SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 108


__ADS_3

Sinar kuning kemerahan telah memancar dari timur, seperti menyambut kepulangannya nandi kembali ke kota itu.


Pukul 07:00


Nandi sekeluarga sudah tiba dijalan delima raya, mobil pajero warna putih kini sudah berbelok ke kiri, yang di ikuti oleh mobil honda jaz warna hitam, yang dikendalikan oleh pandi.


Mobilpun terus melaju memasuki gang si'iran, hingga akhirnya kedua mobil itu pun sudah sampai di depan rumah yang bagus dengan textur bangunan yang minimalis elegan, ditambah ornamen-ornamen propil menambah antiknya model rumah tersebut, itulah rumahnya nandi dan sindi, yang baru dibikin samping kanannya rumah pak dirman.


yang kebetulan nandi sudah membeli tanah kosong yang berada disamping rumah orang tuanya.


Yang tadinya nandi pingin bikin rumah ditempatnya sindi berhubung tempatnya yang sempit dan rumah penduduk sudah sangat padat, ditambah udaranya terasa pengap, karena sudah memadatnya rumah-rumah penduduk, berbeda dengan gang si'iran terutama di dekat rumahnya pak dirman masih banyak lahan kosong karena tadinya bekas sawah dan ladang penduduk gang si'iran, yang kebetulan ada warga gang si'iran yang menawarkan tanahnya pada nandi seluas seribu meter, ditambah harganya agak murah, karena orang tersebut sangat membutuhkan dana.


Nah dari situlah nandi punya ide untuk bikin distributor dan rumah untuk tempat tinggalnya bersama istri dan anaknya tercinta.


Setelah itu nandi pun keluar dengan membuka pintu mobilnya, terus nandi membuka pintu depan samping kirinya dan sindipun keluar dengan menggendong dede anggita.


setelah itu di susul oleh pak dirman, buk sari dan buk suminar.


Sedangkan pandi, nina dan astuti pun sudah mulai keluar dari dalam mobilnya.


''Alhamdulilah akhirnya sampai juga kita ke gang si'iran.'' Ucap pandi.


''Iya walau sebenarnya gue masih betah berada disitu, tempatnya enak adem dan bikin suasana menjadi nyaman dan lebih rileks.'' Celoteh nina.


''Kalau pingin lebih lama lagi disana, tinggal mondok aja, seperti santri-santri yang lainnya, selain itu bisa mendapat ilmu agama dan pencerahan jiwa.'' Saut pandi.


''Iya bener nin, apa kata pandi.'' Pungkas astuti.


''Wah kalian sekongkol rupanya.'' Ucap nina.


''Sekongkol gimana maksud lo', kan elo' sendiri yang pingin lama-lama disitu.'' Ujar pandi.


''Ya gue pingin lama itu, bukan berarti gue harus mondok, iya emang bagus sih bisa dapat pahala, tapi gue belum siap kalau harus jadi santri wati.'' Ucap nina.


''Ya sudah kita ngobrolnya di dalam aja yu.'' Ajak astuti.


Setelah itu nina dan pandi mengikuti astuti masuk kerumahnya pak dirman, terus mereka menurunkan tubuhnya duduk di sopa diruangan tamu.


''Kalian mau minum apa?.'' Tanya astuti pada nina dan pandi.


''Gue sih ikut sama lo' aja tut.'' Jawab nina.


''Kalau gua kopi aja, biar lebih rilek.'' Jawab pandi.


''Oke, tunggu ya gue mau ganti salin dulu.'' Ujar astuti.


Setelah itu astuti pun sudah muncul dengan membawa minuman, dua gelas jus alpuket yang ditambah susu, dan es batu dan satu gelas kopi hitam, yang masih mengepul.


''Ini buat lo' aa pandi, kopi hitam, kopinya anak muda.'' Ujar astuti.


''Yoo'ii tanks ya tut.'' Ucap pandi.


''Oke siip.'' Jawab astuti.

__ADS_1


Setelah itu mereka bertiga asik ngobrol diruangan tamu, sambil menikmati minumannya.


Sementara nandi dan sindi setelah menidurkan dede anggita iapun lalu keluar dari kamarnya dan duduk di kursi.


Sedangkan buk suminar, ibunya sindi diajak sama buk sari kerumah.


''Sayang bikinin kopi dong.'' Ucap nandi.


''Baik suamiku.'' Saut sindi.


Sindi lalu pergi ke ruang dapur untuk bikinin kopi suaminya.


Setelah kopi selesai di bikin sindi kembali keruang tengah dimana nandi lagi duduk menanti sang istri membawa secangkir kopi.


''Ini kopinya suamiku.'' Ucap sindi.


''Terima kasih istriku sayang.'' Ujar nandi sambil menatap wajah istrinya.


Sindi merasa aneh dengan tatapan nandi seperti ada yang akan di utarakannya.


''Kenapa aa menatap ku seperti itu?.'' Tanya sindi.


''Ooh nggak, cuma menatap ko gak boleh sih.'' Ucap nandi.


''Ya boleh atuh, lebih dari itu juga, kan aku istrimu yang sah secara hukum dan agama, kenapa tidak, cuma aneh saja, tidak biasanya tatapan suamiku begitu intens.'' Saut sindi.


Nandi hanya tersenyum sembari nenyeripit kopi dalam gelas, lalu di hembuskannya asap putih dari mulutnya.


Setelah nandi berkata begitu terus sindi berpikir dan akhirnya mengerti apa arti tatapan dari suaminya itu.


''Ooh iya, ma'ap ya aa ku belum paham tadi, sekarang ku mengerti, ayo atuh aa.'' Ucap sondi.


''Ayo kemana?.'' Tanya nandi pura-pura gak ngerti.p


''Tuh kan aa suka gitu deh, ya sudah atuh, ku mau masak.'' Saut sindi kesel.


''Ternyata istriku ini suka pundungan ya.'' Ucap nandi langsung beranjak dari tempat duduknya.


Ketika sindi mau melangkah kedapur untuk memask, nandi langsung meraih tubuh sindi dan langsung digendong masuk kedalam kamar.


Rupanya nandi menatap istrinya ingin mencurahlan rasa kangennya pada sindi, setelah nandi berada di dalam kamar lalu tubuh sindi direbahkan diatas kasur, dan nandi membalikan badannya untuk menutup pintu dan dikancingnya dari dalam.


Setelah itu nandi duduk di kasur di sampingnya sindi, terus nandi menurunkan tubuhnya, lalu mendaratlah sebuah cumbuan mesra dan lembut terasa oleh sindi.


Kini pasangan suami istri begitu romantisnya ketika mereka saling berbagi kasih.


......................


Sementara ditempatnya distributor, disebuah pos penjaga, kamal, dan kawan-kawan lagi asik menikmati se cangkir kopi, dan hisapan-hisapan dari sebuah roko yang sesekali mereka saling menghembuskan asap putih keluar dari mulutnya, membuat ruangan pos yang kecil itu menjadi gumpalan asap.


''Waduuuh, sampai perih nih mata gua.'' Ucap doni.


''Iya nih bang, diluar aja kita ngobrolnya, nanti bang nandi marah, pos belum dipakai sudah bau tembakau lagi.'' Pungkas toglo.

__ADS_1


''Ya sudah.'' Saut kamal.


''Btw, hasan bin maun kemana?, ko kagak kelihatan?.'' Tanya kamal.


''Tadi dia bilang sama gua, katanya mau pulang, mau nganterin dulu anaknya sekolah.'' Saut gito.


''Ooh gitu, pantesan dari tadi gua tidak melihatnya.'' Ujar kamal.


''Ah e'lo giliran gak ada di tanyain, kalau lagi ada kaya tomy and jery.'' Saut gito.


''Iya bener, bang kamal dan bang hasan itu selalu saja ribut, tapi bagus sih suasana malah seperti hidup tidak sepi.'' Ucap toglo.


''Idiiih nih bocah seneng ye, bila melihat gua selalu ribut sama hasan.'' Ucap kamal.


''E'eeh perasa'an tadi ada suara mobil, apa nandi sudah pulang.'' Pungkas gito.


''Kayanya sih itu suara mobilnya pajero sama mobil honda jaz miliknya nina.'' Pungkas doni.


Setelah itu toglo keluar keluar dengan membuka pintu gerbang distributor, terus berjalan kearah rumah nandi dan pak dirman, nampak terlihat oleh toglo mobil nandi dan mobilnya nina sudah terparkir di depan halaman rumah.


Terus toglo masuk lagi, memberi tahu pada kamal bahwa nandi sudah pulang.


''Iya bener bang, bang nandi sudah pulang.'' Ujar toglo.


''Kalau begitu lo cepetan buka pintu roling dor bengkel dan kantor, nanti kena omel lagi, kan juru kuncinya elo' toglo.'' Ucap kamal.


''Oke bang.'' Saut toglo.


Disa'at toglo mau berjalan kearah bengkel yang ada di luar disampingnya distributor, tiba-tiba nandi datang, menyapa toglo.


''Kamu mau kemana glo?.'' Tanya nandi.


''Mau buka pintu rolling bang.'' Jawab toglo.


''Tidak usah, hari ini tidak ada aktipitas dulu, kamu kan cape semalaman jaga sampai pagi, dan nenekmu kasihan sendirian, besok baru mulai lagi masuk kerja, sekalian ada yang mau dites gelombang kedua.'' Ucap nandi.


''Ooh ya sudah, kalau begitu, ku mau pulang dulu atuh.'' Saut toglo.


''Nanti dulu, terus yang lainnya kemana?.'' Tanya nandi.


''Ada di dalam bang.'' Jawab toglo.


Setelah itu nandi pun kedalam yang di ikuti oleh toglo, setelah tiba di dalam di sebuah ruang peristirahatan, kamal, gito dan doni lagi duduk santai sambil menghisap roko.


''Assalam mualaikum.'' Sapa nandi pada sahabatnya itu.


''Wa alaikum salam di, tumben jam segini sudah di rumah, biasanya suka agak sorean.'' Ujar kamal.


''Iya tadinya sih gua masih pingin di sana dulu, berhubung ada masalah semalam disini, jadi gua percepat pulangnya.'' Ucap nandi.


Terus nandi pun menanyakan perihal para perampok bercadar itu, dan kamal menceritakan apa adanya, tidak ada yang di tambahin atau dikuranginin.


''Kalau pingin jelasanya orang yang lehernya membengkak itu, tanyakan aja pada toglo.'' Ucap kamal sambil menunjuk ke arah toglo.

__ADS_1


__ADS_2