Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 67 (Minggu Sembilan Jam yang Lalu )


__ADS_3

“Wah, apalagi ini?” tanya Dark Fire menyambut


kehadiran musuhnya yang sudah berdiri tegap di samping Midnight. "Hoh? Musuh lama rupanya.”


“Eh? Jangan-jangan, dia ini Silentwave?” tebak


Aoi ragu.


Midnight menatap heran, “Kau tau dari mana kalau dia ini Silentwave? Jangan bilang, kau ini musuh?” tukasnya.


“Mana ada! Aku Aoi! Bukan Legend Aura!” Sangkal Aoi cepat.


Mindight terkekeh dan tidak terlihat curiga lagi.


Saat ini, Aoi masih terpaku pada Aura yang baru


saja keluar dari lengan kemeja Midnight. Jadi, dia yang selama ini dibicarakan Devil Mask, toh. Kukira, penampilannya sama seperti Aura dan Devil Mask.


Sesuai yang dilihatnya, Aura yang satu ini sangat berbeda dari yang ia kenal. Hampir seluruh tubuhnya berwarna hitam dan terlihat seperti cairan hitam yang hidup. Tapi, aslinya memang hidup karena dia bernyawa.


“Oh, ya, Midnight."


Midnight mendongakkan kepalanya menyadari namanya dipanggil. "Apa?"


Dark Fire terkekeh, "Nggak ada... Aku cuma mau bilang, kalau kau ingin menjalani hidup normal dan semua masalah ini selesai, kenapa nggak langsung saja menghampiri Yuuki dan menjadi istrinya? Kau tahu? Yuuki itu sangat mencintaimu. Kesehariannya ia penuhi dengan memikirkanmu. Dia juga merancang sedemikian rupa masa depan yang cerah jika dirinya sudah berhasil meraih hatimu.” Ucap Dark Fire yang belum meluncurkan serangan apapun.


Tidak tahu apa yang direncananakannya. Tapi, Aura itu sepertinya sedang mengisi energinya sebelum pertarungan menghampirinya nanti.


Midnight tertawa pahit, “Cih! Siapa juga yang mau menikah dengannya? Kau pikir, aku ini perempuan bodoh apa? Menikah dengan orang


yang membunuh suami dan juga adikku? Asal kau tahu saja ya! Harga diriku lebih tinggi dari


cintanya yang menjijikkan!” cibir Midnight menyeringai.


“Asal kau tahu saja, aku nggak akan pernah memaafkan perbuatannya di masa lalu. Tidak peduli sebesar apa cintanya, aku tetap tidak akan menikahinya dan memaafkannya!” tegas Midnight.


Setelah mengucapkan apa yang ada di dalam


hatinya, Midnight menapakkan sepatunya keras dan berlari ke arah Dark Fire. Dengan katana yang masih ia genggam itu, dia menebas Dark Fire sampai serangannya itu benar-benar memberi Aura itu bekas luka yang dalam.


Dark Fire meringis kesakitan menahan sakit. Dia baru ingat kalau, lawannya adalah manusia. Oleh karena itu, damage yang ia dapat benar-benar menyakitkan. Meskipun Midnight menggunakan katana milik anaknya yang bukan manusia.


Midnight menarik katananya lalu, menyandung kaki Dark Fire hingga Aura itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam tanah yang kotor.


"Aoi, pergilah dari sini!" teriak Midnight yang sibuk menahan Dark Fire dengan katananya.


"Eh? Nggak! Aku harus membantumu!" Aoi langsung menolak mentah-mentah. Mengingat dirinya adalah laki-laki dan dia akan merasa sangat malu jika dia membiarkan perempuan seperti Midnight melindunginya.


Midnight memutar malas bola matanya, "Terserah kau saja. Oi, Silentwave!"


Silentwave menyahuri panggilan ibunya, melirik cepat ke arah Midnight.


"Berikan dia sesuatu!" perintahnya.


Aura itu mengangguk. Kemudian, dia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku mantelnya.

__ADS_1


Aoi yang penasaran, sampai menelengkan kepalanya.


Sebuah pistol. Tapi, warnanya hitam pekat. Aoi melongo keheranan pada pistol itu.


"Ambil itu!" seru Midnight yang semakin kesulitan menahan Dark Fire yang memberontak.


"Ba-baik!" Aoi segera merampas pistol tersebut. Tanpa pikir panjang, dia mengarahkan ujung pistolnya ke arah Dark Fire dan menarik pelatuknya.


Tiga peluru berhasil melukai mundak Dark Fire. Meskipun ada satu yang melesat mengenai kaca jendela di belakang Midnight.


"Bodoh! Aku nggak menyuruhmu menyerang!" sentak Midnight.


"Eh? Ma-maaf! Nggak sengaja..." Ujar Aoi lirih.


Dark Fire yang sedari tadi merasa sesak dan kesakitan, menjadi hilang kesabarannya. Aura itu mengeluarkan lengan ogre peninggalan Dark Sport dan meninju Midnight hingga membuatnya terpental menabrak rak buku tua.


Aoi terbelalak melihat pemandangan itu. "Astaga! Midnight!"


"Nah, sekarang giliranmu, bocah!"


Tanpa pikir panjang, Dark Fire meluncurkan beberapa bola api yang ia gunakan untuk menyerang Aoi. Bola apinya seperti memiliki kemampuan navigator, dimana mereka mengejar Aoi yang sudah dikunci sebagai target.


"Itu bola apinya mengarah ke aku, ya?"


Silentwave menepuk jidatnya. Remaja di sampingnya ini memang agak lama connect-nya. Padahal sudah jelas-jelas sekumpulan bola api itu mengarah padanya tapi, dia masih saja diam di tempat. Oleh karena itu, Silentwave mendorong Aoi dan memberinya isyarat untuk kabur lewar gerakan tangannya.


Oh, dia nggak bisa ngomong, rupanya.


Aoi langsung mengerti maksud gerakan tangan itu. Tanpa pikir panjang, berlari meninggalkan Silentwave sambil mencari tempat yang pas agar dirinya bisa menyerang balik kumpulan bola api tersebut.


"Apa?! Jam sebelas?! Astaga... Aku belum makan siang." Keluhnya sambil mengelus-elus perutnya.


"Ini gila. Aku nggak percaya, anaknya bukan manusia." Gumam Aoi. Tanpa sadar, dirinya lagi-lagi mengalami kesialan. Kakinya tersandung oleh bongkahan batu dan berakhir menghantam lantai dagunya. Sakit. Itulah yang dirasakan pria jepang itu.


"Aih! Sakit!"


Aoi meringis kesakitan sambil berusaha untuk berdiri kembali. Sebetulnya, Aoi ingin membantu Midnight. Wanita itu sudah melindunginya dengan tidak melibatkan Aoi dalam pertarungannya. Tak hanya itu, Midnight juga meminjamkannya pistol yang Silentwave buat untuknya.


Aoi heran dengan anaknya, Silentwave. Makhluk itu sama sekali tidak bersuara. Aoi hanya mendengar suara dari keheningan selama berada di samping Silentwave.


Sekilas, Aoi melihat Midnight yang agak sempoyongan berdirinya. Tak lama kemudian, dia kembali menghajar Dark Fire. Kali ini, Midnight tidak sendiri karena, Silentwave membantunya.


"Aku harus membantunya!" pikir Aoi. Kemudian, dia menangkis beberapa bola api dengan menghempaskan kain gorden yang ia temui, tergeletak di bawah jendela.


Ketika Aoi sedang menuruni tangga, dia dikejutkan oleh Midnight yang terjatuh menabrak meja di lantai bawah. Posisi Midnight tak jauh Aoi yang sebentar lagi akan sampai ke anak tangga paling bawah. Karena lemparan itu cukup kuat, meja itu sampai terbelah dua. Otomatis, Aoi mempercepat langkahnya, lalu menghampiri Midnight.


"Astaga! Midnight!" serunya. Wajar jika Aura yang diperlakukan seperti itu. Lah, ini manusia.


Dasar, Legend Aura memang nggak punya hati sama sekali! Aoi membatin kesal.


Midnight terlihat menahan perih usai punggungnya menabrak meja. "Aku nggak papa... Cuma nyeri aja." Katanya.


"Ha? Nyeri kau bilang? Jangan bercanda! Anak kecil saja menangis melihatmu seperti ini!" omel Aoi.


"Ah, kau ini berisik sekali! Yang namanya bertarung pasti ada sakitnya." Balas Midnight dengan raut malasnya. Wanita itu kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk kemejanya dari debu. "Dan lagi, aku sudah terbiasa."

__ADS_1


Tepat di bawahnya, ada beberapa serpihan kaca yang memperlihatkan kondisi penampilannya saat ini. Rambutnya benar-benar berantakan, lensa kiri kacamatanya retak, dan sejumlah luka memar yang mewarnai dirinya.


"Pergi sana! Ngapaian kek gitu!"


"Aku mau membantumu." Aoi menyengir lebar sambil mengelus-elus pistolnya.


"Mending nggak usah. Lebih baik, kau hubungi teman-temanmu saja!" Midnight memberi Aoi ponselnya. Setelah itu, kembali melanjutkan pertarungannya yang terjeda sebentar.


"Astaga! Kenapa nggak dari kemarin? Kenapa baru sekarang dia meminjamkanku ponsel?" Aoi menghela nafas lelah, kemudian menekan tombol-tombol angka yang diperlukan.


Sejenak, Aoi berhenti dari layar ponselnya, kemudian melirik Silentwave yang tengah sibuk menghajar Dark Fire dengan tongkatnya.


Aoi memperhatikan ujung pedang Dark Fire yang berulang kali menebas Silentwave tapi tidak bisa melukainya. Yah, itu karena, Silentwave adalah makhluk aneh dengan tubuhnya yang berupa cairan tinta.


Jaket selutut yang dikenakan Silentwave juga sama-sama terbuat dari tinta. Sepatunya juga.


Aoi mengerutkan keningnya, "Bukannya kelemahan tinta itu panas, ya?"


Tanpa suara, Silentwave menebas Dark Fire dengan tangannya yang ia ubah menjadi sebilah pedang.


Jelas sekali, darah Dark Fire yang berwarna orange berceceran membasahi tembok.


"Cih!" Dark Fire geram dan hendak membalas serangan lawannya namun...


CRATT!!!


Entah dari mana asalnya, terdengar suara seperti tebasan pedang yang kembali melukai dada Legend Aura itu hingga membuatnya terjatuh. Seperti ada benda tak kasat mata yang membantu Silentwave menghabisi lawannya.


"Eh? Ada orang lagi kah?" tanya Aoi terkejut.


Midnight menyeringai. Kesempatan bagus untuknya di saat Aura itu sedang melemah karena sakit, wanita itu meluncur setelah berlari. Di saat bersamaan, katananya berubah menjadi tongkat baseball yang kemudian, ia gunakan untuk memukul kaki Dark Fire hingga Aura itu terjatuh.


Tak mau kalah, Dark Fire membalas serangan Midnight tadi dengan menyandung kaki wanita itu hingga membuatnya bernasib sama sepertinya yang terjatuh menghantam permukaan lantai yang berdebu.


Lengan kanan ogre milik Dark Sport secara otomatis berubah menjadi senapan gatling yang kemudian, ia tembakan ke arah Midnight.


Untunglah, Silentwave sudah lebih dulu menyingkirkan Dark Fire sebelum peluru-peluru itu melukai Midnight.


Silentwave mengubah tangan kanannya menjadi senjata yang sama dengan Dark Fire yaitu, lengan ogre. Kemudian, dia meninju pipi kanan Legend Aura itu hingga terpental keluar menabrak mobil bus tua.


"Midnight! Apa kau terluka?" tanya Aoi kembali menghampiri Midnight. Pria itu dengan ragu-ragu memberinya uluran tangan.


Midnight menghela nafas lelah, "Cuma lecet. Thanks." Ucapnya menjabat tangan Aoi.


"Hmm, Midnight. Aku ada pertanyaan." Ucap Aoi selang beberapa menit kemudian.


Midnight menoleh disertai senyuman hangat, "Silahkan..." Sahutnya.


Aoi juga ikut tersenyum. Sebelum mengutarakan pertanyaannya, Aoi menarik nafas.


"Tadi kulihat, setelah Silentwave menebas Dark Fire, aku melihat ada sesuatu tak kasat mata membantu Silentwave melukai Dark Fire. Arah tebasannya di tempat yang sama dan suaranya juga keras. Apa kau membawa orang lain?"


Midnight terkekeh, "Dia menggunakan suara dari rasa sakit."


Aoi mengangkat alisnya sebelah. "Suara rasa sakit?" pikirnya.

__ADS_1


~


__ADS_2