkan sehelai rambutnya pun


"Ibu bilang, Carmine yang selalu memberi kami kehidupan jika kami mati. Tapi sekarang, mendadak Carmine menghilang tanpa jejak. Ibu dan yang lainnya panik. Kami segera berkeliling mencarinya. Kami berpikir, hilangnya Carmine disebabkan oleh musuh kami yang menginginkan kekuatan dari Carmine. Ya, bisa saja mereka menculik Carmine dan membuat cermin penghubung dunia kita pecah." Tutur Black usai mendengarkan mimpi Chloe.


Ia sempat kaget dengan apa yang baru saja Chloe mimpikan. Ia bingung. Bagaimana bisa Chloe yang tidak tahu Carmine itu bisa memimpikannya dalam tidur? Apa mereka memiliki hubungan?


"Aku gak tau. Jelas sekali, gadis bernama Carmine memang punya masa lalu yang nyaris sama denganku. Hanya saja, ekspresi dia benar-benar seperti orang yang udah gak ada harapan lagi buat hidup." Komentar Chloe yang kemudian diakhiri dengan meneguk sebotol yogurt.


"Banyak kali hal-hal yang ingin kuketahui. Selain Aoi, aku ingin tau lebih banyak mengenai dirimu. Dan juga keluargamu, duniamu, musuh-musuhmu.".


"Kita bahas nanti. Ayo, siap-siap! Kita cari Aoi sebelum dia disakiti musuhku!" ajak Black Aura seraya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Chloe hanya menurut dan mereka segera beranjak dari taman kembali ke kamar hotel mereka kembali.


"Akan kuusahakan sahabatmu ketemu lebih cepat. Setelah itu, menjauhlah dariku." Ujar Black Aura yang sedari tadi sudah siap baik fisik dan mentalnya. Ia berdiri di ambang pintu. Memandang sosok Chloe yang baru selesai mengenakan jaketnya.


Chloe memasang raut tak terima. "Kenapa? Tapi, masa iya aku harus kabur setelah kau membantuku menemukan sahabatku? Gak adil banget!" serunya.


"Misiku yang sebenarnya membunuh para Aura yang berusaha mengendalikan tubuh manusia. Aku dilarang keras membunuh manusia kecuali jika ada salah satu dari mereka yang mengadakan kerja sama dengan musuh kami.


"Masalah kami ini serius. Legend Aura sangat membenci keberadaan kami. Mereka menginginkan kekuatan kami dan ingin menguasai Carnater. Sekarang, mereka justru ingin membuat pasukan yang lebig banyak dengan cara membunuh manusia dan jiwanya akan mereka jadikan sebagai pasukan satu mereka." Jelas Black Aura. Ia menghampiri Chloe ditengah keheningan yang diam-diam selalu menguasai wilayah mereka.


Dinginnya Ac itu kalah akan tatapan datarnya yang sulit sekali memunculkan emosi bahkan tidak bisa ditemukan warna apa yang ada didalam dirinya ini.


Chloe ikut terpancing memandang wajah Black Aura. Semakin lama memandang membuatnya sadar akan perbedaan mereka yang terlalu besar. Ia tahu kalau masalah ini serius.


Disisi lain ada yang menginginkan perang ini berhenti dengan membunuh sesamanya. Disisi lain harus menginginkan kembali sahabatnya dengan membunuh beberapa waktu kuliahnya.


"Aku tahu masalahmu serius. Kita sama-sama serius. Aku bahkan tidak ingin kalau pihak keluarga Aoi tiba-tiba menghubungiku. Aku gak tau harus berkata apa. Tapi, aku akan lebih bingung melakukan sesuatu jika aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Meskipun kau jahat di dalam buku yang kubaca, namun kenyataannya... Kau itu baik.


"Kau tau? Orang jahat tidak selamanya dikatakan jahat. Aku percaya kau orang yang baik. Tapi, jangan membuatku kembali dengan tangan kosong. Aku ingin, seenggaknya punya banyak pengalaman bersamamu. Bahkan setelah Aoi kembali." Tegas Chloe yakin.


Tatapan matanya juga meyakinkan bahwa dirinya tidak takut sama sekali ingin ikut bertualangan dengan Aura ini.

__ADS_1


"Hmm... Oke. Mohon kerja samanya.".


~


__ADS_2