
"Devil Mask, kau dimana?" tanya seseorang dibalik ponsel itu.
"Di hutan. Aku mau mencari Aura dan Chloe. Kenapa menelpon?"
"Aku mencemaskanmu."
"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja disini." Balas Devil Mask hangat.
Orang di seberang sana menghela nafasnya berat. "Hati-hati ya... Aoi beberapa menit yang lalu keluar. Sementara, Chloe belum kembali sedari pagi."
"Aku tahu itu... Kalau Chloe tidak ada, sudah pasti Aura bersama Chloe. Aku akan menyusul keduanya. Diamlah di rumah dan jangan kemana-mana. Kurasa, situasinya sedang aneh kalau dilihat dari perasaanku ini." Balas Devil Mask bersamaan dengan hela nafasnya. Ia mengalihkan pandangannya ke langit malam. Merasa seakan sesuatu yang tidak beres, baru saja terjadi.
"Perasaanku juga."
"Aku lanjut lagi ya..."
"Iya. Jaga dirimu disana."
"Kau juga."
Sambungan mereka akhirnya terputus setelah Devil Mask menekan ikon berwarna merah di layar ponselnya. Ponselnya kemudian ia simpan di dalam saku celanannya dan kembali melangkah mencari Chloe, Black Aura, dan Aoi.
Selama berlari, pikiran Devil Mask sangat penuh. Semuanya berkaitan dengan perasaannya. Teringat akan beberapa menit yang lalu saat dirinya tengah menyantap sepiring donat seorang diri.
Aneh sekali malam ini. Saat makan donat saja, perasaanku masih tidak enak. Apa-apaan malan ini?!
Rumput dan salju dipijaknya tanpa rasa bersalah.
"Aneh sekali. Biasanya nggak selama ini. Jangan bilang kalau..." Sambil bergumam, Devil Mask mengerem kakinya. Akhirnya, Devil Mask berhasil keluar dari hutan.
Tanpa pikir panjang, ia mengaktifkan portal menuju pelabuhan. Ia sedikit terbantu oleh aplikasi Map yang sudah diinstalnya selang beberapa menit yang lalu.
"Oof... Dingin sekali." Gumamnya.
Segeralah dirinya melompat melewati portal itu dan berlari menuju laut. Karena bukan manusia dan dia tidak suka basah, Devil Mask sudah melatih dirinya agar bisa berlari di atas air. Tidak ada alat spesial di telapak sepatunya.
"Hm? Ada keberadaan Black Aura disini? Tidak, ada dua." Ketika berlari, Devil Mask mendapatkan satu jawaban mengenai keberadaan Black Aura. Bonus untuknya yang merasakan keberadaan Aura lain. Sudah pasti bukan dari keluarganya.
Kemungkinan bakal ada pertarungan disana. Devil Mask segera menyiapkan cakaran panjangnya.
~
Ketika membuka mata, Chloe menemukan dirinya berada di atas lautan luas. Lautan itu tenang. Di atas lautan itu ada langit biru bersama awan-awan yang berkumpul damai. Sejenak, Chloe merasa terpukau akan keindahan dan ketenangan itu.
“Indah sekali.” Pujinya.
Chloe menginjakkan kakinya ke depan lalu berjalan. Kepalanya melirik ke sekelilingnya. Ketenangan seperti ini membuat Chloe bertanya-tanya dimana dirinya saat ini. Saat sepatunya menapak air, mereka beriak. Tampaknya tidak ada kehidupan di bawah sana. Dengan bebas dia menari. Melompat dan berjalan kecil diiringi dengan kekehan kecilnya.
Hatinya menyatu dengan suasana itu. “Wah, dunia ini benar-benar diidamkan! Kira-kira, ini dimana ya? kenapa Cuma aku saja yang disini?” pikir Chloe yang tak lama kemudian malah larut dalam kesunyian laut. Beberapa helai rambut pirangnya terlukis jelas bersamaan dengan senyuman yang ia ukir dengan tulus.
Setelah lelah menari terus, Chloe menghempaskan dirinya dan menghasilkan beberapa cipratan air yang membasahi punggungnya. Ia menghela nafas ringan dan penuh akan kelegaan. Entah sebab apa, perasaannya merasa sangat luas. Dia seakan tidak memiliki beban apapun.
Chloe meletakkan tangannya di atas dadanya tepat dimana jantungnya berdetak stabil. Seperti baru saja terlahir kembali atau baru terlepas dari kehidupan yang penuh konflik.
“Langit di atas benar-benar biru. Aoi pasti suka. Suasana yang hening ini, mungkin bisa kujadikan tempat untuk bermain bersama Jacqueline. Jauh dari keramaian dan kalau mau gosipin orang nggak bakal ada yang tahu. Hihi!” ujar Chloe tanpa melepaskan pandangannya dari biru itu.
Saat dirinya terjebak dalam kepuasan, air mata kirinya menetes di luar kehendaknya. Chloe cepat-cepat menyadari keanehan tersebut. Ia bangun dan mengusapnya.
“Dari mana datangnya air mata ini? Padahal, perasaanku tenang sekali.”Gumamnya.
Chloe lalu menarik kedua pipinya, menampar, dan menepuk jidatnya. Tidak terjadi apa-apa.
Aku kira ini mimpi. Rupanya nyata, toh. Tapi tempat apa ini? siapa yang membawaku kesini? Bukannya tadi aku di kapal dan berbincang dengan Black…
“Kau bangun?” suara seorang wanita membuat Chloe menoleh.
Chloe terbelalak. Dia kira, hanya dirinya seorang yang menempati tempat ini. Rupanya, masih ada orang lain.
Seorang gadis dengan tinggi kurang lebih 195, rambut ungu bergradasi hijau yang terurai panjang tapi melayang. Gadis itu memperlihatkan lima pasang jarinya yang panjang, sepatu hak yang membuat tingginya terlihat berlebihan. Dia mengenakan armor yang bagian bawahnya menyerupai gaun berwarna kelamnya langit malam penuh akan bintang.
Dia menyeringai ditemani dengan beberapa pisau yang melayang di atas tangan kanannya. “Baru pertama kali ada manusia yang sadar saat sedang dikuasai Aura.”
__ADS_1
“Kau siapa? Ini dimana? Kau apakan diriku, sialan?!” bentak Chloe yang sebenarnya merasa ketakutan.
"Kau marah tapi juga takut disisi lain. Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu kali ini?"
"Perasaanku? Kurang kerjaan kali, sih! Yang namanya pertanyaan harus dijawab dong! Jangan dibalas dengan pertanyaan lagi! Sekolah apa nggak sih?!" Karena sudah termakan emosi, Chloe jadi sulit mengendalikannya. Wajahnya berubah merah padam disertai deru nafas yang tidak teratur. Seperti baru saja jogging di pagi hari.
"Baik-baik... Dasar. Pertanyaan nomor satu, siapa aku?" dia mengulangi perkataan Chloe hanya saja subjeknya diubah dari 'kau' menjadi 'aku'. Aura itu menyeringai lebar memamerkan giginya yang tajam.
"Hihihi... Baiklah. Kau masih ingat saat pertama kali kau bertemu Black Aura?"
"Hmmm... Masih. Kalau nggak salah, aku bertemu dengannya di dalam hutan."
"Sebelum bertemu Black Aura, kau sudah lebih dulu bertemu denganku, Chloe." Dia terkekeh geli setelah melihat reaksi terkejut Chloe. "Kau mengingatnya? Waktu itu, aku di dalam tubuh pria yang dibelah layaknya kue oleh orang yang kau cintai, Chloe." Dia terlihat menikmati mengulang kilas balik tersebut.
"Ah, iya! Kau sempat mengincarku dengan pisau sialanmu itu, kan?! Eh... APA?! Kau tahu dari mana kalau aku..." Chloe mematung heran sekaligus malu dengan perkataan Aura itu.
"Fufufufu... Saat kau melamun entah karena kagum atau takut, aku mengambil kesempatan untuk pindah ke tubuhmu. Setelah kejadian itu, aku berada di alam bawah sadarmu dan mempelajari banyak hal." Tuturnya.
"Kau gadis yang polos. Tapi, dendammu begitu kental. Kau punya dendam dengan siapa, sih? Black Aura juga. Kalian berdua memang cocok ya!"
Darahnya merambat sampai ke ubun-ubun. Bukan karena marah. Melainkan, karena malu. Rahasia yang selama ini ia usahakan untuk dijaga malah ketahuan oleh orang lain.
Dan lagi, ada sesuatu yang janggal terlintas dan membuat perasaan malunya berubah menjadi emosi.
"Kau bilang, kau masuk ke alam bawah sadarku? Berarti... Dunia yang tenang ini..."
"Kalau sudah melewati lima hari, kau akan menjadi salah satu dari kami. Kau akan menjadi Aura yang hebat dan bisa membunuh seluruh Megavile yang kejam itu."
"Apa?! Berarti, aku tertidur dan kau mengendalikan tubuhku di luar sana?"
"Yup! Sebelum itu, namaku adalah Aurora. Aku suka dengan dirimu, Chloe. Dendammu yang pekat itu bisa kugunakan untuk melawan Black Aura. Oh, ya! Aura itu sekarang sekarat lho! Niatnya mau menyelamatkanmu. Tapi... Kelihatannya kalian memiliki perasaan yang sama. Oleh karena itu, Black Aura nggak sanggup menyakitimu." Jelas Aurora.
Chloe auto tertegun mendengar penjelasan Aurora.
"Aku menggabungkan kekuatanku, fisikmu, dan dendammu. Dari semua Aura, hanya aku yang bisa melakukannya. Makanya, Black Aura langsung kehilangan keseimbangan walau hanya sekali tin..."
BUAK!
Gadis itu melompat tinggi dan kedua kakinya mendarat keras menghantam wajah Aurora.
"MAKAN INI!" Geram Chloe yang kemudian menendang dagu Aurora.
"Ugh! Serangannya mirip sekali dengan yang kugunakan sebelumnya."
Di belakang Aurora, Chloe sudah lebih dulu berada disana dan sudah menyiapkan tinjuan lainnya. Sekilas, Aurora menangkap beberapa tetesan air yang berasal dari mata Chloe.
"BERANINYA...!"
Chloe meninju keras punggung Aurora dengan emosinya.
"Cih!" Aurora segera mengeluarkan tombaknya. Lalu ia tancap ke air dan dirinya berhenti melayang terus-terusan.
Di kejauhan sana, Chloe menunduk dengan tangan terkepal kuat. Tinjuannya meninggalkan bercak darah merah. Bukan miliknya melainkan, Aurora.
Dia menggabungkan apapun yang ada di dalam diriku termasuk dendamku. Itu artinya, Aura yang terkena serangan dari manusia akan mendapatkan damage yang lumayan besar ketimbang sesama Aura. Dan Black Aura saat ini...
"Oi! Aku bisa membaca isi hatimu, lo! Kau penasaran dengan Black Aura? Oke, Aku melihat retakan di pipinya. Aura yang retak biasanya nggak akan lama hidupnya."
Chloe tersentak. "Kau membunuhnya menggunakan diriku?"
Aurora menjentikkan jarinya. "Yes! Sekarang, kau dalam bahaya Chloe. Black Aura mati dan kau jadi salah satu dari kami. Hihihi!"
Kepalannya mengeras.
"Mau balas dendam? Coba saja! Toh, level kita juga beda."
Entah kapan, Aurora berada di samping Chloe lalu menendang gadis itu. Dia juga mengeluarkan banyak sekali senjata tajam seperti pisau, kapak, dan katana.
Saat tangannya diayunkan mengarah ke lawannya, senjatanya secara otomatis mengejar Chloe.
Ada dua pisau berhasil menggores pipi dan tangan Chloe.
__ADS_1
"Curang!" Teriak Chloe kesal. Dia mengerem agar tidak kejauhan dan mengumpulkan seluruh tenaganya di kakinya lalu, melompat setinggi mungkin. Pisau yang dia rampas tadi masih bersamanya.
Chloe mendarat tepat di depan Aurora. Saat itu, semuanya seperti gerak lambat.
Chloe menancapkan ujung pisau itu di pundak Aurora. Kemudian, dia dorong ke atas hingga menciptakan garis miring yang berbekas di pundak sampai ke wajahnya.
Tidak mau kalah, Aurora mengeluarkan tombak dan ditusuknya pundak Chloe agar nasibnya sama sepertinya.
Pergerakan Chloe melambat karena menahan sakit. Aurora pun mengambil kesempatan untuk menyerang lagi. Dia menyekik Chloe dan membanting gadis itu di atas permukaan laut yang tenang.
"Emosinya..." Gumam Aurora disertai seringaian panjang. Dia terlihat sangat menikmati pertarungan keduanya. Tak hanya itu, Aurora memberi serangan susulan yang lain. Melepas tangannya dari leher Chloe, menarik kakinya, lalu melempar gadis itu sejauh mungkin.
Chloe terplanting sambil menahan sakit. Dirinya tidak bisa lepas membayang betapa sekaratnya Aura itu di luar sana. Dia tidak memikirkan dirinya yang terluka saat ini. Yang terlintas di benaknya adalah bagaimana dirinya menyakiti dan menghajar Black Aura.
Chloe membanting kepalannya pada air yang tak bersalah. Untunglah, air itu tidak protes karena sudah menjadi sasaran pelampiasan amarah gadis itu.
Harusnya, aku nggak memintanya untuk menemaniku hari ini!
"Kau menyesal? Sedihnya... Lebih tepatnya, 'harusnya aku nggak usah bertemu dengannya malam itu." Ralat Aurora tanpa izin membaca isi hati Chloe.
Lautannya itu ternodai darah Chloe. Sekarang, Chloe bingung harus berbuat apa. Dia mengira mengalahkan Aura seperti Aurora adalah hal yang mudah karena dirinya manusia.
"Aku... Harus apa?" Chloe bertanya pada dirinya sambil terisak.
Aurora kembali bergerak. Kali ini, dia menggunakan kapaknya dan hendak mengarah ke leher Chloe. Untunglah, Chloe langsung menyadari keberadaan Aurora dari pantulan air.
Chloe melompat menjauh dari Aurora. Benar. Kalau terus-terusan disini, aku hanya akan merepotkannya saja.
"Oh, ya... Aurora."
Aurora menghentikkan langkahnya "Apa?"
"Nggak baik lho manfaatin perasaan orang buat bunuh orang yang dicintainya." Ujar Chloe. Suaranya bergetar.
"Hm?"
"Ya. Aku punya dendam, memang. Tapi, dendam ini... Seluruh rasa sakit yang kupendam ini akan kubalas bukan untuk Black Aura. Dan kau malah seenaknya menggunakan dendamku. Jahat sekali." Lanjutnya. Jelas sekali pundaknya gemetar hebat menahan tangisnya.
"Kau memang mengerti beberapa perasaan kami. Tapi..."
Chloe menarik nafasnya dan sekuat tenaga mengukir senyuman yang tulus.
"Bagaimanapun caranya, kalian nggak pernah memiliki perasaan itu."
"Eh?" Aurora tertegun melihat senyuman itu.
Tiba-tiba, Aurora menerima tinjuan Chloe untuk ketiga kalinya. Aura itu terlempar jauh. Sudah terlempar, dirinya masih dikejar juga oleh Chloe.
Kini, wajah mereka berpapasan langsung. Saat itulah, Chloe mulai mengungkapkan amarah yang ia pendam itu.
"JANGAN ASAL MANFAATIN DENDAMKU PADA ORANG YANG KUCINTAI, DASAR GILA!" teriak Chloe beriringan air mata.
Gadis itu membuat Aurora terbelalak luar biasa. Bukan karena suaranya yang membuat laut mengamuk melainkan, pedang Black Aura yang masih utuh berada digenggamannya langsung.
"Kumohon, jangan buat aku kehilangan untuk kedua kalinya." Ucapnya bersamaan dengan pedang Black Aura yang menebas miring Aurora.
Darah Aurora yang seharusnya ungu menjadi merah karena tebasan yang Chloe layangkan padanya.
"Kalau dia pergi, kenangan yang kubuat bersamanya hanya akan menyakitiku setiap kali mengingatnya." Lanjutnya memejamkan kedua matanya. Membiarkan dirinya basah akan darah Aurora.
Lautan dan langit itu pecah bersamaan dengan Aurora yang ikut menghilang.
Pecahnya biru yang cerah itu berubah menjadi malam. Chloe perlahan membuka kedua matanya. Tampaknya, konflik yang ia lewati sejak pagi tadi berakhir pukul sebelas pas.
"Syukurlah... Semuanya berakhir." Gumamnya lelah.
Iris birunya melihat kenyataan bahwa dirinya kini memeluk Black Aura yang masih terdiam.
"Aku pulang... Black Aura." Suaranya bergetar.
Air matanya kembali mengalir. "Maaf ya, membuatmu menunggu..." Lanjutnya. Ia menguatkan pelukannya agar Aura itu merasa hangat berada di dekatnya.
__ADS_1
~