
Setelah menyusun rencana, Chloe dan Black Aura cberpisah ke
lantai yang berbeda. Black Aura di lantai atas, sementara Chloe menetap di
lantai di bawah Black Aura. Sebelum pergi juga, Black Aura tak lupa menyediakan
dua senjata untuk Chloe.
“Nggak papa kan, kalau patah?” gurau Chloe sambil mengelus
pelan pisau yang Black Aura pinjamkan.
Black Aura menggeleng pelan, “Aku masih punya banyak,”
balasnya. Tak lama, mereka berdua pun berpisah.
Di luar gedung itu, Yui menghentikan langkah serta desiran
ombaknya. Lingkungan sekitarnya basah dan lembab. Semuaitu sengaja Yui lakukan
agar dirinya bisa mengetahui letak dimana Black Aura berada.
Benang merah yang melilit di tangan Yui hingga saat ini tak
kunjung hilang. Benang itulah yang membuat Yui kehilangan kewarasannya sampai
dirinya tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak. Juga mana yang musuh
dan mana yang kawan. Benang merah itu seolah mempermainkan emosinya. Emosi yang
selama ini Yui pendam.
“Black Aura di lantai lima… Cewek itu di lantai empat? Bagi
tugas ya?” gumam Yui tak lama kemudian menghilang, bersatu dalam genangan yang
ia pijak.
Dengan genangan-genangan air serta embun yang menyebar di
area gedung terbengkalai itu, Yui berjalan mencari Black Aura. Dengan
kemampuannya bergerak di dalam air atau apapun yang memiliki zat cair, Yui bisa
melihat, merasakan, dan mendengar suara juga kehadiran musuhnya. Yah, bisa
dibilang, kemampuan Yui yang satu ini lumayan merepotkan musuhnya yang sedang
mengatur rencana. Rencana sebagus apapun yang dibuat semuanya akan terbongkar
lewat genangan air di sekitar irang yang membuat rencana tersebut.
“Kemampuanku adalah air. Tapi, diriku tak bisa sebebas air.
Kenapa selalu saja ada yang mengganggu kehidupanku?” pikir Yui. Tangan kanannya
terkepal keras. Terkadang, Yui butuh yang namanya tersakiti. Ya, tersakiti yang
artinya dia rela orang lain menyakitinya. Rasa sakit yang kerap kali ia dengar
sebagai sahabat berharganya Black Aura.
“Air itu nggak bisa ditusuk. Air juga nggak bisa ditebas.
Tapi, air itu bisa diperangkap,” ujar Yui datar. Mungkin, rasa sakitlah yang
bisa membebaskannya dari perangkap yang selalu menjadi penghambatnya untuk
bergerak bebas.
Baiklah, pertama, Yui akan ke sampingkan dulu perasaannya.
Yang harus dia lakukan adalah, berhadapan langsung dengan Black Aura. Yui
sering mendengar bahwa banyak sekali Aura di Carnater yang menantang Black Aura
untuk bertarung. Entah itu sekedar mengetes kemampuan bertarung mereka atau
memang pada dasarnya mereka ingin membunuh Black Aura.
Dari semua Aura itu, Yui satu-satunya yang tidak tertarik
bertarung dengan Black Aura. Bukan karena dia takut ataupun tak bisa bertarung.
Melainkan karena Yui hanya ingin melindungi dirinya.
Yui keluar dari genangan yang berada di lantai lima. Akan
tetapi, Aura itu justru malah membeku di tempat bersamaan dengan Aura bermanik
violet yang kebetulan tengah melintasi lorong lantai lima tersebut. Pandangan
mereka berdua bertemu tapi tidak bisa dipalingkan ke arah yang lain.
“Ombak tadi punyamu kan?” tanya Black Aura tanpa pikir
panjang.
“…”
Black Aura mengernyit keningnya bingung. Pertanyaannya tadi
tidak langsung dijawab dengan perkataan dari Yui sendiri. Melainkan, Aura
__ADS_1
berkemampua air itu memilih untuk keluar dari genangan air tersebut sebelum
akhirnya menghajar Black Aura dengan mendorong Aura itu menggunakan ombak yang
ia sembunyikan.
“Cih!”
Tak mau kalah, Black Aura menjentikkan jarinya bermaksud
mengubah ombak tersebut menjadi
Black Aura melayangkan sabitya kea rah pundak Yui. Ajan
tetapi, sabit itu malah menembus gadis itu. Bukan melukainya.
“Yui, kau kenapa?” tanya Black Aura dengan nada datar. Jika
dilihat dari serangan dan ombak yang kian membesar itu, tampaknya Yui sedang
medapatkan tekanan stress dari dunia luat. Mengingat Aura type Yui, Rini, Afra
itu berhubungan langsung dengan dunia nyata. Jadi, rasa sakit yang dirasakan
mereka dari dunia nyata itu berdampak langsung ke Carnater,
“Kau ingin kusakiti?” karena pertanyaan sebelumnya tidak ada
jawaban, Black Aura pun melontarkan pertanyaan kedua yang barangkali mau Yui
jawab.
Pedang Yui yang menganggur itu akhirnya bergerak dan menusuk
Black Aura sampai tembus. Kemudian, Yui mengangkat pedannya ke atas sampai
pundak kanan Black Aura terbelah. Beruntunglah, tidak terbelah sepenuhnya.
Black Aura hanya terdiam menanggapi serangan Yui itu. Gadis
itu sama sekal ridak merespon. Dia hanya bergerak tanpa suara yang penting bisa
mengalahkan Black Aura. Bukan, dia bergerak dibawah kendali benang merah yang
melilit tanganya.
Lantas, BlackAura pun berpikir., “Kurasa, aku harus mencabut
benang tersebut.”
Sementar di lantai empat, Chloe berhadapan sengit dengan
kakak Alter, Ayano. Pertarungan itu sulit sekali Chloe hindari.
mata Chloe membelalalk lebar mendapati benang merah yang menusuk punggung
Ayano.
Aura yang menjadi lawannya saat ini terlihat lemah. Wajanya
pucat dan tubuhnya seolah terlalu dipaksakan untuk bergerak.
Saat Chloe tidak sengaja melamun, memandang pergerakan
Ayano, dalam sekali kedipan, Chloe melihat sesosok gadis berambut pirang
panjang, duduk di sudut ruang kamarnya dengan tangan kedua tangan memeluk
kakinya dan kanannya menggenggam cutter.
Kamarnya gelap. Meskipun ada lampu di langit-langit kamar
tersebut, Chloe bisa menenbak kalau gadis berambut pirang itu sedang frustasi
menghadapi masalahnya. Sampai-sampai, mau menyalakan lampu saja tidak mau.
“Hmm, permisi…?” panggil Chloe berusaha memberanikan
dirinya. Di dalam hati kecilnya, dia ketakutan.
Tidak ada balasan dari gadis berambut pirang itu. Dia masih
sama dengan posisi duduknya.
“Mungkin Cuma gambar aja atau halusinasiku,” gumam Chloe.
Kedipan kedua, akhirnya ia terbangun ada kenyataan
sebenarnya dimana ujung pisau Kristal Ayano tak lama lagi akan menancap ke
lengan kirinya.
Chloe tersedak lalu reflex mengangkat tangannya yang tak
lama lagi akan terluka. Namun, Chloe yang fokusnya hanya ke depan tidak
menyadari akan kehadiran Ayano yang rupanya sudah ebrada di belakangnya. Dengan
kecepatan tinggi, kakinya melayang hingga menghantam pinnggang Chloe.
“Uwaaa!!” teriak Chloe dengan tubuhnya yang melayang cepat,
kemudian berakhir menabrak rak berisikan mangkok kaca. Alhasil, semua koleksi
__ADS_1
mangkok itu pecah.
Tes…
Chloe tertegun begitu dirinya mendengar suara tetesan kecil
yang terdengar tak jauh dari posisinya duduk saat ini. Bola mata Chloe dengan
cepat melirik ke lantai di depannya. Ada genangan berwarna merah kental di
samping pahanya. Genangan itu tak lain adalah darahnya yang mengalir dari
pelipisnya.
Seketika, pundaknya gemetar hebat hanya dengan memandang
darahnya sendiri. “Darah… Aku berdarah…” lirih Chloe.
Tampaknya, Ayano belum puas dengan serangannya tadi. Aura
itu pun berjalan dengan suara tapak sepatu yang menggema hingga ke ruang dimana
Chloe masih terpaku pada darahnya yang tak berhenti mengalir,
“Aura… Aura…” Chloe mendadak tidak fokus dengan situasinya
saat ini. Dadanya diserang rasa panik yang dalam sampai-sampai dirinya sendiri
sulit mengendalikan panik tersebut.
Entah dari mana asalnya, sebuah sentilan kecil mendarat di
kening Chloe dan menyadarkan Chloe akan kenyataan juga mengembalikan sisinya
yang tenang. Chloe terdiam mendapati sentilan itu rupanya berasal dari tangan
Black Aura.
“Aku disini…” kata Black Aura yang diakhiri dengan senyuman.
“Eh, kau berdarah?”
“I-iya… Aku kaget kalau darahnya kok jadi sebanyak ini,”
ujar Chloe berlinang air mata. Jujur, Chloe merasa bodoh menangis di depan
Black Aura. “Uh, aku takut, Aura…”
“Aku juga. Bagimana kalau aku yang bertarung sementara kau
mengobatiku? Tidak ada yang namanya pencar-pencar lagi,” usul Black Aura yang
langsung mendapatkan anggukan kecil dari Chloe.
Ayano yang tadinya hendak menyerang Chloe, terbaring lemah
di lantai setelah mendapatkan sepuluh kali tusukan oleh Black Aura.
Yah, beginilah jadinya jika ada yang berani menyakiti orang-orang
yang Black Aura sayangi. Setetes darah yang jatuh, nyawa merekalah bayarannya.
“Yui? Bukannya kau melawan Yui?” tanya Chloe.
Black Aura yang tengah mengobati kepala Chloe itu tersenyum.
Lalu menjelaskan detail pertarungan yang menurutnya biasa saja. “Aku
meninggalkannya di lantai lima. Jangan khawatir, pergerakannya sudah kusegel.
Tapi, lima menit ke depan mungkin akan lepas.”
“Begitu ya? Black Aura memang kuat ya. Kau bisa mengatasi
semuanya. Sementara aku…”
“Kau pasti bisa tapi bukan sekarang. Kan nanti ada saatnya
kita gantian. Percaya dirilah!” potong Black Aura sambil tidak lupa
menyemangati Chloe yang sering sekali menganggap dirinya tidak berguna.
“Ayo, kita selesaikan sama-sama!” ajak Black Aura. Aura itu
mengulurkan tangannya di hadapan Chloe.
Jelas sekali di mata Chloe kalau Aura itu tersenyum padanya.
Senyumannya semakin lama semakin manis. Setakut apapun hati Chloe, hanya dengan
melihat senyuman Black Aura, dirinya jadi terpancing lagi untuk bangkit.
Chloe menghela nafas seraya menerima tangan Black Aura. Mereka
berdua berdiri bersama-sama. Dengan tangan mereka yang saling tertaut satu sama
lain.
“Terima kasih udah menyemangatiku, Aura,” lirih Chloe
berkaca-kaca.
“Sama-sama. Aku juga senang kau semangat lagi!”
__ADS_1
~