
"Masakanmu enak sekali, Midnight!" puji Chloe dengan mata yang berbinar-binar. Dia sudah menghabiskan dua piring daging pagang dan dua gelas susu hangat. Yah, faktor tidak makan siang.
"Biasa aja kali." Balas Midnight datar. "Oh, ya! Karena makan malam kita sudah selesai, bagaimana kalau kita mulau sesi tanya jawabnya?" usul Midnight beranjak dari kursinya sembari menyusun piring kotor. Dia bantu Jacqueline dan sisanya disuruh untuk duduk diam.
"Hmm, boleh juga!" balas Aoi setuju. "Dari kemarin, aku udah nggak sabar banget!"
Chloe mengernyitkan keningnya, "Jadi, kau sudah mengatakannya duluan?"
Aoi mengangguk, "Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang Yumi dan lainnya."
"Oh..."
"Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan?” Midnight meletakkan kedua sikunya di atas meja sambil tersenyum cerah.
Chloe dan ketiga sahabatnya mematung.
Sebelum dimulai sesi tanya jawabnya, Midnight menunjuk Jacqueline sebagai perwakilan dari ketiga sahabatnya itu. Akan sangat sulit baginya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dari orang yang berbeda. Makanya, Midnight memilih Jacqueline yang menurutnya memiliki suara yang jernih dan terlihat percaya diri.
Midnight juga memberikan waktu sepuluh menit untuk berdiskusi. Sambil menunggu remaja-remaja itu selesai berdiskusi, Midnight mengeluarkan ponselnya dan membuka media sosial miliknya.
“Siapa dulu nih? Pertanyaanku sih, tentang asal usul mereka.” Bisik Jacqueline ketika berdiskusi dengan Aoi, Chloe, dan Rara.
“Pertanyaanku tentang bagaimana Yuuki dan Midnight bisa bermusuhan hingga sejauh ini.” Balas Aoi.
Rara berpikir sejenak, “Aku nggak tahu apa-apa soal Aura. Sebaiknya aku diam aja deh.”
“Kalau aku tentang Carmine.” Timpal Chloe datar.
Aoi dan Jacqueline tertegun. Sejenak, Jacqueline berpikir mempertimbangkan pertanyaan siapa yang akan ia ajukan lebih dulu.Tak ingin waktu tidur mereka menipis karena rotasi bumi, Jacqueline pun memutuskan untuk mengajukan pertanyaan Chloe lebih dulu.
“Midnight, apa kau kenal yang namanya Carmine?” tanya nya tanpa basa-basi. Tidak seperti Aoi yang terlalu gugup ketika mengajukan pertanyaan.
“Carmine?” Midnight menelengkan kepalanya. Sementara, keempat remaja itu dikuasai oleh rasa gugup yang luar biasa sampai-sampai keringat dingin mereka bercucuran.
"Bagaimana bisa kalian tahu Carmine?" tanya Midnight curiga.
Jacqueline mendadak panik mendapati tatapan curiga yang Midnight layangkan kepada mereka semua. Secepatnya, dia langsung mengutarakan alasannya.
“Eh? Itu... Sejak kenal Devil Mask dan Yumi, aku bertemu dengan Carmine di mimpiku. Aoi juga.”
“Eh? A-aku juga, Midnight! Kalau nggak salah, kau juga pernah muncul di mimpiku.” Tutur Chloe.
Hah? Aku? Seketika, pipi Midnight memerah merona. “Wah! Aku nggak nyangka banget bisa masuk ke mimpi orang lain. Terima kasih ya!”
“Eh?” keempat remaja itu hanya mematung heran. Tidak tahu mau menjawab ocehan Midnight dengan apa.
“Carmine ya? Memangnya, apa yang dia katakan pada kalian?” wajah Midnight yang tersenyum cerah tadi mendadak datar.
“Dia bilang, kalau kami mau berteman dengan Yumi dan Devil Mask, maka kami harus rela menjadi sahabat baiknya dan mau menerima apa adanya. Juga, jangan membongkar identitas mereka ke publik.”jelas Aoi.
__ADS_1
Permintaannya masih sama... Batin Midnight.
“Kalau aku… Apa ya? Hmmm....”
"Jangan bilang, lupanya kambuh." Rara menepuk jidatnya.
Persis yang dikatakan Rara, Chloe benar-benar lupa. Untunglah, Midnight memakluminya.
"Nggak papa kok. Yang penting, aku sudah tahu keadaan Carmine disana. Tapi, aku merasa agak aneh aja. Padahal aku sangat merindukannya tapi kenapa malah kalian yang didatanginya.” tanya Midnight lirih. Seakan menyembunyikan kesedihannya.
Sebenarnya, Midnight ingin sekali menumpahkan air matanya. Namun ia sadar, bukan saatnya untuk menangis dan menumpahkan kesedihannya pada empat remaja yang tidak ada kaitannya dengan masa lalu Midnight. Semuanya sudah berlalu, tapi, luka yang dibuat orang-orang itu pasti meninggalkan jejak yang hingga sekarang masih berbekas di hati Midnight. Rasa sakit yang seharusnya terlupakan, malah kembali karena beberapa faktor yang memicu kedatangannya.
“Kalau boleh tahu, Carmine itu siapamu?” tanya Jacqueline memecahkan lamunan Midnight.
“Dia adalah adikku.”
“Oooh, adikmu rupanya!” seru keempat remaja itu serempak sambil bertatapan satu sama lain.
Midnight hanya tersenyum kecil menanggapi reaksi terkejut remaja-remaja itu. “Sebenarnya, Carmine itu bukan adik kandungku. Aku mengangkatnya sebagai adikku di usianya yang ke sebelas tahun. Cerita kami berdua sangat panjang dan banyak sekali kejutan di dalamnya.
"Ah, aku mendadak teringat malam itu. Saat itu, aku sedang berkencan dengan mendiang suamiku di jembatan. Jangan tanyakan kenapa kami berkencan di tempat seperti itu, ya!”
“I-iya! Tidak akan.”
“Lalu, aku tidak sengaja melihat anak kecil yang berjalan lesu di pinggiran jembatan.. Dia berjalan sambil memeluk sketchbook miliknya. Awalnya, aku cuma memperhatikannya. Yah, selama anak itu tidak berbuat yang aneh-aneh, jadi kubiarkan saja. Tapi ternyata, dia malah memanjat pagar pembatas jembatan dan hendak meloncat. Otomatis, aku langsung menahan lengannya. Untung saja tidak jatuh.
"Kalau kalian mau tahu? Carmine itu anak yang sangat tertutup. Dia menjadi antisosial sejak ditinggal pergi keluarganya. Miris ya! Anak sekecil itu harus menanggung penderitaan itu seorang diri."
"Lalu, keluarganya? Dia pasti punya kerabat, kan?" balas Chloe yang penasaran.
"Dia punya banyak sekali kerabat. Sayang, tidak ada satupun yang peduli. Katanya, orangtua dan adik Carmine meninggal karena menipisnya keuangan mereka. Carmine harus berhenti bersekolah demi kebutuhan sehari-harinya. Tapi, hal tak terduga menimpa keluarganya. Semuanya sakit parah karena kelelahan dan kelaparan. Lima hari menahan rasa sakit itu, seluruh anggota keluarganya meninggal dan hanya menyisakan Carmine seorang.
"Terus terang, aku menangis mendengar cerita itu. Anak malang seperti dia ini sebenarnya memiliki potensi yang besar bahkan melebihi anak-anak pada umumnya. Sayang, karena stres dan masalah hidup, potensi tersebut tenggelam. Alasan kenapa Carmine memilih untuk bunuh diri karena dia ingin menyusul keluarganya. Dan juga, menghindari pamannya yang berniat untuk mengadopsinya. Aku yakin, jika Carmine diadopsi pamannya, anak itu tidak akan memiliki masa depan yang cerah.
"Aku bisa menebak dengan jelas kalau keluarga dari paman Carmine adalah orang yang pemalas dan rakus. Tidak memiliki sopan santun. Yah, aku pernah didatangi pamannya. Bahkan, sampai ditodong pistol."
Saking seriusnya mendengarkan cerita Midnight, keempat remaja itu terkejut bersamaan. Sampai-sampai membuat Chloe nyaris saja meloncat ke pangkuan Jacqueline.
"Segitunya?"
"Ya. Dan aku, sebagai kakak yang baik pasti akan melakukan banyak cara agar keberadaannya tidak diketahui." Midnight tersenyum bangga saat mengingat dirinya di masa lalu yang sangat berani membentak paman Carmine dan menyingkirkan pistol orang itu.
“Jadi begitu... Lalu, potensi apa yang Carmine punya itu?” tanya Aoi selanjutnya.
Midnight terdiam. Sejenak, ia berpikir. "Kalian pasti tidak akan mempercayainya."
"Eh? Apa itu? Katakan saja!!" seru Chloe sedikit memaksa. Saking nggak sabarnya, gadis itu refleks menepuk permukaan meja makan dan berakhir dengan tepukan ringan yang Jacqueline layangkan padanya.
"Heh, nggak sopan!" bisik Jacqueline oada Chloe.
__ADS_1
"Aku sih, terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang jelas, saat itu aku juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Megawave, suamiku mengenai Carmine." Tutur Midnight.
"Carmine. Anak itu memiliki daya imajinasi yang sangat kuat. Saking kuatnya, dia bisa melihat dunia Carnater dari dalam mimpinya dan menciptakan makhluk Carnater. Saat ini, Makhluk itu dinamakan Aura."
Begitu cerita Carmine berhubungan dengan Aura, lantas, Chloe dan ketiga sahabatnya terkejut bukan main. Tidak perlu menanyakan pertanyaan kedua saja, Midnight bisa menjawabnya dengan meringkas cerita dia dan Carmine hingga Aura secara keseluruhan.
"Aura katamu?" pundak Jacqueline gemetar mendengar pernyataan itu. Akan tetapi, justru Chloe-lah yang merasakan getaran dahsyat dari dalam tubuhnya yang menjalar hingga ke ubun-ubun kepalanya.
"Tu-tunggu dulu! Kalau nggak salah ingat, Aurora juga pernah bilang kalau Black Aura adalah sifat negatif manusia yang lebih mengarah ke dendam." Beber Chloe masih tidak percaya dengan ucapan Midnight barusan.
"Ya. Yang dia katakan itu benar. Megavile atau teman-teman kalian ini, sebenarnya adalah bentuk perwujudan sisi jahat Carmine. Mereka semua hidup saat Carmine baru memijakkan kakinya di tanah Carnater. Dari situlah, Carmine menemukan sebuah ide dan mendapatkan niat untuk balas dendam kepada keluarga besarnya.
"Asal kalian tahu, balas dendamnya Carmine itu bukan secara langsung. Melainkan, mengarah ke mental manusia yang ia temui. Suamiku saat itu sangat terpukau dengan kemampuan Carmine. Aku pun juga. Dari sisi negatif Carmine yang beragam itu, lahirlah beberapa Aura yang sekarang ini berstatus sebagai anakku."
"Hmmm, sisi jahatnya Carmine ya?" gumam Aoi. "Kalau dilihat dari kemampuan Yumi yang memanipulasi perhatian orang lain... Pasti ada makna dibalik kemampuan itu."
"Ah, benar juga. Black Aura 'kan' mengarah ke dendam."
"Devil Mask mengarah ke kekerasan."
Jacqueline dan Chloe menyebut beberapa makna dibalik kemampuan teman Auranya itu.
Midnight mengangguk, "Semua kemampuan mereka itu juga bisa dijadikan sebagai gambaran luka di masa lalu Carmine atau memang merupakan sisi jahat Carmine yang selama ini dia simpan. Dan hanya akulah orang yang mengetahui banyak rahasia Carmine." Jelas Midnight. Kemudian, membenarkan posisi duduknya dan menyilangkan kedua lengannya.
“Kalau begitu, bisa ceritakan semua rahasia Carmine pada kami? Kami penasaran banget." Izin Jacqueline malu-malu.
"Nggak. Kau paham bukan kalau Carmine itu perempuan?" tolak Midnight tanpa pikir panjang. "Lanjut pertanyaan selanjutnya!"
“Ta-tapi..." Chloe terbata-bata.
"Aku nggak bakal menceritakannya. Karena, aku ingin menyimpannya sendiri dan merasakan warna-warni dari cerita yang kubagikan dengan Carmine di masa lalu. Biarlah semua itu menjadi misteri." Tegas Midnight titik, no debat.
"Okelah..." Keempat remaja itu menyerah.
Midnight terkekeh menanggapi reaksi mereka yang langsung down itu. "Ada lagi kah yang ingin kalian tanyakan?"
"Ah, Yuuki!" celetuk Chloe serius.
Seketika, raut wajah mereka yang semula pucat hilang harapan menjadi serius begitu nama itu terdengar di telinga mereka.
Midnight agak terkejut merespon perubahan yang terjadi pada keempat remaja itu. Lalu, dia tersenyum licik sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Oh, orang itu ya?" ujarnya.
"Ya. Kami ingin tahu, bagaimana bisa Yuuki menciptakan Aura?" ucap Aoi.
"Apa tujuan pria itu?" lanjut Chloe.
~
__ADS_1