Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 6


__ADS_3

"Ibu dari Megavile adalah Midnight. Ilmuwan yang jatuh cinta dengan Midnight adalah Megawave. Jangan-jangan merekalah yang menciptakan ras Aura itu?" tebak Chloe yang masih setia membaca buku.


Posisinya saat ini berada di ruang tamu sembari menyantap kentang yang masih hangat.


Chloe terus membatin di tengah-tengah mengunyah kentang gorengnya. Bunyi "Krauusss" dari kentang tersebut membuat suasana di rumahnya hidup. Meskipun hanya bekisar dua puluh persen saja.


"Tapi... Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Megawave mendatangi dunia nyata yang bahkan dia tidak tahu sama sekali informasi mengenai dunia Midnight? Apa karena cintanya terhadap Midnight membuatnya menjadi buta akan bahaya yang mengancam dirinya?


"Astaga... Bahkan makhluk aneh seperti Megawave ini bisa memberikan cinta yang tulus pada Midnight. Sungguh gadis yang beruntung."


Kedua mata Chloe terpaku lurus pada gambar yang menampilkan sesosok makhluk bertopeng yang agak mirip dengan robot. Tingginya sekitar 180cm. Megawave memiliki penampilan yang elegan dengan cardigan hitam bergaris magenta di pinggiran lengannya serta kemeja hitam dan juga dasi violet yang menyala.


Rambutnya berwarna ungu. Uniknya, ia mengenakan syal namun, syalnya tersebut tidak menempel di leher dan pundaknya.


"Megawave juga lumayan keren. Hmmm... menulis novel ya? Aku gak mungkin terus bergantung pada uang tabungan abangku. Aku harus menulis sesuatu agar bisa mendapatkan uang banyak untuk membiayai kuliahku."


Chloe kini mengalihkan pandanganya pada dahan pohon yang menanggung beban ringan berupa salju disertai dengan dirinya yang masih terus berpikir mengenai masa depannya.


Masa remajanya tidak terlalu indah dan tidak terlalu buruk juga untuk ia lewati. Ia hanya memiliki 3 orang sahabat. Rara, Aoi dan Jacqueline.


Akhir-akhir ini, Aoi terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan sebagai membuat komik dan Jacqueline yang pindah ke London karena pertukaran pelajar.


Duduk seorang diri di ruang tamu itu membosankan sekali. Hanya ada tiupan angin yang menemaninya.


"Dari semua sahabatku cuma Rara, Aoi dan Jacqueline yang paling memahamiku. Hari ini, Aoi memang sibuk. Nggak mungkin aku mengganggu pekerjaannya. Kalau Rara... Aku takut jika dia saat ini sedang hang out dengan Minji." Chloe berpikir sangat serius.


Selain masa depan, juga ada kesenengan yang harus ia jaga.


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lagi. Chloe segera bangun dari duduknya lalu menghampiri dapur untuk mengambil kembali kentang goreng yang masih hangat itu.


Mulutnya tak berhenti mengunyah kentang yang renyah sampau wujudnya benar-benar lenyap di dalam lambungnya.


"Kentang gorengnya masih terasa nikmat meskipun tidak senikmat dulu..."


Chloe menghampiri beberapa bingkai foto yang terpajang jelas di dinding ruang tamunya. Ada dirinya dan abangnya yang sedang bersenang-senang.


"Sudah lama sekali ya, sejak kepergianmu. Apapun menjadi berubah. Aku tidak menyalahkan kepergianmu. Aku hanya menyesal jika harus menjalani rutinitas pagiku seorang diri. Huft... Kuharap, kau baik-baik saja di sana."


Usai menenggelamkan diri di dalam masa lalu, air matanya mengenang di pelupuk matanya. Sedikit demi sedikit, gadis ini mulai larut dalam kesedihan. Sebenarnya, ia sudah lama melupakan kepergian sang abang. Hanya saja, bayang-bayang kematiannya terus menerus terngiang dalam kepalanya.


Kematian yang sangat tragis. Tapi..


"Kenapa aku gak bisa mengingatnya? Aku lupa bagaimana abangku bisa kehilangan nyawa.."


Lagi-lagi, bola matanya tertancap tepat mengarah buku tebal yang sering ia baca itu. Chloe terdiam sejenak dan mengusap air matanya.


"Setiap kali aku sedih dan memikirkan abangku, buku ini selalu ada dimana pun aku berada. Bahkan sampai saat ini." Chloe meraih buku tersebut dan membuka halaman dimana kisah si Black Aura dimulai.


"Remaja dengan manik violet ini... Aku sangat menyukainya. Kemampuannya adalah memanipulasi rasa sakit. Kekuatan yang hebat. Dimana pun manusia mengalami rasa sakit, Black Aura akan merasakan rasa sakit yang sama. Black Aura, remaja yang sudah lama dipercaya Megawave sebagai Pelindung dunia Carnater dan juga pelindung keluarganya.


"Orang sepertinya pasti keliatan sangat dingin... Memangnya dia ke cebur dimana sih? Kok bisa sedingin ini?" ujar Chloe yang berusaha menghibur hatinya yang sedih setelah itu terkekeh pelan sebagai hasilnya.


Tak lama kemudian, sesuatu mengubah pikirannya dan membawa gadis itu ke kamar tidurnya. Ia menemukan ponselnya di atas ranjang tidurnya.


"Aku harus telpon Aoi."


~


"Halo, Ao! Sedang apa?" salam Chloe tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Seperti biasa, aku sedang melukis. Ada apa? Apa kau ingin bertemu denganku? Boleh."


"Wah? Tau aja lu! Makasih ya. Di cafe yang biasanya yo!"


"Sip, deh!"


Chloe tersenyum simpul lalu mengakhiri panggilannya dengan Aoi. Ia yakin. Dengan pertemuannya kali ini, ia pasti akan bersenang-senang dengan Aoi.


"Dari SMA, orang ini nggak pernah berubah sama sekali. Masih ramah seperti dulu walau agak ngeselin."


Sekarang jam dinding menunjukkan pukul 09.05.


"Oke... Saatnya ganti baju..."


~


Chloe yang sudah tampil mempesona iru kembali disibukkan oleh tali sepatu yang sulit sekali dibuka ikatannya. Saking eratnya, mereka gak mau dipisahkan oleh pemiliknya. Dasar! Orang mau cepat, mereka malah berkencan di waktu yang salah.


Semuanya sudah beres! Chloe mengambil kunci rumahnya dan tak ingin waktunya terbuang banyak, Chloe segera keluar kemudian mengunci pintu depannya.


Karena hanya dirinya seorang yang menempati rumah itu, Chloe merasa sedikit takut apabila ada sesuatu aneh terjadi di dalam rumahnya. Oleh karena itu, ia menaruh kepercayaannya pada camera CCTV dan lampu.


"Semoga pas baliknya, gak ada setan nongol di kaca jendela..." pikirnya gelisah setelah itu berlalu meninggalkan rumahnya.


~


Siang ini, kota kembali diwarnai kesibukan para manusia. Berjalan kesana kemari membawa pekerjaan mereka sampai ketujuan mereka. Dan pastinya, mereka juga menanti senja dan beristirahat sambil menikmati hasil dari jerih payah mereka.


"Rara nggak ada lewat di sekitar sini. Sudah kuduga, dia akan kembali sibuk dengan kuliahnya." Chloe melirik ke berbagai sudut kota yang ramai. Berharap ia bisa menemukan sosok Rara yang berkeliaran tak sengaja di depan salah satu toko disana.


"Oh, ya... Aoi. Kira-kira, dia lagi dimana ya?" kebetulan ingat, Chloe segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aoi melalui direct message.


Chloe


Belum ada respons apapun dari pria ini. Sembari menunggu balasan Aoi, Chloe mencari Cafe terdekat untuknya berbincang dengan Aoi.


Tap!


Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika sepasang gadis tercyduk diam-diam oleh indra penglihatannya. Sepasang gadis yang sudah sangat familiar dimatanya dan bahkan... Baru kemarin ia membicarakannya bersama Rara kemarin.


"Itu Rara dan Minji..." gumamnya. Hatinya terasa teriris begitu melihat sahabatnya-Rara berjalan dengan orang yang benar-benar ia benci.


Sabar Chloe... Kemarin kau sudah berkeliling dengannya. Sekarang, kau punya Aoi yang akan menemani harimu... Tenang Chloe.


Chloe mengelus-elus dadanya dan masih terjebak dalam pikirannya sebelum pada akhirnya kembali di kejutkan oleh klakson mobil yang berteriak keras di samping kirinya.


TTEETTTTT!


Begitu sadar, Chloe langsung melompat selangkah ke belakang menghindari keributan tersebut. Chloe memang gampang sekali larut dalam lamunannya. Apalagi rasa sakit yang ia rasakan setiap kali mengingat dirinya yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dengan Rara.


"Chloe?"


"Eh? Aoi! Wah, kebetulan sekali!" seru Chloe girang disusul dengan kedua tangan yang melingkar dan memeluk Aoi.


"Jangan melamun! Bahaya tau! Hadehh... Yuk-lah, ke cafe yang biasanya!" ajak Aoi tanpa basa-basi. Pria itu juga tak segan-segan menggandeng tangan Chloe dan membawanya ke tempat tujuan mereka.


Chloe pribadi sudah terbiasa dengan sifat Aoi ini. "Rupanya masih ada dia yang bisa kuandalkan...."


~

__ADS_1


"Kau cemburu lagi?".


Aoi mengutarakan pertanyaannya usai mendengar curahan hati Chloe semenit yang lalu. Aoi juga sempat mengira bahwa gadis ini melamun karena memang kebiasaannya sejak kecil. Tapi, hal itu dipatahkan oleh kejujuran Chloe.


"Aku... Kesal. Sebelum bertemu denganmu, aku berteman dengan mereka. Entah kenapa, rasanya aku gak bisa jadi diri sendiri. Aku ingin berbagi kesenanganku, tapi mereka malah menobrosku." Ungkap Chloe sekali lagi.


Pandangannya menatap kosong pada segelas boba pemberian Aoi. Pandangan kosong namun hatinya tersimpan beberapa sayatan akibat rasa sakit yang ia terima sekuat tenaga dari ikatan yang ia jalin dengan teman lamanya.


"Mereka terlalu menyayangi Rara. Aku nggak bisa melawan apapun yang dia inginkan. Yah, meskipun kemarin aku sudah berjalan-jalan lama dengannya, tetap saja! Minji dan yang lainnya memiliki waktu yang lebih banyak dariku!"


"Eh... Sabar-sabar... Kendalikan emosimu, kawan. Pertama kalinya aku melihatmu cemburu seperti ini." Celetuk Aoi tidak percaya. "Hebat sekali kau menyembunyikannya. Aku lebih memilih terang-terangan biar mereka paham."


"Entahlah, Ao. Aku dan Rara sama-sama mengalami hal yang sama. Kami merasa kesulitan di sisi lain saat bermain dengan mereka. Dimana hakku yang direbut oleh mereka dan Rara yang terpaksa mengikuti kemamuan mereka."


"Aku paham... Aku dan Jacqurline juga pernah kek gitu. Tapi, yah timbal balik lah. Kalau kau melihat Rara bersama orang lain, sekarang kau menemukan aku yang bisa diajak berbincang." Ucap Aoi tepat sasaran. Begitu dengar langsung dapat point-nya.


Chloe terkejut bukan main mendengar pernyataan Aoi. "Wow! Benar juga! Kau hebat, Ao!" Puji Chloe disertai dengan tepukan tangan kecilnya.


Aoi tersenyum simpul. "Bagaimana? Sudah baikan? Kalau kau cemburu, lebih baik bermain dengan yang lain saja. Selama masih ada yang mau menerimamu dan mendengarkanmu, ambil saja dan jalankan saja."


Sungguh sahabat yang pengertian. Chloe terenyuh dan merasa sangat terhibur dengan ucapan Aoi. Meskipun lawan jenis, sensasinya sangat berbeda. Lebih nyaman dan hangat.


"Aoi! Sumpah, makasih banget ya! Kamu udah menghiburku. Kalau gak ada kamu... mungkin aku udah ketabrak tadi. Dan bisa aja, aku....".


"Sudah... Sudah... Jangan pikir yang aneh-aneh! Nah! ayo, cerita! Aku tahu kau pasti ingin berbagi cerita seputar Black Aura bukan?"


Astaga. Lagi-lagi, pria ini menggoda Chloe dengan mengandalkan tokoh kesukaan gadis itu. Dasar Aoi. Mudah sekali mengubah suasana hati Chloe.


"Uuuh! Aoi! Malu tau!"


"Hehehe... Aku tebak kau pasti mau cerita bukan??"


"Bukan... Maksudku.. Ya! Aku mau cerita. Tapi, tolong jangan buat aku pusing dong! Aku kan..."


Aoi terkekeh melihat reaksi Chloe. Dengan ringan, ia meletakkan telapak tangannya dan meraba halus di puncak rambut gadis itu.


"Nah, dengan begini... Chloe gak sedih lagi kan?" tanya Aoi.


Chloe tertegun. Diam-diam, Chloe mengangkat kepalanya perlahan demi menyamai posisi tatapan mereka. Terdapat rona merah di pipinya yang membuat Aoi tambah terhibur.


Benar-benar Aoi ini. Pria ini sungguh tak tertebak. Dibalik loluconnya itu tersimpan rahasia yang selalu saja membuat Chloe geleng-geleng kepala-tak habis pikir. Namun, pada akhirnya, Chloe tetap senang dan terhibur mendengarnya.


"Aoi..."


"Nah, ceritakan semuanya tentang Black Aura. Aku akan menemanimu dan mendengarkanmu." ucapnya lembut penuh perhatian.


Chloe terenyuh lagi mendengar ucapan Aoi. Air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak ketahuan Aoi, akhirnya menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Chloe. Ya, air mata kanan itu mengalir.


"Chloe?" Aoi menelengkan kepalanya. Raut wajahnya berubah cepat menjadi khawatir.


"Gak papa... Jujur, aku senang banget. Makasih banyak ya, Ao. You made my day better. Thanks..."


Yang dikatakannya benar. Entah kenapa, perasaan negatif di dalam diriku perlahan memudar begitu pandangan kami saling bertemu. Rasa sakit karena cemburu itu Aoi dengan mudahnya mengobati dengan serangkai kata-katanya.


Aoi.. Dia justru lebih baik dari sahabat SMP-ku. Aoi sangat pengertian orangnya. Dan...


"Sudah.. Jangan banyak melamun! Gak baik. Yuk kita fokus dengan topik pembicaraan kita!"


Chloe mengangguk mantap dan memutuskan untuk menceritakan apa yang telah ia simpan di dalam memorinya

__ADS_1


~


__ADS_2