
Black Aura menoleh cepat ke arah Megawave yang membopong tubuh Chloe yang tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, Aura itu segera menahan pergerakan Megawave dengan memblokir wilayahnya menggunakan pedang.
“JANGAN SENTUH DIA!” seru Black Aura diiringi dengan laser merah yang mengarah ke Megawave langsung. Langit yang semulanya abu-abu karena tertutupi awan mendung yang tebal berubah menjadi merah darah dan dipenuhi oleh hujan pedang berwarna merah darah. Dilihat dari jauh sekilas seperti hujan darah.
Jean khawatir dengan posisi Megawave yang saat ini sendirian menghadapi Black Aura yang berubah menjadi reverse. Aura bermanik violet itu sungguh drastis perubahannya kalau sudah menggunakan kemampuan terlarang tersebut. Tapi anehnya, kenapa dia masih bisa mengingat gadis berambut pirang yang pingsan itu?
“Jangan bilang gadis itu… Temannya?” gumam Jean penasaran.
BUM!
Megawave terlempar sangat jauh, menembus toko-toko yang berjejeran di area tersebut. Meskipun keadaannya sedang terdesak, Megawave berusaha sebisa mungkin melindungi tubuh Chloe dari serpihan kayu, besi, dan batu yang kemungkinan bisa saja melukai kulit remaja tersebut.
“Cih!” Megawave menahan dirinya yang terdorong itu dengan memijak keras kakinya ke tanah. Bahkan kedua kakinya sampai menembus tanah saking kuatnya dorongan Black Aura serta kekuatan Megawave dalam menahan kecepatan yang mendorongnya tersebut. Baru saja berhenti, tanpa ia sadari, Black Aura sudah ada di belakangnya lalu menendang keras kepalanya. Sehingga dirinya dan Chloe terpental bersamaan di atas permukaan tanah yang kasar.
Black Aura mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke tempat Megawave terbaring. Seluruh laser yang entah kemana arahnya itu berubah menjadi mengarah ke Megawave. Disusul dengan hujan pedang tanpa batas yang sudah menusuk tangan dan kaki Aura bertopeng visor itu lebih dulu.
Tampaknya, Black Aura tak sanggup mengendalikan amarahnya sehingga dirinya sulit membedakan mana musuh dan mana yang lawan. Kendati demikian dirinya yang asli berusaha untuk menghafal betul penampilan Chloe.
Kedua tangan Megawave bergetar hebat menahan sakit sepuluh kali lipat yang ia terima dari tusukan pedang Black Aura. Rasanya seperti menghadapi orang yang memiliki dendam kepadanya. Dari kejauhan, Megawave bisa melihat dengan jelas seringai yang terukir di wajah Black Aura. Seringai itu sangat lebar. Juga kedua tangan Black Aura yang terkepal keras menggenggam pedang dan sabit itu. Aura itu tidak akan segan-segan lagi membunuh dirinya yang sekarat ini.
Selama ini, Megawave selalu dibantu Grimoire, Aoi, Alter, dan Chariot hanya untuk mengalahkan Black Aura yang menggunakan kekuatan terlarang itu. Sekarang, karena kecerobohan Jean dan kebetulan dirinya berjalan-jalan di area yang kala itu dipenuhi oleh tornado, langsung saja Megawave menghampirinya dan inilah yang ia temukan.
__ADS_1
Megawave mengepal keras tangannya. Jean saja rasanya tidak cukup untuk mengembalikan kewarasan Black Aura. Apalagi dirinya yang sudah lama dianggap sebagai gangguan oleh Black Aura.
“Kalau aku menyentuh gadis itu lagi, bisa saja kau mati terpanggang disini,” gumam Megawave resah. Aura itu mengeluarkan pedangnya seraya mengubah tangan kanannya menjadi enam tentakel. Sedikit info, Megawave adalah Aura yang masuk dalam kategori hybrid. Dia memiliki spesies campuran yaitu gurita. Karena itulah, dia bisa mengubah kedua tangannya menjadi tentakel yang panjang dan lengket.
Tak lupa, Megawave membuka sepuluh portal besar di hadapannya. Canon yang menjadi sahabatnya selama ini juga ia keluarkan. Pokoknya, dia berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk satu Aura yang mengamuk di hadapannya. Merepotkan dan bisa dikatakan sebagai mengorbankan dirinya meski nyatanya dia masih ingin hidup.
“Huft… Kumohon, kembalilah ke dirimu yang asli…” lirih Megawave dan akhirnya, dia pun menarik pelatuknya. Ratusan bola listrik meluncur masuk ke dalam portal dan menyerang punggung Black Aura.
Black Aura tersentak menyadari dirinya yang baru saja terkena serangan dari lawannya. Tak mau kalah, Black Aura mengubah tanah yang menjadi pijakan Megawave menjadi darah.
“Astaga… kemampuan ini…”
Lima belas tangan raksasa muncul dan menahan tubuh Megawave. Salah satu laser berhasil melukai tangan Megawave. Memang tidak berdarah tapi melepuh. Megawave meringis menahan sakit. Sakitnya sepuluh kali lipat.
“Sial, nggak ada jalan lain…” Megawave membuka portal di bawah kakinya yang tenggelam. Alhasil, dirinya tertarik masuk ke dalam portal dan mendarat dengan selamat di atas pundak Black Aura.
“Kena kau!” seru Megawave seakan dirinya telah menemukan trik yang bisa mengalahkan Black Aura saat itu juga. Megawave menangkap lima pedang Black Aura yang kemudian ia tancapkan pada Black Aura.
Black Aura tersentak kaget. Cepat-cepat, Aura itu menukar lima pedang yang digenggam Megawave menjadi bantal.
“Astaga… Apa-apaan!”
__ADS_1
Duak!
Black Aura lagi-lagi berhasil mengalihkan perhatian Megawave dengan benda sepele lalu menyerang lawannya dengan keras. Megawave terlempar dan tenggelam di dalam lautan darah buatannya.
BUGH!
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja Black Aura terlempar dengan rasa sakit di bagian pipinya. Black Aura terlempar menabrak runtuhan bangunan yang mengapung di atas lautan berdarahnya.
Ternyata di atas langit, berdirilah sesosok Aura dengan rambut biru es dan juga telinga yang bergoyang. Dia berdiri sambil melipat kedua lengannya. Tersenyum puas karena berhasil menghajar Black Aura yang perhatiannya teralihkan penuh pada Megawave.
“Hahaha! Kena kau! Kenapa nggak dari kemarin berubah jadi monsternya?” ujar Aoi meremehkan sambil cekikikan tak jelas. Terlalu bangga dengan dirinya yang tidak diketahui keberadaannya oleh Black Aura.
“Oh, jadi itu maumu?”
Aoi si kucing es itu terkejut bukan main mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Spontan, dia menoleh ke belakang dan lihat apa yang Aura itu dapatkan. Sebuah palu yang melayang tepat ke wajah Aoi.
Saat itulah, Aoi dan tubuhnya terlempar dan membuat lautan berdarah itu mengamuk karena kehadiran yang sangat mengganggu. Apapun yang mengapung di atas air itu melayang dan basah dihujani oleh cairan darah yang berasal dari lautan berdarah itu sendiri.
Aoi segera keluar dari air yang membuat sesak paru-parunya dan untuk kedua kalinya ia mendapatkan serangan langsung dari Black Aura. Kucing es itu terdorong kuat oleh laser yang mengarah tepat padanya tanpa memberinya ruang untuk menghindar.
Kacau sekali suasana di sana. Hanya merah yang mewarnai area tersebut serta rasa sakit tanpa batasan waktu. Sementara itu, Jean yang menjadi biang keladi kekacauan tersebut hanya bisa bersembunyi dibalik dinding toko yang mengapung. Menahan ketakutannya dan berusaha menelan kekhawatirannya.
__ADS_1
“Aku harus bagaimana?” pikirnya ketakutan sebelum akhirnya dirinya dibuat melayang dengan sejumlah cairan berwarna hijau kental melayang di udara tepat di depan kedua matanya yang pucat.
~