
Chapter 43 (Kapal Part 3)
“Chloe! Chloe!”
Di tengah pandangannya yang kabur, Chloe melihat bayangan seseorang berada di depannya. Samar-samar, wajahnya terlihat mencemaskan. Kedua mata yang bimbang terus-menerus menyebut namanya. Menyadari dirinya yang telah siuman, Chloe mencoba untuk menggerakkan sedikit jari telunjuknya.
“Chloe! Bangun! Jangan mati dulu, dong!”
Suara itu…? Rara?
“Hah!” Chloe spontan membuka kedua matanya tanpa mengerjab terlebih dahulu.
“Chloe! Syukurlah!” Rara langsung memeluknya karena cemas. “Jangan tinggalin aku dulu! Aku masih mau main sama kamu, tau nggak?” ia bisa-bisanya komplen.
“Ini dimana? Aduh…!” tiba-tiba Chloe mengaduh. Ketika diperiksa, betapa terkejutnya dia mendapati kain hoodie-nya berwarna merah di bagian pinggang kirinya. “Kenapa aku?”
“Chloe… Pelan-pelan… Lukamu parah. Aku baru saja mencabut besi panjang dari pinggangmu,” jawab Rara ketakutan.
“Ah, iya! Aura tadi mana?! Bukannya kita diserang Aura ya?”
“Kita diserang manusia. Tapi, manusianya punya kekuatan! Aku pingsan dan terbangun.”
“Sepertinya kita ada di kapal pesiar. Cuma aku nggak tahu apa kita ada di laut atau di pelabuhan.”
Rara terbelalak seperti gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Tatapan wajahnya terlihat semakin cemas. Bukan hanya Rara saja yang cemas, diam-diam, Chloe juga mencemaskan Black Aura dan juga lukanya. Darahnya terus mengalir tanpa henti. Itu membuatnya takut akan kehilangan banyak darah.
Kedua bola matanya melirik cepat pada pintu yang terbuka sedikit. “Ra, bantu aku.”
“Baik.” Rara dengan patuh membantu sahabatnya berdiri. “Jangan terlalu memaksakan dirimu, Chloe. Lukamu parah.”
“Tapi, kalau terus berdiam diri disini juga nggak ada gunanya. Aku harus mencari Black Au…” Chloe tertegun ketika mulutnya secara tidak sengaja mengucapkan nama “Black Aura”. Seoalah menyembunyikan rahasia dari mama, Kedua mata Chloe yang membulat itu melirik sejenak pada Rara yang ternyata memasang raut curiga.
“Black Aura maksudmu, kan? Siapa dia?”
“Eee… Dia… Tokoh game yang sering kumain akhir-akhir ini. “ Ucapnya bohong.
“Dia Aura, bukan? Tunggu?! Kau berteman dengan Aura?”
“Ra! Bukan saatnya membahas itu! Kita harus keluar dari sini!”
“Kalau gitu, kita bahas sambil jalan. Pantas saja akhir-akhir ini kau jarang mengabariku apapun. Hati-hati lo! Kalau udah terlanjut cinta, susah jadinya!”
Chloe cemberut. “Aku tahu. Kami hanya sekedar teman.”
Sambil berjalan, sambil berbincang. Rara menarik pintu kamar penumpang. Sepasang gadis itu berjalan namun sedikit tertatih-tatih karena kondisi Chloe. Sesekali, gadis itu meringis menahan sakit setiap kali beberapa tetes darahnya berpaspasan dengan permukaan lantai yang usang. Kecemasan Rara semakin menjadi menanggapi hal tersebut. Yah, sahabatnya ‘kan’ manusia. Nyawa mereka berbeda dengan kucing yang memiliki Sembilan nyawa.
“Bertahanlah, Chloe! Ayo, kita cari sama-sama Black Aura yang kau bilang itu.”
“Nggak usah ngeledek!”
“Hahaha… Iya-iya. Aku nggak nyangka aja sih! Kok bisa ya, cewek kayak dirimu ini bertemu dengan sesuatu yang aneh. Entah kebetulan atau memang sudah takdir?” Rara mulai berbasa-basi sekaligus mencairkan suasana yang sedikit suram di lorong kapal.
Chloe terkekeh pelan. “Kurasa takdir.”
“Enak kali ya! Aku malah kepingin punya teman kayak Aura. Kalau bisa, karakter yang sering kubaca itu menjadi kenyataan. Kan, lumayan buat dipacarin.”
“Huft… Aku bahkan nggak sampai berpikir kesana. Kurasa, berteman saja sudah cukup.”
“Benar? Masa sih? Aku tahu sebenarnya, kau menyukainya.” Tebak Rara jahil.
Chloe terbelalak, “Apa?! Mana ada! Aku Cuma menganggapnya teman. Nggak lebih kok!”
Bukannya berhenti, Rara tambah semakin menjadi. Namanya juga sahabat, pasti ada saja cara untuk menjahili hati sahabatnya yang sedang jatuh cinta.
“Chloe. Sebaiknya kau jujur saja padanya. Terus terang, aku memang nggak pernah bertemu dengannya. Pacaran saja… Aku baru putus dua minggu yang lalu. Aku hanya mau bilang, hargai waktumu dengannya. Ditambah lagi, Black Aura itu bukan manusia dan tentunya makhluk luar bumi. Sekali berpisah…” Rara terdiam begitu sadar menemukan raut Chloe yang tampak tak nyaman itu.
“Maaf… Maksudku, aku ingin kalian menghargai tiap detik kalian merasa bahagia bersama.”
“Aku tahu. Black Aura. Walaupun dia bukan manusia dan setiap kali bersamanya, nyawaku seakan dipertaruhkan. Seperti… Sudah menjadi tantangan bagiku kalau mau berteman dengannya.” Tutur Chloe yang begitu nyaman bercerita mengenai dirinya dan Black Aura.
__ADS_1
TAP!
Tanpa alasan yang jelas, Rara menghentikkan kaki kanannya untuk maju. Chloe menatapnya penuh tanda tanya.
“Ada apa?”
“Sssttt… Aku mendengar sesuatu.”
“Apa?”
Rara menatap Chloe ketakutan. Keringat dingin gadis itu mengalir begitu saja dan jatuh di atas permukaan keramik yang berdebu. Bersamaan dengan itu, Chloe menelan ludah ketakutannya. Firasatnya mengatakan akan ada hal mengerikan menghampiri mereka lima, enam, sampai sepuluh menit ke depan. Belum lagi dengan kekhawatirannya akan darahnya yang masih mengalir hingga saat ini.
Sial! Kenapa suasananya jadi mencekam begini? Dan kenapa aku jauh dari Black Aura? Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kami?
Mungkin belum ada jawaban yang tepat untuk bisa menjawab pertanyaannya. Sampai keadaan di lorong tersebut benar-benar sunyi dan suara yang membuat Rara mematung itu semakin terdengar jelas.
Rara bilang, “Seperti ada yang menggores-goreskan dinding dengan cutter Dari sana.”
“Cih! Kau nggak bercandakan?”
“Untuk apa?! Ayo, kita kabur dari sini!”
Tanpa pikir panjang, Rara mempercepat langkahnya. Sedikit kesulitan karena dia juga harus memahami kondisi Chloe yang terluka itu. Jadi dendam dan penasaran dengan siapa yang melukai Chloe.
Jangan khawatir, Chloe. Meskipun aku ini aneh, setidaknya, aku memiliki pengetahuan dalam ilmu beladiri. Batinnya disela kepanikan yang berusaha mengancam keberaniannya.
“Ra, kalau nggak salah… Kita ada di antara dek nomor sepuluh dan Sembilan. Kita bangun di kamar penumpang yang memiliki balkon di luarnya.” Ujar Chloe tiba-tiba.
“Lalu, maksudmu apa?”
“Aku merasakan keberadaan dua Aura di dalam kapal ini. Di depan kita dan di dek bawah kita. Aku yakin, Black Aura ada di bawah. Tapi, yang harus kita pikirkan adalah… Bagaimana cara kita melewati wilayah musuh.”
Rara tersentak dengan analisis Chloe mengenai posisi mereka. “Kalau dipikir-pikir benar juga. Apa kita berbalik sa… Chloe!” Rara terkejut dengan rangkulan Chloe yang semakin melemah. Ditambah lagi, darah gadis itu semakin mengalir tanpa henti. Ia panik, “Astaga! Chloe! Tunggu sebentar!”
“Pelankan suaramu. Kita nggak tahu siapa… Yang ada di… Depan sana…” Chloe langsung tak sadarkan diri dan tersungkur ke lantai.
DRAK! DRAK!
“Hiiii!!! Aku nggak punya waktu banyak!” Rara tanpa pikir panjang, menggendong tubuh Chloe lalu, berlari menghindari wilayah yang menurutnya berbahaya. Suara pintu yang terkunci dan tampak ingin di dobrak oleh sosok di dalamnya sukses membuat Rara merinding ketakutan. Langkahnya semakin cepat seiring ketakutan menguasai jiwa dan pikirannya.
Satu-satunya cara agar selamat adalah mencari tangga dan menemui Black Aura. Walaupun tak kenal arah ruangan kapal itu, Rara tetap harus berlari bagaimanapun juga. Mengalahkan menit-menit terburuk demi melindungi sahabatnya.
BAM!!!
“Suara pintu yang terbanting?! Jangan bilang…!”
Setelah pintu yang terbanting, kini derap langkah seseorang yang mengancam lorong kapal. Perasaannya tak karuan ketika dirinya merespon suara yang terkesan ingin sekali membunuhnya. Rara pun akhirnya mengambil langkah cepat dengan kabur meski harus menciptakan suara derap langkah kedua.
“Wah! Ada orang rupanya!” suara seorang pria yang menggoda.
Kedua kakinya semakin menapak keras lantai di bawahnya. Sesekali, Rara melesat ke kiri dan ke kanan. Sampai pada akhirnya, dia menemukan tangga yang akan membawanya ke dek di bawah dek yang dia injak saat ini.
“Hosh… Hosh… Bertahanlah Chloe! Bertahanlah diriku!” gumamnya. Agar tidak ketakutan, ia mengulanginya lebih dari tiga kali.
Hanya ada satu yang bisa menyelematkan kami. Black Aura! Lima meter dari sekarang, semoga saja aku menabraknya!
BUK!!!
“Aduh!” Rara terjatuh usai menabrak seseorang ketika hendak berlari ke arah kanan. Orang yang baru saja di tabraknya juga ikut terjatuh tanpa suara.
“Rara!”
“Heh!” kedua mata Rara otomatis terbuka lebar usai mendengar suara seorang gadis yang memanggil namanya. Suara itu sangat ia kenal. Rara mendongakkan kepalanya ke atas dan menemukan dua sosok remaja.
Dengan berlinang air mata, Rara menjerit senang. “Kak Minji!” Kemudian memeluk Minji dan menumpahkan rasa bersyukurnya.
Di samping sepasang gadis yang tengah baper dalam pelukannya masing-masing, Black Aura berdiri dalam diam tanpa melepaskan pandangannya dari Chloe yang terbaring dengan luka parah. Sabit yang ia genggam semakin erat dipegangnya. Black Aura melempar tatapan curiga pada Rara yang sedari tadi menemani Chloe.
Sadar ada yang menatapnya, Rara langsung membungkuk dan meminta maaf. “Maafkan aku! Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku baru bangun dan dia udah dilukai duluan!”
__ADS_1
Walaupun sudah mengatakan yang sebenarnya, perkataan Rara tidak cukup untuk meredakan rasa curiga Black Aura terhadapnya. Aura itu memutuskan untuk menggunakan kemampuan memindahkan rasa sakit Chloe kepadanya. Rasa sakit Chloe berhasil ia pindahkan. Tinggal menunggu gadis itu siuman.
Setelah urusan Chloe selesai, giliran Minjilah yang mengambil kesempatan untuk berbicara.
“Ra, kau terlihat ketakutan tadi. Apa ada yang mengejarmu?”
“Ah, Iya. Aku nggak tahu bagaimana bentuknya. Tapi, Aku yakin sekali kalau dia nggak lama lagi bakal menghampiri kita.” Jawabnya.
“Di kapal ini ada dua Aura. Aku dan kemungkinan besar Legend Aura.” Ujar Black Aura beranjak bangun seraya menggendong tubuh Chloe.
“Kau pasti akan bertarung, kan? Kalau begitu, Chloe biar aku yang mengurusnya. Kami akan menjauh dari kalian.” Usul Rara yang dengan senang hati memberikan kedua tangannya untuk menggendong Chloe.
Tidak disangka-sangka, sifat ringan tangannya itu tidak ditanggapi dengan senang oleh seeorang yang berdiri di sampingnya. Seolah menggali kembali emosi yang telah lama terkubur, gadis itu mengarahkan ujung AWM-nya pada langit-langit dan…
DUAR!
Suara tembakan itu sukses mengundang perhatian Black Aura dan Rara. Tidak perlu dicari siapa pelakunya, Minjilah satu-satunya yang memiliki senjata laras panjang. Tindakannya barusan langsung mengundang tanda tanya besar bagi Rara.
“Kak?”
“Turunkan gadis itu!” perintah Minji tajam. Bukan main gadis itu. Saking tidak sukanya dengan Chloe, ia sampai melayangkan tatapan menusuk pada Rara dan juga, ujung AWM yang ia arahkan langsung pada Chloe.
Rara terbelalak menanggapi perintah Minji barusan “Kenapa kakak bilang begitu? Chloe sedang terluka. Kita juga nggak tahu apakah kita ini berada di wilayah musuh atau tidak? Astaga! Bekerja samalah sedikit!” bujuk Rara kesal.
“Nope! Turunkan gadis itu! Kau dan dia nggak punya hubungan apa-apa lagi! Kau adikku. Lingkaran pertemananmu itu nggak seluas dia. Begitu pula aku. Jadi, untuk apa kau mengasihani dia yang sudah memiliki teman yang jauh lebih mampu melindunginya?” omel Minji sekali nafas.
“Minji! Walaupun dia punya banyak teman, Chloe tetaplah sahabatku! Buktinya, dia masih menyempatkan diri bertemu denganku.”
“Dia melakukan itu agar kau nggak melupakannya. Kau nggak akan tahu bagaimana isi hatinya, keraguannya, dan berat atau tidaknya dia menemuimu. Kau juga nggak akan tahu kapan gadis ini bisa berubah dan mengkhianatimu!”
“Minji! Jaga mulutmu! Justru yang terpaksa itu adalah aku! Kau memaksaku tinggal serumah denganmu. Aku melakukan semuanya agar kau nggak tersakiti. Agar kau nggak mencari masalah denganku. Asal kau tahu, aku paling benci mencari masalah dengan orang lain terutama jika kau marah karena tindakanku atau karena mood-mu yang memang pada dasarnya abstrak. Aku paling pengecut soal meminta maaf, asal kau tahu saja.” Beber Rara terus terang.
Alih-alih saling melempar argumen demi membela diri mereka masing-masing, Black Aura hanya memandangi mereka tanpa suara. Merasa dirinya tidak perlu melerai kedua gadis itu.
Perempuan memang ribet. Batinnya malas.
Tanpa mereka sadari, muncullah serangan kejutan yang tidak diketahui dari mana asalnya.
Yap! Sebuah rantai besi berukuran raksasa muncul dan hendak melukai punggung Minji. Kedua bola mata Rara yang tadinya terpaku pada Minji reflex beralih pada rantai di belakang kakaknya.
Sayangnya, Rara tidak sempat mengingatkan kakaknya kecuali memperlihatkan ekspresi terkejutnya.
TRANG!
Black Aura berteleportasi di belakang Minji. Kemudian menangkis rantai itu dengan sabit.
“Pergi!”
“Bagaimana dengan Chloe?” tanya Rara ragu.
“Aku bisa melindunginya.” Jawab Black Aura diakhiri dengan senyuman singkat.
Rara seperti kehabisan kata-kata. Ia pun menyerah pada akhirnya dan terpaksa mengikuti Minji yang terus menarik lengannya untuk menjauh.
“Aman.” Gumam Black Aura datar.
“Oi! Lihat ke depan kenapa?!” seru seseorang seraya melancarkan serangan berikutnya. Masih menggunakan rantai yang tadi. Tapi, dipadukan dengan puluhan pisau Fairbairn, dengan Black Aura sebagai targetnya.
Terus terang, Black Aura tidak tahu apapun soal senjata itu. Yang terlintas dipikirannya adalah, pisau tersebut berbahaya untuk Chloe. Oleh karena itu, Black Aura segera memainkan sabitnya dan menangkis puluhan pisau tersebut.
Sayangnya, Black Aura terlalu menempatkan titik fokusnya pada puluhan pisau tersebut sampai tidak menyadari kalau pria itu muncul di sampingnya.
Black Aura terbelalak begitu menyadari keberadaannya.
“Hai!” salamnya yang langsung melancarkan tendangannya tanpa memberi Black Aura kesempatan untuk kabur.
Alhasil, Black Aura terhempas cukup jauh dengan pipinya mengeluarkan cipratan darah yang lumayan banyak. Bersamaan dengan itu juga, ia benar-benar terkejut dengan sosok pria yang menendangnya.
~
__ADS_1