Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 69


__ADS_3

Chloe terpaku pada sosok Aura yang berdiri di kejauhan sana. Sosoknya yang asing itu membuat Chloe semakin terpancing untuk mengetahui siapa dia. Aura itu adalah komandan Legend Aura. Katanya, dia mati di tangan Black Aura dan Silentwave. Kelihatannya, kata-kata dia mati di tangan dua Megavile itu membuatnya terkesan bahwa, dia adalah Aura yang kuat. Huke Metafora namanya.


"Jadi, dia yang namanya Huke, ya?" kedua mata Chloe menatap penuh rasa penasaran pada Aura itu. Dia terkesan misterius.


"Iya. Kelihatannya sih, dia cewek." Tebak Jacqueline sambil menepuk-nepuk pahanya yang kotor karena debu.


"Cewek mukamu! Dia laki-laki, hei!" sambar Yumi. Setelah menepuk jidatnya.


Sontak, kedua gadis itu terbelalak tak percaya. Laki-laki, katanya?


"Cowok?! Gila! Cowok secantik itu?!" protes Chloe tidak percaya.


"Astaga... Kalau dilihat-lihat, masih cantikan dia dari Chloe." Tambah Jacqueline polos.


"Oh, kutampar juga kau!"


"Cukup! Bukan saatnya bercanda!" Yumi segera menengahi Chloe yang hendak menampar Jacqueline meski maksudnya bercanda.


Tak ingin menghabiskan siangnya di jembatan, Yumi memutuskan mengeluarkan beberapa pisau roti kecil yang kemudian, ia lemparkan dengan bebas ke arah Huke. Tapi, pisau roti itu melesat ke arah lain. Sementara, Huke hanya diam tanpa melakukan perlawanan apapun.


"Lihat itu!" tunjuk Yumi ke salah satu pisau roti yang tergeletak sangat jauh dari posisi Huke berdiri.


Seketika, Huke mengikuti perintahnya dan menoleh ke arah pisau roti yang tergeletak itu. Ya, hanya pisau roti yang tergeletak. Tidak ada serangan apapun dari pisau itu. Lantas, apa maksudnya?


Jacqueline mengangkat alisnya tercengang. Di sisi lain, dia juga heran.


"Di-dia kenapa?"


"Dia menatap pisaunya lama sekali." Chloe ikut tertular bingung.


Saat Huke fokus menatap pisau, di belakangnya sudah ada Black Aura dan Devil Mask dengan senjata mereka masing-masing. Pedang dan cakaran. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menebas Huke dari berbagai arah.


Huke yang terlalu fokus dengan pisau, terkejut bukan main. Cepat-cepat, ia menghindar dengan membawa luka tebasan di pundak dan lengan kirinya. Tampaknya, Aura itu tidak terlalu mempermasalahkan lukanya.


Di saat bersamaan, Chloe dan Jacqueline berlari. Mereka hendak menghampiri Yuuki yang pandangannya juga ikut terfokus ke pisau roti yang tergeletak. Sama seperti Huke sebelumnya, pria itu masih bergeming di tempat. Seperti orang melamun.


"Dasar penjahat!" Jacqueline mendorong Yuuki seperti perempuan yang kecewa karena ditolak. Dorongannya tak begitu kuat, jadi hanya membuat Yuuki terseret-seret kecil.


"Ini juga!" Tambah Chloe dengan tas ransel yang ia bawa. Kemudian, tas itu dilayangkannya hingga menghantam lengan kanan Yuuki. Yah, damage-nya nggak gitu parah. Tapi cukup membuat Yuuki mematung. Dia berpikir, apa-apaan mereka? Mau bercanda denganku?


Yuuki membatin sejenak. Pada umumnya, perempuan selalu mengandalkan tas atau sesuatu yang ia bawa ketika dia merasa terancam oleh keberadaan orang lain.


Yang kulihat di drama juga begitu. Yuuki membatin dengan wajah malas. Tak lama kemudian, dia berdiri tanpa membalas serangan Chloe barusan. Dia mengibas-ngibas lengannya yang berdebu. Lalu, menghela nafas.


“Kalian mau melawanku? Untuk apa?” tanya Yuuki tiba-tiba.


Kalimat yang langsung merespon pertanyaan Yuuki itu adalah, “eh?” dari kedua gadis itu. Chloe dan Jacqueline.


“Kalian mau ya, membahayakan diri kalian? Ditambah lagi, kalian telah melewati banyak hal yang indah loh di masa remaja kalian.” Tambah Yuuki seakan ingin menggoda mereka.


“Jangan banyak bacot lu! Kan ‘om’ sendiri yang mulai semua ini! Kalau kami tanya, “Kapan om berhenti cari masalah?” jawab apa coba?” tantang Jacqueline mewakili Chloe. Chloe ikut setuju di belakangnya.


“Oh, boleh juga kalian.” Yuuki terkekeh. “Tunggu? ‘Om’? Setua itukah aku dimata kalian?”

__ADS_1


“Ya!” jawab Jacqueline, fix no debat.


“Lagipula, untuk apa kau mengejar Midnight yang sudah jelas-jelas nggak mencintaimu?” lanjut Chloe.


“Aku tahu. Tapi, aku akan membukti kan padanya kalau aku benar-benar mencintainya dan aku berjanji akan membuatnya bahagia. Bukannya mudah mendapatkan hati Midnight!” sambar Yuuki.


“Membuatnya bahagia? Kau yakin?"


Yuuki mengerutkan keningnya mendengar perkataan Jacqueline barusan. Dia seperti dipukul oleh kata-kata gadis berambut ungu itu.


“Walaupun kami nggak tahu jelas masa lalu kalian, terus terang, jika kami menemukan ada laki-laki sepertimu, kami otomatis akan pergi. Kami nggak mau mengorbankan kesenangan kami hanya untuk menghindari laki-laki sepertimu. Kalau aku jadi Midnight, aku bakal menjawab, ‘tidak’!” Chloe menegaskan diiringi dengan kaki kanannya yang menghentakkan tanah sekali. “Kau juga aneh. Kenapa nggak menyerah saja? Di luar sana masih banyak perempuan yang lebih baik dari Midnight."


“Benar! Oh, ya, mumpung aku ingat... Katakan padaku, dimana Aoi?! Katakan!” Jacqueline menaikkan lengan mantelnya sampai ke atas siku disertai suara membentak.


“Aoi? Jangan bercanda! Sejak kemarin, aku nggak ada menyentuh orang itu. Bertemu saja belum.”


“Bagaimana dengan Minji?!” di belakang mereka, tiba-tiba Rara menyambar kesal. “Apa maksudmu, hah? Menjadi pacar kakakku?! Sebenarnya, apa maumu, Ha?" Rara yang sudah tersulut emosi sampai melempar batu ke arah Yuuki. Hanya batu kecil. Itupun arah lemparnya saja entah benar atau tidak? Kalaupun besar ukuran batunya, itu hanya akan menjadi mimpi bagi Chloe yang melihatnya? Rara ini masih memiliki hati dan perasaan sebelum menghajar orang.


Tunggu dulu! Kamu kan, pandai taekwondo? Chloe terkekeh sambil membatin.


“Oke, oke… Sebenarnya, aku nggak punya perasaan apa-apa ke Minji. Yang punya itu diriku yang satunya.” Ungkap Yuuki. Kemudian, memasukkan tangannya ke dalam saku dan bersandar di perbatasan jembatan. Wah, kalau saja Chloe memiliki niatan jahat, mungkin orang itu sudah didorongnya hingga nyebur ke laut. Tapi sayangnya, gadis itu masih terlalu baik untuk melakukannya.


“Apa istilahnya? Bipolar, ya?” bisik Jacqueline pada Chloe menanggapi perkataan Yuuki tadi.


“Bukan. Bipolar itu lebih ke suasana hati yang berubah. Kalau nggak salah, ya…” Balas Chloe.


“Kalau pun bipolar, penampilannya nggak akan setampan itu. Harusnya, dia mengurung diri di rumah daripada membuang-buang waktunya di luar, mengejar cintanya. Tapi, bisa aja Yuuki saat ini lagi bahagia.” Rara ikut menimpali sambil tertawa kecil.


“Hahaha! Benar-benar!”


“Haaah… Kata-kata kalian mengingatkanku akan masa laluku.” Ujar Yuuki tiba-tiba, usai menarik nafas singkatnya. Niatnya hanya ingin mengalihkan pandangan ketiga gadis itu sekaligus, menyadarkan mereka akan keadaan.


“Masa lalu?” Jacqueline menjadi gadis pertama yang merespon omongan Yuuki.


Yuuki tersenyum tipis. “Yah, aku memang melakukan kesalahan di masa lalu dan sempat membuat Midnight terpuruk. Tapi aku juga punya alasan untuk membela diri. Kalau tidak, keluargaku bisa saja tamat oleh mereka.” Jelas Yuuki. Pria itu memperlihatkan tatapan dinginnya.


Seketika, ketiga gadis itu membulatkan matanya tidak percaya. “Keluarga?” ujar mereka serempak.


Yuuki mengangguk pelan. “Aku tidak tahu kalau malam itu akan menjadi malapetaka bagiku. Kukira, aku bakal diterima Midnight, tapi rupanya, ada orang lain yang tidak menyetujui ku… Bukan! Ada orang lain yang diam-diam ingin membunuhku. Aku bingung. Apa salahku? Aku kaget, orang itu berhubungan baik dengan Midnight dan Midnight dengan senang hati mau membantunya untuk menghancurkan keluargaku…” Yuuki mendadak menjeda omongannya begitu sadar telah membeberkan banyak hal tentang dirinya. Pipinya menjadi merah seketika. Merasa dia salah tempat untuk mengungkapkan keluh kesahnya.


Secepatnya, Yuuki mengalihkan perhatian ketiga gadis itu dengan pistol yang ia keluarkan dari dalam saku celananya. “Ah, apa boleh buat? Kalau kalian masih disini, nyawa kalian tergantung bagaimana cara kalian menghindari peluru ini."


“E-eh?! Tunggu dulu! Aku tahu kau cuma mau mengalihkan perhatian!” Chloe yang terserang panik itu langsung mencopot sepatu bootnya dan hendak melayangkannya pada Yuuki.


“Jangan khawatir. Pistol ini cuma mainan. Kalau kalian berani membahayakan diri kalian, ayo! Aku nggak akan segan-segan menghabisi siapapun yang menghalangi jalanku. Huke!” serunya seraya membuang pistol bohongan itu.


Saat nama itu disebut, secara bersamaan, ketiga gadis itu menoleh ke samping. Mendapati beberapa claymore melayang mengarah ke mereka. Siapa lagi kalau bukan Aura yang sangat Yuuki andalkan itu? Huke.


Tanpa memberitahu sinyal bahaya, dia sudah lebih dulu menyerang. Di samping itu, pasti akan ada orang lain yang hendak menghalangi serangannya.


Dengan sigap, Devil Mask membuka portal tepat di depan puluhan pedang claymore dengan sasaran punggung pemilik dari pedang itu.


Huke menoleh cepat ke belakang dan mengubah semua pedangnya menjadi kertas. Ketika tangan Aura itu bergerak, Chloe menangkap sesuatu yang membuat hati dan penglihatannya terpukau. Dia seolah melihat sebuah keindahan kecil yang tidak sepele dari jari jemari lentik Huke. Seperti pedang yang tadinya bisa mengancam nyawa itu berubah menjadi puluhan kertas yang berjatuhan kaku namun cara mendaratnya tidak membuat takut yang melihatnya.

__ADS_1


Bola mata Chloe mengarah pada Huke. Wajah Aura itu memanglah cantik dan manis. Namun, siapa sangka kalau Aura itu sebenarnya adalah pria. Yah, tampangnya saja membuatnya menggelengkan kepala.


Kembali ke situasi sekarang dimana Yuuki yang masih menodongkan pistol, akhirnya bergerak. Pria itu memulai serangan dengan menembak Devil Mask dari belakang.


Sontak, Devil Mask terkejut ketika mendengar suara ‘dor’ yang terdengar tepat di belakangnya. Cepat-cepat, dia menghindari peluru kecil yang nyaris saja melukai punggungnya. Kemudian, Devil Mask berteleport tepat di belakang Yuuki dan hendak melawannya. Akan tetapi, Huke yang sangat peka itu menyadari bahwa Yuuki dalam bahaya, langsung mengarahkan canonnya ke arah Devil Mask dan menembaknya.


"Apa?!" Devil Mask terbelalak dan langsung menghindar.


Yuuki menyeringai, "Percuma. Kalian semua nggak akan bisa menandinginya."


Devil Mask berdecak sebal, kemudian mengejar Yuuki. Dia meluncur cepat ke arah Yuuki. Tepat di sampingnya, Devil Mask menggenggam kaki pria itu. Namun, Huke sudah lebih dulu menarik kaki Devil Mask agar Aura itu tidak menyentuh kaki Yuuki.


"Yang adil, dong!" ujar Huke datar seraya melempar Devil Mask sejauh mungkin.


Devil Mask berdecak sebal saat tubuhnya melayang di udara. Agak kesulitan juga untuk membuat tubuhnya berdiri tegap. Ujung-ujungnya, dia menabrak salah satu mobil yang kosong.


Padahal, targetnya ada di depan matanya. Kenapa sulit sekali menyentuhnya? Ditambah lagi, Huke. Kalau saja Aura itu tidak hidup, mungkin tugas mereka mencari Aoi hari ini sudah kelar.


"Cih! Apa sebaiknya kuserahkan pada ibu saja kali?" gumam Devil Mask usai menabrak mobil. Yah, buat dia sih bukan apa-apa sakitnya. Devil Mask merasa khawatir dengan kondisi mobil yang remuk dia buat.


Kalau tadi Devil Mask, sekarang giliran Black Aura yang bergerak. Dengan sabitnya yang sudah kembali seperti semula dan sedikit perubahan di senjata itu, Black Aura tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah Huke.


Huke tersenyum mengetahui dirinya akan berhadapan kembali dengan musuh lamanya. Saat ini, meskipun tahu di sekitarnya ada beberapa remaja manusia, Huke tidak memiliki keinginan untuk melukai mereka. Aneh saja menurutnya jika harus bertarung dengan orang yang tidak ia kenali.


Oleh karena itulah, Huke memberi isyarat tangan pada Yuuki untuk tidak ikut campur dalam pertarungan dan kembali ke rumah.


"Yah, baiklah... Padahal, kita jelas-jelas sudah menjebak mereka. Tapi yah, kalau itu maumu." Ujar Yuuki sambil melangkah menghindari area pertarungan Huke.


Ketika hendak masuk ke dalam portal yang sudah Huke siapkan, tiba-tiba, Chloe muncul dari arah samping dan langsung memeluk Yuuki agar pria itu tidak segera kabur dari masalah.


"Astaga!" Yuuki terkejut bukan main.


Gadis itu dibantu Black Aura yang tak lama lagi sampai ke tempat Huke berdiri.


Black Aura merasa lega bisa menjadi dirinya sendiri. Pertemuan dengan Huke yang terbilang mengejutkannya ini, ia akui dia senang. Ditambah, Aura itu kuat dan Black Aura bisa dengan senang hati menghajarnya dengan senjata apapun.


Tinggal beberapa langkah dan Black Aura akan sampai. Dia menarik sabitnya ke belakang, kemudian menebas Aura itu.


Huke tersenyum tanpa memperdulikan serangan Black Aura tadi. Yang terlintas di pikirannya hanyalah bertarung dengan musuhnya.


" Mati." Katanya sambil menembak-nembak bola es ke arah Black Aura.


Black Aura tidak merespon. Dengan sabitnya, dia menangkis beberapa bola es sebelum akhirnya sadar kalau sabitnya membeku karena bola-bola itu.


"Hm?" Black Aura melirik ke arah Huke datar. Tangan kanannya mengangkat sabitnya yang membeku itu pada Huke.


"Membeku." Ucap Huke disertai pundak yang terangkat singkat.


Setelah mendengar ucapan Huke yang tidak ada artinya itu, Black Aura segera mengubah sabitnya menjadi panah busur. Lalu, ia lepaskan dengan cepat lima belas panah itu dengan bebas ke arah musuhnya.


Pandangan Huke otomatis terfokus ke arah panah-panah yang mengarah padanya. Tanpa pikir panjang, menangkis beberapa panah itu tanpa memperhatikan Black Aura yang tak lama lagi akan menebasnya dengan pedang.


"Mati." Katanya dingin.

__ADS_1


~


__ADS_2