Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 7


__ADS_3

"Mimpi semalam... Benar-benar aneh. Aku merasakan rasa sakit saat dilempar. Tapi, disisi lain aku masih gak nyangka bahwa semua kejadian itu cuma mimpi. Sayangnya... Gak bisa lihat Black Aura." Tutur Chloe sedih. Kedua tangannya saat ini sibuk mengelus-elus badan gelas kaca yang berembun.


"Mimpi ya... Bisa jadi, loh. Mana tahu kalau itu tanda kalau sebentar lagi Black Aura bakal bertemu denganmu!" ucap Aoi asal ceplos.


"Ah! Masa sih? Tapi, benar juga. Astaga, kenapa kita mendadak jadi kekanak-kanakkan begini? Hahaha!" ujar Chloe disusul dengan gelak tawanya.


Gelak tawa yang garing dan receh itu memancing Aoi untuk ikut serta tertawa.


"Benar juga ya! Aku aja gak sadar kalau selama ini kita terlalu kekanak-kanakkan. Tapi, in the end it made you happy right?"


Chloe mengangguk pelan. "Kalau dipikir juga, aku merasa lega kalau bercerita denganmu. Selain bercerita tentang mimpiku dan Black Aura, bercerita denganmu juga membawa dampak positif bagiku. Entahlah... Aku senang aja kalau bisa berbagi cerita denganmu." Ungkap Chloe malu.


"Wah.. Berarti aku orangnya berguna dong? Aku senang mendengarnya! Aku kira kalau selama ini, aku gak ada gunanya untuk orang lain."


"Eh? Kok gitu? Kenapa aku baru tahu sekarang? Ceritakan!"


"Sebenarnya, ini sudah lama sekali. Biasalah, masalah keluarga. Itulah yang membuatku ingin kabur dan sampai bertemu denganmu disini. Sejak awal, kabur memang pilihanku sejak kuliah. Tapi, disisi lain... aku juga takut dengan apa yang kupilih."


Sekarang, giliran Aoi-lah yang berbagi kisahnya. Bagi Chloe, hal itu wajar. Hidup ini timbal balik. Tidak selamanya dia menerima perhatian dari orang. Dia juga harus bisa memberikan yang terbaik untuk sahabatnya.


"Orang tuaku sangat mengandalkan adikku. Memang di akademik, aku sangat berbakat dan dalam non akademik aku juga berbakat. Menggambar salah satunya. Tapi, suatu ketika, ayahku membentakku dan mengatakan sesuatu yang sensitif.


"Dia bilang, *ga**k ada gunanya menggambar. Orang yang suka menggambar itu Gak akan jadi apa-apa*! Aku gak bohong. Rasanya sakit sekali. Seketika aku berpikir seluruh komikus yang sudah naik daun di luar sana. Masashi Kishimoto, Tite Kubo... Mereka semua mangaka sukses. Aku sudah berusaha yakin kalau diriku ini bisa melampaui mereka. Tapi... Kau tahulah..." Aoi mengakhiri pembicaraannya dengan senyuman. Senyuman itu terasa pahit.


Aku gak nyangka kalau Aoi pernah separah ini. Bahkan jauh lebih menyakitkan dariku.


"Kenapa kau gak cerita padaku? Kalau begitu kan sakit gak ada yang nyemangatin. Kapan kejadian itu terjadi?" tanya Chloe penasaran.


Pikirannya langsung terbayang bagaimana suara ayahnya mengatakan hal yang menyakitkan itu pada Aoi. Kejam sekali!


"3 hari yang lalu."


"Heh? Berarti setelah aku menemukan buku ini dong?"


"Iya..."


"Itu artinya... Kejadian itu terjadi sebelum aku mengadakan pertemuan denganmu? Berarti, kau pergi bersamaku ke perpustakaan dengan hati yang terluka? Aku... Minta maaf... Aku gak tahu soal itu..." semakin lama, nada bicara Chloe semakin menurun seiring rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Aoi membalasnya dengan senyuman. Kemudian mengambil sebatang kentang goreng dan melahapnya.


"Tidak apa-apa..."


"Tidak apa-apa? Aku yang mendengarnya saja sakit. Aku merasa bersalah lho! Kukira cuma cewek aja yang bisa ngomong "Gak papa" untuk nyembunyiin rasa sakitnya. Rupanya cowo juga begitu."


"Itulah kenapa Black Aura ada..."


"Heh?? Kenapa nyasar ke Black Aura? Apa dia ada hubungannya dengan rasa sakitmu?"


"Setelah aku baca buku yang kau temui itu, begitu menemukan Black Aura. Entah kenapa, aku jadi sedikit tenang. Di buku itu bercerita bahwa Black Aura adalah Aura dengan kemampuan memanipulasi rasa sakit. Orang yang memiliki partner Black Aura akan sangat beruntung, karena mereka bisa berbagi rasa sakit satu sama lain." Jelas Aoi.


"Black Aura bisa juga dijadikan gambaran rasa sakit setiap orang. Tingkatannya juga berbeda. Dan... Apa kau tahu? Kalau tulisan yang ditulis si penulis itu merupakan gambaran rada sakitnya?" lanjut Aoi.


"Aku tahu. Setiap karakternya aku merasakan aura yang berbeda. Seolah, kesedihan yang dirasakan si penulis berbeda-beda tiap harinya. Keren ya!"


"Iya!"


"Oh, ya... Aoi. Lain kali kalau ada masalah, langsung cerita ya! Aku akan mendengarkan semua ceritamu. Kalau kau pendam terus bisa berbahaya. Terlebih lagi, kondisi mentalmu. Kau gak perlu takut! Semua ceritamu akan aman bersamaku." Tegas Chloe berusaha meyakinkan sahabatnya ini.


"Kau orang yang kuat ya! Entah kenapa... Aku jadi malu setelah mencurahkan masalahku padamu. Rasanya, gak pantas aja..." Chloe kembali murung.


Aoi terbelalak. Tentu saja ia langsung menyangkal apa yang Chloe ucapkan barusan.


"Itu gak benar, Chloe! Rasa sakit setiap personal itu berbeda. Aku memiliki masalah dengan keluarga, tapi disisi lainnya aku punya banyak teman yang bisa menyemangatiku. Tapi, kau... Kau memilih diam agar kenyataan menjadi lebih baik kan?


"Dengan menyembunyikan rasa sakitmu, kau tersenyum dan seolah semua yang terjadi padamu itu bukan apa-apa. Sebenarnya itulah yang membuatku semakin takut jika kau kenapa-kenapa." sangkal Aoi panjang lebar.


Chloe spontan mengangkat kepalanya cepat.


"Perempuan dan Laki-laki. Tingkat kesabaran mereka masing-masing berbeda. Rasa sakit yang kita rasakan itu sama namun beda tingkat dan dampaknya. Kalau kau begitu terus, itu bisa berdampak buruk bagi mentalmu. Ditambah, bisa berdampak juga pada kematian. Ingat itu!"


Seketika, Chloe terdiam kehilangan seribu kata. Entah apalagi yang ingin ia ucapkan.

__ADS_1


Aoi ini... Dia memang orang yang pengertian. Dia mengerti rasa sakitku dan dia, meskipun dia lawan jenis, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya.


"Iya... Lain kali, aku akan lebih percaya diri lagi. Terima kasih udah menghiburku. Kau membuat hariku lebih bermakna dari sebelumnya." Ucap Chloe sedih. Tidak begitu sedih juga. Justru, luka di hatinya perlahan terobati.


Aoi tersenyum. "Aku mengandalkanmu! Aku tahu, kau kuat!"


~


Tak terasa mereka menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan menyusuri setiap sudut yang masih ramai dilewati orang-orang.


Sore yang indah dan menenangkan. Langit biru kini di cat oranye oleh sinar matahari senja yang hangat. Chloe menengadahkan kepalanya ke langit. Sadar sudah seharusnya mereka kembali ke rumah dan beristirahat.


"Eh, Ao." Panggilnya dengan menepuk ringan pundak Aoi.


"Hmmm?"


"Udah sore nih! Aku lapar."


"Ya elah... Elu mah emang lapar terus bawaannya." Gurau Aoi lalu terkekeh singkat.


"Namanya juga jalan-jalan kan, capek!" sambar Chloe gak mau kalah.


"Ya, Udah. Mau kuantar pulang?" tawar Aoi ketika langkah kaki mereka terhenti tepat di depan halte.


"Mau."


"Oke!"


"Jadi, mau makan di rumah atau di restoran?" tanya Aoi mengisi kekosongan diantara mereka.


"Aku lagi bokek nih. Mending makan di rumah aja. Ada banyak kentang aku simpan. Mau makan bareng?" Chloe membalas sembari merapikan rambutnya.


"Begitu ya... Tapi maaf ya, aku gak bisa nginep di rumahmu hari ini. Ada sesuatu yang harus kukerjakan."


"Apa itu?"


"Komik. Yah... Akhir-akhir ini, aku lagi buat komik. Genre-nya action fantasi. Kuharap banyak yang suka biar bisa lolos terus dapat uang. Kan lumayan tuh buat biaya kuliah. Biar gak nge-bebanin orangtua lagi." Jelas Aoi.


"Hebat dong! Punya bakat tinggal di kembangkan aja! Hmmm... Kira-kira, kalau jadi penulis novel aku cocok gak?"


"Cocok kok. Coba ajalah, Chloe! Memangnya, kau mau buat novel tentang apa? Menarik nih!"


Mendadak, wajah gadis berambut pirang ini merona. "Entahlah... Aku malu mengungkapkannya. Sebenarnya, novelku ini ada kaitannya dengan Black Aura."


Aoi memutar bola matanya malas. Mengetahui sahabatnya telah jatuh ke dalam obsesi berlebihan terhadap karakter fiksi.


"Keliatannya kau suka banget sama Black Aura. Kek udah mendarah daging aja. Sekali ketemu orangnya, teriak lu sejadi-jadinya."


Chloe mendengus geli mendengarnya. "Pasti dong, Ao. Siapa sih, yang nggak senang ketemu orang yang disukainya? Pasti senang kan?"


"Iya.. Aku senang. Eh, Udah sampai." Ucap Aoi sekaligus mengalihkan perhatian Chloe pada rumahnya yang telah berdiri kokoh tepat di depannya.


Pekarangan rumah yang biasa saja. Hanya dihiasi sejumlah tanaman seperti mawar dan pohon tanpa nama yang tumbuh di depan rumah. Masing-masing dari mereka menyambut kedatangan sepasang remaja yang baru saja pulang dari perjalanan mereka.


Chloe memandang Aoi dengan raut cemasnya. Entah kenapa, perasaannya tidak enak begitu sampai di halaman depan rumahnya.


"Ao, benar nih, kau bakal baik-baik aja pulang sendirian?"


Begitu mendengar pertanyaan Chloe, lantas membuat Aoi turut serta menuangkan kecemasannya melalui ekspresi wajahnya.


"Entahlah. Mendadak aku cemas begini. Tapi disisi lain, ada tugas yang harus kuselesaikan. Jangan khawatirkan aku. Justru aku yang khawatir denganmu." Ungkap Aoi.


Ia masih bertahan dengan raut cemas itu. Sehingga membuat Chloe masih belum bisa melepaskan pria itu pulang seorang diri.


"Ya, udah deh. Aku masuk ya! Mau masuk gak nih?"


Aoi menggeleng pelan. "Gak, makasih. Aku pulang ya! Makasih untuk hari ini. Besok di kampus ketemuan di perpus lagi kek biasanya."


Chloe mengangguk mantap sekaligus yakin bahwa apa yang Aoi katakan pasti benar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.


"Jumpa besok..."

__ADS_1


"Ya.."


Langkah kaki Aoi memutar kearah sebaliknya dan berlalu meninggalkan Chloe yang masih berdiri tegap di depan pagar rumahnya. Meskipun kecemasan masih menghantui benak mereka.


~


Beberapa jam ia lewati di dalam mimpi. Akhirnya, Chloe bangkit dari alam bawah sadar dan beranjak menuju kamar mandi.


Bersiap-siap serta merias dirinya secantik mungkin. Membawa beberapa buku yang mungkin saja berguna. Nyaris saja kakinya menerobos keluar pintu kamar. Pandangannya otomatis menghentikannya.


Buku kesukaannya. Tentu saja! Tanpa pikir panjang, Chloe segera merampas buku tersebut dan pergi meninggalkan rumahnya dengan terburu-buru.


Sebelum ke kampus, Chloe memutuskan dirinya untuk berkunjung ke kediaman Aoi.


Berangkat ke kampus seorang diri bukan pilihan tepat bagi Chloe. Mau selambat apapun Aoi bahkan sampai dirinya mengalahkan siput pun, Chloe tetap mau menunggunya.


"Eh? Ada apa ini?" batin Chloe ketika kedua matanya disuguhkan oleh cahaya lampu merah dan biru ambulance dan beberapa. mobil polisi yang pakir secara acak tepat di depan rumah Aoi.


Tanpa pikir panjang, Chloe segera menghampiri rumah Aoi demi mendapatkan jawaban.


Terlihat ada beberapa orang tak ia kenali di sekitarnya. Chloe menelan ludahnya ketakutan. Ia juga tidak menemukan orang tua Aoi kecuali 4 pasang petugas medis yang membawa manusia yang terpejam matanya dengan terburu-buru.


Wujudnya tidak diperlihatkan dan tertutupi oleh selimut panjang. Chloe mulai curiga.


"Maaf, pak." Seru Chloe sambil menepuk pundak salah satu polisi pelan.


"Iya? Maaf kamu dengan siapa dan apa kamu salah satu kenalannya Aoi disini?" polisi itu bertanya serius.


Sepertinya ada yang tidak beres. Mau tak mau, Chloe angkat bicara untuk meminta seluruh penjelasan dari pak polisi tersebut.


"Iya. Saya sahabatnya. Sebenarnya, apa yang baru saja terjadi? Dan siapa yang mereka bawa itu?".


Saking cemasnya, polisi itu langsung dihantam oleh sejumlah pertanyaan Chloe. Tak peduli kenal atau tidak? Sopan atau tidak? Pertanyaan ini ia utarakan demi Aoi.


"Sahabat ya..." gumam polisi itu kemudian mengeluarkan buku catatan kecilnya dan menulis informasi yang baru saja ia dapatkan. "Nah, sebelum menjawab pertanyaanmu, bisa beritahu kami kemarin Aoi sedang apa dan dimana dia saat itu? Terakhir kali, kamu dan Aoi sedang apa?".


"Kemarin jam 8 pagi sampai jam 6.30 sore, kami menghabiskan waktu di cafe dan berjalan-jalan. Terakhir kali, Aoi pulang sendirian usai mengantarku pulang." Jelas Chloe jujur.


"Baik...".


"PAK! JAWAB DULU PERTANYAAN SAYA! AOI KENAPA??" sambar Chloe penasaran.


Polisi itu untung tidak terpancing. Hanya menghela nafas berat.


"Kami menemukan bercak darah di dalam rumahnya. Hampir di setiap ruangannya punya. Juga ada goresan besar di tembok rumahnya dan genangan darah di mana-mana. Anehnya, kami tidak menemukan Aoi di dalamnya. Bahkan kami berusaha mencari nomor telepon orangtuanya tapi masih belum menemukannya. Apa kau menyimpan nomor orangtuanya?"


Chloe menggeleng. "Maaf pak. Mayat yang petugas medis tadi bawa itu... Siapa?".


"Ooh... Setelah kami periksa, dia adalah tetangga Aoi. Tetangga sampingnya. Kami menemukan kotak bekal berisi brownies yang masih utuh. Sepertinya wanita ini hendak memberikannya pada Aoi. Namun, esoknya dia ditemukan tewas di depan rumah Aoi. Kami belum menemukan bukti-bukti yang bisa menjelaskan penyebab kematian wanita ini." Jelas polisi itu.


"Lalu, Aoi..."


"Untuk itu, kami belum menemukan orang bernama Aoi disini. Coba kamu telepon dulu Aoi."


"Baiklah." Chloe segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aoi.


Bukan jawaban dari Aoi yang diterima, melainkan suara yang mengatakan bahwa nomor sahabatnya ini tidak aktif.


"Lah kok?" Chloe masih belum menyerah dan meneleponnya 5 kali.


"Bagaimana?"


Akhirnya, Chloe terpaksa berhenti dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, nanti kami coba menghubungi keluarganya. Kamu jangan khawatir dan percayakan saja semuanya..."


"Gimana gak khawatir, pak?! Pokoknya, hari ini aku bolos! Biarkan aku masuk!" Gertak Chloe lalu berlari menerobos beberapa orang dan masuk ke dalam rumah Aoi.


Chloe berlari menerobos orang-orang di depannya. Rasa takut menghampiri benaknya.


"Aoi... Kau dimana?"

__ADS_1


~


__ADS_2