Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 129 {Season 2: Carmine}


__ADS_3

Setelah puas berbincang-bincang, Black Aura dan Chloe akhirnya tiba di tempat yang gelap itu. Sama seperti tempat sebelumnya. Ada pohon, rumput, dan suara jangkrik. Yang membedakan adalah tidak ada cahaya apapun di area hutan itu. Dan lagi, tanahnya sedikit lembab dan licin. Jika tidak hati-hati, kedua remaja itu bisa saja terpeleset. Di bawah juga ada jurang. Tidak ada pagar pembatas yang bisa menjadi pegangan mereka andaikata mereka jatuh.


Tatapan Chloe berubah cemas. Yang awalnya bersemangat ingin mendatangi tempat itu malah bergidik ketakutan karena jurang di depannya. Kali ini, Chloe tidak penasaran dengan jurang apalagi yang berada paling bawah. Di seberang juga ada hutan. Akan tetapi, ada secercah cahaya di kejauhan sana. Seperti cahaya lampu.


“Black Aura, di sana itu rumah-rumah ya?” tunjuk Chloe penasaran.


“Iya. Di sana teritorinya Yui.”


“Siapa Yui? Bukannya dia salah satu Legend Aura yang pernah menghancurkan mobilku itu ya?”


Black Aura terkekeh, “Masih ingat aja… Yui yang kali ini berbeda. Dia pengendali elemen air. Anak buahnya juga pengendali elemen. Kau masih ingat Alter dan Ayano? Mereka berdua sebenarnya anak buah Yui. Karena Yui bekerja sama dengan Lady Asoka, maka anak buah mereka dibagi dua.”


“Oh, begitu. Yui itu gimana orangnya? Dia perempuan?” Chloe duduk di pinggiran jurang bersama Black Aira. Tangan keduanya masih tertaut hingga saat ini.


“Dia perempuan. Sekarang sih, dia lagi istirahat. Dia Aura yang merepotkan kalau sudah merasa cemburu.”


“Cemburu? Jadi, kekuatannya muncul karena cemburu? Unik ya!”


Black Aura mengangguk, “Begitulah. Aku lebih memahami dunia ini dan dunia luar aslinya. Kau tahu Carmine, kan? Dari Carmine itu, aku dan dia bertukar informasi lewat pikiran.”

__ADS_1


“Hebat! Selain Midnight, masih ada perempuan lain yang bisa berhubungan dengan Aura langsung ya!”


“Iya… Setelah kutanya pada Midnight mengenai asal-usulku, ternyata aku ini berasal dari perasaan Carmine. Perasaan rasa sakitnya lebih tepatnya. Karena itulah, aku mengerti rasa sakit Aura-aura disini. Semua kekuatan mereka muncul dari emosi manusianya,” jelas Black Aura meskipun dia tidak yakin kalau Chloe akan paham dengan apa yang ia katakan atau tidak.


“Tunggu, itu artinya… Aura-aura di sini berasal dari emosi manusia? Kau berarti dari emosinya Carmine? Tapi, kenapa sifatmu nggak seperti perempuan ya?”


“Karena aku laki-laki. Hei, aku memang tercipta dari rasa sakit Carmine. Tapi bukan berarti sifatku sepenuhnya mirip Carmine. Kau masih ingat kan kalau aku yang pertama kali datar dan nggak punya emosi?”


Chloe mengangguk cepat sekaligus memuji dirinya yang berhasil mengingat kenangan dua bulan yang lalu itu. “Ingat! Datar banget sampai-sampai kalau ngomong tuh yang seadanya di otak aja. Yah, bagaimanapun juga, spesies kalian itu unik ya! Mungkin karena itulah, kalian agak kesulitan pergi ke dunia luar. Kalian itukan dari emosi. Emosi manusia itu kan asalnya dari dalam manusia itu sendiri. Dan Carnater itu seperti ilustrasi bagian dalam perasaan manusia. Ah, aku nggak tahu harus ngomong apa tapi aku mengerti kok.”


Black Aura tidak merespon kali ini melainkan tersenyum lega.


“Karena keinginan Carmine sendiri. Meskipun Midnght itu orang asing, Carmine menganggapnya sebagai kakak sekaligus ibu untuk dia dan kami para Aura. Carmine itu… Yatim piatu seingatku. Aku nggak ingat gimana detail ceritanya kenapa dia bisa jadi yatim piatu. Yang kuingat, dia sangat tertekan dengan kesendiriannya. Dia juga berpikir, kalau keluarganya meninggal karena… Keluarga besarnya sendiri.


“Carmine juga... Nggak mau tinggal dengan kerabatnya. Dia lebih memilih bunuh diri ketimbang tinggal dengan mereka. Ah, aku nggak gitu ingat bagaimana kronologinya dia bisa bertemu dengan Mdnight. Intinya, setelah mereka bertemu, mereka itu seperti kakak dan adik. Aku juga, nggak tahu banyak masa lalu Midnight. Keduanya sama-sama misterius,” ungkap Black Aura panjang lebar.


Nada bicaranya datar. Nada itu membuat Chloe berpikir, Midnight dan adiknya Carmine telah melewati masa yang sangat sulit bahkan sampai di puncaknya. Sampai saat ini pun, mereka belum menemukan titik terang di balik permasalahan ini kecuali mereka harus mau tidak mau mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk terus mencari solusinya.


“Jadi begitu… Sebenarnya, aku ingin menjadi lebih dekat lagi dengan kalian dan… Aku ingin tahu masa lalu Midnight. Bagiku, ibumu itu misterius. Nggak jauh beda denganmu. Masih banyak pertanyaan yang nyantol di kepalaku tapi nggak mungkin ku ungkapkan sekarang. Waktu malam itu singkat. Kita berdua juga butuh istirahat, kan?” Tatapan Chloe yang berbinar itu perlahan memudar karena rasa lelah. Gadis itu tidak sadar melupakan kondisi tubuhnya yang membutuhkan setidaknya setengah jam untuk berbaring. Kedua matanya juga terasa berat.

__ADS_1


“Lain waktu mungkin,” jawab Black Aura seadanya, mengingat tampang Chloe yang seperti orang kelelahan setelah bekerja pagi sampai malam dan pulang pukul dua belas malam. Bukankah melelahkan?


Chloe menguap, setelah itu berkata “Aku ngantuk…” Gadis itu bangkit bersamaan dengan Aura di sampingnya. Tampaknya, tidak ada yang menarik dari tempat yang gelap itu selain rasa bosan yang mereka rasakan. Bercerita seperti tadi sebenarnya cukup menyenangkan untuk dilanjutkan. Hanya saja, mata gadis berambut pirang itu sudah tak sanggup lagi menahan kantuk yang membebani kelopak matanya. Karena itulah, Chloe meminta Black Aura untuk kembali ke kemah dan beristirahat.


Kemauannya dan suasana hati Chloe selalu acak. Awalnya dia menginginkan ‘ini’ tiba-tiba, berubah menjadi ‘itu’. Setelah itu bosan dan kembali ke keinginan yang awal. Kelihatannya, Black Aura harus bersabar sekali menghadapi tipe perempuan seperti Chloe itu. Kadang, Chloe juga bisa seperti anak-anak. Merengek habis-habisan disertai paksaan yang hal itu mudah sekali memancing emosi Black Aura.


Ingat saja kasus dimana Aoi hilang itu. Saat itu, Chloe benar-benar terlahap oleh kesedihan dan kesepian yang berujung menjadi pertengkaran kecil antara dia dengan Black Aura.


“Gendong,” ujar Chloe mengejutkan Black Aura yang melamun.


“Capek,” balas Black Aura sengaja ingin mengetes Chloe yang mengantuk berat itu.


“Gendong!” paksa Chloe. Nada suaranya mulai meninggi. Satu tolakan dari Black Aura maka saat itulah nada tinggi itu berubah menjadi teriakan tegas seolah memang itu keinginannya.


Tidak ingin mengambil resiko pacarnya ngambek, Black Aura memilih untuk menyerah dan menggendong Chloe sampai mereka berdua tiba di perkemahan. Sungguh di luar dugaan, gadis itu langsung terlelap dalam tidurnya saat tubuhnya dibopong oleh Black Aura. Matanya tertutup dengan lembut. Mungkin dia kelelahan setelah seharian bergerak tanpa adanya istirahat.


Black Aura tersenyum melihat wajah yang tengah menikmati mimpinya itu. Memang, Black Aura tidak pernah tidur ataupun berniat untuk tidur. Namun, melihat Chloe yang terlelap dengan nyenyak, membuat Black Aura ingin sekali merasakan yang namanya ‘tidur’.


“Hahh… Good night, Chloe…” lirihnya.

__ADS_1


~


__ADS_2