
Black Aura berlari sambil melempar beberapa pisau ke arah belakang. Situasinya yang dialami sedang ia tangani saat ini sangat gawat. Lantaran yang menjadi lawannya kali ini adalah Yui. Aura sekaligus pengguna elemen air yang sangat ditakuti seluruh penduduk Carnater, kecuali kelompoknya. Rasa cemburu adalah pemicu terbesar tsunami yang melanda di Carnater kala itu.
Black Aura menghela nafas, lalu berpikir keras cara mengalahkan Yui yang saat ini tengah mengejarnya menggunakan ombak. Belum lagi dengan Alter yang berada di langit, berubah menjadi naga api.
Langkah Black Aura terhenti saat dirinya menyadari posisinya semakin dekat dengan Alter yang hendak menyemburkan api ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Black Aura segera melompat ke atas dan membiarkan api itu padam terkena ombak Yui. Belum cukup sampai disitu. Ternyata masih ada serangan langit yang mengikutinya dari samping.
Begitu memalingkan wajahnya ke samping, Black Aura dikejutkan oleh tembakan kristal hitam dan pink yang mengarah padanya tanpa ia sadari. Black Aura berdecak sebal seraya menghindari serangan beruntun tersebut. Sama sekali tidak ada celah serangan dari kelompok Yui.
“Kalau jadi reverse… Aku bisa saja mengalahkan mereka berempat, tapi…” memastikan hutan yang ia lewati tidak ada orang, Black Aura pun mengaktifkan kemampuan pelacaknya dan mencari keberadaan Aura, hewan, ataupun makhluk hidup selain dirinya yang melewati daerah hutan tersebut.
“Hah? Chloe?! Ngapain dia tidur disana?”
~
“Eh? Ini dimana?” gumam Chloe sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Ada platform rumah beserta lampu gantung mewah tepat di atas kepalanya. Di bawah tapak sepatunya juga ada lantai kayu yang mengkilap seakan baru saja dipel. Lantai itu memperlihatkan sosoknya yang biasa saja.
Well, tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini. Kecuali, dengan penglihatannya yang memperlihatkan kamar mewah dengan perabotan ala-ala kerajaan di sekitarnya. Cermin besar yang biasa digunakan seorang putri ada di sudut ruangan tersebut. Chloe memandang heran dirinya.
Untuk kesekian kalinya, dia nyasar ke tempat orang lain. Kalau dulu Carmine, setelah itu gadis berambut coklat yang bersama Carmine, sekarang kamar kerajaan.
Chloe menghela nafas berat. Kalau yang dirasakannya ini adalah mimpi, sudah pasti Black Aura tidak bisa menyelamatkannya kecuali membangunkan dirinya dari tidur yang aslinya singkat itu. Chloe melirik ke sekelilingnya sambil berjalan pelan agar keberadaannya tidak diketahui pemilik istana tersebut.
Chloe menyebutnya istana lantaran kemewahan serta perabotan yang rata-rata berwarna emas tersusun di setiap sudut ruangan tersebut. Untuk sesaat, Chloe dibuat kagum oleh lima belas batang emas yang disusun di atas meja rias.
“Wah, banyak kali… Kalau dibiarin disini, rasanya sayang. Kan bisa dipakai buat beli rumah, mobil…”
“Dasar l**t*!”
Ketika sedang bergumam tak jelas, tiba-tiba, seruan keras dari luar ruangan mengejutkan Chloe yang perhatiannya terpaku pada lima belas batang emas yang tersusun tersebut. Jantungnya seakan melompat dan untunglah masih berdetak dengan normal di dalam dadanya. Chloe mengelus pelan dadanya.
“Tadi itu… Apa?” heran Chloe. Gadis itu diam-diam melangkah pelan menuju pintu kamar dan hendak dia buka. Baru tangannya akan menggenggam gagang pintu itu, untuk kedua kalinya Chloe dibuat membeku oleh seruan keras di balik pintu kamar tersebut. Sepertinya dari ruangan lain. Bukan, lebih tepatnya di depan kamar ini.
Chloe mematung di tempat sambil memberanikan diri menempelkan telinganya ke pintu dengan hati-hati. Harap-harap, orang yang memiliki suara keras itu tidak mendobrak pintu ruangan dimana Chloe nyasar itu. Seandainya hal itu terjadi, Chloe bisa saja mati ditempat atau dicap sebagai maling istana, lalu wajahnya dicetak dan dituliskan “wanted”. Menyebalkan sekali jika wajahnya yang manis itu terpampang di kertas hina buatan orang-orang yang cinta keamanan lingkungan.
__ADS_1
“Jujur ya! Cuma kau yang nggak bakal bisa jadi putri! Ya! Cuma Kau! Kau berbeda dengan saudaramu yang lain! ASAL KAU TAHU, ORANG KAYAK KAU INI HARUSNYA UDAH KUBUNUH!”
“Oh, begitu ya! Nggak papa! Kalau mau, silahkan saja bunuh aku! Nggak papa! Toh, aku dilahirkan Cuma bisa buat kalian marah! Lebih baik, bayi yang diurus orang paling hina itu mati aja! Cepat bunuh aku! Atau aku yang bunuh diri!”
Suara keras itu terdengar lagi. Tapi kali ini, ada dua orang. Pria dewasa dan gadis remaja. Omongan mereka terdengar sangat tajam bagi Chloe.
Apa ini konflik keluarga? Batin Chloe. Pikiran yang dulunya dikuasai oleh panik, kini berpihak pada rasa penasaran yang tak pernah henti merasuki benak Chloe. Aneh, Chloe yang hanya mendengarnya dan tidak terlibat itu merasa sakit di bagian hatinya. Sejujurnya, Chloe benci mendengar suara keras. Apalagi suara seorang pria dan wanita. Itu mengingatkanku pada dirinya yang saat itu masih menduduki bangku kelas enam SD.
Hampir setiap hari, dia mendengar bentakan, benda yang dihentam, dan juga caci maki dari dua orang yang sangat ia kenal. Chloe bersama Lucas bersembunyi di dalam lemari sampai konflik pria dan wanita itu berakhir.
Chloe ingat kebencian yang teramat dalam itu pernah menjadi bagian dari perasaannya. Chloe ingat bagaimana dirinya membenci masa SD-nya. Keinginan untuk mengakhiri hidup kerap kali muncul saat dirinya melamun. Bukannya kebahagiaan yang Chloe inginkan. Justru kematianlah yang ingin Chloe saksikan untuk dirinya.
Sejujurnya, gadis itu sudah menyerah menjadi bagian dari keluarga yang sulit terlepas dari perdebatan. Lucas yang selalu melindunginya terkadang menjadi pelampiasan bagi pria dan wanita itu kala mereka sendirian di dalam ruangannya masing-masing. Sampai suatu ketika, keduanya berpisah dan menelantarkan Chloe bersama Lucas di dalam rumah yang terbilang sederhana itu.
Lucas berulang kali berkata, “Semua akan baik-baik saja…” demi menghapus air mata Chloe yang kala itu mengalir sederas-derasnya.
Sekarang, walau sekedar menjelajah masa lalu orang lewat mimpi pun, Chloe masih bisa merasakan sakitnya dibentak. Terlebih lagi, tidak ada Lucas di sampingnya.
Memang, dirinya tidak ada hubungannya dengan gadis yang sedang beradu debat kasar dengan pria di luar ruangan itu Akan tetapi, bukankah kejam jika sampai mengatakan ingin membunuh seseorang?
Chloe meringkuk di sudut ruangan. Tubuhnya lemas karena terlalu lama menangis dalam diam. Beruntunglah, pintu kamar itu masih tertutup dengan rapat. Sampai detik ini, Chloe belum mendengar suara langkah kaki yang berusaha mendekati pintu kamarnya.
“Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa aku bisa disini?” pikir Chloe sambil terisak. Tanpa suara, gadis itu menoleh ke jendela yang menampilkan keindahan malam yang ditemani oleh ribuan ras bintang. Indah sekali. Rasanya, tangan ini ingin sekali meraih setidaknya satu bintang. Meskipun hal itu terdengar mustahil, setidaknya Chloe memiliki alasan untuk hidup melalui keindahan yang diperlihatkan sang bintang padanya.
Chloe penasaran, bagaimana kondisi gadis itu saat ini. Apa dia baik-baik saja? Dimana gadis itu sekarang? Apa dia sudah mati bersama dengan jasadnya yang mendingin karena menahan rasa sakit di tubuh dan hatinya?
Membayangkan hal itu saja, Chloe merasa kesakitan. “Sebenarnya mereka siapa? Bagaimana bisa aku disini? Memang apa hubungannya denganku?”
Chloe terdiam. Sesuatu menjanggal di hatinya. Dia sendirian saat ini. Tidak ada Aoi, Jacqueline, Morgan, Midnight, ataupun Black Aura disampingnya. Lucas yang selalu bersamanya mustahil bereinkarnasi menjadi manusia dan menemaninya.
Chloe memeluk erat kedua kakinya. Dingin. “Andai kau ada disini, Lucas…”
Di sela kehampaan memenuhi dirinya, ada seberkas cahaya dari jendela menyadarkannya akan kenyataan sekarang.
__ADS_1
“Cahaya… Apa itu?” Chloe berusaha bangkit dan memeriksa jendela luar yang menampilkan cahaya berwarna oranye dan biru. Begitu sampai dirinya dengan jendela tersebut, penglihatan Chloe dibuat semakin silau oleh cahaya berwarna oranye tersebut. Sehingga Chloe tidak bisa menangkap asal cahaya oranye itu muncul.
“Silau kali… Eh? Su-suara ombak?”
Lagi-lagi, Chloe merasakan keanehan di sekitarnya.Tiba-tiba berada di kamar orang lain, mendengar perdebatan mereka, lalu cahaya yang entah dari mana asalnya, dan juga suara ombak. Padahal sebelumnya, Chloe ingat kalau di bawah langit yang berbintang itu hanya ada padang rumput yang luas. Lantas, dari mana asal ombak itu?
Tak hanya ombak, Chloe samar-sama mendengar suara seseorang memanggil namanya.Dingin.
“Ah, Black Aura!”
PRANG!
Kaca jendela itu pecah tepat di hadapan Chloe yang baru saja menyebut nama pacarnya. Beberapa serpihannya melayang dan tertangkap jelas oleh bola mata biru Chloe yang bergetar karena panik.
Chloe yakin, kejadian di depannya ini bukan sekedar mimpi. Lantas, Chloe segera melompat ke belakang demi menghindari ribuan serpihan kaca yang berpotensi melukainya.
“Aduh!” Chloe meringis kesakitan usai mendapati lengannya yang tertusuk oleh serpihan kaca yang ukurannya lumayan besar. Heran, bagaimana bisa benda itu menusuk lengannya hingga dalam sekali.
Panik melihat tangannya berdarah, Chloe jadi tidak sadar akan kehadiran seseorang di belakangnya. Orang tersebut berlari ke arahnya lalu menarik mantelnya, dan membawa Chloe pergi dari dunia mimpi yang tidak akan ada akhirnya jika tidak ada yang membangunkan gadis itu.
Chloe tersentak saat menyadari ada yang membopong tubuhnya. Gerakan orang itu terlalu cepat, sampai-sampai membuat Chloe tidak sadar dengan posisinya saat itu.
Penglihatannya yang tadinya silau, perlahan-lahan kembali menjadi jelas lantaran daerah yang dia lewati itu lumayan gelap dan jauh dari cahaya lampu. Saat itulah, Chloe mengetahui kalau orang yang membopong dirinya tak lain adalah Black Aura.
“Aura!” serunya senang dan Black Aura membalas seruan gadis itu dengan senyuman hangat.
“Akhirnya, kau bangun…” ujar Black Aura merasa lega.
Meskipun tidak mengerti, Chloe tetap mengiyakan perkataan Aura itu sambil menikmati kenyamanan yang Black Aura berikan padanya.
Kamar misterius dan lorong-lorong yang sebelumnya menjadi latar belakang mereka berlari, berubah menjadi puluhan pepohonan yang tumbuh tanpa mengenal usia. Chloe sadar, kalau pemandangan yang ia lihat saat ini adalah nyata. Juga keberadaan Black Aura di sampingnya.
Chloe benar-benar bersyukur karena Aura itu lagi-lagi menyelamatkannya. Sudahlah, lupakan saja masalah beberapa menit yang lalu.
__ADS_1