Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 153 {Season 2: Air dan Kristal}


__ADS_3

Setelah menyusun rencana, Chloe dan Black Aura cberpisah ke


lantai yang berbeda. Black Aura di lantai atas, sementara Chloe menetap di


lantai di bawah Black Aura. Sebelum pergi juga, Black Aura tak lupa menyediakan


dua senjata untuk Chloe.


“Nggak papa kan, kalau patah?” gurau Chloe sambil mengelus


pelan pisau yang Black Aura pinjamkan.


Black Aura menggeleng pelan, “Aku masih punya banyak,”


balasnya. Tak lama, mereka berdua pun berpisah.


Di luar gedung itu, Yui menghentikan langkah serta desiran


ombaknya. Lingkungan sekitarnya basah dan lembab. Semuaitu sengaja Yui lakukan


agar dirinya bisa mengetahui letak dimana Black Aura berada.


Benang merah yang melilit di tangan Yui hingga saat ini tak


kunjung hilang. Benang itulah yang membuat Yui kehilangan kewarasannya sampai


dirinya tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak. Juga mana yang musuh


dan mana yang kawan. Benang merah itu seolah mempermainkan emosinya. Emosi yang


selama ini Yui pendam.


“Black Aura di lantai lima… Cewek itu di lantai empat? Bagi


tugas ya?” gumam Yui tak lama kemudian menghilang, bersatu dalam genangan yang


ia pijak.


Dengan genangan-genangan air serta embun yang menyebar di


area gedung terbengkalai itu, Yui berjalan mencari Black Aura. Dengan


kemampuannya bergerak di dalam air atau apapun yang memiliki zat cair, Yui bisa


melihat, merasakan, dan mendengar suara juga kehadiran musuhnya. Yah, bisa


dibilang, kemampuan Yui yang satu ini lumayan merepotkan musuhnya yang sedang


mengatur rencana. Rencana sebagus apapun yang dibuat semuanya akan terbongkar


lewat genangan air di sekitar irang yang membuat rencana tersebut.


“Kemampuanku adalah air. Tapi, diriku tak bisa sebebas air.


Kenapa selalu saja ada yang mengganggu kehidupanku?” pikir Yui. Tangan kanannya


terkepal keras. Terkadang, Yui butuh yang namanya tersakiti. Ya, tersakiti yang


artinya dia rela orang lain menyakitinya. Rasa sakit yang kerap kali ia dengar


sebagai sahabat berharganya Black Aura.


“Air itu nggak bisa ditusuk. Air juga nggak bisa ditebas.


Tapi, air itu bisa diperangkap,” ujar Yui datar. Mungkin, rasa sakitlah yang


bisa membebaskannya dari perangkap yang selalu menjadi penghambatnya untuk


bergerak bebas.


Baiklah, pertama, Yui akan ke sampingkan dulu perasaannya.


Yang harus dia lakukan adalah, berhadapan langsung dengan Black Aura. Yui


sering mendengar bahwa banyak sekali Aura di Carnater yang menantang Black Aura


untuk bertarung. Entah itu sekedar mengetes kemampuan bertarung mereka atau


memang pada dasarnya mereka ingin membunuh Black Aura.


Dari semua Aura itu, Yui satu-satunya yang tidak tertarik


bertarung dengan Black Aura. Bukan karena dia takut ataupun tak bisa bertarung.


Melainkan karena Yui hanya ingin melindungi dirinya.


Yui keluar dari genangan yang berada di lantai lima. Akan


tetapi, Aura itu justru malah membeku di tempat bersamaan dengan Aura bermanik


violet yang kebetulan tengah melintasi lorong lantai lima tersebut. Pandangan


mereka berdua bertemu tapi tidak bisa dipalingkan ke arah yang lain.


“Ombak tadi punyamu kan?” tanya Black Aura tanpa pikir


panjang.


“…”


Black Aura mengernyit keningnya bingung. Pertanyaannya tadi


tidak langsung dijawab dengan perkataan dari Yui sendiri. Melainkan, Aura

__ADS_1


berkemampua air itu memilih untuk keluar dari genangan air tersebut sebelum


akhirnya menghajar Black Aura dengan mendorong Aura itu menggunakan ombak yang


ia sembunyikan.


“Cih!”


Tak mau kalah, Black Aura menjentikkan jarinya bermaksud


mengubah ombak tersebut menjadi


Black Aura melayangkan sabitya kea rah pundak Yui. Ajan


tetapi, sabit itu malah menembus gadis itu. Bukan melukainya.


“Yui, kau kenapa?” tanya Black Aura dengan nada datar. Jika


dilihat dari serangan dan ombak yang kian membesar itu, tampaknya Yui sedang


medapatkan tekanan stress dari dunia luat. Mengingat Aura type Yui, Rini, Afra


itu berhubungan langsung dengan dunia nyata. Jadi, rasa sakit yang dirasakan


mereka dari dunia nyata itu berdampak langsung ke Carnater,


“Kau ingin kusakiti?” karena pertanyaan sebelumnya tidak ada


jawaban, Black Aura pun melontarkan pertanyaan kedua yang barangkali mau Yui


jawab.


Pedang Yui yang menganggur itu akhirnya bergerak dan menusuk


Black Aura sampai tembus. Kemudian, Yui mengangkat pedannya ke atas sampai


pundak kanan Black Aura terbelah. Beruntunglah, tidak terbelah sepenuhnya.


Black Aura hanya terdiam menanggapi serangan Yui itu. Gadis


itu sama sekal ridak merespon. Dia hanya bergerak tanpa suara yang penting bisa


mengalahkan Black Aura. Bukan, dia bergerak dibawah kendali benang merah yang


melilit tanganya.


Lantas, BlackAura pun berpikir., “Kurasa, aku harus mencabut


benang tersebut.”


Sementar di lantai empat, Chloe berhadapan sengit dengan


kakak Alter, Ayano. Pertarungan itu sulit sekali Chloe hindari.


mata Chloe membelalalk lebar mendapati benang merah yang menusuk punggung


Ayano.


Aura yang menjadi lawannya saat ini terlihat lemah. Wajanya


pucat dan tubuhnya seolah terlalu dipaksakan untuk bergerak.


Saat Chloe tidak sengaja melamun, memandang pergerakan


Ayano, dalam sekali kedipan, Chloe melihat sesosok gadis berambut pirang


panjang, duduk di sudut ruang kamarnya dengan tangan kedua tangan memeluk


kakinya dan kanannya menggenggam cutter.


Kamarnya gelap. Meskipun ada lampu di langit-langit kamar


tersebut, Chloe bisa menenbak kalau gadis berambut pirang itu sedang frustasi


menghadapi masalahnya. Sampai-sampai, mau menyalakan lampu saja tidak mau.


“Hmm, permisi…?” panggil Chloe berusaha memberanikan


dirinya. Di dalam hati kecilnya, dia ketakutan.


Tidak ada balasan dari gadis berambut pirang itu. Dia masih


sama dengan posisi duduknya.


“Mungkin Cuma gambar aja atau halusinasiku,” gumam Chloe.


Kedipan kedua, akhirnya ia terbangun ada kenyataan


sebenarnya dimana ujung pisau Kristal Ayano tak lama lagi akan menancap ke


lengan kirinya.


Chloe tersedak lalu reflex mengangkat tangannya yang tak


lama lagi akan terluka. Namun, Chloe yang fokusnya hanya ke depan tidak


menyadari akan kehadiran Ayano yang rupanya sudah ebrada di belakangnya. Dengan


kecepatan tinggi, kakinya melayang hingga menghantam pinnggang Chloe.


“Uwaaa!!” teriak Chloe dengan tubuhnya yang melayang cepat,


kemudian berakhir menabrak rak berisikan mangkok kaca. Alhasil, semua koleksi

__ADS_1


mangkok itu pecah.


Tes…


Chloe tertegun begitu dirinya mendengar suara tetesan kecil


yang terdengar tak jauh dari posisinya duduk saat ini. Bola mata Chloe dengan


cepat melirik ke lantai di depannya. Ada genangan berwarna merah kental di


samping pahanya. Genangan itu tak lain adalah darahnya yang mengalir dari


pelipisnya.


Seketika, pundaknya gemetar hebat hanya dengan memandang


darahnya sendiri. “Darah… Aku berdarah…” lirih Chloe.


Tampaknya, Ayano belum puas dengan serangannya tadi. Aura


itu pun berjalan dengan suara tapak sepatu yang menggema hingga ke ruang dimana


Chloe masih terpaku pada darahnya yang tak berhenti mengalir,


“Aura… Aura…” Chloe mendadak tidak fokus dengan situasinya


saat ini. Dadanya diserang rasa panik yang dalam sampai-sampai dirinya sendiri


sulit mengendalikan panik tersebut.


Entah dari mana asalnya, sebuah sentilan kecil mendarat di


kening Chloe dan menyadarkan Chloe akan kenyataan juga mengembalikan sisinya


yang tenang. Chloe terdiam mendapati sentilan itu rupanya berasal dari tangan


Black Aura.


“Aku disini…” kata Black Aura yang diakhiri dengan senyuman.


“Eh, kau berdarah?”


“I-iya… Aku kaget kalau darahnya kok jadi sebanyak ini,”


ujar Chloe berlinang air mata. Jujur, Chloe merasa bodoh menangis di depan


Black Aura. “Uh, aku takut, Aura…”


“Aku juga. Bagimana kalau aku yang bertarung sementara kau


mengobatiku? Tidak ada yang namanya pencar-pencar lagi,” usul Black Aura yang


langsung mendapatkan anggukan kecil dari Chloe.


Ayano yang tadinya hendak menyerang Chloe, terbaring lemah


di lantai setelah mendapatkan sepuluh kali tusukan oleh Black Aura.


Yah, beginilah jadinya jika ada yang berani menyakiti orang-orang


yang Black Aura sayangi. Setetes darah yang jatuh, nyawa merekalah bayarannya.


“Yui? Bukannya kau melawan Yui?” tanya Chloe.


Black Aura yang tengah mengobati kepala Chloe itu tersenyum.


Lalu menjelaskan detail pertarungan yang menurutnya biasa saja. “Aku


meninggalkannya di lantai lima. Jangan khawatir, pergerakannya sudah kusegel.


Tapi, lima menit ke depan mungkin akan lepas.”


“Begitu ya? Black Aura memang kuat ya. Kau bisa mengatasi


semuanya. Sementara aku…”


“Kau pasti bisa tapi bukan sekarang. Kan nanti ada saatnya


kita gantian. Percaya dirilah!” potong Black Aura sambil tidak lupa


menyemangati Chloe yang sering sekali menganggap dirinya tidak berguna.


“Ayo, kita selesaikan sama-sama!” ajak Black Aura. Aura itu


mengulurkan tangannya di hadapan Chloe.


Jelas sekali di mata Chloe kalau Aura itu tersenyum padanya.


Senyumannya semakin lama semakin manis. Setakut apapun hati Chloe, hanya dengan


melihat senyuman Black Aura, dirinya jadi terpancing lagi untuk bangkit.


Chloe menghela nafas seraya menerima tangan Black Aura. Mereka


berdua berdiri bersama-sama. Dengan tangan mereka yang saling tertaut satu sama


lain.


“Terima kasih udah menyemangatiku, Aura,” lirih Chloe


berkaca-kaca.


“Sama-sama. Aku juga senang kau semangat lagi!”

__ADS_1


~


__ADS_2