Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 37


__ADS_3

"Aah... Di luar dingin sekali." Keluh Yumizuka sambil menggoyang-goyangkan Bobanya.


Posisi mereka saat ini berada di luar ruangan. Tepatnya, di sekitaran taman Congress Plaza Hotel. Yah, meskipun ada rumor mengatakan bahwa hotel itu memiliki kisah horor, tetap saja mereka memutuskan untuk berkumpul disitu.


Mengingat Jacqueline yang tiba-tiba menyuruh mereka menunggu di sana sampai pertarungannya bersama Devil Mask dan Black Aura selesai.


"Banyak kali bacotmu. Yah, tempat kami kalau bersalju pasti dingin. Mana ada cerita salju itu pedas." Omel Aoi. Kesabarannya sudah habis melihat Aura itu sedari tadi hanya mengomel.


"Baru empat kata!"


"Dari pada membahas itu... Aku lebih penasaran dengan Jacqueline. Dia memilih ikut Black Aura dan Devil Mask. Aku nggak tahu. kukira, Jacqueline..." Chloe menggantungkan ucapannya. Ingatan sembilan jam yang lalu benar-benar menyebalkan baginya. Di sisi lain juga, ia merasakan sesuatu yang berat di hati Jacqueline.


"Dia seperti nggak bebas saat ibu dan adiknya datang. Mereka punya masalah apa sampai-sampai, Jacqueline nggak mau buka pintu untuk mereka?" lanjut Chloe. Ia menatap Aoi berharap, pria itu memiliki jawaban yang jelas.


"Aku juga nggak tahu tentang masalahnya. Tapi, semasa SMA, aku merasa ada yang aneh dengan Jacqueline. Terutama, saat pulang sekolah. Senyumannya berbeda saat dia dijemput Mamanya. Kau ingat? Dia selalu melarang kita berkunjung ke rumahnya?"


Chloe menggangguk, "Dia sampai marah-marah padaku waktu itu. Ah, aku jadi merasa bersalah haha... Tapi, kalau kulihat-lihat, sifat adeknya itu terkesan egois nggak, sih?"


"Mirip banget kayak Yumizuka." Gurau Aoi yang langsung mendapat jitakan keras dari Yumizuka.


"B*go. Mana ada mirip!"


"Ah, mungkin karena kemampuanmu itu yang membuat mereka jadi tertarik mau ke rumah Jacqueline. Salahmu itu." Tuduh Aoi semakin menjadi. Yah, jangan dianggap serius, pria ini hanya bercanda kok.


"Salahku?? Salah Jacqueline-lah! Kenapa dia nggak angkat jemuran! Makanya, mereka langsung tahu kalau Jacqueline tinggal di rumah itu."


Sementara Aoi dan Yumizula berdebat, Chloe justru penasaran. Ia ingin menghampiri Jacqueline. Mungkin saja, setelah pertarungannya dengan Aura, Jacqueline mau menjelaskan semua yang ia alami.


Tak hanya Jacqueline, langit malam mengingatkannya pada momen ketika dirinya hanya berdua dengan Black Aura. Ditinggal sebentar, rasanya seperti ada yang kurang dalam hidupnya.


"Meskipun Jacqueline melarang kita untuk ikut, meskipun ada Black Aura dan Devil Mask yang melindunginya, aku harus kesana! Yumizuka. Kalau kau punya portal atau teleportasi, tolong antarkan aku ke tempat Black Aura!" pinta Chloe berbalik memandang Yumizuka dengan senyumannya.


"Oh, oke..."


Tanpa pikir panjang, Yumizuka menggerakkan tangan kanannya di udara. Muncullah portal hijau toska yang indah.


Chloe yang belum pernah melihatnya, berdecak kagum. Warnanya seperti Aurora.


"Makasih ya!" ucap Chloe senang.


Ketika melangkah masuk ke dalam portal, lengan kanannya ditahan oleh Aoi. Chloe menoleh ke belakang mendapati raur serius Aoi.


"Jangan lupakan aku!" Katanya kemudian tersenyum simpul.


"Okelah, ayo!"


Mereka bertiga masuk ke dalam portal milik Yumizuka. Tanpa mereka sadari, tindakan mereka itu tak sengaja tertangkap oleh seseorang yang melintas di area tersebut.


"Chloe?"


~


Jacqueline memandang lurus jarum pendek yang tak lama lagi mengarah pada angka delapan. Suasana di dalam laboratrium semakin mencekam. Ditambah dengan ruangan yang gelap. Muncul suara sedikit saja, mungkin sudah menimbulkan keributan.


Selain itu juga, Jacqueline juga mencemaskan Gunez yang masih menangis. Gadis kecil itu sangat menyayangi Mamanya.


Cih! Aura macam apa sih, di dalam titbuh Mamanya? Batin Jacqueline kesal.


Keberadaan Aura ini sangat tertutup. Bahkan, Devil Mask sampai lengah dibuatnya. Alhasil, dirinya dan Devil Mask berakhir menghantam dinding salah satu sekolah.


Lukaku tadi masih sakit. Tapi... Anak ini... Untung ada Black Aura.


"Kayaknya udah aman. Gunez, ikut aku dan jangan bersuara, ya!" bisik Jacqueline beranjak dari duduknya. Ia juga perlahan-lahan menggendong Gunez.


Mereka berdua berjalan menuju pintu dan hendak membuka pintu tersebut. Terus terang, inilah saat-saat paling membuat jantung berdebar keras. Masa depan juga tidak bisa menjamin keselamatan mereka.


Jacqueline menarik nafas panjang. Sebelum membuangnya, ia menyempatkan diri untuk memohon agar dirinya dan Gunez selamat.


"Huft... Ayo." Ujarnya disertai senyuman.


Gunez hanya mengangguk pelan.


Kriett...


Pintu laboratrium terbuka sedikit. Memperlihatkan lorong yang sunyi dan tidak ada seorang pun yang melintas di sana. Pikirannya semrawut namun berusaha untuk yakin.


"Devil Mask lama juga ya!" gurau Jacqueline demi meredakan rasa takutnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menjauh. Setelah dicek, posisi saat ini ada di lantai tiga. Itu artinya, butuh menuruni empat anak tangga agar mencapai pintu keluarnya.


Di saat seperti ini, aku entah kenapa... Suka dengan suasana ini. Jauh dari keluarga yang tidak menginginkan keberadaanku dan ikut dengan makhluk aneh yang bahkan sejarahnya nggak pernah ada di dunia ini... Apa mimpi ini akan terus berlanjut?


Jacqueline terus bergumam sepanjang berlari. Derap langkahnya memang keras, akan tetapi, hanya suara hatinya yang jelas sekali ia dengar. Malam yang dingin itu menerpa wajahnya. Berlari di dalam lorong yang panjang dan gelap adalah tantangannya dan dia bisa melewati tantangan itu. Tapi...

__ADS_1


"Aku nggak mau pulang."


Tanpa sepengatahuannya, beberapa tombak muncul dari belakang. Kemudian, menggores betis kanannya sehingga membuat Jacqueline terjatuh karena kaget. Gunez yang ia gendong juga ikut jatuh. Keduanya sama-sama mengaduh kesakitan.


"Kakak nggak papa?" tanya Gunez panik.


Jelas-jelas, darah segar mengalir dan membasahi permukaan lantai. Banyak pula tuh. Wajah Jacqueline memucat. Ia mendadak cemas jika dirinya bakal kekurangan banyak darah.


"Sakit sih, hahaha... Sudahlah, ayo!" Ajak Jacqueline lalu berdiri walau sedikit tertatih-tatih.


Gunez yang melihat kondisi Jacqueline itu tanpa pikir panjang, berlari ke laboratorium.


"Eh? Hei, Gunez! Ngapain balik lagi?!" Jacqueline terpaksa menahan sakit ketika mengejar Gunez.


Setidaknya, ini lebih baik ketimbang di rumah. Batinnya lagi.


"Jujur, aku kasihan sekali melihat cara jalanmu."


Jacqueline otomatis berhenti ketika mendengar suara perempuan yang entah dari mana posisinya, membahas tentang lukanya. Ia pun mengedarkan pandangannya ke berbagai ruangan dan akhirnya, menemukan sepasang mata biru laut menyala di balik kaca.


Orang itu ada di dalam ruang kantor guru. Jacqueline mengambil langkah mundur beberapa. Ia agak takut dengan orang itu karena, hanya matanya saja yang menyala. Sisanya gelap seperti langit malam.


"Siapa disana?! Keluar lo!" teriak Jacqueline. Ia menatap ke berbagai sudut langit-langit dan kini, pandangannya terpaku lurus pada jendela kantor. Tidak lupa, ia mengeluarkan cakaran Devil Mask lalu menggores udara.


PRAANGG!! CRAATT!!


Tak hanya pecahan kaca yang mewarnai lantai, darah merah juga turut mewarnainya.


"Merah?"


Tampaknya, makhluk itu tak mau kalah. Ia segera berteleportasi tepat di belakang Jacqueline dan menusuknya menggunakan ujung katana.


Jacqueline terbelalak. Gerakan lawannya terlalu cepat ditambah dengan minimnya cahaya disama.


"Sial! Aku terlambat...!" Jacqueline memejam erat kedua matanya. Telinganya merespon suara ujung pedang yang berhasil menusuk sesuatu dan tetesan darah yang menggenang di atas lantai.


Harusnya, aku tidak membuka pintu waktu itu...


~


"Wah, jadi kalian sahabatnya Kak Jacqueline?"


"Iya. Kami bersahabat dari SMA." Ujar Chloe malu-malu.


Sementara itu, Jacqueline hanya duduk diam tanpa membagikan pandangannya pada sepasang perempuan yang duduk di sofanya. Ia tampak tak senang dengan kehadiran mereka.


"Ooh, begitu. Jacqueline selama ini nggak pernah bercerita kalau dia memiliki kalian. Kalian juga jarang datang ke rumah kami." Ibunya menimpali di sertai senyuman.


"Ah, itu... Kami biasanya lebih senang bermain di rumah Aoi. Kami ingin belajar menggambar dengannya." Balas Chloe bohong. Saat ini, dirinya berakting demi melindungi Jacqueline. Mengetahui reaksi Jacqueline yang datar dengan kehadiran mereka, apapun ia utarakan meskipun hanyalah kebohongan.


"Kami suka menggambar. Aku lihat, Jacqueline berpotensi menjadi mangaka kalau dia mau berusaha." Aoi menambahkan lagi.


"Wah, mama malah nggak tahu kalau Jacqueline suka menggambar. Biasanya yang mama lihat, dia suka menulis."


Jacqueline berdecak sebal. Bukan nggak tahu, emang dari awal nggak mau tahu. Batinnya.


"Perkenalkan, namaku Rei dan ini adik Jacqueline, Scarlet." Rei yang merupakan nama Mama Jacqueline akhirnya memperkenalkan dirinya. Tak lupa, Aoi dan Chloe juga ikut memperkenalkan diri mereka.


Ikut alur aja demi Jacqueline.


Disela-sela pembicaraan itu mengalir, Scarlet berdiri dan berbisik di telinga kanan Jacqueline.


"Dimana dapur?" tanyanya.


"Biar aku yang ambilkan minuman." Celetuk Jacqueline beranjak langsung dari sofa.


Chloe refleks menoleh ke samping. Ia merasakan sesuatu yang aneh di antara Jacqueline dan Scarlet. Ia merasa bahwa Jacqueline merasa keberatan dan tak bebas.


Akhirnya, Chloe memutuskan untuk membiarkan mereka jalan lebih dulu lalu mengikuti mereka secara diam-diam.


"Ao... Ajak bicara terus mamanya, aku mau ke atas dulu." Bisik Chloe selagi Mama Jacqueline tengah menelpon seseorang.


"Okelah... Awasi Jacqueline, oke?"


Chloe mengangguk lalu melangkah cepat ke dapur.


"Wah, dapur kakak bagus kali, yah! Kayak di istana. Kakak tega, ah! Nggak kasih tau kalau udah punya rumah." Ujar Scarlet yang tengah mengamati lukisan bunga spider lily.


Jacqueline tidak merespon dan fokus menyusun gelas beserta teko berisikan jus jeruk.


Tindakan mereka tanpa disadari sedang diawasi oleh Chloe yang bersembunyi di balik gorden. Tak hanya Chloe, Devil Mask juga diam-diam mengamati pergerakan mereka lewat CCTC yang Jacqueline pasang di sudut ruangan. Yang jelas, Scarlet tidak menyadari atau mengetahui dimana letak CCTV itu berada.

__ADS_1


"Wah, ada brownies! Ambil ya!"


Seperti disambar petir, Jacqueline langsung cepat-cepat menepis tangan Scarlet agar menjauh dari brownies Aoi.


"Jangan asal sentuh! Ini bukan punyamu!" Katanya dengan tatapan menusuk.


Scarlet memucat sambil mengelus-elus punggung tangannya yang panas. "Tapi, nggak mesti dipukul jugalah! Tunggu dulu! Berarti ada yang ulang tahun ya, kak?"


"Apa pedulimu?"


"Kok dingin banget sih?! Nggak suka ya, liat aku kesini?"


"Ya."


"Cih! Kubilang Mama ya!"


"Apa-apaan kau ini?! Jangan mengganggu ketenangankulah! Kelewatan kali sih! Mentang-mentang kau yang paling diperhatikan!"


"Kalau nggak mau dimarahi, bagi kuenya!" ancam Scarlet tanpa pikir panjang.


"Itu punya temanku!" gertak Jacqueline.


"Tapi, kau pasti ada makan sepotong, kan? Kalau 'iya'? Masa iya, aku nggak dikasih? Jahat banget sama adik sendiri!"


"Kue itu punya Aoi kubilang!! Tolonglah, ya! Aku mau hidup tenang disini! Aku udah capek menderita terus gara-gara kau?!"


"Bagi kuenya! Kau tega ya! Menyembunyikan sesuatu yang manis dari kami."


"Scarlet!!"


"Maaa!!" Scarlet berlari menuruni beberapa anak tangga sambil memanggil Mamanya.


Jacqueline pun mau nggak mau mengejarnya.


Jacqueline...


Chloe terbelalak tidak percaya melihat tingkah adik Jacqueline yang seperti anak-anak. Dilihat dari tinggi badannya yang setara dengan dirinya itu, tampaknya usianya tujuh belas tahun. Akan tetapi, sifatnya...


Merasa Jacqueline dalam bahaya, Chloe memutuskan untuk berlari ke bawah dan kembali naik ke atas. Ia bertingkah seolah-olah sedang berjalan dan berniat menghalangi Scarlet. Benar saja! Terjadilah tabrakan keras di tangga.


"Aduh! Punya mata nggak sih?!" bentak Scarlet dengan wajah memerah padam.


"Ah, maaf. Aku mau ambil minuman dulu." Ucap Chloe lalu mengulurkan tangannya untuk menolong Scarlet.


Scarlet menerima uluran tangan tersebut. "Sakit, sih... Tapi, makasih ya!" ucapnya yang kemudian mendorong Chloe perlahan.


"Eh?" Chloe tertegun. Didorong?


BRUGH!!


Jacqueline yang baru saja sampai, terkejut menemukan Chloe tergeletak menahan sakit.


"Scarlet!!"


"Suara apa tadi?" seru Aoi beriringan dengan Rei.


"Chloe!!" betapa terkejut Aoi melihat Chloe tergeletak menahan sakit. Ia segera menghampiri Chloe lalu menggendong gadis itu.


"Ah, maafkan aku! Aku nggak sengaja mendorongnya! Aku takut! Gara-gara kakak mengejarku, makanya, aku refleks mendorongnya!" Scarlet berbohong.


"Hah?! Mana ada!! Justru, dialah yang berulah!" Jacqueline mengelak.


"Cukup! Kalian sama saja! Susah sekali akurnya!!" Rei ikut naik darah.


"Bukan gitu, ma!"


"Kau ini! Nggak ada berubahnya sama sekali. Bukannya jadi contoh yang baik buat adiknya! Usiamu berapa, ha? Dua puluh tahun masih main kejar-kejaran! Udah tahu tangga sempit gini!"


"Kakak juga pelit ma! Dia makan kue coklat sendirian. Dia menyembunyikan kue itu dari kita. Padahal, ayah selalu bilang, kita harus saling berbagi." Scarlet memanas-manaskan suasana. Berakting seperti dirinya memang tak bersalah.


Aoi dan Chloe syok melihat Jacqueline yang dibentak dan terpojokkan. Jadi, itulah alasan kenapa Jacqueline selalu melarang mereka ke rumahnya. Tak hanya itu, Jacqueline sampai bungkam seribu kata. Ia tampak tak berani berbicara apapun.


"Nggak tante! Yang dikatakan Scarlet itu hanya tipuan. Sebenarnya, Jacqueline nggak berbuat apa-apa. Dia nggak ada makan kue itu sama sekali dan kue itu milik Aoi. Scarlet yang terlalu memaksa meminta kue dan mencari masa..."


"Jangan ikut campur! Ini urusan ibu dan anak! Kau nggak tahu apa-apa soal kami!" potong Rei yang langsung membungkam mulut Chloe.


"Dia bohong, ma! Jelas-jelas, dia berjalan dan aku refleks mendorongnya."


"CUKUP!!!" Karena tidak tahan, Jacqueline akhirnya berlari keluar disertai bantingan pintu ruang tamu. Ia bertanya-tanya, kapan aku bisa hidup tenang?


~

__ADS_1


__ADS_2