Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 217


__ADS_3

“Devil Mask! Kok bisa begini?!” kaget Yumi dihadapan Jacqueline dan Devil Mask.


“Santai aja kali kagetnya…” ujar Devil Mask santai sambil menunggu Jacqueline selesai mengobati luka-luka yang dia peroleh dari hasil pertarungannya melawan Ghostwave.


“Parah kali…” gumam Black Aura.


“Ya kan? Ini juga sebagai pertanda buruk buat kita, lho…” balas Devil Mask. Nada bicaranya


terdengar stabil meskipun kondisi tubuhnya saat ini tidak memungkinkan. Untuk berdiri saja, Devil Mask membutuhkan bantuan Aoi.


“Pertanda buruk? Memangnya pas bertarung tadi kau kalah?” tanya Yumi mengeryit keningnya. Gadis itu melangkah sedikit, lalu menunduk menyamakan wajahnya dengan topeng Devil Mask.


“Kalah. Ini juga baru pertama kalinya aku melawan Ghostwave. Ghostwave kan harusnya udah mati beberapa tahun yang lalu. Tapi, kenapa dia masih hidup?” ungkap Devil Mask.


“Mati? Bukannya kata ibu, Ghost wave Cuma tersegel?” sangkal Yumi.


Sementara di belakanganya, Black Aura hanya diam. Sedari tadi, manik violetnya memperhatikan rumah Chloe yang berada tak jauh dari tempat Devil Mask dan Jacqueline ini.


Sepinya. Seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu.


Black Aura meneguk salivanya. Sedih. Perasaan itulah yang sedang mengusiknya belakangan ini.


Kesepian juga termasuk karena tidak ada lagi suara cerewetan Chloe yang biasanya mengisi hari-harinya.


Tidak ada aroma kentang goreng yang panas dan garing.


Chloe… Kau dimana?


“Yumi, udah kan?”


“Udah kok. Kau kalau mau cari Chloe, nggak papa sekarang aja carinya! Oh, ya! Kalau kau butuh apa-apa, kau hubungi saja Ethan,” tambah Yumi yang langsung mendapatkan tatapan tak menyenangkan dari Black Aura.


Wajar saja karena gadis itu tidak tahu kalau rekannya atau mungkin saudaranya itu benci dengan


Ethan.


“Nanti aku hubungi. Aku duluan ya!” Black Aura berteleportasi langsung ke tempat Yira berada.


“Haahh… Sejak pacaran sama Chloe, Black Aura jadi agak keras kepala ya!” ujar Jacqueline setelah sedari tadi memperhatikan ketiga Aura itu berbicara.


Akhirnya, Jacqueline selesai mengobati luka-luka Devil Mask.


“Kau benar. Tapi, melihat dia banyak bicara, aku merasa tenang sih. Seenggaknya, dia punya sesuatu untuk dia khawatirkan,” timpal Yumi diakhiri dengan helaan nafas singkat.


“Memangnya, dulu dia nggak pernah ya, mengkhawatirkan orang?”


“Nggak. Dia datar. Nggak suka berinteraksi dengan orang lain. Tapi, gitu-gitu, aku kasihan sama Black Aura. Dia nggak bisa kayak kami. Kami jahat tapi masih bisa tertawa. Dia nggak bisa sama sekali.” Devil Mask mengungkap semua yang terlintas diingatannya mengenai Black Aura.


Terlepas dari semua yang telah dia lewati bersama Black Aura, baru kali ini dia bisa melihat Black Aura menjadi lebih berwarna setelah memiliki seseorang yang bisa merubahnya.


“Chloe… Aku sebenarnya mau cari gadis itu. Aku nggak maksud mau rebut dari Black Aura. Tapi, aku juga sayang sama gadis itu. Kita berenam udah kayak saudara aja entah kenapa,” Yumi melirik ke arah Jacqueline disertai senyuman singkatnya.


~


Di depan perpustakaan, Black Aura langsung mendorong pintunya dan masuk tanpa mengucapkan


kata permisi ataupun salam.


Tidak ada hal penting selain Chloe saat ini. Bahkan, Ghistwave yang sudah menjadi pertanda buruk


bagi mereka saja tidak ia pedulikan.


“Chloe… Chloe… Chloe… Chloe…”


Black Aura tertegun di tempat ketika maniknya tak sengaja


mengarah ke tempat Yira duduk saat itu.


Gadis itu membaca buku sejarah Carnater dan awal mula perang antara Megavile dengan Legend


Aura di mulai.

__ADS_1


Karena penasaran, Black Aura menghampiri gadis itu.


“Kau ngapain?” tanyanya pelan.


Yira menoleh kea rah Black Aura tanpa suara. Kemudian, dia tersenyum. “Buku ini yang pernah


Chloe temukan, bukan? Aneh, kau bilang, dia ada disini. Tapi, kok yang aku temuin Cuma bukunya?”


Black Aura mengernyit. Aura itu semakin bingung dengan situasinya saat ini. Hilangnya Chloe


bukanlah sesuatu yang wajar. Ditambah lagi, kehadiran Yira saat ini juga bukanlah hal yang wajar.


Semua ini aneh.


Untuk sementara, Black Aura tidak menjawab omongan Yira. Dia masih harus mencari tahu asal mula situasi tak jelas ini. Tak Cuma situasi, keberadaan Ghostwave yang begitu tiba-tiba juga mengundang


rasa penasarannya. Hilangnya Emma dan Elena yang masih belum terungkap sampai saat ini.


Semuanya membingungkan.


Seandainya ada Chloe, semua rasa bingung ini bisa menghilang dengan cepat.


“Black Aura? Kenapa diam?” tanya Yira.


“Kau ini… Sebenarnya siapa? Kau pasti ada hubungannya kan dengan mereka,” ujar Black Aura tak


memperdulikan pertanyaan Yira.


Aku tahu, dia pasti…


Tanpa pikir panjang, Black Aura mengeluarkan pedangnya kemudian, menebas Yira.


Betapa terkejutnya Yira melihat tindakan Black Aura yang mendadak tersebut. Selain itu, rasa sakit yang dia rasakan bukan lagi di mimpi melainkan di dunia nyata—dengan dirinya yang dalam keadaan sadar.


Yira menyeringai, “Nggak kusangka bakal secepat ini…” katanya.


Darah biru berjatuhan membasahi lantai perpustakaan.


Black Aura hanya terdiam. Sejak awal, semua yang dia alami ini tak ada yang beres. Dia sadar. Yang dia alami ini hanya sebatas mimpi belaka.


Aku mengerti sekarang. Yang hilang itu bukan Chloe ataupun Midnight. Yang hilang itu adalah aku. Kesadaranku yang hilang.


Black Aura memainkan pedangnya lalu, menusuk dirinya dengan pedangnya hingga darahnya berjatuhan ikut tercampur dengan genangan darah Yira.


“Kau itu nggak nyata. Yang namanya Yira itu memang nggak nyata sejak awal,” ucap Black Aura kemudian memindahkan lukanya di tubuh Yira.


“Kalau mau membunuh Midnight, hadapi dulu aku,”


“Ooh, gitu ya? Berani juga…” Sosok Yira yang tadinya penuh luka, berubah menjadi Ghostwave dengan kepalanya yang tertutupi


oleh kepulan asap. Enam matanya menyala dengan cahaya merah darah.


Ghostwave menjetikan jarinya dan mengubah ruangan perpustakaan itu menjadi berantakan dan mengerikan. Buku-buku yang semulanya tersusun rapi di raknya berserakan di atas lantai yang becek. Meja dan kursi untuk membaca juga tak beraturan tempatnya. Bahkan cara berdirinya saja entah


seperti apa bentuknya.


“Terlalu cepat sih, kau menyadari kehadiranku. Tapi yah… Ini resiko buatku yang duah menjebak orang lain,” Ghostwave mengeluarkan beberapa lingkaran sihir di belakang punggungnya.


Lingkaran itu mengeluarkan beberapa arwah manusia yang sudah lama mati dan bergentayangan di perpustakaan itu.


“Aku penasaran, kira-kira… Kau sanggup nggak ya, melawan serangan yang nyata untukmu tidak kasat mata penyerangnya.”


“Kalau ngomong itu yang jelas napa?” Black Aura merespon tak senang.


Bagaimanapun juga, ini


dunia mimpi. Dan mimpi yang Yira ceritakan itu hanya sebatas omong kosong. Kisahnya yang ditulis


selama ini juga jebakan yang akan mencelakai dirinya kedepannya.


Sejak awal, yang mereka incar adalah aku. Aku satu-satunya yang paling kuat di kelompokku.

__ADS_1


Luka yang Devil Mask alami Cuma ilusi. Jacqueline, Yumi, dan semua orang-orang yang lewat di


didepan perpustakaan ini juga ilusi.


Dia sengaja menghilangkan Chloe dan Midnight di mimpiku agar aku mencarinya dan tidak bangun


di dunia nyata.


Kalau aku nggak bangun, bisa-bisa Yuuki dan Emma ambil kesempatan buat nangkap Midnight. Chloe


bisa aja dibunuh…


BUAK!


Terlalu fokus dengan pikirannya, Black Aura jadi tidak memperhatikan ada hantu yang muncul dan


meninju wajahnya. Alhasil, dirinya terlempar hingga menabrak dinding perpustakaan.


“Cih!”


Black Aura kembali berdiri lalu membalas serangan mereka. Luka di wajahnya terasa sakit sekali.


Karena itulah…


Ctak!


Salah satu kepala hantu yang berada di belakang Ghostwave meledak. Hantu itu pun menghilang


setelahnya.


“Kenapa dia?” Black Aura terkejut. Padahal, targetnya adaah Ghostwave. Tapi, kenapa malah yang


meledak kepalanya adalah hantu yang ada dibelakang Aura itu?


“Seperti boneka voodoo. Kau harus menghabiskan semua hantu-hantu ini baru kau bisa melukaiku,”


jelas Ghostwave.


“Oh, begitu ya? Kau diam-diam mau bunuh diri juga rupanya…” balas Black Aura yang langsung


mendapatkan serangan kejutan dari hantu yang lain.


Sebuah cangkul terlempar cepat kearah dirinya. Dengan pedangnya, Black Aura menangkis cangkul


tersebut.


“Bodoh…”


Sama seperti yang dialami Devil Mask (Meskipun ilusi), cangkul milik hantu itu menembus pedang


Black Aura dan akhirnya menusuk perut Aura itu.


Black Aura terkejut bukan main bersamaan dengan rasa sakit yang menyambar di bagian yang


tertusuk tersebut.


“Mereka ini hantu. Mereka itu nggak kasat mata. Sama dengan apapun yang mereka punya.”


Ghostwave mengambil kursi lalu duduk disana. Keenam matanya seakan tersenyum menertawakan


Black Aura yang tengah kesakitan tersebut.


“Begitu ya? Sayang kali, gara-gara kemampuanmu, mereka jadi nggak menyeramkan jadinya…”


ledek Black Aura.


Oke, ngomongnya berhenti sama disini dulu, Aura. kau harus fokus membunuh dia bagaimanapun


caranya! Kau harus kembali ke dunia nyata sebelum kau kehilangan apapun!


~

__ADS_1


__ADS_2