
Sudah lebih dari lima jam pintu kamar itu Minji kunci dari dalam. Makan malam yang Rara buatkan untuknya sama sekali belum ia sentuh sampai kehangatan tersebut hilang termakan hawa dingin.
Minji sudah menyiapkan banyak jebakan seperti lima belas jebakan tikus yang ia sebarkan di ruang tamu, beberapa benang yang ia ikatkan di setiap kaki-kaki meja dan kursi serta cairan pel yang ia tumpahkan hampir di sepanjang lorong rumahnya. Semua itu ia persiapkan untuk berjaga-jaga dari penyusup atau maling yang diam-diam menyerbu hartanya.
Minji menyalakan ponselnya, mendapati sebuah kotak pesan dari seseorang. Tidak ada nama yang tertera di sana.
Minji terlihat muak dengan pesan tersebut tapi tidak bisa membiarkan jarinya berhenti membuka kotak pesan tersebut. Sesekali dia berdecak sebal dan menggerutu.
"Ada apa denganku? Kalau saja aku bisa mengontrol emosiku... Yohan... Cih!" Minji bergumam kesal. Ingatan beberapa jam yang lalu itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dia sudah mencari cara untuk melupakan kesalahannya dengan menggambar, menonton drama, dan memasak namun sia-sia.
Kedua matanya kini fokus pada rentetan tulisan yang dikirim orang tersebut padanya.
{Besok bersiap-siaplah! Aku akan menjemputmu ke rumah. Ada banyak hal yang ingin kubagikan padamu. Oh, ya! Karena kau anggota baru, Aku ingin memperkenalkanmu pada beberapa anggotaku. Jadi, perhatikan penampilanmu juga, ya!}
Sekian pesan dari orang itu.
Cahaya ponsel yang menerangi wajahnya itu perlahan meredup dan menghilang. Minji menghela nafas berat, merasa bahwa pundaknya saat ini seakan menggendong sesuatu yang berat.
Minji berjanji pada dirinya, untuk selalu mengontrol emosinya dan menjaga ketenangannya apapun momennya. Sayang sekali, dia baru bisa berkaca sekarang dan yah... Dia terpaksa mengusir Rara agar gadis itu tidak terlibat dalam masalahnya.
Banyak cara yang saat ini sedang dia rancang pelan-pelan agar hidupnya aman dari ancaman pria jepang bernama Yuuki itu. Entah siapa sebenarnya pria itu? Bagaimana bisa dia setega itu berlaku kejahatan padanya dan dengan santainya menarik pelatuk pada kekasihnya di tengah keributan kota.
Yuuki. Pria yang besok paginya akan ia temui membuat bulu kuduknya meremang. Pikiran Minji semakin kacau hanya dengan mengingat suaranya.
Pesan itu, membuat Minji terpaksa melakukan tindakan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Seumur hidupnya, ralat. Lebih tepatnya sebelum bertemu Yuuki, gadis itu selalu berperilaku seenaknya pada orang lain. Mengedepankan ego dan mengandalkan amarahnya demi mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Tapi hari ini, pria jepang itu membuatnya jera dan bercermin.
Agar bisa terus hidup, Minji harus menjalankan semua perintah yang diutarakan Yuuki padanya. Apapun perintah dan misinya, yang penting tidak melibatkan orang-orang yang ia sayangi.
Minji yakin bahwa, Yuuki bukan orang ceroboh seperti dirinya. Pria itu sepertinya memiliki kebiasaan disiplin dan orang yang penuh kesabaran. Dia orang yang setia dan memiliki sejuta rencana yang berbahaya.
"Kalau aku tidak berhati-hati, aku bisa celaka. Tidak. Semua orang bisa celaka!" gumam Minji merinding.
"Maafkan aku... Rara." Dengan berlinang air mata, Minji mengambil secarik kertas polos dan bersih, serta bolpoin dengan tinta yang masih terisi penuh.
Bersama kedua benda itu, Minji menuangkan semua perasaannya negatifnya disertai harapan, kalau Rara akan menjadi orang pertama yang membaca suratnya.
Sesudah menulis surat, Minji menyelipkan kertas tersebut di bawah buku jurnalnya seraya mengeluarkan ponselnya lagi.
Niatnya berbeda dari sebelumnya, Minji memencet beberapa angka yang diperlukan dan menghubungi seseorang dengan raut cemas.
"Halo, maaf mengganggu waktu malammu. Aku tidak punya waktu basa-basi lagi. Sekarang, hidupku sedang dipertaruhkan... Cih! Dengarkan aku dulu! Besok pagi, aku harus menemui seseorang dan aku minta, tolong awasi orang-orang sekitarku. Termasuk Chloe sekalipun.
"Meskipun aku tidak menyukainya, gadis itu memiliki peranan penting... Ah, iya! Aku minta, tolong beritahu Rara untuk selalu beraama Chloe. Dia akan lebih aman bersama gadis itu dan... Bilang pada teman-temanku bahwa aku harus pergi mengurus perusahaan ayahku.
"... Untuk ayahku, kau sebaiknya menghindar untuk beberapa saat sampai semua masalahku ini selesai. Sekali lagi,Jangan beritahu apapun rencanaku dan kemana perginya aku besok!" beber Minji pada orang di seberang sana.
Bisa dilihat dengan jelas bahwa gadis itu berusaha mati-matian menstabilkan suaranya agar tidak ketahuan cengeng oleh orang yang sedang di telponnya itu.
"Apapun itu... Kau harus menutup mulutmu sampai aku memberi perintah selanjutnya. Maaf, aku nggak maksud memanfaatkanmu. Pacarku, dia sepertinya tidak selamat usai ditembak pria bernama Yuuki itu... Tunggu dulu! Apa?! Bagaimana dengan tugas kuliahku yang lain? Astaga...! Ya, sudahlah. Fine! Akan kulaksanakan. Cepat beritahukan semuanya!"
__ADS_1
Untuk sesaat, suasana di sekitar Minji diselimuti oleh kekosongan. Orang di seberang sana saat ini sedang menjelaskan beberapa rencana dan meminta Minji untuk fokus sampai gadis itu menutup ponselnya dan menghempaskan dirinya di atas ranjang tidur.
"Mau bagaimana lagi..."
~
"Beneran nggak marah? Aku yakin, kau pasti marah besar." Protes Jacqueline yang kala itu tengah berganti pakaian menjadi piyama tidur, di kamar Chloe.
Chloe menggeleng kepalanya santai. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan hubungan yang saat ini Jacqueline jalin dengan Aoi.
"Sama sekali tidak. Asalkan, kau tidak lupa mengundangku ke pesta pernikahan kalian saja." Balas Chloe disertai senyuman.
"Kau menyindir, ya?"
"Mana mungkin! Aku bahagia dengan kalian berdua. Eh, sudah jam sebelas. Ayo, tidur!" ajak Chloe menyadari jarum pendek menuju angka sebelas pas.
Jacqueline mengangguk pelan dan segera menaiki ranjang tidur bagian atas. Sedangkan Chloe, sejak dulu, dia memang tidur di ranjang bawah.
"Good night..." Ucap Chloe pada Jacqueline sebelum tidur.
"Good night..."
Keduanya pun memejamkan mata mereka. Untuk beberapa saat, kamar mereka menjadi hening dan hanya nafas mereka yang mengisi kekosongan yang luas itu.
Ding Dong!
Bel pintu rumah Chloe berdentang tiba-tiba, membuat kedua gadis itu otomatis terbangun dari tidurnya dan menaruh rasa penasaran akan suara bel tersebut.
Suara bel itu terdengar jelas oleh pemiliknya dan teman-temannya dari berbagai kamar yang berbeda. Jacqueline yang diserang panik itu langsung bertanya pada Chloe mengenai bel rumahnya yang berbunyi secara misterius.
"Cih! Mana kutahu! Jam sebelas begini? Kira-kira orang mana yang mau menggangguku? Padahal, aku tidak memiliki interaksi apapun dengan tetangga kiri dan kananku." Balas Chloe dengan nada seperti orang mengantuk.
Jacqueline di atasnya juga ikut menguap. “Entahlah. Hmmm... Bagaimana kalau kita biarkan saja dulu?”
Saat Chloe hendak menyetujui ide Jacqueline, bel rumahnya kembali berdentang dan menyelanya. Chloe dan Jacqueline tertegun mendengarnya. Namun, mereka berencana untuk diam sampai suara bel ketiga berbunyi dan jika bel ketiga benar-benar berbunyi, maka mereka berdua memutuskan untuk keluar kamar sambil berjalan mengendap-endap.
Untuk saat ini, suara bel berhenti setelah berbunyi dua kali. Chloe bertanya-tanya, orang mana yang mau mempertaruhkan dirinya melawan badai salju hanya untuk memencet bel rumahnya? Mungkinkah dia tersesat dan tidak sengaja menemukan rumah Chloe?
Tiba-tiba saja, pikiran itu membuat Chloe menjadi khawatir. Gadis itu beranjak dari ranjang tidurnya, kemudian mengambil mantel luarnya, berhambur menuju ruang tamu. Tanpa sadar, mengabaikan suara Jacqueline yang memintanya untuk tunggu.
~
Di lorong menuju tangga ruang tamu, derap langkah Chloe berusaha berbaur dengan kesunyian. Namun, tidak disangkanya keberadaannya disadari begitu cepat oleh Black Aura yang ternyata sudah lebih dulu sampai di ruang tamu dan saat ini tengah bersembunyi dibalik pintu.
“Kau nggak tidur?” tanya Black Aura saat Chloe tertangkap basah sedang mengamatinya dari balik tembok sebagian besarnya ditutupi oleh rak berisikan action figure milik abangnya.
Gadis itu menyengir lebar sambil menggelengkan kepalanya. “Jadi kau juga ingin memeriksa siapa yang memencet bel tadi?” tanya Chloe tanpa basa-basi menghampiri Black Aura.
“Iya. Dia manusia dengan gender perempuan.” Ujar Black Aura yang seketika mendapatkan reaksi terkejut dari Chloe. Aura pun itu kembali melanjutkan kalimatnya.
“Aku agak mencemaskannya karena dia membawa dua koper dan terlihat kedinginan. Dia menunduk tanpa melepaskan jari telunjuknya dari tombol bel. Apa dibuka saja kali pintunya?”
__ADS_1
“Hmm… Tapi, aku ragu.”
“Ada aku.” Black Aura berusaha meyakinkan Chloe.
“Baiklah. Nah, ayo buka!”
Setelah mendapatkan senyuman dari Chloe, Black Aura menggenggam gagang pintu tersebut lalu membukanya pelan-pelan. Benar yang dikatakan Black Aura, seorang gadis dengan tinggi kira-kira 165cm, berdiri di depan pintu dan terlihat nyaris membeku. Di saat bersamaan, Chloe menemukan sebuah kejanggalan dari gadis itu. Ya, dua
koper yang tergeletak di kiri dan kanan gadis itu. Chloe sepertinya pernah melihat koper itu tapi entah dimana dan kapan itu?
“Ano… Ada yang bisa kubantu?” tanya Chloe ketakutan.
Seakan baru saja terpleset dari jembatan es yang tipis, gadis itu terbangun dari lamunannya dan memperlihatkan wajahnya cepat. “Chloe!” serunya penuh rasa syukur.
Chloe tercengang kaget dan senang. “Rara!”
Kedua gadis itu saling berbagi pelukan hangat dengan Black Aura yang diam-diam keluar dan mengangkat koper Rara yang berat.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Apa kau dan Minji sedang bermasalah? Dengan siapa kau ke sini?” Chloe yang terlihat cemas itu menghantam Rara dengan beragam pertanyaan sehingga membuat gadis yang setengah membeku itu terkekeh.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, Minji… Sesuatu yang aneh baru saja menimpanya. Kuharap, kau tidak menyalahkan Minji lebih jauh lagi.” Ucapnya murung.
"Masalah? Nggak biasanya punya masalah dianya." Celetuk Chloe heran.
“Hei, kalian. Di luar dingin.” Black Aura tiba-tiba masuk dalam topik pembicaraan mereka seraya meletakkan nampan berisikan dua cangkir coklat panas di atas meja ruang tamu.
“Benar juga! Ayo, ra!” Chloe mempersilahkan Rara masuk.
“Rumahmu banyak berubah, ya!” pujinya sambil mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut ruang tamu yang tampak luas dan menawan itu. Sampai akhirnya,perhatiannya itu berakhir ke Black Aura yang hendak meninggalkan mereka berdua.
“Tunggu dulu…!” serunya sedikit tertahan suaranya menyadari kehadiran orang lain di rumah Chloe. Sahabatnya itu sejak dulu tinggal sendirian. Saat mengetahui ada orang lain, rasanya tidak biasa aja gitu.
Seruan Rara tadi ditanggapi langsung oleh Black Aura dengan lirikan kecilnya.
“Ya?” respon Black Aura.
“Aku ingin kau disini mendengarkan ceritaku. Sebelum itu, aku minta maaf sudah mengganggu waktu malam kalian. Aku tidak punya pilihan selain berkunjung ke rumahmu Chloe. Aku nggak tahu apa yang baru saja terjadi pagi tadi. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Aku khawatir dengan Minji karena, dia bertingkah aneh selepas pulang dari café.” Ungkap Rara dengan suara yang bergetar.
Black Aura yang tadinya hendak beristirahat di kamar, memutuskan untuk mendengarkan curahan hati Rara. Aura itupun menghampiri sofa berlengan dan duduk di sana. Memasang tatapan focus untuk meyakinkan Rara bahwa dirinya siap membantu gadis itu.
“Kalau nggak keberatan, bisa ceritakan awal mula keanehan itu terjadi?” pinta Black Aura.
Di sampingnya, Chloe cukup terpana dengan Black Aura yang mau berinteraksi dengan Rara. Tidak biasanya Aura itu mau berinteraksi dengan manusia selain dirinya.
Rara berpikir sejenak sebelum pada akhirnya menjawab. Lagi-lagi, dengan nada yang terkesan ragu. “Sama sekali tidak.”
“Bagus.” Balas Black Aura tersenyum singkat pada Rara hingga menimbulkan rona merah di kedua pipi gadis itu. Untung saja, pandangannya terhalang oleh gelas saat meneguk segelas coklat hangat. Kalau tidak, mungkin Chloe akan menaruh rasa cemburu pada Rara dan kekesalan pada Black Aura karena diam-diam menarik perhatian gadis lain.
“Semua itu dimulai beberapa jam yang lalu…”
Rara menarik nafas pelan dan mulai menceritakan semua yang terjadi padanya dan Minji beberapa jam yang lalu. Ceritanya terdengar naik turun. Ada kalanya suaranya datar, ada kalanya rendah. Black Aura dan Chloe seolah dibuat larut dan ikut merasakan sendiri apa yang dirasakan Rara saat itu. Menanggapi perilaku aneh dari Minji
__ADS_1
sampai pada akhirnya, gadis itu mengusir Rara dari rumahnya.
~