Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 197 {Season 2: Bahagia}


__ADS_3

Edward membuka kedua matanya setelah hampir satu jam dirinya tak sadarkan diri. Saat membuka mata, dirinya langsung disambut oleh Chloe yang menatap serius ke arahnya. Disamping gadis itu juga ada Black Aura dengan sejumlah perban dan hansaplast di pipi kanannya.


“Uhm… Chloe?” Edward bergumam heran. Wajah Chloe yang ia lihat sedikit buram lantaran dirinya yang terlalu lama pingsan.


Edward melirik ke sekelilingnya dimana para pengunjung melakukan aktivitasnya seperti berbelanja, melihat-lihat barang yang dijual di setiap toko, dan makan di restoran bersama orang-orang terdekat mereka. Untunglah, tidak ada satupun yang memperhatikan rupanya yang lumayan kacau sehabis pertarungan sengit melawan Huke tadi.


Tepat di sampingnya, ibunya yang ia kira sudah meninggal, rupanya masih bernafas dan hanya tertidur lelah—menyandar di pundak kanannya.


“Mama masih hidup?”


“Iya… Tadi itu Cuma mimpimu aja,” tutur Black Aura bohong. Sementara Chloe yang berdiri di sampingnya, kelihatannya enggan berbicara dengan Edward. Niat ingin membalas dendamnya memudar dengan cepat.


Chloe berubah pikiran dan memutuskan untuk meninggalkan Edward beserta ibunya.


“Aura, aku mau pulang…” Bisiknya lirih.


Alis Black Aura seketika terangkat keduanya. “Lho? Katanya mau…”


“Nggak jadi.”


Black Aura mengernyit memandang wajah Chloe yang lesu. Aneh, kemana semua semangat itu? Bukankah sebelumnya dia bersemangat ingin membalaskan dendamnya selagi Edward ada di depannya?


“Okelah….” Black Aura akhirnya mengiyakan perkataan Chloe, lalu mengajak gadis itu keluar mall selagi Edward dan mamanya masih dalam kondisi melamun.


Kedua remaja itu melangkah cepat keluar mall. Tidak peduli dengan sebagian pengunjung yang merasa kurang nyaman dengan suara langkah kaki Chloe, menjauh adalah hal utama yang harus Chloe lakukan sekarang.


Seperti biasanya, pikiran Chloe selalu berubah dengan cepat. Bukannya dia takut berhadapan dan berdebat dengan ibu tirinya, melainkan, dirinya tidak ingin dipermalukan di depan public dan juga,,, Membuat Black Aura terlibat.

__ADS_1


“Aura… Daripada masalah duniaku, aku lebih suka menangani masalah yang ada di duniamu,” ungkap Chloe di café. Ya, sebelumnya, dia dan Black Aura sempat kebingungan ingin pergi kemana untuk menghindarkan Chloe dari keluarga tirinya. Untunglah, ide muncul di benak Black Aura dan tanpa pikir panjang, Black Aura membuka portal dan membawa Chloe ke café yang biasanya dia kunjungi bersama Aoi.


“Kenapa? Bukannya kalau menangani masalahku belum tentu kau bisa abadi?” balas Black Aura penuh tanda tanya.


Chloe membuang nafasnya pelan, “Benar sih… Tapi, lebih seru bertarung. Main pedang dan manfaatnya, kita bisa jadi kuat.”


“Itu sih, aku setuju. Jadi, bagaimana langkahmu selanjutnya?”


“Hm, aku bakal menjauh, menjauh, dan menjauh… Aku nggak mau ketemu mereka lagi. Cukup masa lalu saja yang tersakiti,” ucap Chloe diakhiri dengan senyuman.


“Lalu, bagaimana dengan ayahmu? Aku dengar, dia merindukanmu,” tanya Black Aura lagi.


“Kalau itu sih… Aku yakin itu Cuma omong kosong yang Edward buat. Kau tahu?  Omongan orang itu nggak bisa dipercaya. Kenapa sih, banyak kali orang yang mau bikin aku sedih. Bikin aku menderita? Jujur, Aura! Aku capek disalahin terus. Apa-apa aku yang disalahin. Kadang juga Lucas. Tapi, karena Lucas lebih sibuk keluar rumah, selalu aku jadi sasarannya. Di sekolah juga, sahabatku diambil orang lain dan sekarang, dia lebih nyaman dengan orang itu daripada aku,” beber Chloe dengan nada yang sedikit dia tinggikan. Perasaannya kacau. Berat baginya mengontrol amarah yang bertahun-tahun dia pendam sendirian.


“Tapi, aku nggak mau balas dendam entah kenapa. Ya, aku pengen. Aku pengen melihat mereka menderita di depanku. Aku pengen melihat mereka sedih. Aku pengen… Sumpah, masa laluku berisik kali!” Chloe mendadak menutup kedua telinganya saking frustasinya dirinya setiap kali mengingat masa lalu.


Black Aura yangs sedari tadi hanya mendengarkan sebenarnya ingin menenangkan Chloe. Akan tetapi, mengetahui perasaan yang Chloe rasakan saat ini adalah marah, dia rasa, dia tidak menemukan celah untuk menenangkan perasaan gadis itu.


“Kalau sekarang?” tanya Black Aura setelah membulatkan tekadnya.


“Sekarang… Aku membaik.”


Chloe mengangkat wajahnya dan memperlihatkan senyumannya dihadapan Black Aura. Warna. Warna perasaan Chloe yang awalnya hitam, kelabu, dan hijau tua itu berubah cepat menjadi biru mint yang menenangkan. Manik violetnya memantulkan semua warna-warna itu.


“Syukurlah… Nah, sekarang… Kita lebih baik fokus sama apa yang mau kita lakukan aja ya! Jangan mikirin yang aneh-aneh. Entar, kita nggak jadi pacaran lagi,” goda Black Aura sambil terkekeh geli.


“Oke! Nah, habis ini kita pergi ke...”

__ADS_1


Yah, setelah melewati hari yang melelahkan, kedua remaja itu berdiskusi mengenai tempat wisata yang akan mereka kunjungi nantinya.


Senyuman serta suasana hangat yang mereka pancarkan, dari kejauhan membuat Aoi yang saat itu tak sengaja lewat di depan café tersenyum. Bersama kekasihnya, Jacqueline, dia dalam diam memperhatikan Chloe yang antusias sekali menjelaskan seperti apa tempat wisata yang akan mereka kunjungi itu.


“Dia… Bahagia ya!” celetuk Jacqueline mengejutkan Aoi yang malah melamun saat memandang sahabatnya di seberang sana—di dalam café.


“Iya. Kurasa, kita nggak perlu mengkhawatirkannya lagi. Dia udah punya sandaran sekarang,” balas Aoi merasa lega hatinya.


Jacqueline mendengus, “Ya, meskipun begitu, kita tetap harus ada saat dia membutuhkan kita. Kita ini sahabatnya, mau sampai kapan pun, kita juga punya peran untuknya saat dia butuh kita,” jelas Jacqueline lalu melirik ke arah pria jepang di sampingnya. “Jadi, kita mau kemana?”


“Terserah kau deh… Aku sih, yang penting perasaanmu dulu yang bahagia,” goda Aoi dengan cepat, membuat wajah Jacqueline merona semerah tomat yang biasanya dia makan.


“Astaga… Ya udah… Tapi syaratnya, kau juga harus bahagia. Jangan aku doang yang bahagia. Nggak adil tahu!”


“Iya, iya… Yuk, kalau gitu!” Aoi segera menggandeng tangan kecil Jacqueline. Kemudian, melangkah bersama menuju tempat kencan yang mereka inginkan.


Sementara, dari atap gedung, rupanya masih ada orang lain yang memperhatikan aktivitas Chloe, Black Aura, Aoi, dan Jacqueline. Orang itu duduk seorang diri dan baru saja membeli kopi kaleng sehabis pertarungan sengit melawan Huke tadi.


“Dia… Bahagia sekarang,” gumam Devil Mask.


“Kau nggak cemburu, kan?” tiba-tiba, Yumi muncul tepat di sampingnya dan sayang sekali, Devil Mask tidak terkejut saat menyadari kehadiran gadis itu.


“Nggak. Cuma… Kangen pengen main sama dia lagi. Huft… Yumi, mau makan siang dulu, nggak?” tawar Devil Mask. “Aku yang traktir.”


Mendengar kalimat ‘Aku yang traktir’, seketika, senyum semringah terukit cepat di wajah Yumi. Cepat-cepat, gadis itu mengangguk dan merebut lengan Devil Mask bersemangat.


“Jelas mau dong! Yang pilih restorannya, aku ya!”

__ADS_1


“Haha… Iya, iya.”


~


__ADS_2