Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 119 {Season 2: Ketemu}


__ADS_3

“Hmm, sebenarnya aku udah penasaran kali sih gimana ritual itu berjalan,” ujar Jacqueline saat ketenangan menyelimuti hutan tanpa kehidupan itu. Setelah Jacqueline perhatikan, tidak terlihat satupun hewan yang bergerak, berlarian di atas pohon, dan terbang seperti yang biasanya burung lakukan. Hutan itu tak jauh bedanya dengan hutan kematian di Jepang.


“Ritual itu dulu pernah dilakukan tiga gadis remaja. Tapi, tujuannya berbeda.”


“Memangnya tujuan mereka waktu itu apa?” Jacqueline semakin antusias mendengarkan lebih banyak cerita di masa lalu mengenai Carnater dan juga manusia yang pernah berkunjung ke dunia tersebut. Dia tidak menyangka, selain dirinya dan sahabatnya, rupanya masih ada remaja-remaja yang pernah tinggal dan berteman dengan Aura di sekitar sini. Mungkin sekarang, usia ketiga remaja itu sudah menginjak dua puluh tahun lebih. Bisa saja lebih tua dari usia Jacqueline saat ini.


“Memutuskan hubungan mereka dengan dunia Carnater.”


“Eh?” alis Jacqueline seketika terangkat karena tidak percaya. Ternyata, ritual mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda. Jacqueline yakin kalau ritual yang dijalani tiga remaja itu asalnya dari perintah Midnight. Entah kenapa, Midnight terlihat seperti penguasa di dunia ini. Batinnya heran.


“Kita udah sampai,” celetuk Black Aura mengejutkan Jacqueline dari lamunannya.


Akhirnya mereka tiba juga di tempat Chloe dan teman-temannya berkumpul. Saat Black Aura melangkah masuk, dia langsung disambut oleh teriakan Chloe kemudian, disusul dengan pelukannya. Black Aura benar-benar terkejut akan serangan kejutan yang Chloe berikan. Seperti biasanya, pelukan gadis itu selalu lama. Padahal, jarak yang memisahkan mereka juga tak begitu jauh. Hanya Chloe-nya saja yang sedikit berlebihan.


Chloe merenggangkan pelukannya dan memperlihatkan tatapannya yang berbinar. Wajah itu dengan cepat membuat Black Aura tersipu malu. Dalam hatinya, dia berusaha menguatkan diri agar tidak salah tingkah. Mengingat situasinya bukan untuk mesra-mesraan.


“Kok lama?” tanya Chloe bersemangat. Kedua lengannya masih melingkar di pinggang Black Aura.


“Introgasi Aurora,” Black Aura tersenyum.


“Ooh, oke kalau begitu! Kukira, kau dan dia berpacaran,” bisik Chloe dengan bola matanya yang mengarah curiga pada Jacqueline yang sibuk menepuk-nepuk punggung pacarnya.


Mendengar ucapan Chloe barusan, buru-buru Black Aura menyangkalnya. “Nggak mungkin. Dia sudah sangat serasi dengan Aoi,”


“Hahaha, begitu kah? Oke, aku percaya!” Chloe pun kembali memeluk Black Aura sampai puas.


Black Aura hanya terkekeh geli melihat tingkah Chloe yang semakin menggemaskan di matanya. Tak lama kemudian, perhatiannya tertuju pada Midnight yang seperti sesak nafas. Black Aura mematung heran. Ibu baik-baik aja kan?


Silentwave muncul dan menghampiri Black Aura. Aura itu membisikkan sesuatu tanpa memperdulikan posisi Black Aura saat ini.


“Dipeluk?” heran Black Aura. Wajah sesak itu ternyata asalnya dari pelukan Chloe pada Midnight. Yah, kalau sudah berpelukan, gadis itu tidak bisa mengira-ngira seberapa erat dia memeluk orang lain.


“Chloe? Lama sekali pelukannya,” ujar Black Aura menyadarkan Chloe dari tidurnya. Dia tidur?


“Nah, karena kita sudah berkumpul, sisanya tinggal cari Ethan saja,” ucap Midnight setelah merasa baikan nafasnya. “Sumpah, sesak banget…” tambahnya sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh Chloe yang tanpa mereka sadari ketiduran.


“Ethan? Siapa dia?” Aoi langsung mengajukan pertanyaannya ketika mendengar nama seseorang yang terasa asing di telinganya. Aoi melirik ke arah Jacqueline seolah meminta jawaban pada gadis itu.


“Aku nggak tahu tahu siapa dia,” lirih Jacqueline sambil mengangkat pundaknya singkat.


Midnight melongo tak percaya, “Kalian nggak tahu?”


“Sama sekali nggak.”


“Hah, nanti kalian akan melihatnya. Ayo!”


Tanpa basa-basi lagi, Midnight segera meninggalkan area tersebut bersama Aoi dan Jacqueline. Sementara, Black Aura yang berusaha membangunkan Chloe akhirnya berhasil dan memapah gadis yang setengah sadar itu mengikuti Midnight.

__ADS_1


~


“Sebelum melaksanakan ritual, hal pertama yang harus kita temukan terlebih dahulu adalah Ethan. Dia pasti tersesat di hutan ini,” jelas Midnight sambil melangkahkan kakinya. Pandangannya lurus ke depan karena pemandangan di depan sana terlihat menyejukkan. Ada banyak pohon dengan daun hijau yang segar bergoyang-goyang mengikuti arah angin berhembus.


Mereka yang merasakan angin tersebut merasa tenang jiwanya. Penat mereka hilang juga rasa lapar mereka lenyap untuk beberapa saat. Midnight menawarkan ketiga remaja itu jus jeruk yang ia beli dari bumi sebelum berkunjung ke Carnater bersama Ethan. Jus itu tidak ia beri es karena, kalau es-nya mencair maka akan mengubah manis jeruk itu menjadi tawar.


“Terima kasih,” ucap mereka bertiga lalu meneguknya pelan-pelan.


“Sama-sama. Aura mau juga?” tawar Midnight.


Black Aura menggeleng pelan. Chloe yang berjalan di sampingnya merasa tak terima jika hanya dirinya yang merasakan nikmat dan segarnya jus sedangkan pacarnya hanya diam sambil fokus berjalan. Meskipun Black Aura tergolong kuat, memiliki kekuatan, dan makhluk fantasi, dia juga punya leher. Pemikiran Chloe memang aneh, tapi, dengan pemikiran itu setidaknya Chloe bisa membuat semua orang ikut serta menikmati kenikmatan dari jeruk yang diblender.


“Midnight, minta satu!” pinta Chloe tanpa basa-basi. Aoi dan Jacqueline membeku. Mereka berdua menoleh ke belakang dengan tatapan ngeri.


“Dua?”


“Iya, yang satu buat Aura. Sebenarnya dia haus, Cuma malu aja mau bilang,” gurau Chloe.


“Sejak kapan?”sangkal Black Aura.


Midnight terkekeh geli menanggapi tingkah laku Chloe dan ekspresi tidak terima dari Black Aura. Melihat Black Aura seperti sedang melihat Carmine. Midnight memejamkan matanya berusaha menghapus sedihnya. Carmine memang adiknya tapi tidak memiliki ikatan darah dengannya. Mereka terhubung begitu saja. Keseharian yang mereka jalani tak jauh bedanya dengan kupu-kupu dan bunga. Mereka indah dan serasi. Seperti halnya simbiosis mutualisme.


Perginya Carmine tak hanya meninggalkan kenangan yang akan menjadi hantu di kala malam tiba. Carmine juga meninggalkan sebagian perasaannya untuk melindungi Midnight. Dendam gadis itu perlahan-lahan lenyap akan perubahan.


Kau sudah berubah, Carmine. Batin Midnight. Senyumannya sampai terukir di wajahnya.


Chloe menyengir lebar, hampir menyerupai kuda yang tersenyum. “Puas kok!” katanya.


“Hmm… Hutan ini sudah ibu cek atau belum?”


“Cek apanya?”


“Hutan ini. Dari tadi, aku merasa ada yang melihatku,” Black Aura mengusap tengkuknya sembari melirik-lirik ke sekitarnya. Aura itu juga mengecek dahan-dahan pohon yang berada di atasnya. Tidak ada seorangpun di sana. Tapi anehnya, Black Aura merasakan ada sepasang mata yang menatapnya di balik pohon. Kira-kira pohon yang mana ya? Dia pun mengaktifkan kekuatan mata periksanya.


“Kalau gitu, kami duluan ya! Kami harus cari Ethan dulu,” ujar Midnight sekalian pamit.


“Hati-hati…”


Melihat Aoi dan Jacqueline berjalan mengekor di belakang Midnight, Chloe jadi kebingungan. Antara mau bergabung dengan Midnight mencari seseorang yang bernama Ethan atau berdiam diri di tengah hutan bersama Black Aura. Tak perlu membuang waktu lama, Chloe sudah menemukan jawaban yang tepat. Sebagai kekasih Aura bermanik violet itu, Chloe memilih untuk menemani Black Aura sampai mereka menemukan sosok yang memperhatikan Black Aura dari kejauhan.


“Tunggu, Ethan siapa?” Chloe terdiam sesaat. Tanpa dia sadari juga, teman-temannya dan Midnight sudah melangkah jauh sampai-sampai tidak kelihatan pakaian bagian belakang mereka. “Mereka cepat juga,” gumam Chloe.


“Bagaimana Black Aura? Apa kau sudah menemukan orang yang mengawasimu?”


“Belum. Aneh sekali. Harusnya dengan kemampuan ini, keberadaan mereka langsung ketahuan,” Black Aura berdecak sebal. Kemampuannya tersebut dia nonaktifkan karena jika terlalu lama digunakan maka matanya akan rabun.


Chloe merasa prihatin mengetahui usaha Black Aura sia-sia. Lantas, dia pun berpikir sekaligus mencari cara agar bisa menarik perhatian orang menguntit mereka. Masih belum diketahui apakah orang itu adalah manusia atau Aura, dan belum jelas apakah perbuatannya itu sejenis menguntit atau hanya kebetulan lewat. Kalau saja Aura, mungkin sudah dari tadi Black Aura tangkap menggunakan kemampuan memindah objeknya. Bukan Aura ya?

__ADS_1


Chloe tampaknya mulai mengerti dan langsung berasumsi kalau orang itu adalah manusia yang sedang dicari para Aura ini.


“Black Aura! Jangan-jangan manusia?!” tebak Chloe meskipun ragu.


Black Aura terperangah dalam dia. “Manusia?”


“Iya! Kalau Aura, pasti udah dari tadi tewas di tanganmu!” serbu Chloe perlahan-lahan mulai timbul semangat 45-nya.


Tewas? Black Aura tertawa datar menanggapi omongan Chloe. “Kurasa, yang kau katakan ada benarnya. Kalau begitu, ayo kita cari mereka!” ajak Black Aura tersenyum mantap pada Chloe.


“Wah, kau mencariku ya, Black Aura?”


Belum selangkah mereka meninggalkan area tersebut, sebuah seruan lantang dengan cepat menarik perhatian Black Aura dan Chloe. Cepat-cepat, mereka memasang posisi waspada. Sambil memperhatikan sekelilingnya apabila muncul serangan dari arah yang tak terduga.


Black Aura segera menarik Chloe ke belakang punggungnya, bersamaan dengan pandangannya yang ia arahkan seluruhnya ke atas. Ada banyak dahan keras di beberapa pohon itu. Akan tetapi, tidak diketahui dari pohon mana suara itu muncul


“Kurasa, yang kau katakan memang benar, Chloe,” gumam Black Aura sambil mengaktifkan mata periksanya lagi.


Sementara Chloe, dia sudah menyiapkan posisi waspadanya dengan kuda-kuda dan pedang Black Aura yang ia keluarkan dari tangan kosongnya.


“Disini! Disini!” suara itu muncul lagi. Mau diperiksa berapa kali pun, hasilnya tetap nihil. Black Aura sama sekali tidak bisa menemukan orang itu dan hal itu membuat Aura itu terpancing emosinya.


“Tadi suara laki-laki, sekarang suara perempuan? Black Aura! Mereka ada disini!” seru Chloe bukannya kesal, dia malah bersemangat sekali.


“Aku tahu. Tapi…”


Sebuah tombak muncul dan menembus Black Aura. Lagi-lagi serangan kejutan. Kenapa orang-orang ini suka sekali dengan serangan kejutan? Apa jangan-jangan, semasa hidupnya tak pernah diberi kejutan pas ulang tahun ya?


“Black Aura!” seru Chloe panik. Tanpa pikir panjang, langsung menahan tubuh Black Aura. “Heh? Me-merah?!” rasa panik Chloe bertambah dua kali lipat saat dirinya terbelalak mendapati darah yang mengalir di belikat kanan Black Aura. Bukan hitam. Tapi merah!


Nggak salah lagi, mereka manusia! Mereka pasti yang Black Aura cari selama ini!


Chloe berteriak sambil mengarahkan pedangnya ke dahan bagian atas. “Hey! Keluar kalian! Pengecut kali sih! Pakai acara sembunyi segala!” bentaknya, sebenarnya ketakutan. Takut ada serangan kejutan lagi.


Wajah Black Aura berubah pucat pasi karena darahnya terbuang sangat banyak. Tubuhnya melemah seketika. Berbeda dengan melawan Aurora yang berada di tubuh Chloe, serangan manusia misterius tadi sangatlah kuat.


Sa-sakit…


“Black Aura! Cepat, pindahkan lukamu ke mereka!” ujar Chloe sedikit memaksa.


“Mana mungkin…! Mereka itu manusia. Tugasku Cuma mencari mereka, bukan... Membunuh mereka.”


“Ta-tapi…”


“Kemari kalian!” suara perempuan itu muncul bersamaan dengan pemilik dari suara tersebut. Kedua tangannya menggenggam sabit yang biasa digunakan untuk memotong rumput.


“Akhirnya! Aku menemukanmu, Black Aura!” serunya seraya melayangkan sabitnya ke samping.

__ADS_1


~


__ADS_2