Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 176 {Season 2: Resiko}


__ADS_3

Usai lima menit membeku sambil mendengar ceramah dari Midnight, Chloe, Jacqueline, dan Okka akhirnya dibebaskan Midnight untuk memasak makan malam. Mengingat sore ini semakin gelap dan langit malam hendak mengambil alih dunia.


Midnight membuka pintu dapurnya yang sudah tahu sambil berbincang ringan mengenai peralatan masak dan bahan-bahan yang boleh digunakan tiga gadis itu untuk memasak. Memang semua bahan dan peralatan masaknya lengkap, hanya saja, ada beberapa dari benda-benda itu milik mendiang suaminya. Seandainya salah satu barangnya pecah, perang dunia ketiga pun akhirnya meledak.


“So, guys… Disini aku Cuma memperbolehkan kalian menggunakan peralatan masak yang sudah kusediakan di atas meja. Bahan-bahannya juga. Tema makan malam kita hari ini adalah seafood. Kalian semua pernah makan atau masak seafood, kan?” tanya Midnight sekedar memastikan siapa dari ketiga gadis itu yang mungkin bisa diandalkan untuk memasak bersamanya malam ini.


“Aku pernah!” Chloe mengangkat tangannya. Disusul dengan Okka.


Sementara Jacqueline hanya nyengir lebar sambil berkata, “Aku yang buat minumannya ya!”


Midnight tersenyum mengangguk. Kemudian, wanita itu berjalan pelan menghampiri enam piring yang di atasnya terdapat tuna berukuran besar. Dia raba tuna itu seraya mencium bau amis ikan tersebut.


“Terserah kalian mau apakan tuna ini. Mau jadi sushi, sashimi, atau dipanggang… Intinya, masaknya gampang buat kalian bertiga. Btw, aku pergi dulu ya! Maaf, aku nggak bisa bantu kalian memasak karena aku ada urusan penting dengan Megawave. Bye!” pamit Midnight diakhir dengan pintu dapur yang tertutup sangat keras di hadapan mereka semua. Getarannya nyaris saja menjatuhkan mangkok kaca yang berdiri di pinggiran meja.


“Bilang aja mau kabur…” cibir Jacqueline selang beberapa menit suara langkah kaki Midnight semakin samar di telinganya.


“Hush! Nggak sopan sama dosen!” serbu Chloe yang merasa tidak sependapat dengan perkataan Jacqueline barusan.


Berbeda dengan Jacqueline, Okka memilih untuk langsung memasak. Bermodal tutorial memasak di youtube, gadis itu mulai mempraktekkan cara orang yang berada di dalam video itu cara membuat sushi.


Dari menit pertama hingga akhir, Okka mengikuti semua langkah-langkah yang diperlihatkan orang tersebut.


Puas dengan perdebatan sepele mereka, Chloe dan Jacqueline segera menghentikan aksi  tak berguna itu ketika pandangan mereka secara tidak sengaja tertuju ke arah Okka yang tampak menikmati kegiatannya saat itu. Yaitu, membuat sushi. Untunglah, Midnight menyediakan rumput laut dan beberapa bahan sushi lainnya. Lengkaplah pokoknya.


Okka sambil menggulung sushi, pandangan Okka tak sengaja melirik ke arah Jacqueline dan Chloe yang tidak disangkanya sedari tadi memperhatikan kesibukannya dalam diam.


“Apa? Kok diam aja sih, kalian? Bantuin kek!” protesnya.


“Eh? I-iya!”


Buru-buru, Chloe dan Jacqueline langsung membantu Okka. Mereka berdua bahkan tak perlu berdiskusi satu jam untuk berbagi tugas. Masing-masing sudah mengetahui tugas mereka dalam memasak tuna tersebut agar menjadi makan malam yang layak untuk mereka santap bersama-sama.

__ADS_1


Saat sedang mencuci ikan, mendadak, Chloe terbayang wajah datar Black Aura. Baru sekarang, hatinya merindukan Aura tersebut.


Tangan Chloe berhenti seketika. Dia diam sambil merangkai puluhan cara yang akan digunakannya untuk memulai pembicaraan dengan pacar itu. Seharian diabaikan karena kehadiran Ethan. Dan ujungnya, Chloe menyesal karena dirinya telah mengulangi kesalahan yang orang lain perbuat.


Chloe benci diabaikan, yah itu memang fakta. Akan tetapi, tanpa disadarinya, dia justru melakukan hal yang sangat dia benci itu.


“Hah… Fokus, Chloe! Kau harus memasak hidangan yang enak untuk Black Aura! Harus!” tegasnya kepada dirinya sendiri.


Merasa tuna yang ia cuci sudah bersih, Chloe beralih ke meja makan dan menyerah tuna-tuna itu pada Okka. Okka bertugas menggulung sushi. Sedangkan Jacqueline bertugas membuat minuman. Persis seperti yang gadis itu katakan sebelumnya.


“Kau bikin minum apa, Line?” basa-basi Okka agar suasana di sekitarnya tidak begitu kaku sebab, hampir lima menit lebih tidak ada satupun dari mereka yang buka suara.


“Apa, ya? Kalian semua kedinginan nggak? Tadi sore kan, kita habis berenang. Gimana kalau minum jahe aja?” usul Jacqueline.


“Tapi jangan lupa kasih gula lho! Kalau sampai lupa, entar kulempar jahenya ke mukamu. Biar tahu rasa,” gurua Okka diakhiri dengan tawa jahilnya.


Mendengar gurauan Okka tadi, Chloe hanya bisa menanggapinya dengan geleng-geleng kepala dan tertawa kecil. Dia tidak menyangka kalau Okka dan Jacqueline akan sedekat ini. Ditambah lagi dengan Okka yang merupakan youtuber  kesukaan Chloe. Jujur saja, Chloe senang sekali bisa berkumpul dengan orang-orang seperti mereka.


“Halo, Ao! Kalian mau minum apa? Dingin atau panas?”


Di seberang sana, Aoi membalas pertanyaan Chloe. “Dingin.”


“Yang cowok minta dingin,” lapor Chloe, setelah itu langsung mematikan panggilannya dengan Aoi.


“Oke!”


Tanpa pikir panjang, Jacqueline segera mengambil semangkok es batu di atas meja. Kemudian, menuangkannya ke dalam teko disusul dengan sirup berperisa jeruk.


“Siap!”


“Sushi-nya juga!”  timpal Okka, memperlihatkan piringnya yang sudah dipenuhi puluhan sushi hasil dari kerja kerasnya dengan Chloe.

__ADS_1


~


“Jadi, ritual yang kau pilih ini punya dua resiko dan kau harus memilih salah satunya,” tutur Megawave, menutup buku ritual yang ia temukan di salah satu rak membaca di perpustakaan Midnight.


Dari luar, Midnight melangkah menghampiri Megawave yang duduk di kursi membaca. Midnight duduk di sampingnya, seraya menarik buku tua tersebut. Ia membuka kembali buku itu lalu membaca isi halaman yang Megawave maksud.


“Ada dua ya? Yang pertama, Aura yang bereinkarnasi menjadi orang lain akan kembali ke wujud aslinya. Akan tetapi, ingatannya semasa dirinya menjadi manusia lenyap tak bersisa. Wah sayang sekali…” komen Midnight sedih. Tak lama kemudian, dia membuka halaman selanjutnya yang menjelaskan tentang resiko kedua dari ritual yang ia pilih.


Sebenarnya, ritual itu Midnight pilih tanpa adanya pertimbangan. Wanita itu  main pilih karena saat itu kepalanya sudah cukup pusing memikirkan masalah-masalah yang bertumpuk di dalam kepalanya.


“Yang kedua… Pilih satu orang untuk dihapus ingatannya tentang dunia Carnater?” Midnight melirik ke arah Megawave disertai tatapan tidak mengerti.


Mengetahui raut tersebut. tanpa disuruh pun, Megawave langsung menjelaskan maksud dari resiko kedua.


“Karena manusia yang akan menjalankan ritual tersebut, salah satu dari manusia itu harus dihapus ingatannya tentang Aura, pengalamannya bersama Aura itu, insiden-insiden yang disebabkan fantasi, dan juga dunia Carnater. Kau pasti nggak mau kan ingatan mereka dihapus? Terlebih lagi, ikatan mereka dengan Megavile sudah sejauh ini,” jelas Megawave.


“Kau benar. Tapi, kalau ritualnya nggak segera kita jalankan, maka dunia Carnater ini… Kau pasti rindu keluargamu juga kan?”


Megawave tidak merespon. Dari tingkahnya itu saja, Midnight sudah menebak dengan jelas jawaban Aura bertopeng visor itu. Dia paham. Banyak sekali warga Carnater yang mengenal dan juga menyayangi Megawave.


Mereka semua selalu menyambut kehadiran Aura bertopeng visor itu dengan senyuman hangat. Kehangatan itulah yang hingga detik ini berbekas di ingatan Megawave.


“Ritualnya tetap kujalani dan aku pilih resiko yang pertama,” ucap Midnight penuh keyakinan.


“Karena resiko pertama, ketiga remaja itu sudah jelas nggak ada hubungannya sama Carnater,” komen Megawave.


Midnight membalas komentar Aura itu dengan senyuman.  “Besok, kau mau kan membantuku?”


“Tentu, dengan senang hati.”


~

__ADS_1


__ADS_2