
“Kau yakin, Devil Mask nggak bakal marah soal kakinya yang patah?”
Chloe yang ragu dengan ide nakal Black Aura yang berniat memindahkan rasa sakit kaki kanannya yang patah ke kaki kanan Devil Mask.
Saat ini, Black Aura hanya bisa mengira-ngira kesibukan apa saja yang dilakukan Aura bertopeng itu di hari senin. Memang, Devil Mask selalu sibuk dengan berbagai urusan termasuk mencari hilangnya Elena dan menjaga Rara yang saat ini sendirian di rumahnya.
Saat mendengar keseharian Devil Mask yang hampir separuhnya sibuk, Chloe jadi merasa prihatin dengan Devil Mask yang tidak memiliki waktu untuk bermain. Ditambah lagi dengan Jacqueline yang sudah memiliki pasangannya, Aoi.
Besar kemungkinan, Devil Mask merasa antara sedih dan tidak enak hati ingin bermain dengan Jacqueline lagi. Dan sekarang, Black Aura malah membebankan Aura bertopeng itu dengan menanggung rasa sakit dari kaki kanannya yang patah. Jujur, menurut Chloe keterlaluan. Tapi yah, karena Devil Mask memiliki regenerasi yang cepat, mungkin tak masalah baginya.
“Jangan khawatir, dia orang yang tenang kok. Santai aja…” ucap Black Aura santai. “Btw, kita mau buat apa buat makan malam nanti?”
Chloe yang sibuk mengetik itu berhenti sejenak dari aktivitasnya. Makan malam ya? Sekarang masih jam satu siang. Chloe menoleh ke sekitarnya yang ramai akan ratusan mahasiswa yang berlalu lalang membawa pikiran mereka yang sibuk itu.
“Kentang goreng aja kali.”
“Oke.”
“Oh, ya, aku pulang sore lho. Kau nggak bosan tunggu disini? Nggak malu diliatin orang banyak?” tanya Chloe yang baru saja ingat kalau hari ini dia harus menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya bersama dua sahabatnya.
Sejenak, Black Aura berpikir. Manik violetnya mengarah keatas seolah sedang mempertimbangkan banyak hal. Membayangkan dirinya tinggal seorang diri di rumah Chloe, rasanya agak aneh meskipun dirinya hanya sebatas menjaga rumah pacarnya dan menunggu pacarnya pulang dari kampus.
“Kalau aku di rumah… Takutnya aku dikira maling sama tetanggamu,” ujar Black Aura.
“Ya, nggak mungkinlah. Kau tahu rumah kiri-kananku itu? Mana ada tetangga disana. Komplek rumahku itu bisa dibilang sepi. Paling yang ramai yang bagian ujung sana. Udah… Intinya, aku minta tolong jagain rumahku. Takut kemasukan maling aja.” Sangkal Chloe sambil membujuk Black Aura agar mau menjaga rumahnya tanpa harus berpikiran negative tentang penampilannya.
“Hm, okelah. Jadi, aku pulang sekarang?” tanya Black Aura lagi. kali ini sekedar memastikan saja.
“Terserahmu, deh,” gurau Chloe.
“Oke…” Black Aura diam di tempat bangkunya. Bengong memandang kerumunan remaja yang sedang membawa buku sambil berbagi candaan mereka satu sama lain.
Hmm… Bukannya ini sama artinya dengan dia menungguku sampai sore? Batin Chloe heran.
~
Midnight meneguk setengah gelas es teh lemonnya. Sambil menunggu waktu pulang tiba, wanita itu membereskan beberapa barangnya seperti buku, peralatan tulis, dan benda elektronik lainnya. Sunyi, diam, dan dingin ruang kantor itu. Hanya Midnight seorang yang menempatinya karena dosen yang lain tengah sibuk beraktivitas di luar bersama mahasiswa lainnya.
Yah, santai saja. Tidak ada yang membosankan dari sendirian selagi ada aktivitas yang bisa Midnight kerjakan. Midnight menatap ponselnya yang mati. Ponsel itu sengaja dia matikan lantaran tidak ada notifikasi penting yang ia terima dari mahasiswa ataupun orang-orang terdekatnya.
Langit sore yang menenangkan. Dimana para burung berterbangan mencari rumah mereka setelah menghabiskan pagi dan siang mereka dengan mencari makanan. Hawa dingin yang perlahan-lahan mulai mendominasi kota dan dengan lembutnya menyingkirkan hawa panas dari sang mentari yang tak lama lagi akan tenggelam.
__ADS_1
Tinggal menunggu satu jam menuju jam enam, saat itulah bulan menggantikan pekerjaan matahari bersama dengan pasukan malam lainnya.
Midnight menarik nafas, kemudian membuangnya pelan. Tak ada yang menarik dalam hidupnya selagi Legend Aura tidak mencari masalah.
“Elena… Atau yang sering disebut Minji oleh Rara. Cih, merepotkan. Mending dari awal kalian nggak usah bantu aja aku,” gumam Midnight kesal. Kata-kata itu sudah kelima kalinya terucap di mulutnya.
Midnight menoleh ke jendela yang menampilkan pemandangan langit malam. Tidak ada yang salah disana. Tenang dan hanya ada bintang meskipun bagian bawah langit sedikit oranye lantaran matahari baru saja terbenam.
Sebenarnya, Midnight ingin menyempatkan dirinya ke rumah Chloe. Yah, sekedar mengobrol dan menjadi lebih dekat dengan gadis itu. Ditambah lagi, Chloe saat ini adalah pacar Black Aura. Tentu saja, Midnight tidak bisa membiarkan fakta itu hanya sebatas angin di telinganya.
Sebagai seorang mama dan ibu dari mereka, Midnight akhirnya bangkit dari kursinya. Kemudian mengunci pintu dan keluar dari kampus dengan mengendarai mobil pribadinya.
Tiba-tiba, terlintas di benaknya tentang alamat rumah Chloe. Midnight menghentikan paksa mobilnya di depan minimarket. Dia membuka ponselnya dan langsung menelpon Chloe.
~
“Black Aura, kenapa Midnight tiba-tiba menelponku?” tanya Chloe sambil memperlihatkan nama kontak Midnight pada Black Aura.
“Entah. Angkat aja kali,” jawab Black Aura kembali mengunyah kentang goreng yang baru saja Chloe goreng.
“Baiklah… Aura, tolong matikan kompornya. Kalau haus, aku ada jus jeruk di kulkas. Ambil aja. Jangan sungkan,” jelas Chloe melangkah cepat keluar dapur menuju ruang tamu.
“Halo?”
“Halo, Chloe. Kau dimana?”
Chloe mengernyit. Seintens itukah wanita itu bertanya. “Hm, di rumah. Ada apa, Midnight? Kedengarannya penting sekali?” tanya Chloe. Di saat bersamaan, gadis itu melirik ke jendela ruang tamunya dan mendadak, dirinya dikejutkan oleh siluet orang yang sedang berdiri tepat di depan jendela ruang tamunya dengan tangan kanan yang menggenggam kapak. Dari bayangannya, sepertinya orang itu seorang pria.
Chloe menelan salivanya dalam diam. Di sisi lain juga sambil mendengarkan beberapa perkataan Midnight.
“Hm, jadi begini… Yah, kau Cuma mau mampir dan kebetulan, aku bawa cemilan banyak ini. Kau keberatan kalau aku ke rumahmu sekarang?”
“Eh? Boleh-boleh… Tapi, Midnight… Tunggu dulu!” seru Chloe sedikit berbisik. Posisi gadis itu sekarang berada di dapur bersama Black Aura yang sedang menata beberapa kentang goreng di atas piring.
Sambil menunggu kekasihnya menelpon ibu mertuanya… Ehem.
“Kenapa? Kalau kau sibuk, bi…”
“Aku nggak sibuk, Midnight. Hanya saja, di depan rumahku ada pria misterius mengintip dari luar. Dia bawa kapak besar. Aku takut dia maling yang kemarin Black Aura pindahin itu,” jelas Chloe. Tanpa ia sadari, Black Aura ternyata mendengar omongannya dan otomatis menghentikan aktivitas menata kentang goreng, lalu beranjak ke ruang tamu, namun ditahan oleh Chloe.
“Aura, kau mau kemana?” lirih Chloe.
__ADS_1
“Kau bilang, ada orang misterius di luar?” respon Black Aura.
“Ssshh! Biarin aja! Kau disini dapur aja, urusin makan malam!” bisik Chloe. Gadis itu bahkan sampai repot-repot bangun dari kursi dan mendorong Black Aura kembali ke meja makan. “Cepat tata kentang gorengnya! Mau kupost di ig!” perintahnya kemudian lanjut menelpon Midnight.
“Anu, maaf tadi ada gangguan. Pokoknya, jangan hari ini! Aku takut kau kenapa-kenapa, Midnight.”
“Kenapa-kenapa? Justru kau yang kenapa-kenapa. Coba kau foto dari jendela kamarmu? Masa kalian berdua nggak ada yang nyadar atau dengerin gitu suara mobil lewat?” diseberang sana, Midnight protes.
Dan Chloe hanya bisa menghela nafas berat. Mengintip dari jendela itu justru lebih menyeramkan dari mengintip secara tak sengaja lewat jendela ruang tamu. Akan tetapi, demi keselamatannya, Chloe mau tak mau menuruti omongan Midnight.
Gadis itu segera beranjak dari dapur menuju kamar tidurnya. Tanpa ia sadari, Black Aura ternyata diam-diam mengekornya dari belakang.
Sesampai di kamarnya, Chloe menyingkirkan sedikit gordennya kesamping. Dari celah kecil itu, Chloe bisa melihat dengan jelas sosok pria bertopeng aneh pas menatap kearah jendela kamar dimana dirinya saat ini sedang menatap pria itu.
Chloe tersentak dan terjatuh menghantam Black Aura. Untunglah, Chloe tidak mengalami luka cedera atau rasa nyeri apapun di punggungnya. Semuanya berkat Black Aura yang telah melindunginya secara tidak sadar.
“Woah! Aura? Ngapain kau disini?” kaget Chloe meskipun dalam hatinya merasa bersyukur karena sudah dilindungi dari rasa sakit.
“Aish, sakit… Ya, menjagamu dong. Aku nggak bisa membiarkanmu mengintip sendirian!” ungkap Black Aura.
“Iya deh… Makasih udah lindungi aku.”
“Sama-sama,” Black Aura tersenyum hangat.
“Chloe?”
“Eh sorry, Midnight! Tadi abis jatuh!” celetuk Chloe kembali ke topic sebelumnya.
“Nggak papa. Jadi, bagaimana hasilnya?”
“Orang itu melihat kearah jendela kamarku, Midnight! Gimana ini? Aku nggak mau melibatkan Black Aura. Dia yang sekarang manusia,” beber Chloe tidak sengaja dirinya telah membocorkan spesies Black Aura yang berubah.
“Apa? Manusia? Yang benar?”
“Heh?” Black Aura terbelalak.
Gadis berambut pirang yang sedang menelpon itu ikutan terbelalak, kemudian, reflex menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Astaga… Aku keceplosan…”
~
__ADS_1