
Midnight memandang langit
biru dengan tangan kanannya menggenggam secangkir kopi hitam panas. Duduk di
dalam café bersama Aoi yang sedang menyantap burger pesanannya.
Terlalu lama memandang langit yang cerah juga membuat kedua matanya terasa lelah. Oleh karena itu, Midnight memejamkan kedua matanya.
Semalam adalah malam yang menenangkan.
Menghabiskan sebagian waktu malamnya di rumah bersama pria jepang itu. Meski
dia tahu jelas bahwa situasinya sedang tidak bagus saat ini, setidaknya, Midnight ingin merasakan ketenangan di dalam rumah yang ia bangun bersama mendiang suaminya itu.
Terus terang saja, Midnight merasa nyaman dengan Aoi. Pria jepang itu lembut dan penuh perhatian. Dia sangat pandai memasak dan pendengar yang baik. Keberadaan Aoi itu membuatnya membuang jauh pemikiran bahwa dirinya tidak membutuhkan orang-orang. Ya, pada awalnya, Midnight menaruh rasa benci dan kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang yang melintas di sekitarnya. Mengingat banyak kejadian buruk yang menimpanya
dengan penyebab utamanya adalah manusia itu sendiri.
Dari semua kejadian buruk itu, yang paling membekas adalah kematian suaminya. Sangat melekat di ingatannya dan juga darah ungu yang mengalir di lantai ruang tamu masih bisa terbayang dengan jelas. Suara pelatuk yang ditarik juga.
Midnight saat itu hanya bisa terduduk diam
meratapi pemandangan mengerikan itu yang dengan waktu singkat langsung menghancurkan hatinya. Dari hati yang hancur itulah, dendamnya lahir.
Setiap kali membayangkan sosok pembunuh itu, membuat Midnight ingin sekali melakukan hal yang sama agar perasaan ingin membalas perbuatan orang itu tidak lagi mengusik pikirannya lagi.
“Aoi…” bisik Midnight setelah sekian menit ia lewati dengan keheningan.
Aoi merespon panggilan Midnight dan bertanya dengan nada formal. “Ya, ada apa, Midnight?”
“Ada yang mengawasi kita.” Lanjutnya disertai dengan senyum seringainya.
Aoi terbelalak dan reflex menoleh ke berbagai arah. Pria itu mudah sekali terserang panik.
“Dimana?” tanyanya panik. Padahal, dia sudah sarapan tapi, wajahnya cepat sekali memucat saat dirinya terserang panik.
Midnight terkekeh melihat tingkah Aoi. “Jangan khawatir… Cuma ada satu kok yang mengawasi kita. Gitu aja panik. Dasar…” cibir Midnight sambil meraih secangkir kopi hitamnya lalu,
meneguknya sedikit.
“Cih! Bagaimanapun juga, yang mengawasi kita adalah musuh. Ya, wajarlah kalau aku panik.” Ujar Aoi.
“Hmm? Kau tahu dari mana kalau yang mengawasi kita itu musuh? Jangan-jangan, kau musuhnya?” tuduh Midnight santai. Dia menaruh kembali cangkir tadi dan membuka ponselnya.
“Ha? Mana ada! A-aku ‘kan’ cuma menebak!”
“Bercanda, kok.”
“Bercanda?” ulang Aoi. Raut wajahnya penuh dengan tanda tanya. Selain penasaran dengan orang yang mengawasi mereka, Aoi justru lebih mempertanyakan senyuman Midnight.
Wanita itu selalu tersenyum. Kemarin dan hari ini juga tersenyum. Setelah meneguk kopi, dia masih tersenyum. Jelas sekali posisinya sedang dalam bahaya tapi, sifatnya yang tenang dan tidak mudah terserang panik membuat Midnight terkesan misterius. Lama-kelamaan, Aoi jadi semakin terpancing ingin menggali lebih dalam apa yang tengah dipikirkan Midnight saat ini.
Dan lagi, keberadaan orang yang mengawasi mereka juga sama misteriusnya dengan senyum Midnight. Memang wajar kalau café ini ramai, makanan di café yang mereka datangi ini juga nikmat dan suasanannya tenang.
“Kenapa diam? Apa yang sedang kau pikirkan, Ao?” tanya sambil meletakkan ujung sikunya di atas meja dan menempelkan kelima ujung jari kanannya dengan jari kirinya.
Aoi yang tengah terjebak dalam pikirannya sukses dibuat terkejut oleh ketukan kecil berupa pertanyaan yang Midnight ajukan padanya.
“Eh? Nggak ada kok.”
“Bohong.”
Aoi menghela nafas. Dia sadar, tampaknya dia tidak bisa melontarkan sebuah kebohongan pada Midnight. Selain misterius, wanita itu juga peka.
“Baiklah… Sebenarnya, aku tuh heran kenapa…”
“Heran kenapa aku selalu tersenyum, bukan?” Midnight menyela dengan cepat. Hebatnya lagi, dia bisa menebak apa yang akan Aoi ucapkan selanjutnya dalam waktu singkat. Entah itu
sebuah kebetulan atau gadis itu sejak awal memang terlahir peka.
Karena yang diucapkan Midnight itu benar, Aoi mengiyakannya. “Dari kemarin, aku selalu
memperhatikanmu…”
“Wah, manisnya!”
“Bu-bukan! Maksudku, aku selalu memperhatikan semua gerak-gerikmu, caramu berbicara, makan, dan minum. Dari semua itu, senyumanmu yang paling mengusikku. Terus terang, aku nggak berniat membuatmu tersinggung. Hanya saja, aku penasaran, kenapa kau selalu tersenyum. Apa rahangmu tidak lelah tersenyum terus? Kau juga tersenyum di saat yang tidak tepat, kadang.” Ungkap Aoi kemudian, menutup mulutnya rapat. Dadanya panas usai mengungkapkan semua pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Aoi juga memuji dirinya karena bisa berbicara dengan lancar tanpa adanya perasaan gugup sekalipun.
Lantas, Midnight pun berpikir dengan kedua bola mata yang bergerak-gerak. “Itu karena… Aku suka.”
“Ha?”
__ADS_1
“Kenapa? Kau nggak suka jawabanku Jahatnya.”
“Astaga! Bukan begitu maksudku! Apa cuma itu saja jawabanmu? Tidak ada yang lain?”
Midnight terkekeh “Kan, kau yang bertanya dan aku ada di sini untuk menjawab. Ya, wajarlah kalau aku menjawab seadanya. Dasar, aku jadi semakin penasaran bagaimana kau dan
anak-anakku berinteraksi.”
Kemudian, dia memajukan posisinya agar semakin dekat dengan Aoi. Midnight memandang wajah Aoi lekat-lekat tanpa memperdulikan wajah Aoi yang memerah membara.
“Ayo, pergi!” ajaknya. Tanpa pikir panjang, dia merampas tangan Aoi dan membawa pria itu keluar dari café.
“Hei! Kopimu belum habis!” seru Aoi yang terlihat tidak nyaman.
“Kau gila ya? Kenapa lebih memperdulikan kopi ketimbang nyawamu dan orang-orang? Jelas-jelas, ada yang mengawasi kita. Bagaimana sih, caramu berpikir, Aoi?” omel Midnight sambil
melangkah cepat menjauh dari café.
Justru caramu berpikir yang mesti kupertanyakan! Aoi mengumpat dalam hati.
Saat berjalan, Midnight tidak memperhatikan depan dan tidak sengaja menabrak sseseorang yang ia rasa berbadan besar darinya. Aoi sontak melompat ke belakang.
"Midnight! Kau nggak papa?!" seru Aoi panik. Dia menunduk dan memberikan tangannya pada Midnight.
“Aduh!” orang yang ditabrak Midnight tadi rupanya bergender laki-laki. Dengan susah payah, ia bangun sambil menahan rasa sakit di
bagian sikunya yang tergesek oleh tanah.
“Ah, maaf! Kami tidak sengaja!” cepat-cepat, Aoi langsung meminta maaf agar tidak menimbulkan pertingkain kecil di tengah jalan.
Pria itu berhasil menyeimbangkan posisi berdirinya. Dia mengerjab tiga kali kedua matanya dan menatap Midnight yang menabraknya tadi. Dikiranya bakal marah, pria itu malah menatap bingung pada Midnight.
“Kau itu…”
“Eh?” Midnight menelengkan kepalanya. “Ada apa?”
“Kau bukannya wanita yang di artikel itu ya?” tanya pria itu ragu.
“Artikel? Artikel apa?”
Bersama Aoi, Midnight bingung sambil menunggu pria itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kebenaran yang dikatakan pria itu tadi.
Suaminya sudah berulang kali menelpon istrinya tapi, tidak diangkat. Dan… Ini. Ada fotonya. Bukankah ini dirimu ya?” pria itu menjelaskan sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Midnight dan Aoi.
Betapa terkejutnya Midnight menemukan sosok dirinya di dalam foto yang artikel itu gunakan. Bagaimana dan siapa yang melakukannya? Kapan? Jika dilihat dengan baik, itu memang benar dirinya. Rambut pendek berwarna biru malam dan kacamata bulat yang terlihat
nyata. Nah, pertanyaannya, siapa yang memotret dirinya diam-diam?
Ini jebakan…. Midnight membatin menahan kesalnya.
Aoi memperhatikannya. Senyumannya kaku...
“Bukan. Sepertinya kau salah orang, pak.” Jawab Midnight datar. Senyumannya terpaksa ia sembunyikan demi mengantisipasi agar dirinya tidak dicurigai oleh pria itu.
“Begitu ya? Tapi, dia mirip sekali denganmu. Coba kamu baca.” Pria itu masih belum menyerah. Dia menyerahkan ponselnya pada Midnight dan menyuruh wanita itu membacanya. Aoi yang berdiri di belakangnya juga ikut membacanya.
“Begitu ya? Jadi, orang yang sudah berhasil menemukan istrinya akan diberi hadiah uang sebesar tiga miliyar? Wah... Orang kaya toh." ujar Midnight yang masih focus membaca artikel itu.
Pria itu menganggukkan kepalanya. “Yah, begitulah. Awalnya, aku harap kau adalah orangnya. Tapi ternyata…”
“Ha? Jadi, manusia sepertinya ini punya harga? Cih! Harga ini masih tergolong rendah bagi perempuan sepertinya. Tega sekali suaminya memberi istrinya harga!" Omel Midnight berusaha menyembunyikan identitasnya.
“Begitu. Tapi, kalau kau memang benar orangnya, kau harus cepat kembali ke suamimu. Selan itu juga, uang tiga miliyar itu sangat kubutuhkan.”
“Heh? Untuk keperluan apa kalau boleh tahu?” tanya Aoi.
“Yah, Cuma untuk keperluan hidupku saja. Aku ini perantau. Aku sedang mencari perkejaan tapi belum diterima juga. Makanya, aku mengambil kesempatan emas lewat artikel yang disajikan di internet.” Jelas pria itu yang langsung membuat Midnight ternganga. Tidak diragukan lagi, ini pasti ulah Yuuki!
“Wah... Sayang sekali. Aku bukan istri orang itu. Aku masih single, hehe..."
Kau bukan single, tapi janda. Ucap Aoi dalam hati. Dia nyaris saja menyemburkan tawanya karena pikirannya sendiri.
“Hmm… Tapi, kau mirip sekali dengan gadis ini.” Pria ini masih bersikeras.
Berhenti di tengah keramaian dan diperhatikan oleh sebagian orang dengan tatapan heran, membuat Midnight merasa terganggu. Dia berpikir keras untuk membuat pria ini menyingkir dari jalannya.
"Pak... Bagaimana kalau kau ikut aku?" tanya Midnight.
"Kemana?"
Midnight tersenyum manis. "Tentu saja! Ke rumah suamiku!"
__ADS_1
"Heh??" Aoi terkejut. Dia kira, Midnight akan menyembunyikan identitasnya. Tapi, kenapa malah...?
"Oh, jadi kau benar-benar istrinya?" pria itu tersenyum lebar. "Baiklah! Aku akan menemanimu! Tapi, kenapa kau kabur dari rumah dan tidak pulang?"
"Kau akan tahu nanti." Ucap Midnight menyeringai.
~
Rara dan Chloe mengerutkan
kening mereka saat memasuki kamar Minji yang ternyata tidak ada siapapun di
dalamnya. Lantas, untuk apa semalam Minji menyuruhnya datang ke rumahnya pukul
delapan sementara, orang yang menyuruhnya saja tidak ada? Apa maksudnya?
Rara ingat, ulang tahunnya bukan di tanggal 25 Desember. Jadi, tidak mungkin kan, jika Minji ingin mengadakan surprise? Dan lagi, apa-apaan jebakan di ruang tamu itu?
Chloe mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut ruang. Dalam pikirannya yang bingung, kedua kakinya ikut bergerak mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk mereka
untuk mencari keberadaan Minji. Seperti surat contohnya.
“Jangan panik dulu! Pasti, Minji meninggalkan sesuatu.” Ucap Chloe sembari menggeser-geser tumpukan buku di atas meja belajar Minji. Tak perlu memakan waktu lama, Chloe menemukan sebuah amplop berwarna pink yang terlipat rapi. Amplop itu sepertinya sengaja diselipkan di bawah laptop hitam Minji.
“Benar, kan?” Chloe memperlihatkan amplop itu terang-terangan pada Rara.
Rara tersenyum dan langsung menghampiri amplop tersebut. Dia mengambilnya, kemudian membukanya. Ada secarik kertas dengan beberapa untaian kata yang sudah pastinya dituliskan oleh Minji untuk adiknya yang tercinta. Perasaan mereka mendadak tidak enak. Sebelum membaca isi surat itu, Rara berharap bahwa isinya bukanlah kalimat terakhir dari Minji.
“Kalian menemukan sesuatu?” tanya Black Aura yang entah habis dari mana.
“Surat.” Jawab Chloe yang kembali mengalihkan perhatiannya pada surat itu dan membacanya sampai habis.
Untuk adikku, Rara.
Aku minta maaf untuk perbuatanku semalam. Aku tidak punya pilihan lain selain membuatmu
pingsan agar kau tidak terlibat dengan masalahku. Kalau kau bertanya tentang
masalahku, aku sarankan, kau jangan sampai tahu.
Maafkan aku yang tertutup ini. Untuk saat ini, jangan menghubungiku dulu. Aku sedang ada urusan yang harus kuselesaikan secepatnya. Dan… Yah… Aku berterima kasih pada Chloe
karena mau membantumu.
Oh, ya! Aku punya pesan untuk kalian.
“Salju yang mendambakan kebahagiaan. Kalimat-kalimat itu jika digabungkan menjadi satu huruf akan terdengar indah. Enak dibaca dan di dengar. Dia salju yang mengharapkan malam yang menyenangkan.”
Kalau nggak paham, berikan surat ini pada hantu yang terlihat nyata namun keberadaannya
mampu disadari banyak orang.
Chloe dan Rara saling bertatapan usai membaca surat yang dituliskan Minji. Mereka mengerjab-ngerjabkan mata mereka tiga kali. Walaupun tahu bahwa cara itu tidak akan membuat mereka paham maksud tulisan Minji tersebut.
“Jangan-jangan… Ini petunjuk?” gumam Chloe.
“Eh? Mungkin aja, kan?” timpal Rara antusias.
“Mana? Sini kubaca.” Black Aura menghampiri kedua gadis itu dan meminta surat tersebut.
Chloe memberikan surat itu padanya dan Black Aura membacanya dengan saksama.
Saat membaca, Black Aura sambil menganalisa. Gaya penulisan Minji yang sederhana itu sanggup membuatnya larut dalam keheningan. Tulisannya itu menggambarkan bahwa keadaannya sedang terdesak dan dia butuh bantuan seseorang. Akan tetapi, karena kesalahannya, gadis itu memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya tanpa harus melibatkan orang lain.
Black Aura tersenyum. Dia tidak
menyangka kalau dirinya akan secepat itu memahami maksud perkataan yang dituliskan Minji.
“Kakakmu berbohong.” Ucapnya
yang langsung mendapatkan ekspresi terkejut dari Chloe dan Rara.
“Berbohong? Soal apa? Masalah keluarganya?” tanya Rara tidak terlalu mengerti.
Black Aura mengangguk sekadarnya. Berdasarkan yang dia pahami, Minji kini tengah berurusan dengan seseorang yang selama ini mereka diincar. Orang itu. Dia memang mudah untuk dibunuh. Banyak cara untuk melenyapkan nyawanya. Akan tetapi, orang itu bukan orang biasa. Dibutuhkan kerja sama dan rencana yang matang untuk membunuhnya.
“Salju dan kebahagiaan." Katanya tiba-tiba sekaligus menarik perhatian kedua sahabat itu yang tadinya sibuk membaca ulang surat Minji.
"Aoi dan ibuku pasti paham. Tapi, karena mereka nggak ada... Akulah yang akan mengartikannya." Ucap Black Aura mantap.
~
__ADS_1