Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 103 {Season 2: Aura vs Alter}


__ADS_3

Ratusan panah api Alter berjatuhan layaknya hujan meteor di malam hari. Ditambah dengan langit mendung Carnater yang hingga saat ini tak kunjung memperlihatkan keindahan langit birunya.


Alter berdiri dengan kedua lengan yang ia lipat. Aura itu memandang Black Aura dengan tatapan merendahkan. Dia tersenyum sambil memperhatikan Black Aura yang berusaha menangkis serangannya. Sesekali, Black Aura melemparkan lima belas pisaunya ke arah Alter yang kemudian, dengan mudahnya dia bakar dan dijadikan sebagai senjata makan tuan untuk Black Aura,


“Ambil ini!” seru Alter bersemangat.


Lingkaran besar bertuliskan mantra aneh di belakang Alter berputar. Mengeluarkan puluhan bola api disusul dengan varian lain seperti panah, dan pisau api. Semuanya ia arahkan ke Black Aura. Untuk ketiga manusia itu, nanti akan Alter urus. Urusannya dengan Black Aura masih belum kelar.


Tak ada yang bisa Black Aura bicarakan dengan Alter. Sebab, Aura itu memiliki sifat keras kepala melebihi Yumi. Sama seperti Shizukana Aoi yang termakan dendam karena kehilangan pacarnya. Dendam membuat mereka buta akan kenyataan dan fakta yang terjadi pada orang disekitar mereka. Tidak peduli dengan apapun, yang penting, balas dendam.


Sejujurnya, Black Aura mengaku dirinya memiliki sifat seperti itu. Akan tetapi, dia tidak memiliki niatan untuk membalaskan langsung dendamnya. Dia memilih untuk terus mencari jawaban yang tepat yang bisa membuat hatinya tenang.


Terserah mau mereka percaya atau tidak? Toh, dia nggak butuh belas kasih. Gumam Black Aua. Tanpa pikir panjang, Black Aura segera mengeluarkan sabitnya. Lalu, melayangkan cepat menebas leher Alter. Darahnya berwarna hitam keorenan membuat Black Aura teringat akan darah Dark Fire.


Sampai saat ini, Legend Aura belum memberi kabar apapun. Mereka lenyap begitu saja. Seakan tertelan bumi.


Alter memegang lehernya yang mengeluarkan cukup banyak darah. Sebenarnya, ini kali pertamanya dia bertarung melawan Black Aura. Yang sering berhadapan langsung dengan Black Aura adalah Aoi. Kedua orang itu sering terlibat dalam perkelahian sengit lantaran sifat Aoi yang merasa sok hebat dan selalu ingin tampil keren di mata semua orang. Sifatnya itulah yang sering menjadi kekhawatiran kelompoknya.


Setiap kali lewat entah dimanapun Alter berjalan, Alter secara tak sengaja menonton pertarungan Aoi melawan Black Aura. Benar-benar sadis pertarungan mereka. Bahkan sampai kehilangan beberapa anggota tubuh mereka.


Aoi beruntung karena memiliki obat yang dengan cepat mengobati lukanya sekaligus mempercepat regenerasi tubuhnya. Black Aura tidak perlu ditanyakan lagi. Luka yang ia terima sama dengan luka yang orang lain terima.


Alter benci mengakui kalau rivalnya pernah atau lebih tepatnya sering berhadapan langsung dengan Black Aura. Dia benci mendengar rumor tentang Aoi yang berani bertaruh dengan Black Aura.

__ADS_1


Memangnya apa sih yang mereka takutkan dari Aura? Kenapa semua orang menghindar setiap kali mendengar nama itu? Bahkan, kakakku, Grimoire, Asoka, Ace… Mereka sering melarangku jangan bertarung dengan Aura. Memang apa sih, istimewanya dia? Batin Alter saat itu.


Pagi-pagi hari, keluar rumah, beragam rumor mengerikan dari mulut ibu-ibu, cewek-cewek tentang Megavile yang kejam itu berkumandang bersamaan. Mengusik pendengarannya yang kala itu tengah mendengarkan lagu romantis. Bahkan volume lagu kalah dengan suara kaum hawa di sekitarnya.


Sekarang! Mumpung Black Aura ada di depannya. Berdiri dengan raut datar sambil menggenggam sabit kebanggaannya, Alter mengubah tangan kanannya menjadi tangan naga.


Aura itu berteleportasi di depan Black Aura, melayangkan kobaran apinya ke pundak kanan Black Aura. Mengetahui ada bahaya jarak dekat menghampirinya, Black Aura spontan menggunakan mata penghancurnya. Tangan kanan Alter putus.


Alter terbelalak memandang tangan kanannya yang terjatuh menghantam tanah dengan lemahnya. Saat matanya tertuju penuh pada potongan tangannya, Black Aura mencengkram pergelangan kiri Alter hingga membuat Aura itu terkejut bukan main. Seperti baru terpleset di atas lantai es yang tipis.


“Cukup! Hentikan pertarungan ini kalau kau ingin semua Aura di Carnater ini hidup lagi,” ucap Black Aura dengan tampang seriusnya. Seperti biasanya, suaranya terasa dingin. Bahkan hawanya juga.


Alter tercekat, sambil menahan amarahnya. “Hentikan katamu? Lelucon macam apa itu, ha?!” Dia mendorong Black Aura dengan kasar. “Ini karma! Atas seluruh perbuatan jahat kalian terhadap kami!” bentaknya.


“Kenapa semuanya seperti itu? Kan Aura nggak ngelakuin apa-apa di masa lalu,” gumamnya kecewa.


“Sudahlah Chloe. Itu kan masalah mereka. Kau yang nggak terlibat langsung mending ikuti alur yang sekarang aja. Tidak apa-apa kau tidak mendukung mereka. Cukup dukung Black Aura yang sekarang aja,” nasehat Aoi. Sedangkan Jacqueline mengelus-elus punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang.


“Nanti juga kau akan tahu, Chloe. Jadi, bersabarlah. Kalian kan sekarang udah pacaran. Jangan ragu dan malu-malu lagi kalau bercerita ya! Kalian itu harus sering terbuka. Kalau Aura agak susah terbuka, kamu harus paksa dia. Oke?” timpal Jacqueline disusul dengan acungan jempolnya.


Chloe tersenyum hangat. “Terima kasih ya! Kalian benar. Yang harus aku lakukan adalah mendukung Black Aura yang sekarang. Bukan yang masa lalu. Kalian ini benar-benar serasi ya!”


“Hehehe… Biasa aja kali,” Jacqueline tersipu malu. Gadis itu memalingkan wajahnya kea rah lain. Diam-diam bangga dengan dirinya yang sudah menghibur Chloe. Applause untuk diriku, Yey! Batinnya.

__ADS_1


“Nah, karena aku pacarnya juga. Aku nggak mau terus berdiam diri di sini.”


Aoi dan Jacqueline mengernyitkan kening mereka. “Maksudmu, kau ingin bertarung?”


Chloe mengangguk antusias. Dia merentangkan tangan kanannya dan membuka telapak tangannya. Sebuah cahaya kecil berwarna violet muncul. Pasangan di depannya terpana melihatnya.


Cahaya violet itu berubah menjadi pedang Black Aura yang panjang.


SOntak, Aoi dan Jacqueline meloncat ke belakang satu langkah mengetahui sahabatnya yang bisa mengeluarkan senjata dengan sihir. Belajar dari mana itu anak sampai-sampai bisa mengeluarkan pedang tanpa harus mengeluarkannya dari jaket atau membawa senjatanya langsung ke medan perang.


“Gila!” seru Aoi kagum. Mata pria itu memancarkan kekaguman luar biasa sampai-sampai bingung harus berkata apa. Aoi seolah kehilangan ribuan kata yang seharusnya bisa diucapkan dengan mudah.


Begitu pula Jacqueline. Gadis itu malah syok mendapati pedang Black Aura yang terlihat nyata di depannya. “Bagaimana bisa? Darimana kau belajar sihir, Chloe?”


Pertanyaan itu Chloe jawab dengan senyuman penuh kebanggaannya. “Aku nggak belajar. Aku juga nggak les kok.”


“Jadi apa?!”


Sebelum menjawab, Chloe menarik nafasnya panjang. Mengapa? Karena jawaban ini, kemungkinan besar kecil hanya Chloe-lah yang menciptakannya. Jawaban yang Chloe dapatkan dari serangkaian pengalaman fantasinya bersama Black Aura. Jawaban itu adalah…


“Ikatan.”


~

__ADS_1


__ADS_2