
“Jadi tempat apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Chloe sebagai awal episode kali ini. Di belakangnya, Aoi dan Jacqueline asyik membaca buku yang mereka temukan di rak milik Midnight.
Omong-omon, mereka saat ini sedang berada di perpustakaan lantai lima di mansion Black Aura. Pagi-pagi sekali, kedua kaki mereka sudah dibuat lelah saja hanya dengan mendaki 3 tangga menuju perpustakaan. Melelahkan memang, tapi setidaknya, mereka bisa melihat beberapa ruangan di dalam mansion yang mewah itu.
Selama di perjalanan saat itu, ketiga remaja itu dibuat menganga akan kemewahan yang disajikan markas tersebut. Dan lagi, ada beberapa pot berisikan bunga di setiap sudut ruangan yang mereka jumpai. Bahkan, di depan tangga menuju lantai lainnya juga ada.
Mereka bertanya-tanya, apa maksud dari keberadaan bunga itu.
Di perpustakaan yang tak kalah luasnya dengan ruang tengah, ketiga remaja itu disambut oleh ketenangan dan juga pesona yang dipancarkan oleh puluhan rak buku yang di dalamnya terdapat susunan ribuan buku yang rapi. Sungguh di luar dugaan kalau para Aura ini ternyata hobi sekali membaca.
Dengan penuh semangat, Jacqueline membuka lembar pertama buku itu namun, semangat empat lima nya seketika merosot mengetahui isinya yang tak lain adalah sekumpulan huruf-huruf simbol yang tidak ia mengerti maknanya. Tak perlu disuruh pun, buku itu sudah kembali di tempatnya bahkan di tempat buku itu berasal. Jacqueline mendengus sebal sebelum akhirnya berpaling ke hal lain.
“Tempatnya lumayan jauh. karena itulah, aku mengajak kalian ke sini sekaligus menunggu ibuku datang. Dia sedang dalam perjalanan menuju mansion kita,” tutur Black Aura serius tapi tidak bisa menyembunyikan kelembutan suaranya. Apalagi di depan kekasihnya yang tengah menatapnya dengan tatapan teduh itu.
“Wah, kali ini perjalanan kita bakal lebih canggung yah!” celetuk Aoi berhenti dari kegiatan membaca bukunya, setelah itu terkekeh kaku. Pria itu punya pengalaman sedikit berjalan bersama Midnight. Menurutnya, agak menyeramkan berjalan berdua dengan wanita berkacamata itu. Terlebih lagi, omongan wanita itu terkadang suka menyakitkan didengar.
Orang tipe penyabar seperti Aoi atau yang pendiam seperti Chloe kemungkinan bisa tahan satu bahkan dua hari mendengar omongan Midnight yang tajam. Akan tetapi, beda ceritanya kalau menyangkut orang seperti Jacqueline yang sudah pasti tidak tahan dan otomatis akan ada yang namanya perang mulut antara mahasiswa dengan dosen berkacamata itu. Yah, itu juga tergantung pada Jacqueline-nya sendiri apakah gadis itu masih menerapkan pelajaran PKN tentang menghormati orang tua atau justru terpengaruh dengan hal-hal negatif selama ia bergaul dengan teman-temannya di London.
“Kurasa nggak bakal canggung deh. Soalnya, Midnight kan orangnya santai,” sangkal Chloe enteng.
“Iya. Dia kan jarang tuh marah… Tunggu! PINTU GUDANGNYA!” Jacqueline tiba-tiba terkejut bukan main sampai kedua bola matanya nyaris mau lompat keluar.
Aoi yang pada awalnya tidak mengerti dengan omongan Jacqueline, tiba-tiba terperanjat. “ASTAGA! Pasti dia curiga kenapa pintu gudangnya ke buka! Midnight pasti bakalan nuduh kita!” serunya.
Pasangan itu panik sampai-sampai anggota tubuh bagian bawahnya ikut terbawa suasana dan berlari-lari tak jelas mengitari perpustakaan yang luas itu. Mirip seperti Spongebob dan Patrick saat mengalami kejadian yang memancing rasa takut mereka.
Manik Black Aura berotasi malas. Lagi-lagi dia harus mengurus kelakuan tak jelas dari pasangan itu. Menyebalkannya lagi, Captain yang sudah dihubungi untuk langsung pulang masih tak kunjung tiba. Jujur sejujurnya, Black Aura memang senang dengan suasana hangat yang diberikan ketiga sahabat itu. Tapi, begitu mereka terserang panik karena kecerobohan mereka sendiri, hal itulah yang membuat Black Aura berpikir “Hah, sudahlah! Mau nggak mau harus dihentikan!”
Ketika Black Aura hendak menghentikan pasangan yang berlarian tak jelas itu, Chloe muncul dan menghadang langkahnya.
Black Aura mengernyitkan keningnya bingung. “Apa maksudnya?”
“Biar aku aja yang mengurus mereka!” ucapnya tersenyum mantap.
Senyuman tipis terukir di wajah datar Black Aura. Tampaknya, tenaga yang ia simpan untuk bertarung itu akhirnya terselamatkan oleh keputusan Chloe yang ingin menghentikan kelakuan kedua sahabatnya yang terkesan kekanak-kanakan. Black Aura kembali ke tempat duduknya yaitu meja. Bodo amat dengan tata krama ataupun sopan santun. Toh, usianya jauh lebih senior ketimbang tiga remaja manusia itu.
“Hei, kalian! Bisa berhenti tidak?! Ini rumah orang! Sopan sikit napa?!” bentak Chloe layaknya seorang ibu pada anak-anaknya.
Tak sampai lima detik, langkah Jacqueline dan Aoi berhenti menyadari kelakuan konyol mereka. Pasangan itu menggaruk tengkuk mereka bersamaan dengan raut minta maaf. Tak hanya raut minta maaf saja, ada ekspresi malu terselip di lapisan wajah mereka termasuk rona semerah tomat.
__ADS_1
Chloe menghela nafas berat sambil menggeleng-geleng kepalanya. Sementara itu, Black Aura hanya duduk santai sambil menikmati kopi espresso yang Chloe buatkan untuknya. Wajah Aura itu terkesan sedang mengejek Aoi dan Jacqueline. Beruntunglah, Aoi dan Jacqueline tidak menyadari ekspresi itu.
“Maaf… Habisnya, kami panik sih…” kata Jacqueline merasa bersalah.
“Salah kalian sih, main dorong aku tanpa mengecek pintu gudangnya. Kalau begini caranya, kita pasti diceramahin Midnight habis-habisan. Mana Midnight dosen kita lagi,” Chloe menepuk jidatnya pusing.
Serba salah lagi bukan? Mau berterima kasih namun terhalang oleh ketakutan akan amarah Midnight yang tak lama lagi akan sampai ke mansion mereka.
Di luar sana, terdengar suara pintu masuk yang terbuka. Saat itulah, bulu kuduk ketiga remaja itu meremang. Tulang-tulang mereka juga ikut menegang karena pemikiran mengerikan yang tak sengaja terbentuk ketika membayangkan bagaimana Midnight membentak mereka nanti.
Suara pintu yang tertutup itu mereka duga berasal dari ruang tamu dan orang yang baru saja menutup pintu itu sudah pasti seorang wanita dengan kacamata bulat yang bertengger manis di batang hidungnya.
“Bagaimana ini, Chloe?” tangan Aoi tak henti-hentinya mengacak rambutnya yang awalnya tersisir rapi.
“Aku nggak tahu!” seru Chloe lama-lama ikut terbawa suasana. Pandangannya mengarah ke Black Aura yang fokus membaca buku mantra milik Midnight. Chloe berdecak sebal diiringi dengan hentakan kakinya menuju tempat Black Aura duduk. “Bantuin dong…” pintanya dengan wajah memelas. Chloe menyandarkan punggungnya di lengan Black Aura sambil berlaku manja di depan Aura itu.
Black Aura terkekeh menanggapinya. “Jangan khawatir, aku akan menyelamatkan kalian dari amukan ibuku.”
“Benarkah?” tanya ketiga remaja itu serempak. Perasaan lega mereka akhirnya muncul saat Black Aura memberikan anggukan kecil pada mereka. “Aaa! Terima kasih Aura!” seru mereka penuh rasa syukur. Sebagai ungkapan rasa terima kasih mereka, Black Aura dipeluk seerat-eratnya.
“Astaga… Hentikan!” Black Aura meronta-ronta, berusaha menyingkirkan pelukan membunuh mereka dari dirinya. “Kalian ini manusia. Senang itu boleh tapi ada batasnya. Kalau berlebihan, kalian bisa saja membunuhku!” protesnya sambil mengelus-elus kedua lengannya yang terasa sakit.
“Oh, ya Black Aura! Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”
“Apa Chloe?”
“Itu… Saat kita berjalan di setiap ruangan di mansion-mu, aku menemukan banyak sekali bunga veronica di setiap sudut ruangan yang ada di mansionmu. Omong-omong, apa salah satu dari kalian ada yang terobsesi dengan bunga veronica? Oh, ya! Kau kenapa memberiku jepit veronica ini?” jelas Chloe bersemangat.
Merasa lelah berdiri terus, ketiga sahabat itu memutuskan untuk duduk di meja membaca bersebelahan dengan Black Aura. Tidak masalah selama tidak ada Midnight di mansion mereka.
“Iya loh! Dan lagi, matamu juga warnanya violet. Dekat-dekat tuh sama warna bunga veronica,” timpal Jacqueline ikut penasaran.
“Sebenarnya warna mataku ini nggak ada hubungannya dengan veronica,” Black Aura tertawa kecil disertai raut herannya merespon omongan Jacqueline sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya yang sebetulnya belum selesai.
“Aku nggak tahu pasti masa lalu ibuku dan ayahku. Yang jelas, bunga veronica di sudut ruangan mansion ibu ini adalah bunga kesukaan ayah. Dan bunga itu punya arti… Arti…” Black Aura berpikir sejenak, berusaha mengingat arti bunga veronica itu. “Ah, artinya adalah pertemuan pertama dengan cinta kita.”
“Oooh, jadi itulah alasan kenapa kau memberiku bunga veronica. Manis juga!” Chloe tersenyum lebar usai mengetahui makna dari jepit veronica pemberian Black Aura kemarin. “Jangan khawatir, jepit ini akan selalu ada di kepalaku bahkan sampai akhir hayatku.”
“Makasih! Aku senang kau menyukainya!” ucap Black Aura kemudian pandangannya mengarah ke hal yang lain bersamaan dengan topic pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Ada lagi yang ingin kalian tanyakan? Mumpung aku lagi disini dan menganggur.”
“Ada!” balas Jacqueline mantap.
“Apa?”
“Hubunganmu dengan Midnight itu sebenarnya kandung atau bukan?”
“Itu… Aku nggak tahu. Intinya ibu dan anak.”
Senyuman Jacqueline yang semula mekar itu mendadak gugur mengetahui jawaban yang Black Aura lontarkan sangat tidak memuaskan baginya. “CIh! Kau ini bagaimana sih? Kau yang memberi kami kesempatan untuk bertanya tapi kau sendiri nggak tahu jawabannya! Nggak seru!” protesnya.
“Karena kau bertanya dan tugasku adalah menjawab.”
“Ish, Chloe! Pacarmu ini! Boleh kutampol nggak mukanya?!” geram Jacqueline sambil mengadukan kelakuan tak menyenangkan Black Aura pada Chloe.
Chloe hanya terkekeh menanggapi amarah Jacqueline dan membuatnya terkesan tidak bisa diandalkan di mata Jacqueline.
“Oi! Jangan bercanda! DIi Carnater, posisi kita ini diuntungkan karena kekuatan kita asalnya dari emosi. Sementara, Aura seperti Black Aura ini kan nggak punya emosi dan otomatis, kena pukul sedikit aja sakitnya udah berlebihan itu,” jelas Chloe seakan dia sudah berada di level profesional dalam memahami Aura.
Jacqueline tertegun. Benaknya langsung teringat akan dirinya yang pernah mengobati luka Devil Mask yang parah karena ulah manusia. Well, cerita itu sudah lumayan lama dan Jacqueline tidak memiliki minat apapun untuk menceritakannya saat ini.
“Daripada membahas itu, bukankah lebih baik kita memikirkan bagaimana cara kita menghidupkan kembali suasana meriah Carnater dan juga warganya? Selain itu juga, masih ada manusia seperti kita yang bersembunyi di sekitar Carnater,” Aoi dengan bijak memanfaatkan ruang kosong di antara Jacqueline, Chloe dan Black Aura.
“Aku suka idemu,” puji Black Aura kemudian.
“Hehe, makasih!”
“Kalau nggak salah, ada satu cara yang bisa mengembalikan suasana meriah itu. Tapi, bukan kami yang melakukannya.”
Black Aura memejamkan kedua matanya, memanggil potongan informasi mengenai cara-cara menghidupkan dunianya. Seingatnya, dia pernah membaca sekaligus mendengarkannya langsung dari Midnight. Manusia sepertinya yang bukan warga Carnater saja lebih luas wawasannya ketimbang dirinya yang asli warga Carnater.
Ibu memang luar biasa. Hmm… Apa biar ibu saja yang menjelaskannya? Pikir Black Aura.
“Jadi siapa kalau bukan Aura?” tanya Chloe.
“Manusia kalau nggak salah ingat,” ujar Black Aura tersenyum mantap.
~
__ADS_1