
"Aku akan mati! Aku akan mati!"
Chloe berteriak dalam hati sekencang-kencangnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain membiarkan tubuhnya melayang ke bawah bersama angin malam yang bertiupan kencang.
Chloe merutuki dirinya karena emosi yang meluap tak jelas dan membuatnya menjadi bodoh dalam bertindak. Sampai berakhir tersandung dari lantai 10. Apa-apaan ini?!
Rasa panik dan ketakutan yang menghadangnya membuatnya enggan untuk melihat tanah yang tak lama lagi akan disentuh oleh punggungnya.
Fix, aku mati setelah ini! Aku mati! Aku mati!
Entah keajaiban atau karena dirinya saat ini berperan sebagai tokoh utama, tubuhnya berhasil digendong oleh seseorang yang sangat familiar auranya.
Lantas, Chloe terkejut dan langsung membuka kedua matanya selebar mungkin. Kali ini, ia menemukan sosok yang sangat yang khawatirkan keadaannya usai diserang cukup keras oleh Morgan.
"Black Aura!" ucapnya senang. Lebih senang lagi ketika dirinya digendong oleg remaja itu ala-ala tuan putri.
Tak berubah sama sekali awal pertemuannya hingga detik ini, tatapan dingin yang sudah sangat melekat di ingatannya berpapasan tepat di depan wajahnya. Perbedaannya hanya pada bercak-bercak cairan hitam yang menodai wajahnya.
Chloe tertegun sesaat menemukan bercak darah hitam yang menodau wajah Black Aura. Ia yakin itu pasti karena serangan Morgan sebelumnya.
"Wajahmu..."
"Lupakan saja."
"Oke..."
"Lain kali jangan ceroboh. Kau pikir aku bisa dengan mudah mati hanya karena tinjuan itu?"
Chloe terkekeh pelan. "Aku agak cemas soalnya."
Black Aura memutar kedua bola matanya malas dan turun dengan pelan. Memastikan kedua telapak kakinya berhasil mendarat di atas permukaan tanah. Kemudian, ia memandang lantai 10 gedung tersebut. Tempat dimana Morgan menjatuhkan Chloe barusan. Untunglah, dirinya cepat mendatangi Chloe dan menggendong tubuh gadis itu.
"Ambil laptopmu dan menjauhlah!" ucap Black Aura tanpa mengalihkan perhatiannya pada lantai 10 tersebut.
"Eh? A-aku ikut...!" seru Chloe yang tiba-tiba diserbu oleh tatapan dingin yang menusuk dari Black Aura. Gadis itu tersentak kaget dengan tatapan itu.
"Ingatanmu gak bermasalahkan? Jangan buat dirimu seperti 2 menit yang lalu. Tugasmu hanya mencari Aoi dan menulis novel. Bukan bunuh diri." sahut Black Aura yang langsung mengalihkan seluruh pandangannya pada Chloe.
Gadis itu hanya berdiri mematung dengan raut yang merasa bersalah tersebut. Kali ini, ia memiliki sedikit keraguan untuk memandang wajah Black Aura.
Black Aura menghela nafas berat. "Lakukan apa yang haru kau lakukan! Anggaplah dirimu sebagai tokoh utama dalam ceritamu dan aku adalah tokoh pendukung. Aku akan melindungimu sampai kau menemukan sahabatmu, oke?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Nah, ambil laptopmu dan aku akan mengalihkan perhatian Morgan. Aku tidak akan membiarkan laptopmu rusak. Jadi..."
Black Aura menggantungkan kalimatnya seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Langit malam yang dipenuhi bintang dan suhu yang semakin menurun karena kehadiran salju.
Sedari tadi, selain mendengarkan ucapan Black Aura, Chloe hanya bisa terdiam. Memikirkan dirinya yang harus menuliskan novel untuk Aoi dan juga untuk Rara.
Baru kali ini, ia merasakan fantasi yang nyata bersama remaja Aura ini. Remaja yang menyandang status sebagai temannya.
"Jadi... Apa?" tanya Chloe yang langsung memecahkan lamunan Black Aura.
"Ambil laptopmu!" Seru Black Aura yang kemudian langsung melompat ke atas dengan mengeluarkan pedangnya.
Tampaknya akan terjadi pertarungan sengit antara Black Aura dan Aura yang menginap di dalam tubuh Morgan. Tanpa pikir panjang begitu teringat akan laptopnya yang kesepian, Chloe segera berlari masuk ke dalam kantor dan menaiki beberapa anak tangga.
Chloe mendengar samar-samar namun semakin jelas suara pedang yang beradu sengit dengan permukaan besi dari tangan ogre milik Morgan.
Mereka sepertinya terlibat sangat erat dengan pertarungan mereka. Entah dengar apa tidak orang-orang disekitar gedung ini. Akan tetapi, sejauh ini Chloe belum menemukan beberapa orang yang melintasi daerah gedung kosong tersebut.
"Black Aura... Tolong selamatkan Morgan."
~
__ADS_1
Morgan mengayunkan lengannya dan berhasil mendorong Black Aura keluar gedung. Namun, remaja itu masih bisa bertahan dengan sabitnya yang ia tancapkan ke dinding gedung.
"Cih!" Morgan berdecak sebal kemudian mengubah lengan ogre-nya menjadi canon dan mengarahkan ujung canon tersebut tepat di depan lawannya.
Di lain sisi, Black Aura berusaha untuk bisa menapakkan kakinya kembali di atas lantai kantor ketika keseimbangan tubuhnya saat ini dibuat tidak stabil oleh angin malam.
"Mati...!" seru Morgan yang kemudian langsung menambak Black Aura dengan canon-nya.
Mengetahui hal itu, Black Aura segera mengeluarkan pedang di tangan kirinya dan menangkis peluru-peluru tersebut. Sebagian dari serangan Morgan berhasil melukai pemiliknya sendiri.
Karena luka yang ia dapatkan terlalu banyak melukai tubuhnya, Morgan memilih untuk mengubah Canon tersebut kembali menjadi kepalan tangan dan meninju dinding tempat dimana Black Aura berpegang kuat.
Tinjuan tetsebut berhasil menghancurkan dinding itu dan meruntuhkan sebagian bongkahan dindingnya ke bawah.
Black Aura berdecak sebal dengan serangan Morgan tadi. Tanpa pikir panjang, ia segera mengaktifkan kekuatan mata penghancurnya dan melukai lengan Morgan.
"Astaga!!"
Morgan mundur selangkah ke belakang begitu menemukan rasa sakit di bagian lengan kirinya. Karena terlalu banyak membuang energinya, pria itu memutuskan untuk diam sejenak.
Black Aura yang baru saja melakukan serangan langsung mengambil kesempatan untuk naik kembali ke atas lantai gedung. Seluruh pandangannya terpaku pada laptop Chloe yang masih tergeletak dengan aman di belakang Morgan. Dalam hatinya ia merasa khawatit karena, hanya laptop itulah yang sangat berharga bagi Chloe satu-satunya.
Meskipun belum sepenuhnya memiliki belas kasihan dan memahami perasaan Chloe, setidaknya Black Aura tahu bahwa benda itu sangat-sangat Chloe butuhkan untuk menuangkan seluruh ceritanya dan menjadikannya buku novel yang ia harapkan.
Sadar terlalu lama diabaikan, Morgan pada akhirnya memilih untuk memecahkan lamunan lawannya.
"Aku penasaran... Sebenarnya, apa yang kau perhatikan dari tadi? Kau tampaknya mencemaskan sesuatu." Ucap Morgan dengan menaikkan alisnya sebelah.
Black Aura tidak merespon selain mempersilahkan angin malam melintasi di area sekitar mereka.
"Kau punya mulut apa ngga sih? Aah! Dasar Megaville! Kalian terlalu mencintai rasa sakit kalian dan itu membuat kalian menjadi kaku di suatu situasi. Huft... Aku ngga bisa membayangkan bagaimana Chloe menghadapimu sebagai teman?" ucap Morgan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Black Aura masih terdiam sampai ia menemukan bayangan Chloe di kedua pandangannya. Gadis itu masuk ke dalam ruangan mereka dengan cara mengendap-endap. Gadis itu berusaha sekuat tenaga agar tidak menciptakan suara yang dapat menarik perhatian Morgan.
Sesekali, Chloe melirik Black Aura. Remaja itu seperti biasa memasang raut datarnya demi mempertahankan posisi kepala Morgan.
"Cairan oranye..." Chloe terdiam sesaat ketika menemukan cairan oranye kental yang melumuri permukaan laptopnya. Saking penasarannya dengan cairan tersebut, ditambah dengan warnanya yang unik membuat perhatiannya terpaku lurus pada cairan tersebut.
Black Aura terbelalak dalam diam. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan memandang permukaan laptopnya se-lama itu?
"Sebenarnya, apa sih yang sedang kau lihat?" Morgan bertanya sekali lagi. Merasa terabaikan, Morgan memutuskan untuk melirik ke belakang. Namun, sebelum kepalanya sepenuhnya menoleh ke belakang, Black Aura langsung menyandung kaki Morgan.
Serangan barusan cukup membuat Morgan terkejut sehingga menyuruhnya untuk membalas serangan Black Aura dengan menembaknya.
Sontak, Black Aura menghindari beberapa peluru tersebut tanpa sadar bahwa langit-langit ruangan tersebut ikut terluka karena serangan Morgan. Sebagian dari langit-langit itu memunculkan beberapa retakan dan nyaris runtuh.
"Black Aura di belakangmu!!" teriak Chloe setelah lamunan pecah karena suara tembakan sekaligus menemukan Black Aura yang hendak diserang oleh Morgan dengan tinjuannya.
Black Aura secara otomatis menoleh ke belakang kemudian menghindar dengan cepat.
Langit di luar sana semakin gelap, ditambah dengan suara keramaian yang seiring berjalan waktu kian memudar mendekati waktu tidur mereka.
Karena sudah terlalu larut mereka terjebak dalam pertarungan sengit, Black Aura memutuskan untuk mengakhiri pertarungannya dengan memunculkan sejumlah tangan tengkorak dari lantai ruangan. Kemudian menahan tubuh Morgan.
"Apa-apaan ini?!"
Morgan yang tengah di tahan itu berusaha keras menghancurkan tangan tegkorak tersebut dengan menembaknya menggunakan lengan ogre miliknya.
"Chloe! Pergi dan bawa laptop pergi! Aku akan menyusul!" perintah Black Aura yang langsung dibalas cepat oleh anggukan singkat Chloe.
Gadis itu segera meninggalkan tempat tersebut sebelum beberapa puing-puing ruangan tersebut mulai berjatuhan mengotori kepala mereka. Kini, perhatian Black Aura teralihkan sepenuhnya pada Morgan yang berusaha melepaskan diri.
"Tidurlah!" ucap Black Aura. Tanpa pikir panjang, remaja itu mengeluarkan pedangnya dan mengumpulkan seluruh kekuatannya ke dalam pedang tersebut sebelum pada akhirnya ia menebas Morgan dengan pedangnya.
Tebasan pertama berhasil dihindari oleh Morgan. Tak ingin kalah, Morgan mengubah ukuran lengan ogre-nya dan meninju seluruh tangan tengkorak yang menahan tubuhnya. Tak hanya itu, dinding ruangan itu turut ia libatkan. Yep, ia meninju lantai ruangan tersebut sampai retak dan hancur.
__ADS_1
Black Aura terbelalak bukan main sampai kehilangan fokusnya.
Entah dari mana asalnya, muncul serangan baru dari Morgan berupa tinjuan maut yang sukses mendorong lawannya sampai menembus lantai paling bawah. Lantai 1.
Tubuh Black Aura memghantam permukaan meja lumayan keras. Penglihatannya agak kabur dikarenakan kabut yang menyelimuti dirinya.
Tak lama kemudian, kabut-kabut tersebut memudar dengan cepat akibat ayunan tangan Morgan dan kali ini kembali menyerang Black Aura. Untunglah, Black Aura merespon cepat serangan tersebut lalu menghindar.
Kedua remaja itu lagi-lagi terlibat dalam pertarungan sengit hingga lupa akan waktu yang kian larut dalam kegelapan dan kesunyian malam. Suara pedang yang menggores permukaan ogre, suara peluru-peluru yang berjatuhan dan retakkan senjata mereka memenuhi ruangan lantai 1 tersebut.
Chloe hanya bisa berdiam diri. Ia bingung harus berbuat apa selain memandang kedua remaja Aura itu berkelahi.
Kedua matanya menampilkan sosok mereka yang saling beradu senjata. Ada yang terluka dan ada pula yang terhempas lumayan jauh karena serangan.
Di dalam hatinya yang terdalam, Sebuah api berkobar di dalamnya dan membuat gadis itu merasa panas meskipun suhu diluar bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan.
Ia melihat bagaimana Black Aura berusaha sekuat tenaga menyegel lengan ogre Morgan dengan simbol wajik yang telah ia gambarkan di telapak tangannya. Bersamaan dengan Morgan yang tidak mau kalah oleh lawannya.
TRAANG!
Pedang Black Aura terlempar cukup jauh dan tertancap di dinding cukup dalam. Pemiliknya sama sekali tidak merespon. Ia memilih untuk mengeluarkan senjata yang lain berupa sabit kemudian, ia tebas Morgan dengan kekuatan yang telah ia kumpulkan di dalam sabitnya.
Berulang kali Black Aura melakukan itu sampai Morgan benar-benar tak sanggup lagi melawannya.
"Kenapa kau masih belum tidur sementara, Ini sudah larut malam? Mau sampai kapan kau terus bergadang? Sampai kau memilikinya?" Black Aura bersuara ditengah-tengah kesibukannya menyakiti Morgan.
Ia mengayunkan sabitnya ke kiri dan ke kanan sampai segel yang ia pasang ke sabitnya itu benar-benar mengikat tubuh pria tersebut.
"Tunggu dulu! Hentikan!" seru Morgan histeris.
Dari kejauhan, Chloe masih tetap dalam posisinya berdiri tanpa memalingkan pandangannya ke arah yang lain. Dia masih setia memandang Black Aura tanpa melakukan apapun. Karena itu adalah perintah remaja Aura itu.
"Tunggu! Tunggu! Ada sesuatu yang ingin kukatakan!!" jerit Morgan ketakutan.
Black Aura mengernyit bingung. Lalu, menghentikan kegiatannya. "Apa?"
"Kalian pasti tahu 'Aoi', kan?"
Chloe tersentak begitu pria itu menyebut nama Aoi. Ia sadar, pria itu tampaknya ingin bermain-main dengannya kali ini. Namun, Black Aura tetap menyuruhnya untuk diam di tempat. Tapi...
"Ada apa dengan Aoi?!" Chloe spontan berteriak pada Morgan. Ia bahkan memilih untuk menghampiri dua Aura tersebut.
"Beri tahu aku!" Chloe dengan percaya diri mencengkram kerah baju Morgan.
"Oh... Benar juga ya! Aku sahabatnya Aoi. Kau mau tahu dia dimana?"
Mendengar perkataan Morgan yang terdengar licik itu membuat Black Aura curiga. Akan tetapi, tidak bagi Chloe yang sangat menginginkan jawaban yang jelas dari yang bersangkutan.
"Beritahu aku! Dimana dia?! Jangan bilang kau pela...!"
"Dia tidak hilang." Morgan menyela cepat omongan gadis itu.
Chloe sebagai lawan bicaranya tersentak mendengar pernyataan Morgan.
"Apa katamu? Dia tidak hilang?" Chloe kembali mengulangi kalimat yang sama agar lebih jelas lagi apakah yang ia dengar itu benar atau tidak?
Morgan menyeringai. "Aku memang bukan pelakunya. Asal kau tahu ya! Aoi tidak sendirian. Dia bersama Aura gelap yang lain sama sepertimu." Tuturnya. Wajahnya semakin licik ia buat. Ia melirik ekspresi Black Aura yang agak terkejut itu. Ia tahu, bahwa remaja itu juga sedang mencari anggota keluarganya yang hilang.
"Siapa saja yang bersamanya?" tanya Black Aura. Diam-diam, ia sudah mempersiapkan pedangnya andai kata Morgan hanya menjebak mereka.
"Dengar! Yang aku ucapkan ini benar adanya. Aku berbicara sesuai apa yang kulihat dan kurasakan semalam."
Yep, tidak ada respon dari Chloe maupun Black Aura. Mereka tampaknya sangat fokus mendengarkan perkataan Morgan selanjutnya.
"Aoi sahabatmu itu kini bersama Devil Mask."
__ADS_1