Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 127 {Season 2: Bukan Dia}


__ADS_3

Hari sudah malam dan sudah tiba saatnya bagi mereka untuk beristirahat. Rencana mencari bahan ritual yang terakhir terpaksa ditunda karena keterbatasan tenaga salah satu anggotanya.


Chloe dan kedua sahabatnya membangun tenda yang cukup besar untuk tujuh orang. Akan tetapi, Midnight meminta mereka untuk membangun tenda yang satu lagi. Wanita itu terlihat tidak senang bergabung dengan youtuber itu. Kepribadiannya yang introvert itu juga yang mendorongnya untuk tidak bergabung dalam lingkaran remaja-remaja itu. Bukan karena usianya yang lebih tua dari mereka, melainkan karena malas membahas topic yang tidak ia pahami dan memilih untuk tidur.


“Aku heran kenapa Midnight nggak mau gabung sama kita. Apa karena kita belum mandi?” heran Aoi. Siang tadi benar-benar melelahkan bagi pria jepang itu. Aoi mensetting tubuhnya menjadi rebahan mode sambil mengunyah keripik kentang yang diberikan Megawave tadi sore.


“Mungkin. Anehnya, kita nggak berkeringat disini. Padahal udah lari-lari nggak jelas,” timpal Jacqueline. Gadis itu melirik ke sampingnya yang seharusnya ada Chloe namun tidak. Gadis itu pergi berjalan-jalan mencari angin bersama pacarnya. Sebenarnya Jacqueline penasaran, apa saja yang akan Chloe lakukan bersama Black Aura malam ini. Mereka bahkan tidak makan malam dulu melainkan langsung berjalan.


“Oi, kenapa bengong?” bisik Aoi.


“Eh, nggak ada. Cuma kepikiran soal tugas kuliah kita. Kita kayaknya bolos satu hari deh,” jawab Jacqueline segera mengubah topic pembicaraan.


“Astaga! Iya, ya!”


“Kalian masih kuliah? Kukira kalian udah pada kerja,” celetuk Okka dengan mulut penuh akan sereal. Padahal gadis itu sudah diperingatkan Midnight untuk tidak makan sereal karena itu menu sarapan, dia tetap saja membantah dan memakannya.


“Belum… Aku malah aslinya takut kerja. Takut aja nggak punya waktu kencan sama Aoi,” Jacqueline mengubah posisi duduknya menjadi memeluk lututnya. Kurasa, bukan sekarang waktunya.


Saat Jacqueline melirik tenda Midnight, dia tidak menemukan suara berisik ataupun obrolan kecil di dalamnya. Tenda itu gelap. Mungkin Midnight sedang tidur saat ini. Jacqueline penasaran dengan cerita-cerita para Aura ini sebelumnya. Seandainya ada waktu luang yang sangat panjang, Jacqueline ingin menulis semua pengalamannya dan menjadikannya buku yang sangat tebal. Jacqueline sudah bisa menebak kalau orang-orang yang membacanya akan menganggap kalau karyanya hanyalah fiksi. Tapi, itu bukan masalah baginya.


Aku kangen Devil Mask sekarang… Kenapa kami berada di misi yang berbeda? Kira-kira, dia merindukanku tidak ya? Ah, dia sih, nggak jelas. Batinnya kesal sendiri.


“Ken, gimana keadaanmu sekarang? Membaik?” tanya Aoi.


Kenzo nyengir sambil menganggukkan kepalanya. “Meskipun agak kecewa jadi manusia lagi, tapi aku baik-baik aja. Salahku juga sih… Aku nggak tahu apa dosen kalian memaafkan kami atau nggak.”


“Kalau itu sih, kalian tanyakan langsung sama dia. Kami nggak berani soalnya,” Aoi menggeleng-gelengkan tangannya sebagai isyarat kalau pria jepang itu tidak sanggup mendatangi tenda Midnight dan bertanya apakah wanita itu sudah memaafkan youtuber itu? Aoi menduga kalau Midnight pasti akan menjawab, “Kenapa kau yang datang? Harusnya orang-orang itu yang datang dan bertanya!” sisanya dilanjutkan dengan sindiran pedasnya. Yah, begitulah sifat Midnight. Seperti es krim berperisa cabai.


Okka dan Kenzo terkekeh kaku mendengar respon dari Aoi. Bahkan mahasiswanya saja tidak berani. Apalagi mereka yang tidak mengenalnya sama sekali dan menimbulkan kekacauan yang bisa dikatakan merugikan dunia orang.


Okka berpikir sejenak. Memikir cara agar mereka bisa mendapatkan maaf dari Midnight. Kalaupun tidak, maka mereka harus bersiap-siap bertanggung jawab membereskan kekacauan yang mereka perbuat.


“Baiklah, biar kami aja yang mendatanginya. Kami nggak mungkin meminta bantuan kalian yang udah bersusah payah mengalahkan kami.”


“Benar. Selain itu, kami janji nggak bakal buat eksperimen aneh lagi,” Kenzo melanjutkan kalimat Okka barusan.


“Benar ya! Kalian harus tepati janji kalian!” tegas Jacqueline sebelum akhirnya merasa khawatir akan ketidakhadiran Chloe di lingkaran mereka. Jujur, Jacqueline bingung. Selepas mengalahkan Kenzo, Chloe jadi diam. Pandangan gadis itu kosong seolah ada sesuatu yang menjanggal di hatinya namun tidak ingin dia ungkapkan di depan teman-temannya.

__ADS_1


Nanti aja kutanya… Dia pasti lagi curhat sama Aura sekarang.


Jacqueline menghela nafas lega. Setidaknya, dia tidak perlu cemas lagi dengan Chloe yang sekarang sudah memiliki seseorang yang bisa mengisi kekosongan di hatinya. Buku yang Okka buat itu sukses memancing mereka semua untuk terlibat dalam petualangan fantasi ini. Karangannya luar biasa.


Untuk sementara Jacqueline menarik nafasnya dan membiarkan tubuhnya relax sambil merasakan betapa sejuknya angin malam di Carnater itu. Saat dilihatnya langit yang masih tertutupi oleh awan cumulus, Jacqueline teringat akan sesuatu. Cepat-cepat, pandangannya dialihkannya ke youtuber yang tengah asyiknya mengobrol dengan Aoi.


Ah, kalau kupotong, jadi nggak sopan kesannya. Tapi, kalau kubiarkan hal penting ini, bisa saja kau lupa…


Tak perlu satu menit berpikir, sebuah ide tertancap di benaknya. Jacqueline tidak langsung mengatakan intinya. Gadis itu menggunakan sebuah pujian yang berkaitan langsung dengan Okka.


“Hei, Okka. Kau keren juga bisa memancing kami dengan buku tebal yang kau tulis itu. Oh, ya! Bukankah Midnight ingin kalian menceritakan bagaimana kalian bisa terjebak di sini?” Jacqueline tersenyum puas mengetahui dirinya bisa mengingatkan gadis youtuber itu akan hal penting yang harus ia selesaikan dengan Midnight.


“Oh, itu. Aku udah bilang ke Midnight sendiri. Dia bilang besok aja. Dia kecapekan hari ini,” tutur Okka setelah itu bernafas lega.


“Begitu ya, baguslah…”


Sisanya, tinggal mencari bahan ritual dan mencari pria yang Midnight cari. Namanya Ethan. Hmm, kenapa ada manusia lain yang terlibat ya?


~


“Kau nggak mau makan malam dulu?”


“Nggak ah. Nanti aja pas udah sepi. Aku maunya dinner bareng sama kau aja.”


“Dinner?”


“Makan malam,” ralat Chloe. “Sebenarnya kau berbicara dengan Midnight itu pakai bahasa apa sih?”


Black Aura berpikir, “Kalau dulu aku jarang berbicara. Aku kan mulai cerewet pas ketemu kau, Chloe.”


Chloe tertegun lalu terkikik. “Benar juga sih.” Gadis itu kembali terdiam. Melamun memikirkan kejadian siang itu dimana dirinya tidak sengaja bertemu dengan Megawave. Entah bagaimana Aura bertopeng visor itu bisa di sana.


Apa dia mengejarku hanya karena wajahku mirip dengan mendiang pacarnya? Di mimpi waktu itu, aku nggak bisa melihat wajahnya. Aku juga penasaran kenapa pedang Black Aura bisa terlempar ke arahnya dan membunuhnya? Nggak mungkin Black Aura membunuh pacar Megawave.


Belakangan ini, banyak hal yang membuat Chloe secara tidak sadar tenggelam dalam pikirannya. Meskipun tidak terlibat secara langsung namun gadis itu merasa ada sebagian dari masalah itu adalah tanggung jawabnya. Dia yakin pasti ada saat dimana Midnight melarang dirinya ikut campur dengan masalahnya. Akan tetapi, rasa penasaran itu pasti ada. Salah satunya identitas pacar Megawave.


Chloe masih tidak bisa lepas dari pembicaraan singkatnya dengan Megawave siang tadi. Aura itu mengatakan sesuatu yang mengejutkan dan Chloe sendiri tidak berani mengatakannya dalam hati ataupun membicarakannya dengan Black Aura karena…

__ADS_1


~


{Flashback ON}


“Setelah kuperiksa lebih banyak identitasmu, kau mirip sekali dengan Chloe pacarku. Bahkan nama kalian juga sama. Mungkin kau berpikir, ini sebuah kebetulan. Tapi, aku yang kekasihnya ini tak akan bisa melewatkan kesempatan ini,” ungkap Megawave.


Waktu di sekitar mereka seolah berhenti karena kehadiran Megawave.


“Apa maksudmu? Kesempatan seperti apa yang kau maksud, Meg?” tanya Chloe.


Megawave terkejut. Dadanya seakan dipukul oleh sesuatu yang tentunya berkaitan dengan mendiang kekasihnya. “Kau barusan memanggilku ‘Meg’?”


“I-iya. Nggak sopan ya? Maaf!” Chloe membungkuk dengan cepat begitu menyadari dirinya melakukan kesalahan yang bisa saja menyinggung orang lain. Tapi kenyataannya tidak. Megawave justru terenyuh mendengar panggilan itu.


“Aku nggak tahu harus mengatakannya kebetulan atau memang aslinya kau ini Chloe pacarku. Kuberitahu satu hal padamu, orang-orang yang baru mengenalku pasti akan memanggil namaku dengan lengkap. Tapi, kau berbeda. Yah, aku yakin kau pasti akan menyangkal kalau kau itu adalah mendiang pacarku… Aku hanya ingin kau tahu, bagaimanapun caranya, aku akan terus mengejarmu. Bukan berarti kau pengganggu di dunia ini melainkan kau mirip dengan Chloe-ku. Selain itu, kalau kau bermimpi melihat Chloe-ku, tolong beritahu aku!”beber Megawave meskipun dirinya bimbang.


Chloe terdiam. Gadis itu berusaha untuk berpikir positif kalau dirinya adalah dirinya bukan Chloe pacar Megawave yang sudah tewas itu. Chloe yakin, pasti akan ada banyak kejadian yang bisa membuatnya terjatuh pada birunya kesedihan. Namun, selama tidak ada kaitannya dengan Chloe kekasih Megawave, tidak akan jadi masalah baginya.


~


{Flashback OF}


“Black Aura, aku ini… Mirip ya, sama Chloe pacarnya Megawave?”


“Hm? Kenapa tiba-tiba kau berpikir seperti itu? Megawave mendatangimu tadi?” Black Aura memutar tubuhnya menghadap Chloe. Aura itu mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan yang Chloe ajukan barusan. Jadi, inikah alasan yang membuat Chloe jadi diam?


Black Aura berdecak kesal. Seandainya jawaban memang benar Megawave yang membuat Chloe jadi overthinking, maka dia tidak akan tinggal diam. Bagaimanapun kenyataannya, Chloe adalah Chloe. Dia bukan elf ataupun Aura melainkan manusia biasa.


Memang fakta kalau Black Aura tidak mengetahui banyak informasi mengenai Chloe kekasih Megawave karena gadis itu bekerja di bidang medis. Gadis itu jarang keluar rumah kecuali jika dirinya dipanggil untuk mengobati orang yang terluka.


“Nggak kok. Aku cuma teringat aja sama kejadian kemarin. Aoi Shizukana musuhmu bilang, aku ini mirip sama temannya.”


“Jangan dipikirkan. Kau hanya akan menyakiti dirimu, Chloe. Mereka jadi begitu karena sedih. Mereka belum bisa melepaskan teman mereka,” Black Aura berusaha meluruskan pikiran Chloe agar tidak terlalu negative. “Chloe, yakinlah. Kau adalah Chloe. Chloe yang suka kentang dan Chloe yang gampang marah sama hal-hal sepele. Kau adalah manusia sekaligus…” Meskipun malu, Black Aura tetap melanjutkan kalimatnya “kekasihku yang bisa membuatku marah,” setelah itu mengakhirinya dengan senyuman lega di wajahnya.


“Iya… Aku ini Chloe pacar Black Aura. Bukan Chloe pacar Megawave! Oke! Makasih ya, aku akan berusaha untuk menjadi diriku sendiri. Dengan begitu, Chloe yang meninggal itu nggak akan menguasai ku dan membuatku terlihat seperti dia.”


Setelah mendengar kalimat tersebut, barulah senyuman Black Aura mekar. Rasa cemas gadis itu akhirnya teratasi dengan baik tanpa adanya perdebatan ataupun perkelahian yang melibatkan senjata.

__ADS_1


Black Aura yakin, Chloe kekasihnya itu selalu punya cara untuk bangkit dan menjadi dirinya yang biasanya.


~


__ADS_2