
......•......
......•......
...•...
Sudah lebih dari setengah jam, Black Aura dan Aoi terjebak dalam aksi kejar-kejaran yang diiringi dengan kekuatan hebat yang mereka miliki masing-masing. Pertarungan seperti itu tak pernah sekalipun terlewatkan oleh Black Aura. Seolah sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sehari-hari.
Black Aura membelah, menebas, dan memotong beberapa bola es yang ditembak secara beruntun oleh Aoi. Karena malas gerak, Aoi memutuskan untuk menggunakan dua meriam es yang ditancapkan langsung ke permukaan es yang licin, kemudian, kedua pelatuknya ditarik kuat hingga menghasilkan tembakan bola es yang bisa dengan mudah merepotkan lawannya. Sementara, Aoi sendiri hanya duduk diam sambil menyusun rencana membunuh Black Aura.
Menyusun rencana? Bagi Black Aura, bukan saat yang tepat menyusun rencana dalam situasi genting seperti ini. Tanpa pikir panjang, Black Aura menebas tangan kanannya sendiri dan rasa sakit serta luka yang ia terima dipindahkannya ke Aoi.
Aoi terkejut mendapat serangan kejutan dari Black Aura. Dia menyeringai tak mau kalah.
“Boleh juga…” ujarnya setelah itu melompat ke atas, melempar beberapa pisau es dengan target yang sudah ditentukan Aoi. Yaitu, Black Aura.
Sejauh ini, serangan Aoi masih terasa mudah bagi Black Aura. Selama tidak ada Chloe yang mengganggunya, maka dia bisa dengan bebas melampiaskan sisi sadisnya pada Aoi. Mengingat Chloe yang memiliki perasaan, Black Aura menjadi agak terbatas dalam bertarung. Salah satunya saat dia melawan Aurora yang mengambil alih tubuh Chloe. Jujur saja, Black Aura benci taktik licik Aurora.
Kembali ke detik sekarang, dimana Black Aura mengeluarkan kemampuannya yang lain berupa pisau-pisau yang ia layangkan untuk menangkis pisau Aoi. Tidak ingin berlama-lama dengan Aoi, Black Aura memutuskan untuk berteleportasi di belakang Aura itu yang disusul dengan tendangan maut yang dia arahkan ke pinggang Aoi.
Aoi terpental tapi masih sanggup mempertahankan posisi berdirinya. Sakit. Apapun serangan yang ia terima dari Black Aura terasa sepuluh kali lipat lebih sakit.
“Cih, kekuatanmu hiperbola sekali!” cibirnya dan Black Aura tidak menggubris kalimat tersebut.
“Kenapa balik lagi ke sini? Sudah membuat masalah, bukannya diselesaikan malah dibiarkan!” tambah Aoi kesal. “Asal kau tahu! Karena perang kalian, banyak teman-temanku yang mati! Aku bahkan kehilangan pacarku.”
“Bukan kau saja, kita semua kehilangan banyak hal,” balas Black Aura datar. Karena sesungguhnya, perang ini penyebabnya hanya ada satu. Legend Aura. Mereka yang memulai dan mereka yang mengakhiri. Akan tetapi, Black Aura tidak ingin dunia Carnater berakhir menjadi dimensi yang mati. Walau pada dasarnya, dia bukan type Aura yang memiliki belas kasihan, Black Aura setidaknya memiliki hati dan perasaan rindu akan sesuatu.
Festival. Hanya kalimat itulah yang Black Aura nantikan kehadirannya.
“Gara-gara kalian, kota ini hancur tau nggak? Aku dan kelompokku yang susah payah menciptakan kedamaian malah kalian hancurkan!” bentak Aoi dan sebenarnya masih ada lanjutan lagi.
Black Aura masih diam. Menunggu saat yang tepat untuk merespon omongan Aoi yang sebetulnya sedikit memancing.
“Kayaknya… Kau nggak ngerti situasi, Aoi,” Ucap Black Aura datar.
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Musuh yang sebenarnya. Kau nggak tahu ‘kan’ siapa yang menyebabkan kekacauan ini selain menuduh kami? Coba kutanya, kronologinya. Kau tahu tidak?” tanya Black Aura berusaha menahan tangannya agar tidak lepas kendali membunuh Aoi.
Di atas sana, Aoi tertegun. Namun, berusaha untuk membela dirinya. “Tahu kok, kalian kan?”
“Kami ya?”
“Iya! Bukan hanya sekarang! Dulu-dulu, kalian sudah lebih dulu mencari masalah! Kalian menghajar kelompokku! Kalian menghajar orang-orang yang mau berpesta di istana Asoka! Kalian menjebak lima belas penari perempuan di Teritori Yui! Kalian memisahkan kami dengan gadis-gadis dari dunia luar dan sekarang, kewarasan kami jadi taruhannya! Nah, sekarang kalian mau apa lagi coba?” beber Aoi penuh emosi. Tangan kanannya terkepal kuat membiarkan darah biru es menggenang di bawah meriam es miliknya.
Black Aura diam. Dia mengerti maksud yang dikatakan Aoi. Semuanya… Semuanya hanyalah…
BUAKK!
“MATI KAU!” Aoi yang sudah terlalap api amarah itu melayangkan palu esnya ke wajah Black Aura. “KAU DAN KELOMPOKMU! KEMBALIKAN CARNATER DAN TEMAN-TEMAN KAMI!”
Dengan penuh emosi, Aoi menebas Black Aura tanpa memandang seberapa parah atau sakitnya efek serangannya itu. Sebab, dendam yang selama ini ia pendam sudah saatnya ia lampiaskan di depan si pelaku. Menurutnya begitu.
Tidak peduli bagaimana kronologinya, Aoi terus menerus melayangkan serangannya tanpa memberi celah atau ruang Black Aura untuk membalas.
“KEMBALIKAN! KEMBALIKAN! KEMBALIKAN!”
Es yang dingin itu menjadi ganas sampai-sampai meriamnya ikut terbawa suasana amarahnya.
Aoi melepaskan meriamnya dari tanah, kemudian memutar tubuhnya bersamaan dengan meriam itu hingga menghantam lengan kanan Black Aura dan membuat Aura itu terpental jauh. Kecepatan seakan menguasai pandangannya saat ini. Bunga veronica yang sedari tadi ia genggam di tangan kirinya akhirnya terlepas.
Black Aura tersentak, melirik bunga tersebut yang kini melayang di sampingnya. Sayang, tangannya tidak sanggup meraih bunga tersebut lantaran kecepatan mereka berbeda.
Black Aura pun berakhir menabrak dinding bangunan yang sudah lama terbengkalai. Beberapa serpihan bangunan itu berjatuhan mengotori rambut dan pundaknya.
“Ini…?” tangan Black Aura gemetaran mendapati retakan kecil di pergelangan kanannya. Bahaya…
Belum sempat bangun, Black Aura disambut oleh pedang es yang entah kapan munculnya, tahu-tahu pundaknya sudah tertancap oleh pedang es. Siapa lagi kalau bukan Aoi pemiliknya. Tusukan itu selain menyebabkan rasa sakit juga membuat beku pundak Black Aura. Es-nya menyebar dari pundak hingga ke siku kanan Black Aura. Suhu dinginnya berbaur dengan rasa sakit.
“PERGI ATAU KUBUNUH KAU DISINI!” ancam Aoi.
Black Aura menghela nafas berat menanggapi ucapan Aoi yang terkesan kurang ajar baginya. “Sadar diri kenapa? Kata-kata itu harusnya untukmu.”
__ADS_1
“Oh? Begitukah?” Aoi mengangkat meriamnya, kemudian dia tembak pundak Black Aura yang membeku itu hingga pecah es-nya. Tak hanya es, pundak dan lengan kanannya ikut pecah.
“Cih!” Black Aura meringis kesakitan sebelum akhirnya kembali dibuat terkejut oleh pedang yang Aoi layangkan cepat di atas kepalanya. Entah syok atau panik, Black Aura spontan menyandung kaki Aoi dengan kakinya, lalu bangkit dan berlari menjauh dari Aoi.
Kini, jarak dirinya dengan Aoi bias dikatakan jauh. Black Aura mengeluarkan pedangnya sembari menstabilkan alur nafasnya. Sebelum lanjut bertarung, untuk beberapa saat, Black Aura mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Es semua. Ditambah dengan suhu yang kian menurun membuat Black Aura kedinginan.
“Dingin…”
“OH? DINGIN YA?”
Black Aura tersentak, spontan memutar kepalanya ke kiri. Aoi dengan palu esnya yang tak lama lagi menyentuh wajah Black Aura.
BUAK!
Di udara, serpihan es dan beberapa tetes darah hitam melayang. Waktu seakan lambat sampai semuanya kembali normal. Kepulan asap tebal memenuhi area bertarung mereka. Aoi menurunkan palunya yang berlumuran darah hitam Black Aura. Aura itu menyadari kalau tenaganya semakin terbatas dan tampaknya, dia memerlukan waktu istirahat yang panjang. Setelah sekian lama duduk diam di dalam asramanya menunggu kehadiran Black Aura, Aoi jadi jarang sekali menggerakan tubuhnya melakukan pekerjaan berat seperti bertarung.
“Sudah matikah?” gumamnya.
Saking lelahnya, Aoi nyaris saja terpeleset oleh permukaan tanah yang membeku akibat perbuatannya tersebut. “Kayaknya udah mati sih…”
Yakin dengan ucapannya barusan, Aoi berbalik seraya menjauh dari area bertarungnya.
Ketika berjalan, pundak, tangan, kakinya meledak.Bagaikan air mancur, darah birunya melayang berjatuhan membasahi tanah yang di pijaknya. Aoi jatuh dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Dia membeku. Kedua tangannya gemetaran bersamaan dengan bola mata esnya yang memandang genangan darahnya yang kian melebar.
Lemas. Di lain sisi, merutuki dirinya. Aoi lupa. Benar-benar lupa. Karena dendam, Aoi jadi fokus pada serangannya bukan pada dampaknya. Semakin banyak dia menyerang Black Aura, maka semakin banyak luka yang diterima Aura itu. Akan tetapi… Dampaknya.
Amarah yang tadi menguasai pikirannya, beralih menjadi rasa takut yang tak terhindarkan. Telinga kucingnya merespon suara langkah kaki dingin yang berjalan menghampirinya.
“Ada apa? Kemana perginya mulut besarmu tadi?”
Seketika, Aoi merasakan hawa tidak mengenakan di balik punggungnya. Mau menoleh ke belakang saja tidak sanggup lantaran rasa takutnya terlalu kuat untuk dikalahkan. Bahkan, senjata es-nya sekalipun tak sanggup melawan perasaan tersebut.
“Bagaimana? Sakit?”
Tubuh Aoi menegang hanya dengan mendengar suara Black Aura yang tak kalah dinginnya dari kemampuan es-nya.
Jari besi Black Aura mencengkram kepala belakang Aoi. “Yang terpenting adalah kronologinya. Kau main melampiaskan amarahmu tanpa mengetahui kronologinya. Satu lagi, aku ini Aura yang lebih dulu tinggal di Carnater. Bukan kau ya,” ucap Black Aura. Manik violetnya memandang dingin ke arah Aoi. Tangan kirinya menggenggam sabit yang tak lama lagi akan menjadi akhir dari hidup Aoi.
__ADS_1
Dalam diam, Black Aura menarik sabitnya ke belakang dengan niatan ingin menebas Aoi. Tak peduli bagian mana yang kena tebas. Intinya, Aura itu sudah kelewatan batas. Menganggap keberadaan dirinya dan kelompoknya sebagai gangguan.
“Asal kau tahu saja, terjebak dalam kebahagiaan juga nggak ada bagusnya. Kau tidak akan bisa menyadari masalah serta rasa sakit yang orang lain rasakan.” Ucapnya. Disusul dengan sabitnya yang melayang cepat ke arah Aoi.