
“Ja-jadi… Kau diciptakan hanya untuk balas dendam?” Chloe jadi terbata-bata setelah mendengar pernyataan dari Black Aura tersebut. Tak heran kalau kekuatan Black Aura hampir semuanya mematikan. Seperti memindahkan rasa sakit ke tubuh orang, menghancurkan seseorang dari jarak jauh, dan juga rasa sakit yang dilipat ganda kan. Kekuatan reverse itu bisa Chloe artikan sebagai sifat seseorang yang berubah jika pikirannya sepenuhnya terpaku pada dendam. Orang yang tidak sanggup menahan keinginan untuk balas dendam itu pasti akan melakukan serangkaian cara untuk melenyapkan targetnya. Jadi, begitulah Black Aura. Dia Aura yang pintar dan cerdik kalau sudah berhadapan dengan pertarungan. Black Aura juga punya banyak cara untuk mengalahkan musuhnya.
Akan tetapi, dibalik semua sisi negatifnya, Black Aura tetaplah Aura yang baik. Perasaan manusia itu tak selamanya berpatokan pada hal negatif. Ada kalanya dia berpikir positif dan mengerti kalau aksi kejahatan itu bisa ditunda nanti dan nanti. Atau mungkin, luka lama hasil perbuatan orang lain bisa saja sembuh hanya dengan membuat orang lain tersenyum.
Awalnya, tatapan dingin yang menyeramkan yang biasanya menjadi raut khas Black Aura itu perlahan-lahan luluh sejak Aura itu menjalin ikatan dengan mahasiswa yang memiliki obsesi berlebihan terhadap Fantasi.
“Iya. Memang benar kalau aku yang dulu benar-benar jahat. Aku membunuh siapapun yang menghalangi jalanku tanpa ampun. Aku tak pernah peduli dengan siapa yang menghalangiku asalkan aku bisa membunuh targetku. Setiap hari, aku melihat darah. Darah yang bercipratan saat senjataku melukai Aura-aura di Carnater ini. Aku merasa, dendam Carmine terhadap keluarganya terlalu kental. Carmine bilang padaku, aku harus menjadi kuat. Dan kuat itu berasal dari tersakiti dan menyakiti,” ungkap Black Aura. Manik violetnya bergerak-gerak seakan berusaha memanggil ingatan lamanya yang nyaris saja tersingkirkan oleh ingatan barunya.
Sementara itu, sambil berjalan, Chloe juga sambil mendengar omongan Black Aura. Aura itu kalau sudah bercerita pasti panjang. Dan secara pribadi, Chloe suka dengan orang yang banyak cerita asalkan orang tersebut ingat dengan posisinya saat ini.
“Aku nggak nyangka kalau Carmine ternyata bisa berpikir seperti itu,” komen Chloe. “Balas dendam dengan memanfaatkan fantasi. Kok bisa sih, anak sepertinya bertemu fantasi?”
“Itu karena ibu. Ibu yang mengenalkan dunia Carnater ini pada Carmine,” Black Aura melirik Chloe singkat lalu tersenyum. Aura itu kemudian, menjauhkan dirinya dari Chloe dan berjalan seperti biasa.
“Eh? Kau udah baikan?”
“Lumayan. Nah, ayo, gandengan!” ajak Black Aura mengulurkan tangannya di hadapan Chloe yang memerah merona.
Sore itu, salju turun. Akhirnya, Chloe memperoleh kehangatan dari tangannya yang tertaut dengan Black Aura. Kini, mereka berdua menghabiskan sisa sore mereka dengan berbagi banyak hal. Sederhana saja, seperti cerita memalukan di masa lalu, kesedihan dan masih banyak lagi.
Keduanya tampak menikmati waktu peralihan antara sore dengan malam tersebut. Black Aura terkekeh pelan menanggapi cerita Chloe di masa SMA. Bisa Black Aura simpulkan kalau masa terindah Chloe adalah di SMA. Meskipun gadis itu terus menyangkal kalau kehidupannya itu biasa saja, monoton layaknya hitam dan putih.
Selain masa sekolah, Chloe juga menceritakan sedikit kisah kelamnya saat dirinya masih menduduki bangku kelas dua SMP. Yang mana saat itu, dia terpaksa pindah sekolah atas kemauan Lucas sendiri. Pindah ke Amerika dan memulai kehidupan dari nol lagi. Bukannya mudah menjalani sesuatu itu dari angka nol. Tapi sekarang, Chloe paham alasan mengapa Lucasnya melakukan hal seperti itu. Sebuah masalah yang sampai saat ini hanya Chloe sendirilah yang tahu. Mungkin, Black Aura akan menjadi orang kedua yang mengetahui cerita kelam Chloe.
“Aku baru sadar, kalau Lucas sengaja membawaku pergi karena nggak tahan melihatku diabaikan oleh mama dan papa. Memang benar, aku cemburu dengan Lucas karena dia berprestasi dan berbakat. Karena itulah, mama dan papa bangga. Akan tetapi, perlakuan mereka terlalu mencolok bagiku. Mereka bahkan jarang memanggil namaku,” tutur Chloe datar. Untuk sekarang, tidak ada perasaan sedih yang menyelimuti hatinya. Hanya kekesalan yang mendalam yang ingin sekali ia lampiaskan langsung di depan mama dan papanya tersebut.
“Ketidakadilan ya? Jadi, orangtuamu nggak tahu dong dimana kamu tinggal sekarang?” balas Black Aura dengan raut antusias.
Chloe menggeleng, “Sama sekali. Aku dan Lucas selama ini tutup mulut. Kami mengubah semua kartu, nomor, email, dan akun media social kami. Di Amerika juga, aku nggak punya siapa-siapa selain Lucas. Untungnya sih, Aoi dan Jacqueline nggak pernah membeberkan rahasiaku pada siapapun,” Chloe menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya di lengan kiri Black Aura. Dingin dan menenangkan.
__ADS_1
“Jadi begitu… Pantas saja, sepatu di rumahmu Cuma ada dua.”
“Heh?! Bahkan rak sepatuku pun kau perhatikan juga?!” Chloe membelalak tak percaya sebelum akhirnya panas karena malu.
Black Aura menghela pelan. Aura itu menghentikan langkahnya, meminta beberapa menit untuk saling bertatapan dengan Chloe. “Itu karena kau benci diabaikan, bukan? Sejak awal, aku sudah menebak apapun yang kau sukai maupun tidak. Waktu itu, aku kaget kalau kau suka padaku,” Aura itu tertawa kecil menertawakan masa-masa dimana dirinya pertama kali berkunjung ke rumah Chloe yang saat itu statusnya hanya sekedar orang asing.
“Wah, berarti sejak awal kau udah mengenali sifatku dong?”
“Yup!”
“Ah! Kalau udah tahu aku suka, kenapa nggak dibalas aja perasaanku waktu itu?!”
Chloe memalingkan wajahnya kea rah lain lantaran merasa malu dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Dulu, sebelum menjadi sedekat ini dengan Black Aura, Chloe sebenarnya bisa-bisa aja mengatakan apa yang terlintar di benaknya. Akan tetapi, mengapa mengatakan sesuatu yang terlintas di hatinya itu agak sulit? Setiap kali mengatakan yang asalnya dari hati, Chloe selalu berakhir dengan wajah yang memerah dan detak jantungnya yang tidak stabil.
“Waktu itu, kita masih orang asing satu sama lain. Dan juga, waktu itu niatku Cuma mau mencari Aoi.”
“Ha?”
Tes…
Suara tetesan kecil sukses menarik perhatian kedua remaja yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Seketika, Black Aura memasang sikap waspada dengan mengeluarkan sabitnya. Sedangkan Chloe bersembunyi di belakang Black Aura.
Kelihatannya ada orang lain selain mereka yang mengamati pergerakan serta mendengar pembicaraan mereka. Akan tetapi, Black Aura sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran atau sinyal bahaya apapun dari lorong tersebut. Selain hawa dingin karena langit sore kini bertukar menjadi gelapnya malam. Dan juga, suara langkah kaki seseorang. Tidak ada siapapun yang melintas di lantai empat ini. Lantas, siapa?
“Mungkin tetesan air dari kekuatan Yui waktu itu,” kata Chloe berusaha berpikir positif meskipun sejatinya dia takut.
“Mungkin. Selain itu, di Carnater juga nggak ada yang namanya hantu,” balas Black Aura sebelum akhirnya dibuat terkejut oleh kehadiran sosok yang berdiri di ujung lorong. Terselimuti oleh kegelapan.
Tubuh Black Aura seketika membeku di tempat. Tak bisa berbuat apapun selain memperhatikan orang itu berdiri di ujung lorong. Tak hanya Black Aura, Chloe ternyata juga menyadari kehadiran orang tersebut. Seketika, bulu kuduknya meremang saat bola matanya mengarah ke pedang raksasa dengan ujungya yang sangat runcing.
__ADS_1
“Siapa itu?” lirih Chloe ketakutan. Tangan kecilnya menggenggam erat tangan Black Aura yang dingin.
“Sstt… Tetap di belakang dan jangan kemana-mana.”
Orang di ujung lorong itu akhirnya bergerak. Suara tapak sepatunya menggema hingga mengetarkan jiwa Chloe. Ketakutan dengan cepat mendominasi jiwa gadis itu. Jantungnya berdegup kencang. Irama nafasnya tak beraturan seiring jarak mereka dengan orang misterius itu kian menipis.
Terlalu fokus ke depan, Chloe dan Black Aura jadi tidak menyadari kehadiran pisau yang mluncur cepat dan menciptakan goresan di lengan kiri Black Aura.
“Ekh!”
Sakit. Black Aura tertegun. Lengannya tadi merasakan sakit.
“Aura! Lenganmu!”
“Nggak papa. Cuma luka kecil kok…”
BUAK!
Sebuah tendangan meluncur cepat, mendorong Black Aura hingga membuat tautan tangannya dengan Chloe terlepas.
“Aura…!”
Semuanya terjadi begitu cepat. Tangan Chloe tiba-tiba digenggam erat orang itu. Dngin. Bahkan lebih dingin dari Black Aura.
Pada awalnya, Chloe takut ingin menatap wajah orang itu. Namun pada akhirnya, Chloe tetap melawan perasaan takut itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya cepat sampai wajahnya bertatapan langsung dengan orang itu.
“Heh?” Chloe membeku. Pemandangan kali ini benar-benar di luar dugaannya. Bahkan tak pernah terlintas sedikitpun baik di benaknya maupun teman-temannya. Bahkan Black Aura sekalipun. Orang itu dengan manik violet yang menyala dalam kegelapan, memandang lurus wajah Chloe. Dinginnya murni. Chloe bisa merasakan sensasi yang berbeda antara Black Aura dengan orang di hadapannya. Aura membunuh orang itu terasa kental.
“A-aura?”
__ADS_1
~