
Pukul 11.12, di rumah Jacqueline. Devil Mask membuka pintu rumah gadis itu dan langsung disambut oleh seruan keras Jacqueline yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
“Chloe!!! Kau kemana saja? Huhuhu… Dari pagi sampai selarut ini kau belum balik. Aku kesepian tahu!” Jacqueline menangis tersedu sedu. Black Aura yang melihatnya membatin, apa-apaan, orang ini?
“Kalian berdua… Banyak sekali luka memarnya. Ya, sudahlah! Ikut aku! Kalian harus segera diobati dan makan malam. Dan juga mandi. Kalian bau laut soalnya.” Jelas Jacqueline beranjak dari ruang tamu.
“Ada kentang goreng?” tanya Chloe.
“Ada kok. Devil Mask membelinya banyak sekali. Sahabat siapa sih, yang nggak tahu makanan favorit bestie-nya sendiri. Tentu aku dongz!” Jacqueline menyibak rambut ungunya ke samping, memuji dirinya yang mengetahui makanan favorit sahabatnya.
Chloe tertawa geli melihatnya. “Jacqueline-ku nggak ada berubahnya, ya! Sombong begini ada benefit-nya juga buatku.”
“Jelas! Eh, Devil Mask, Aura… Kalian di ruang tamu dulu ya! Akan kubawa kalian cemilan.” Lanjut Jacqueline sambil membopong tubuh Chloe.
Kedua Aura itu mengangguk singkat. Kemudian, mereka menghampiri sofa Jacqueline dan duduk bersebelahan. Duduk mereka agak berjarak karena merasa suasana diantara mereka terasa canggung. Sekilas tentang mereka berdua, selama di Carnater, Devil Mask dan Black Aura memang jarang berkomunikasi
kecuali untuk hal-hal penting. Berbicara basa-basi layaknya Chloe dan Jacqueline bukanlah kebiasaan mereka.
“Kau suka Chloe?” Devil Mask bersuara mencairkan suasana canggung yang menyelimuti mereka itu.
Black Aura tidak merespon kecuali melirik Devil Mask singkat. “Kau nggak suka?”
“Kenapa malah balik bertanya?” Devil Mask mulai jengkel namun sulit mengepalkan tangannya rapat karena memiliki cakaran yang panjang di setiap jarinya. “Kalau suka, bilang.” Tambahnya.
Black Aura memandang sinis remaja bertopeng di sebelahnya.
“Huft… Fine. Aku yang salah.”
Di pihak Chloe dan Jacqueline. Kedua gadis itu memiliki suasana yang berbanding terbalik dengan patner mereka. Keduanya saling melempar candaan dan lelucon. Terkadang membahas hal-hal yang berkaitan hewan dan makanan, setelah itu masa lalu, kemudian cinta. Saat membahas cinta, senyuman Jacqueline mendadak kaku. Lantas, Chloe yang menyadari keanehan dibalik senyuman Jacqueline langsung mengintrogasi orangnya.
“Ada apa dengan senyuman itu?” tanya Chloe.
“Hm… Nggak ada. Aku setiap kali mendengar cinta, aku merasa nggak pernah menemukan cinta yang sebenarnya. Setiap kali mendengar kata itu, aku menganggap cinta dan sayang itu berbeda.” Ungkapnya.
“Singkatnya, kau ingin curhat, kan?” Chloe menyimpulkan sambil terkekeh.
“Aku hanya khawatir dengan Aoi. Sama sepertimu, dia keluar rumah sore tadi dan… Belum kembali.” Jacqueline mengungkapkan keluh kesahnya disertai helaan nafas lelah.
“Lho? Aoi juga?” Chloe melongo heran.
“Aku takut…” Dia bersama perempuan lain. Di sisi lain, Jacqueline membatin seperti itu.
“Tapi, orang-orang itu nggak hafal dengan wajah Aoi, kan?”
“Entahlah… Sebelum bertemu denganmu, aku lebih berpengalaman dikejar Legend Aura. Tapi, nggak pernah sampai selarut dirimu.” Balas
Jacqueline. Gadis itu menyelipkan helai rambutnya di telinga kanannya. Membuka
pintu kulkas dan meletakkan sepiring mochi. Padahal, Chloe baru saja melewati empat belas jam di kapal. Bertarung melawan Aura dan juga hawa dingin.
“Katanya ada kentang?” celetuk Chloe terdiam.
“Belum kugoreng.” Sahut Jacqueline. “Besok ya!”
Mau bagaimana lagi, sudah selarut ini dan hal itu membuat jiwa pemalas seseorang kian meningkat. Chloe yang juga mengakui bahwa dirinya sendiri tengah dilanda rasa malas, akhrinya memilih untuk memakan apa yang
tersaji di meja.
“Thanks.” Gadis itu mulai mengunyah salah satu moci. “Kalau Aoi belum pulang sampai jam dua belas, besok kita bergerak.”
“Lah? Bagaimana dengan lukamu? Kau pasti kelelahan, Chloe.”
“Aku sudah terbiasa. Toh, aku sudah pernah mengalaminya dan pasti akan ada keajaiban menghampiriku.” Ujar Chloe dengan mulut penuh akan moci.
“Kau terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu, Chloe. Kau Cuma lagi beruntung aja…” Jacqueline menepuk jidatnya.
“Nggak kok. Memang ada keajaiban. Buktinya, kita bisa bertemu dengan Aura.” Chloe tetap menyangkalnya sampai-sampai membuat Jacqueline kehabisan ide untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kita Cuma perlu beli obat aja. Kalau misalnya luka. Jangan terus mengandalkan Black Aura. Meskipun dia punya kemampuan memindahkan rasa sakit, Black Aura tetap aja bisa merasakan rasa sakit.”
“Aku tahu itu, Chloe. Okelah, aku mau tidur dulu. Aku tinggal dulu ya!” Jacqueline pamit undur diri karena mengantuk. Chloe mengangguk kecil dan kembali melanjutkan kegiatan mengunyah mocinya.
~
Keesokan paginya, Aoi tak kunjung pulang. Baik Jacqueline maupun Chloe yang sudah menelpon berulang kali bahkan sampai mengespam huruf “P” lewat chat, hasilnya tetap nihil. Chloe dan Jacqueline cemas mendapati kenyataan itu. Hingga akhirnya, mereka harus kembali bergerak tanpa memikirkan kesehatan mereka. Ketiga Aura itu juga dengan senang ingin membantu mereka.
Chloe, Jacqueline, Black Aura, Devil Mask, dan Yumizuka berkeliling di sekitar kota. Masing-masing dari mereka memiliki beberapa keperluan. Oleh karena itu, mereka akhirnya berpisah untuk beberapa saat. Jacqueline, Devil Mask, dan Yumizuka mengunjungi mall berniat membeli beberapa camilan dan peralatan dapur
untuk dijadikan senjata. Sementara itu, Chloe dan Black Aura pergi ke apotek berdua untuk membeli beberapa obat.
“Hei, Devil Mask. Kau jadi pusat perhatian orang-orang, lho. Buka saja topeng sialanmu itu.” Ledek Yumizuka yang kala itu tengah mengamati rupa mixer.
“Kau yang bodoh. Jangan asal gunakan kekuatanmu di tempat seperti, dong! Ck, kekuatanmu merepotkan juga di saat seperti.” Devil Mask memandang geram.
“Lanjutkan saja omelan kalian!” Tiba-tiba, Jacqueline berseru membuat kedua Aura itu nyaris saja meloncat. “Untuk apa mixer itu?”
tanya Jacqueline keheranan.
“Aku nggak tahu fungsinya. Tapi, aku merasa mixer ini memiliki peran penting dalam bertarung nanti.” Yumizuka mnyahut namun
pandangannya terpaku lurus pada mixer.
“Mulutmu peran penting. Hmmm… Beli aja deh!” Jacqueline merampas mixer tersebut. Memasukkannya ke dalam troli belanjaan.
Devil Mask hanya bisa menepuk kening topengnya. Sungguh lelah baginya jika harus mengawasi dua perempuan ini. Sama-sama cerewet dan pikiran mereka tidaklah jelas. Devil Mask mendapatkan kesimpulan bahwa, perempuan itu menyulitkan. Baik secara emosional maupun penampilan mereka.
“Cih… Aura beruntung sekali hanya menjaga satu cewek.” Gumamnya kesal.
Sementara itu, di Walgreens Pharmacy. Apotek yang cukup luas dan menyimpan banyak sekali obat di dalam sana. Suasana yang tentram dan damai. Warna putih lantai itu menjelaskan bahwa lantainya selalu dibersihkan demi kenyamanan para pembeli.
Pagi yang menjelang siang, para pengunjung bisa dikatakan tidak terlalu ramai. Chloe dan Black Aura bisa dengan santai memasuki apotek tersebut tanpa harus mengatakan ‘permisi’
“Kau tetap di belakangku.” Ucap Chloe serius. Dia juga memberikan ponsel dan earphone-nya agar Aura itu tidak mudah bosan. “Gunakan ini kalau mau mendengarkan musik.” Tambahnya sambil mencolokkan kabel penghubung earphone ke lubang ponselnya di bagian atas.
Untung saja, Chloe memilih outfit yang tidak begitu mencolok tapi cocok untuk Black Aura. Kemeja abu-abu yang ditutupi dengan jaket hitam bergaris violet di lengannya, celana jeans hitam, dan sepatu bot. Secara pribadi, Black Aura tidak terlalu mempermasalahkan penampilannya. Dia juga suka dengan aroma citrus.
“Black Aura. Kau pernah minum obat?” tanya Chloe sekedar basa-basi. Selain berbasa-basi, gadis itu juga dengan telitinya memilih obat yang pas jika seandainya salah satu diantara mereka terluka parah atau sakit demam.
“Nggak tuh.”
“Oh, oke.” Chloe menyipitkan kedua matanya—membaca tiap-tiap paragraph tulisan yang memberitahunya manfaat dan cara penggunaan obat terebut. Ia nyaris di cap nenek-nenek oleh Black Aura dikarenakan, posisi berdirinya yang agak bungkuk layakya nenek-nenek yang tengah mencari obat buat cucunya yang sakit. Ada-ada saja!
“Black Aura! Jangan diam saja disitu! Bantuin pilih-pilih obat, napa?! Gak mungkin kita berdua kesini tapi hanya aku seorang yang sibuk
mencari-cari obat!” omel Chloe tanpa alasan yang jelas.
“Tadi kau menyuruhku untuk tetap dibelakangmu.”
“Di belakang sambil ngapain gituh! Kau bisa saja menimbulkan kesan curiga orang-orang di sekitarmu.”
Black Aura tidak merespon dan hanya memperlihatkan tatapan malasnya pada Chloe. “Aku nggak paham apapun tentang obat kalian.”
“Terserah!” Chloe merajuk. Wajah merajuk itu tak lama kemudian berubah menjadi senyuman centil seakan baru saja menjahili Black Aura. Meskipun demikian, Black Aura tetap tidak ingin campur tangan mencari obat. Karena, ia
sama sekali tidak mengerti dengan obat-obat di bumi. Sudah jelas berbeda bahan-bahannya.
“Black Aura… Bagaimana perasaanmu?”
“Tentang apa?”
“Kemeja itu.”
Black Aura membulatkan kedua matanya bingung. Dia melirik kemeja abu-abu yang sedikit kehitaman berpikir bahwa kemeja inilah yang Chloe maksudkan.
“Aku suka.” Katanya.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Ya. Ini milik siapa?”
“Abangku. Ah, maksudku… Almarhum abangku. Namanya Lucas. Tidak kusangka, kemejanya sangat cocok denganmu. Apa jangan-jangan, kalian berdua memiliki tinggi yang sama?” Chloe berdiri setelah lelah membungkuk.
“Oh, dia yang membuatmu jadi kecanduan makan kentang, ya?” Black Aura melanjutkan topic pembicaraan mereka.
Chloe mengangguk pelan. “Ya... Bukankah aku sudah menceritakannya? Abangku itu orang yang ramah dan fans berat kentang. Jika kau bertemu dengannya, dia tampil agak dingin di awal bertemu, tapi dia orang yang penuh perhatian kok.” Iris biru terlihat berbinar. Mendeskripsikan seberapa kagum gadis itu pada sosok abang yang sangat ia sayangi itu.
“Lucas sangat dekat dengan Aoi. Mereka berdua memang sahabat yang cocok. Aku juga sangat cocok sebagai saudara kandungnya. Di saat aku sedih usai pulang sekolah, dia mengajakku berjalan-jalan. Terkadang, dia mengajak Aoi juga agar suasana di sekitar kami semakin ramai.”
Black Aura terdiam dan focus mendengarkan cerita gadis itu. Hatinya merasa tentram hanya dengan mendengar cerita yang gadis itu bagikan. Selain itu, masih ada pertanyaan yang bersarang di benaknya sedari kemarin. Mengenai dendam Chloe yang sangat kuat. Jujur saja, Black Aura menyadari aura negative dari Chloe yang lebih sering menyembunyikan dirinya dari public.
“Lucas… Dia selalu menyempatkan dirinya untuk bermain denganku. Lucas juga… Hanya menyukai satu orang cewek dan cewek itu hanya aku seorang. Awalnya, aku tertawa mendengarnya. Tapi aku sadar. Bahwa di dunia ini, hanya dia seorang yang menyukaiku.” Chloe tersenyum miris menertawakan dirinya dari
masa lalu.
“Abangmu... Menyukaimu?" Black Aura tidak mengerti.
"Terima kasih!"
Usai membayar obat-obatan di kasir, Chloe mengajak Black Aura keluar apotek. Dia melanjutkan cerita abangnya.
"Lucas memang bilang padaku, hal yang paling dia sukai dari diriku adalah senyumanku. Dia akan sangat bahagia dan kesedihannya meleleh seoalah 3d latte di pagi hari." Tutur Chloe mengambil posisi duduk di kursi taman.
Black Aura juga ikut duduk di samping gadis itu. Antusias mendengarkan gadis itu bercerita.
"Lalu, apa kau menyukainya?"
Gadia itu menggeleng, "Saat itu, aku tidak memiliki ketertarikan apapun. Aku sangat fokus pada sekolah dan masa SMA-ku. Aku juga masih sering terjebak luka di masa lalu.
"Oh, ya, Black Aura. Kau pasti mendengar salah sati rahasia gelapku dari Aurora, bukan?"
Black Aura mengangguk kesekian kalinya. Dirinya juga tidak berniat untuk berbohong.
"Yang dikatakannya adalah benar. Aku memang memiliki dendam dengan seorang wanita. Aku selalu berharap agar aku bisa membunuhnya. Apapun caranyalah."
"Siapa wanita itu? Apa hubungannya denganmu?"
"Sama sekali tidak ada. Kecuali dengan abangku sebagai mantannya." Kali ini, nada bicaranya mulai menurun dan tajam.
Diam-diam, Black Aura merasakan keinginan untuk belas dendam dari gadis itu semakin kental setiap kali teringat akan orang yang Chloe benci.
"Gadis itu... Aku nggak tahu apa yang dia lakukan pada Lucas. Tapi, setelah putus dengan abangku, Lucas mulai mengalami frustasi berat. Lucas juga jadi jarang bermain denganku.
"Banyak orang mengira kalau abangku mati karena kecelakaan mobil, namun... Pernyataan itu salah besar. Hanya aku seorang yang tahu penyebab kematian abangku."
"Apa penyebabnya?"
"Saat abangku hendak pulang dengan memgendarai mobil, aku sempat menelponnya. Aku sempat merekam pembicaraan kami sore itu. Abangku dalam suasana hati biasa saja. Tapi, tak lama kemudian, aku mendengar suara benda yang menghantam keras.
"Serpihan kaca berceceran. Aku panik. Namun saat itu juga, aku tak sengaja mendengar suara seorang gadis tertawa. Dia bilang, "good bye my ex!" Aku kaget, dong. Aku menduga bahwa kematian abangku karena rencana seseorang.
"Aku sengaja diam agar tidak ada pihak manapun campur tangan saat waktu valas dendamku tiba." Chloe memejamkan matanya sejenak. Mengumpulkan energi lagi untuk berbicara.
Di lain sisi, Black Aura akhirnya telah menemukan satu lagu yang sesuai dengan mood-nya. Dia memutarnya dan menikmati lagu tersebut.
"Kau tahu wajahnya?" Black Aura menoleh pada Chloe yang terlihat resah.
"Sama sekali belum. Aku bahkan nggak tahu namanya." Balasnya sedih.
"Jangan murung gitu. Aku pasti akan membantumu." Black Aura mengelus pelan punggung tangan Chloe agar perasaan gadis itu sedikit membaik.
"Kau ini..." Chloe terkekeh.
~
__ADS_1