
Pagi itu cuaca nampak cerah, langit pun nampak membiru di sertai dengan awan putih salju yang terlihat tenang.
Di Gang Si'iran di sebuah rumah besar dengan model Arsitextur clasik elegan minimalis.
Anggita yang sudah siap-siap dengan tas sekolahnya yang sudah di gendong untuk berangkat sekolah.
Nandi pun sudah menyalakan motor Rx king nya, guna mengantarkan Anggita ke sekolah.
"Buk aku berangkat dulu ya." Panggil Anggita pada Sindi.
Sindi yang lagi memasak di dapur langsung bergegas pergi menemui Anggita di depan rumah.
Kemudian Anggita pun mencium punggung telapak tangannya Sindi.
"Hati-hati sayang, jangan nakal ya." Ujar Sindi.
"Iya Buk."
Anggita pun langsung naik pada motor Rx king tersebut dan duduk di jok belakangnya Nandi, setelah itu Nandi langsung menarik gasnya, dan motorpun melaju meninggalkan Sindi yang lagi berdiri menatap kepergiannya Anggita yang di bonceng oleh Nandi.
Tidak lama kemudian mereka pun telah sampai di sekolah, lalu Anggita turun dari motor, baru saja ia mau berslaman sama Nandi, ada suara yang memanggilnya.
"Dek Anggita." Panggilnya.
Anggita menolehkan pandangannya ke pusat suar tersebut.
"Eeh kak Wiwin." Jawab Anggita.
Ternyata yang memanggil Anggita adalh Wuwin yang baru tiba dengan di antar oleh Toglo naik sepeda.
Kebetulan Anggita satu sekolah sama Wiwin, Wiwin duduk di bangku kelas enam sedangkan Anggita duduk di bangku kelas empat.
Setelah itu Toglo berjalan menghampiri Nandi sambil bersalaman.
"Selamat pagi pak Bos." Sapa Toglo.
"Pagi Glo, kebetulan sekali kita bisa barengan sampainya." Ujar Nandi.
"Iya pak Bos, biasanya kita gak pernah barengan begini, kalau gak aku duluan, pak bos lebih dulu mengantar dek Gita." Ujar Toglo.
Setelah Anggita dan Wiwin sudah memasuki kelasnya masing-masing, Nandi dan Toglo pun langsung bergegas pergi keluar dari halaman sekolah.
Nandi melaju dengan sangat pelan yang di ikuti oleh Toglo, karena arah Toglo sejalan dengan Nandi menuju Gang Si'iran karena sehabis mengantarkan Wiwin Toglo selalu langsung ke tempat kerja.
Sepuluh menit kemudian mereka pun telah sampai, sementara Toglo langsung menuju bengkel.
............................
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
Di sebuah sel penjara, di sektor polres, Seorang tahanan yang bernama Handoko hari itu telah di bebaskan dari hukum yang telah menjeratnya.
Kulit yang putih bersih kini telah di penuhi oleh bulu kumis dan jambang, Ceo yang telah di jabatnya di perusaha'an suplier semasa ia belum masuk penjara, kini harus kehilangan semuanya
Tersirat di wajah lelaki itu suatu dendam yang membara terhadap pemilik Distributor PT Anggita Surya Mandiri.
Setelah keluar dari sel, ia duduk termenung di pinggiran trotoar memikirkan nasib yang kini telah menimpanya, dengan jaket levis warna telor asin yang sudah lusuh yang kini ia kenakan.
"Hilang sudah semua harapan dan masa depanku, mungkin kah istriku mau menerimaku lagi, ataukah mungkin ia sudah pindah ke lain hati." Gumamnya dalam hati.
"Berengsek, ini semua gara-gara si Nandi, gue harus balas rasa sakit hati gue, tapi bagai mana caranya, sedangkan gue tidak bisa ilmu bela diri, andaikan gue nyuruh orang tentu harus pakai upah yang tidak sedikit." Lanjunya bermonolog.
Ketika itu pula nampak terlihat di jarak tiga ratus meteran sebuah mobil mikrolet melaju, lalu Handoko mencegatnya. Dan sang sopir mikrolet itu pun menghentikan laju kendara'annya, Handoko lalu naik dan duduk di jok yang masih terlihat kosong.
"Bang Mengkudu Raya." Ujar Handoko.
"Oke Bang." Ujarnya sambil menginjak gas dan mobil pun melaju dengan kecepatan enam puluh kilo meter.
Tak lama kemudian mikrolet behenti, Handoko pun lalu keluar dan membayar ongkosnya, kemudian ia berjalan memasuki gang menuju ke rumahnya, setiba di sebuqh rumah yang ia kenali bahwa itu adalah rumahnya, Handoko mendekat ke arah pintu masuk.
Tok
Tok
Tok
"Anda siapa?." Bertanya.
Handoko sejenak termenung dan menatap sang pemilik rumah dengan intens.
"Seharusnya saya yang bertanya begitu, siapa anda, kenapa ada dirumah gue?." Handoko balik bertanya.
"Ma'af Mas saya beli rumah ini empat tahun yang lalu, kalau Mas tidak percaya sebentar saya ambilkan surat jual belinya." Ujarnya sambil membalikan badannya mau masuk ke dalam, tapi langkahnya terhenti ketika Handoko menahannya.
"Tidak usah Mas, saya percaya." Ujar Handoko sambil melangkah berbalik arah dan melangkah pergi, kemudian Handoko di kagetkan oleh suara yang menegur diriya.
"Handoko, ini benar Handoko?." Tegur lelaki paru baya.
Handoko pun menoleh ke arah suara yang menegur dirinya, nampak seorang yang tidak asing lagi di mata Handoko.
"Pak Rt." Jawab Handoko singkat.
"Kamu sudah terbebas dari masalahmu, syukurlah, dan saya pun turut prihatin atas nasib yang menimpa keluargamu, istri dan anakmu harus menjual rumah untuk menutupi hutang piutangnya." Ujar pak Rt.
"Iya pak Rt, itu semua karena kelakuan saya yang sudah menelantarkan anak dan istri." Tutur Handoko menyadari.
__ADS_1
"Lalu sekarang kamu mau kemana, apa mau menyusul istrimu ke kampung." Ujar pak Rt.
"Tidak pak, saya akan mencari kerjaan baru, barang kali ada yang mau menerima saya bekerja." Ujar Handoko.
"Ooh begitu, ya sudah kamu hati-hati." Ujar pak Rt.
"Iya pak terima kasih."
Setelah itu Handoko pun pergi dari tempat itu, berjalan mengikuti kata hatinya.
"Harus kemana ku mencari pekerja'an, sangat tidak mungkin saya melamar pada perusaha'an yang pastinya namanya Handoko sudah di blok, karena ulah saya sendiri yang merugikan perusaha'an, Ini semua karena Nandi tunggulah pembalasanku Nandi, saya pastikan kamu dan keluargamu akan menderita." Gerutu Handoko bermonolog.
Lelaki yang pernah menjabat Ceo di salh satu perusahaan suplier ini, kini seperti hilang kendali dan akal sehatnya, yang ada di pikirannya hanya sebuah dendam yang begejolak pada Nandi Suryaman.
..........
Satu tahun kemudian.
Handoko sudah cukup sukses dengan bisnisnya, dia bergerak dalam bisnis ilegal.
Mulanya Handoko di ajak gabung oleh seorang pemuda yang bernama Ricad anggota sebuah kelompok geng Mavia kelas kakap, karena kepintaran dan ke inginannya Handoko yang begitu kuat,akhirnya reputasinya sangat bagus dan di beri kepercaya'an sama Bos besar untuk memegang satu wilayah untuk memasok barang bisnisnya.
Nama Handoko kini sudah cukup di kenal di kalangan para Mavia, dan ia pun sudah memiliki anggota yang lumayan banyak dan semua nya jago bela diri, karena di dunia mavia ilmu bela diri menjadi satu keharusan dan di nomor satu kan serta di utamakan suatu pemikiran yang cerdas.
Waktu itu Handoko lagi mengadakan rapat atau meeting dengan para anggotanya, tentang pemasokan barangnya ke luar negri, yang telah di hadiri pula oleh Bos besarnya yang punya kuasa penuh, Nama Jendra cobert sudah sangat di kenal di dalam negri malahan ke manca negara sekali pun nama Jendra cobert sudah tidak asing lagi, di kalangan dunia mavia salah satu geng mavia terkuat di kota itu.
"Kali ini kita akan memasokan barang kita ke negri bambu, saya harap semua berjalan dengan mulus." Ujar Jendra Cobert salah satu Bos besarnya.
"Baik Bos, kami akan berusaha semaksimal mungkin supaya barang-barang kita bisa masuk dengan selamat." Ujar Handoko.
"Bagus itu, apa sudah ada kabar dari sana kapan kita akan mulai memasokan barang-barang kita?." Tanya Jendra Cobert.
"Tiga hari lagi Bos, karena hari ini dan besok cuaca sangat tidak bagus." Ujar Handoko.
"Oke, dan kamu sudah pastikan semua titik akan aman." Ujar Jendra Cobert.
"Saya sudah menyimpan anak buah saya di berbagai titik rawan Bos, dan akan di usahakan semua berjalan dengan lancar." Ujar Handoko.
"Oke, saya percayakan sama kamu Handoko, ingat di dalam bisnis Ini, jangan pernah melibatkan masalah pribadi dengan kelompok Geng kita, terkecuali sudah menyangkut masalh geng kita, baru kita bertindak.
"Oke Bos di jamin semua akan baik-baik saja."
Setelah rapat di tutup, dan Bos besarpun sudah pergi meninggalkan tempat itu, Handoko beserta anak buah pilihannya, Pergi ke suatu tempat.
Untuk melancarkan bisnisnya, dengan menetapkan orang-orang pilihannya di setiap titik yang tebilang cukup rawan, tapi nasib baik lagi berpihak pada Handoko beserta anak buahnya, di suatu hari yang telah di tetapkan, transaksi pun berhasil dan bisa lolos.
Singkat cerita.
__ADS_1
Keberhasilannya Handoko dalam memasokan barang ilegalnya ia beserta anak buahnya dapat meraih keuntungan yang sangat besar.
Jentra Cobert kini semakin di takuti oleh geng-geng mavia di semua wilayah, dan anggotanya pun semakin bertambah banyak jaringannya pun semakin melebar.