
Sebuah patahan pedang terlempar dan tertancap di atas rerumputan yang tersiram darah segar.
Seorang gadis kecil mengintip di balik jendela menyaksikan dua orang remaja tengah beradu pedang. Gadis ini tidak mengenal kedua remaja tersebut. Akan tetapi, dia tahu mana remaja yang baik dan mana remaja yang berniat menyakitinya.
"Kau masih tidak menyerah mencari pecahan cermin itu? Sudah kubilang kan? Kali ini, kamilah yang akan menguasai Carnater. Semua ras akan berada di bawah kendali Tuan Dark Fire. Termasuk kalian sekalipun." Ucap salah satu remaja yang mengenakan kimono putih bergaris biru.
Namun, remaja yang satunya tidak merespon dan sibuk menyerangnya dengan pedang andalannya.
Tidak ada yang lebih penting dari menjaga keseimbangan dua dunia ini. Dunia nyata dan dunianya. Oleh karena itu, dia tak akan segan menghabisi siapapun yang telah membuat retak keseimbangan dunia dan juga membuat kekacauan di dunia yang lain.
"Aura ya... Kita memang ras yang kuat. Sayangnya, kita satu ras tapi kita saling menghabisi satu sama lain. Tidak kusangka kita memiliki perbedaan yang besar." lanjutnya lagi. Kemudian, disusul dengan ayunan pedang yang hendak mengenai pundak lawannya.
Di belakang dinding rumah, gadis kecil itu masih memperhatikan mereka dengan penuh kekhawatiran. Ia cemas. Pertarungan ini terjadi karena dirinya.
"Ini salahku. Gara-gara aku... Kakak itu jadi berantam. Apa aku harus kesana?" batinnya ragu dan masih memeluk permukaan dinding rumah kecil yang sudah tak layak pakai lagi.
Tiba-tiba, sesuatu menyantol di kepalanya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera berlari menghampiri kedua remaja tersebut. "Kakak! Kakak! Tolong hentikan pertarungannya! Nanti kakak-kakak bisa berdarah!" teriaknya ditengah-tengah berlari diiringi dengan lambaian tangannya.
Sontak, remaja dengan manik violet itu langsung menoleh kearah gadis kecil itu dan menendang perut lawannya sampai memghantam salah satu pohon disekitar pandang rumput tersebut.
Remaja dengan manik violet itu berlari tergesa-gesa menghampiri gadis kecil itu.
"Kakak... Hentikan! Kakak tak perlu berantem. Aku mau pulang, kakak." Ucapnya takut seraya memeluk erat remaja itu.
Sebetulnya ia bingung dengan keadaannya. Gadis kecil ini nyaris terbunuh. Ia menemukan gadis ini di hutan hendak di lahap oleh lawannya tadi.
Sungguh masalah besar baginya. Cermin dunianya retak dan hampir sebagian manusia terlibat.
Ia tidak ingin retaknya cermin penghubung dunianya justru melukai manusia-manusia di bumi. Termasuk gadis kecil ini. Entah sebab apa dia bisa tersesat di hutan dan tercyduk oleh lawannya.
"Kakak..." gadis itu menangis.
Remaja itu terbelalak sedikit begitu menemukan tetesan air mengalir di permukaan pipi kiri gadis kecil itu. Bukan pertanda bagus baginya.
Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari lawannya tadi.
"Masih pingsan." Batinnya.
Mumpung masih pingsan, dia menggendong gadis kecil itu dan bergegas pergi dari hutan dengan berlari.
"Kakak tahu rumahku dimana?"
Remaja itu berhenti sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak tahu ya... Ya udahlah... Gak papa, Kak. Antar Emily kesana aja. Emily bisa jalan sendiri." Pinta gadis bernama Emily itu.
"Kakak... Makasih ya, udah selamatin Emily dari magic kakak yang jahat tadi. Emily janji gak bakal lagi keluar malam-malam." Emily menunjukkan jari kelingkingnya sebagai bukti bahwa ia janji.
__ADS_1
Remaja itu tidak merespon kecuali hanya tersenyum.
"Anu... Nama kakak siapa? Emily gak mau lupa sama kakak."
Remaja itu masih memandang wajah Emily yang manis itu seraya berlari kecil mencari tempat yang diinginkan Emily.
Tampaknya, ia juga sedang berpikir.
"Namaku..."
"Kak! Itu mama papa!!" tunjuk Emily riang begitu kedua matanya menemukan sosok orang yang sangat disayanginya. Ia bahkan sampai menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke atas dan ke bawah saking senangnya.
Menanggapi hal itu, remaja itu hanya bisa mengulas senyumannya. Meskipun tipis tapi setidaknya bisa menghela nafas lega. Emily bisa kembali bersatu dengan keluarganya.
Remaja itu segera menghampiri salah satu pohon yang berdiri tak jauh dari keluarga Emily dan kerumunan polisi-polisi tersebut. Ia menurunkan Emily pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara aneh dari dalam hutan.
"Terima kasih kakak! Aku harap, kita bisa ketemu lagi ya!" seru Emily kemudian berlari mengejar keramaian tersebut.
Tiba-tiba, langkah kaki Emily terhenti dan kembali menghampiri remaja bermanik violet ini.
"Nama kakak siapa? Emily mau menulis nama kakak di buku diary Emily."
Remaja itu menghela nafas ringan lalu tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Emily dan membisikkan sesuatu. Tak memakan waktu lama, ia pun selesai membisikkan namanya.
"Baiklah... Emily janji. Gak bakal kasih tahu mama dan papa soal kakak! Sampai jumpa kakak! Jangan lupa, kakak harus minum susu sebelum tidur!" teriak Emily bergegas pergi meninggalkan dirinya disertai dengan lambaian tangan.
Tidak tahu respon apa yang harus ia utarakan. Cukup melambaikan tangan sebagai bentuk syukur dirinya karena Emily berhasil pulang dengan selamat. Itu saja.
Tangan halus itu membelai kepala Emily yang masih memperhatikan remaja bermanik violet dari kejauhan. Gadis kecil yang nyaris lunas nyawanya ini sangat beruntung bisa dipertemukan dengan sosok remaja yang memiliki bola mata indah dan menawan.
Remaja yang telah menyelamatkannya dan membawanya sampai ke keluarganya.
Tak lama kemudian, sosok remaja tersebut menghilang tak menyisakan apapun.
"Lain kali, kita ketemu lagi ya... Black Aura."
~
Hutan malam ini jauh lebih gelap dan nyaris menyerupai warna hitam pada spidol. Sepi dan sunyi. Tidak ditemukannya jejak seseorang yang pernah melintasi wilayah tersebut.
Kepingan salju semakin banyak yang berjatuhan. Sebagian dari mereka mewarnai permukaan apapun dengan warna putih bercahaya mereka.
Chloe berulang kali menarik dan membuang nafasnya. Tubuhnya perlahan gemetar menanggung suhu dingin salju yang semakin ramai mendatanginya. Bagaimana tidak dingin? Chloe hanya mengenakan kaos, celana pendek di atas lutut, dan jaket dengan bahan yang tak begitu yakin bisa melindunginya dari suhu tersebut.
"Kuharap, Aoi menyimpan peta atau apalah di kertas komiknya." Gumam Chloe sambil membongkar isi tasnya. Isi kepalanya terus membayangkan secarik kertas berisi teka teki yang Aoi buat. Akan tetapi, bukan benda itu yang berhasil diraih tangannya. Melainkan buku.
"Eh? Kenapa malah buku ini yang..."
__ADS_1
Disusul dengan secarik kertas usang yang jatuh usai Chloe mengeluarkan buku tersebut dari ranselnya.
Lantas, kedua bola matanya langsung terpaku erat kearah kertas usang itu. Karena penasaran, Chloe mengambil kertas tersebut dan membukanya.
Lagi-lagi, sesuatu yang membuat Chloe mengerutkan keningnya bingung yang membuatnya berpikir bahwa harinya terlalu banyak hal baru dan aneh bermunculan.
"Surat? Seperti tulisan tangan..."
Kali ini, Chloe menemukan barisan tulisan yang tertulis rapi di permukaan kertasnya. Tulisannya seperti tulisan tangan manusia.
Tanpa pikir panjang, Chloe segera membaca habis surat tersebut.
Untuk siapapun..
Cermin penghubung dunia telah retak dibuat mereka.
Meskipun kami satu golongan, tapi kami memiliki perbedaan yang cukup besar.
Aku mengira, kerja sama kami dihargai oleh mereka. Jadi, untuk itulah... Kami tinggal dalam satu wilayah.
Aku sudah menyembunyikan keberadaan cermin tersebut dari khalayak ramai. Anehnya, ada satu dari mereka yang menyadarinya dan membuat retakan pada cermin.
Aku dan keluargaku bingung. Kami berpikir bahwa kejadian ini ulah Legend Aura. Tapi...
Chloe terkejut bukan main menemukan halaman selanjutnya sobek tanpa sebab. Tidak ada lanjutan dari surat tersebut.
"Lah... Kalau gini caranya aku gak bakal tahu kelanjutan dari..."
"Sial! Lagi-lagi aku kalah!"
Chloe melirik cepat mengarah ke sumber suara. Terdengar jelas suara seseorang menggerutu dari kejauhan. Chloe langsung berlari mengendap-endap mencari tempat persembunyian. Untunglah, Chloe menemukan rumah kecil yang tak jauh dari keberadaannya dan bersembunyi di dalamnya.
"Suara laki-laki...?" batinnya takut. Jantungnya berdetak tak beraturan seiring suara langkah pria tersebut semakin terdengar dekat dengannya.
"Bukan ide bagus kalau aku keluar. Tapi, bukan ide bagus juga kalau harus sembunyi terus..."
Chloe melirik ke kiri dan kanan. Mencari aman. Bukan hal biasa jika ada seseorang yang melintasi daerah tersebut. Bisa jadi orang itu adalah...
"Dasar! Lain kali, akan kubunuh kau Black Aura!"
Deg!
Chloe mematung dingin di dalam ruangan yang dipenuhi oleh kesunyian. Ia terdiam dengan kalimat yang baru saja terucap oleh pria itu.
Black Aura? Apa dia gak salah dengar? Aura seperti Black Aura yang memiliki kekuatan supranatural itu benar-benar ada di dunia nyata? Yang benar saja?
Sejak Chloe menemukan buku aneh itu, banyak sekali orang yang mengatakan bahwa fantasi itu tidak pernah diizinkan masuk di dunia nyata. Bahkan bila ada pun, keberadaan mereka pasti akan membuat sejuta umat manusia takut dan membuat keberadaan mereka punah.
__ADS_1
"Black Aura? Berarti yang Aoi katakan itu... Benar?"
~