Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 174 {Season 2: Tak Sendirian Lagi}


__ADS_3

“Bagaimana keadaannya? Oh, begitu ya? Baiklah, pastikan dia di rumah sakit sampai aku pulang nanti. Iya, sampai jumpa. Jaga dirimu, Devil Mask.”


Panggilan Midnight akhirnya berakhir setelah Devil Mask yang berada di seberang sana lebih dulu mematikan panggilan mereka. Ini sudah empat hari Yuuki berada di rumah sakit. Pihak rumah sakit mengatakan kalau kondisi Yuuki saat ini bisa dikatakan kritis. Tapi, masih ada kemungkinan nyawanya tertolong. Entahlah, mungkin karena pria jepang itu punya segudang dosa di dalam dirinya makanya sulit untuknya mati.


“Dasar. Sekarang yang perlu kulakukan ritual. Habis itu, Emma, Elena, Yuuki, dan yang terakhir membunuh Legend Aura itu. Habis itu…” saat Midnight menutup matanya, sosok gadis berambut merah ikal muncul dalam kegelapan. Benar, setelah fantasi ini selesai, Midnight harus menyelesaikan masalahnya dengan perempuan itu.


Terus terang, menyelesaikan masalah yang ada di dunia nyata tidak semudah menyelesaikan masalah yang ada di fantasi. Jika di fantasi tidak masalah bagi mereka mengandalkan kekuatan magis dan juga kekerasan, maka di dunia nyata, Midnight harus pintar-pintar mencari solusi. Apalagi jika konflik itu sampai melibatkan orang lain.


“Cih! Kenapa mereka mencariku?” gumam Midnight setelah itu membanting ponselnya ke pasir lalu meninggalkannya begitu saja.


Daripada memikirkan masalahnya di dunia nyata, lebih baik bersenang-senang dengan Chloe dan yang lainnya.


Di bawah teriknya sinar matahari, Midnight meringis, merasakan nyeri di kepalanya. Mungkin faktornya karena terlalu banyak berpikir dan lupa beristirahat.


Midnight mengeluarkan ponselnya yang lain, sekedar melihat jam. Sinar matahari membuat layarnya menjadi silau. “Astaga… Bateraiku tinggal empat puluh?”


“Ada apa Midnight?” tanya Kenzo yang kebetulan lewat. Pria itu membawa pelampung bebek beserta peralatan untuk berenang lainnya. Kenzo memiringkan badannya bermaksud ingin menatap wajah Midnight yang tertunduk menatap ponselnya.


“Bukan apa-apa. Cuma, biasalah… Masalah pribadi,” balas Midnight terkekeh.


“Hm, yang kemarin itu ya?”


Midnight mengangguk. Tapi tak lama, wanita itu segera mengalihkan perhatian Kenzo dengan mengarahkan telunjuknya ke lautan. Ada Jacqueline dan Okka disana. Kedua remaja itu bermain voli sambil mengapung menggunakan pelampung bebek.


“Tadi Okka memanggilmu,” bohong Midnight.


“Eh? Masa sih?” Kenzo membelalak tak percaya. Pria itu melirik ke arah Okka lalu kembali ke Midnight yang tersenyum tipis.


Merasa yang dikatakan Midnight itu benar, Kenzo tanpa pikir panjang segera berpamitan dan berlari kecil menghampiri sepasang gadis yang bermain voli itu.


Kenzo sudah siap sekarang, Midnight beralih mencari Ethan. Sedari tadi, pria itu tidak menampakkan batang hidungnya di depan Midnight. Lantas, kemana saja pria itu?


Midnight pun terpaksa membuka ponselnya, mencari kontak Ethan, kemudian menelpon pria itu. Dia tidak peduli mau sampai lima belas bahkan dua puluh kali spam, yang penting, pria itu mengangkat panggilannya. Sungguh, Midnight benci dengan pria yang lama menjawab telepon darinya. Tak peduli seberapa tua usianya dan setinggi apa derajatnya, asalkan panggilannya diangkat dan urusannya terselesaikan.


Mengingat beberapa hari yang lalu Ethan menghilang dan membuat Midnight harus membagi kelompok menjadi dua.


“Midnight, kau sendirian?”

__ADS_1


Suara seorang pria muncul dari belakang Midnight. Otomatis, Midnight menoleh ke belakang dan rupanya Megawave. Aura itu berdiri tak jauh dihadapannya membawa es kepal kesukaannya.


“Kan udah jelas di matamu aku lagi sendirian,” respon Midnight jutek. Atau lebih tepatnya, suasana hatinya sedang tidak bagus saat ini.


“Maaf, aku Cuma mau berbasa-basi aja. Habisnya, kita udah lama nggak ketemu. Kau juga nggak banyak berubah kecuali…” Megawave menjeda kalimatnya karena ragu jika kalimat selanjutnya besar kemungkinan bisa membuat Midnight tersinggung. Kerutan di wajahmu. Begitulah… Tapi untungnya, Megawave bisa mengerem kalimatnya dan dengan bijak mengubahnya menjadi “Kacamatamu.”


Midnight mendengus, “Kacamataku yang lama pecah. Untung masih ada stoknya. Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak gabung sama mereka? Itu lagi pada mau naik perahu,” tanya Midnight bersama Megawave mengamati remaja-remaja yang berdayung bebas sambil menyanyikan lagu kebangsaan mereka yang tidak jelas liriknya.


Megawave mendengus geli melihat tingkah manusia-manusia itu. “Nggak dulu deh.”


“Lah? Bukannya dulu kau suka?”


“Dulunya suka, tapi kalau sama Aoi aja. Aku kesini karena ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Ini sangat penting, jadi mohon dengarkan baik-baik,” jelas Megawave yang dengan cepat ditanggapi Midnight dengan baik.


Seluruh perhatian Midnight seketika mengarah ke Megawave. Bukan lagi ke gerombolan remaja yang waktu itu tengah mengalami insiden berupa perahu mereka yang terbalik karena kesalahan salah satu anggotanya.


“Apa itu, Megawave?”


“Soal ritual. Kau akan menjalankan ritualnya kapan?”


“Begitu ya. Hm, kau udah baca aturannya?”


Midnight mengernyit. “Udah kok. Kenapa sih?!”


“Bukan. Kau tahu? Kalau di buku ritual yang kau baca, di halaman terakhirnya ada beberapa resiko yang wajib kau ketahui sebelum memulai suatu ritual. Aku yakin, bagian itu pasti belum kau baca,” tebak Megawave curiga. Karena dia tahu, meskipun tidak kenal dekat, dia tahu sifat ceroboh Midnight dari gadis berambut merah ikal itu.


Megawave tak akan pernah lupa dengan mulut cerewet gadis itu yang hampir setiap harinya mengatakan kalau dirinya sangat merindukan sosok sang kakak yang hangat, lembut, ramah, dan ceroboh. Kakaknya itu tak lain adalah Midnight sendiri. Sayang sekali mereka harus terpisah lantaran masalah perbedaan perlakuan.


“Aku itu manusia. Ya, wajar dong kalau lupa. Namanya juga lagi banyak masalah! Belum lagi sama anggota kelompokmu yang hampir semuanya keras kepala. Apa nggak pecah kepalaku tiap kali mikirin masalah ini, itu, ini, dan itu?!” protes Midnight. Selang beberapa menit kemudian, terdiam sambil kembali memikirkan kata-kata Megawave barusan.


Memang benar yang dikatakan Aura bertopeng visor itu. Dirinya sama sekali tidak membaca resiko dari ritual yang ia pilih itu. Sudah jelas bukan? Yang namanya ritual pasti tidak asing dengan istilah tumbal. Intinya, harus ada yang Midnight korbankan atau justru ritual itu akan berdampak bagus untuk hal lain tapi berakhir buruk pada orang yang menggunakan ritual tersebut. Midnight menepuk jidatnya.


Benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran sama akibatnya ya? batin Midnight.


Di saat bersamaan, angin bertiup kencang menggoyangkan syal Megawave yang melayang di atas pundaknya. Aura itu diam sambil menyesuaikan dirinya dengan kesunyian. Dia paham dengan situasi dan suasana hati Midnight saat ini.


Dari luar, wanita itu terlihat biasa saja dan hobi sekali menyindir orang dengan serangkaian kata-kata pedas miliknya. Akan tetapi, dari dalam dirinya, Midnight itu wanita yang baik, ramah, lembut, dan ceroboh. Persis yang dikatakan gadis berambut ikal merah itu. Selain masalah dunia nyata, Midnight juga bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah di dunia Carnater. Padahal, dunia itu bukanlah tempat dirinya lahir, melainkan tempat kelahiran mendiang suaminya.

__ADS_1


Midnight jadi terlibat sana-sini sejak dirinya menginjakkan sepatunya ke dunia fantasi tersebut. Kemudian, kehadiran Carmine yang Midnight sayangi malah mempersulit Midnight.


Meskipun dekat, Midnight dan Carmine tetap saja memiliki beberapa ketidakcocokan satu sama lain. Seperti Midnight yang bukan tipe pendendam sedangkan Carmine adalah type tersebut.


Karena dendam Carmine yang menginginkan keluarga Yuuki Ogata tewas ditangannya, Midnight jadi terlibat ujung-ujungnya. Miris sekali Midnight waktu itu. Akan tetapi, di sisi lainnya, Midnight masih mendapatkan keberuntungan berupa Megavile. Mereka sangat menyayangi Midnight layaknya orang tua mereka sendiri.


“Midnight, aku tahu kau sedang kesulitan saat ini. Tanggung jawabmu besar dan banyak. Karena itulah, aku ingin membantumu. Aku juga janji, nggak akan memberitahu Afra dimana kau tinggal saat ini,” ungkap Megawave setelah sepersekian menit berpikir untuk menghibur Midnight.


Aura bertopeng visor itu membalikkan seluruh posisi tubuhnya berhadapan dengan Midnight. Kemudian, dalam diam menggenggam kedua tangan Midnight.


“Untuk resikonya, biar aku yang tanggung. Kau jalani saja ritual itu sampai selesai, oke?” katanya.


Midnight terenyuh mendengar kalimat Megawave. Cepat-cepat, dia memalingkan wajahnya ke arah lain sebab tidak ingin air matanya sampai keluar membasahi pipinya. Terus terang, beban yang Midnight pikul ini hampir semuanya berasal dari orang lain. Orang lain membuat ulah, sementara Midnight terpaksa mati-matian mencari solusi agar bisa menikmati kehidupan yang normal selayaknya manusia pada umumnya.


Semua ini tak akan terjadi jika Midnight tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Semua ini tak akan terjadi jika Midnight tidak bertemu dengan mendiang suaminya.


Semua ini tidak akan terjadi jika Midnight lebih memilih makan malam ketimbang menyelamatkan Carmine yang hendak mencelakai dirinya.


Empat belas tahun lamanya dan yang Midnight dapatkan hanyalah penderitaan, kesepian, kelelahan, dan juga masalah yang kian menumpuk.


Tapi hei, semua yang telah ia lewatkan itu tidak buruk juga bukan? Semua rasa lelah itu pasti memiliki obat penawarnya, yaitu teman.


Iris sebiru malam itu melirik ke gerombolan remaja yang akhirnya berhasil membalikkan perahu mereka yang terbalik. Tampak jelas, Black Aura kelihatan sangat bekerja keras membalikkan perahu itu sebab, Cuma dia satu-satunya yang bisa berdiri di atas air. Sisanya berendam di air laut sambil menertawakan sesamanya yang basah kuyup tak karuan bentuknya.


Benar, aku nggak sendirian…


“Megawave… Makasih… Makasih udah mau memahamiku meskipun semuanya…”


“Ssstt! Lupakan masa lalu. Aku seperti itu karena aku tahu betapa sulitnya menanggung semua beban yang orang lain ciptakan, bukan?”


“Iya… Aku sebenarnya lelah. Nggak keberatan kan, kalau aku begini?” tanya Midnight sambil mendekatkan dirinya dalam dekapan Megawave.


“Nggak papa kok. Santai aja!” Megawave membalas perkataan Midnight dengan lembut bersamaan dengan kedua tangannya yang memeluk erat wanita berkacamata bulat itu. Dunia serasa milik mereka berdua. Suara kelapa jatuh pun tidak dihiraukan sama mereka. Yang penting, keduanya nyaman dengan posisi yang telah mereka rangkai itu.


~

__ADS_1


__ADS_2