SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 202


__ADS_3

Ketika semua anggota tengkorak merah sudah tumbang, nampak dari kejauhan terdengar suara motor dan suara alarm mobil petugas kepolisian, yang di pimpin oleh Astuti yang berboncengan dengan Mira.


Setelah para petugas kepolisian tiba Tujuh orang anggota kepolisian itu langsung keluar dari dalam mobilnya sambil menodong kan becengnya pada orang-prang yang ada di situ.


"Jangan bergerak."


Nandi dan yang lainnya pun langsung mengangkat kan kedua tangannya ke atas.


"itu pak para tengkorak hitam." tunjuk Aatuti pada para anghota kepolisian.


Kemudian satu persatu anggota ke polisian tersebut memburu pada anggota tengkorak hitam dengan memborgol tangan nya masing-masing.


"Sepertinyw saya sangat mengenal dengan sosok anda." Ujar komandan polisi.


Kemudian Nandi pun memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Nandi, abangnya dari Astuti, cewe yang bersama bapak kemari." Ujar Nandi sambil mengulurkan tangannya.


"Ooh jadi anda yang bernama Nandi, nama mu sudah cukup di kenal di seluruh wilayah kota ini, dari pihak kami pun sudah mendengar namamu, yang sudah banyak membantu kami para polisi dalam menangkap para mavia." Ujar pak polisi.


"Bapk terlalu berlebihan menilai kami." Ujar Nandi.


"Apa? anda barusan bilang kami." Ucap polisi bertanya.


"Iya pak saya tidak sendiri, saya di bantu sama sahabat-sahabat saya, yaitu para pamili Gang Si'iran." Ujar Nandi.


kemudian para polisi pun sudah mengamankan para kawanan tongkorak hitam satu persatu di bawa masuk ke dalam mobil untuk di adili atas tingkah lakunya yang banyak meresahkan masyarakat, terutama yang menjadi sasaran mereka adalah para pemuda yang masih labil jiwanya, sebagai generasi penerus bangsa kini harus kehilangan masa depannya karena sudah termakan barang haram yang di dapatnya dari para anggota tengkorak hitam.


Kemudian sang komandan polisi itu mendekat ke arah Nandi yang lagi melakukan pertanya'annya pada ketua tengkorak hitam yang masih belum menyebutkan identitas dirinya.


"Sekarang sebutkan siapa anda sebenarnya, kenapa anda bisa mengetahui keadaan gua dan keluarga gua." Ujar Nandi emosi.


Setelah itu Astuti yang seperti mengingat di saa'at-sa'at dirinya lagi berada antara sadar dan tidak sadar di sa'at obat bius yang sudah mulai menghilang perlahan, sepintas sempat melihat ketua dari tengkorak hitam kalau mau melakukan aksinya ia selalu mengenakan sebuah kedok utuk menutupi wajah aslinya, dengan sebuah topeng kulit yang sama serupa dengan warna kulitnya dengan kulitnya.


"Ooh iya mungkin ketua itu abang akan mengenalnya, setelah kedoknya itu terbuka." Ujar Astuti.


"Maksud dek Tuti?." Tanya Nandi.


"Gue sempat melihat, walau waktu itu gue antara sadar dan tidak sadar karena obat bius, dia selalu mengenkan kedok untuk menutupi wajahnya." Ujar Astuti.


Lalu sang komandan polisi itu, menurunkan tubuhnya sambil berkata pada Nandi.


"Biarlah saya yang membuka nya, pak Nandi." Ujar komandan polisi itu sambil memanggil salah satu dari anak buahnya.

__ADS_1


Lalu anak buah dari polisi itu bergegas mendekati komandannya dan berkata.


"Ia komandan ada yang perlu saya kerjakan." Ujarnya.


"Coba kamu periksa, buka dua kancing di kemeja putih ketua mavia ini, apa benar ia selalu mengenakan topeng." Suruh sang komandan.


"Bailklah." Jawabnya sambil membukan dua kancing baju ketua dari tengkorak hitam itu.


Ketua tengkorak hitam tidak terima kalau identitas akan di ketahui oleh semua orang terutama oleh Nandi.


"Kalian apa-apa'an sih, gue gak terima kalian bersikap tidak sopan pada saya." Bentaknya.


"Diam kau bajingan, jebrood." Ujar Nandi sambil melancarkan pukulan elbonya pada ketua tengkorak hitam tersebut, yang akhirnya ia lemas dan terkulai.


Maka salah satu anggota polisi itupun langsung memeriksa pas di bagian dadanya yang tertutup oleh kameja putih bagian atasnya, ada sambungan kulit yang menggurat.


"Iya betul pak, orang ini mengenakan topeng kulit Hallowen wajah mavia." Ujarnya.


"Ya sudah sekarang kamu buka, tapi pelan-pelan bukanya jangan sampai terjadi sesuatu pada kulit wajahnya." Ujar sang komandan.


"Baik pak." Jawabnya.


Selepas itu, anggota polisi itu membuka topeng kulit yang menutupi seluruh anggota tubuh di bagian kepala ketua dari mavia tengkorak hitam itu, dengan secara pelan dan perlahan.


"Johaaan." Ucap Nandi.


Komandan polisi itu pun lalu melemparkan pertanya'annya pada Nandi.


"Pak Nandi kenal dengan orang ini?." Tanyanya.


"Iya, bukan kenal-kenal lagi, ini Johan teman SMA saya dulu pak, saya gak nyangka kalau dia jadi berubah begini pantesan saja dia sangat tau tentang diriku dan keluargaku." Jelasnya Nandi.


"Apa sebelumnya pak Nandi kenal baik dengan orang ini?." Komandan polisi lanjut bertanya.


"Iya pak, johan ini sahabat terdekat saya sewaktu di bangku sekolah menengah atas, dan ia juga sering main kerumahku, bahkan di antara aku dan Johan pernah saling mengemuka kan cita-citanya." Ujar Nandi.


"Cita-cita apa saja yang pernah pak Nandi dan johan ini ucapkan?." Komandan lanjut bertanya.


"Saya pribadi pernah bercita-cita di hadapan Johan, ingn menjadi orang yang berguna bagi orang-orang yang membutuhkan." Ujar Nandi.


Lalu komandan polisi itupun memotong pembicara'an Nandi.


"Cita-cita pak Nandi sangat mulia, dan tuhan telah mengabulkannya." Ujarnya.

__ADS_1


"Lalu cita-cita dari saudara Johan ini apa?." Ujar pak komandan lanjut bertanya.


"Johan pernah menyerukan cita-citanya, ingin menjadi bos besar di kota ini, saya pun hampir sepuluh tahun berpisah dengannya, dan hilang kontak dengan Johan, dan sekarang kenapa harus bertemu dengan cara begini saya pun tidak menyangka bahwa Johan akan menjadi seorang bos besar, tapi sayang jalan hidup yang ia tempuh telah menyalahi aturan hukum dan agama." Ujar Nandi.


"Ya karena ini semua sudah menjadi takdir perjalanana hidupnya harus seperti ini, kalau begitu Pak Nandi dan semuanya saya pamit dulu untuk membawa mereka guna mempertanggung jawabkan atas segala apa yang mereka perbuat selama ini." Ujar pak komandan polisi sambil membawa Johan yang nampak terlihat masih lemas.


"Iya pak, hukum aja sesuai hukum yang berlaku, tapi ingat tolong jangan sakiti dia ya pak, karena biar bagaimanapun Johan pernah menjadi bagian dari hidup saya." Pinta Nandi.


"Se orang Bandar apalagi pemasok barang haram, hukumannya sangat berat pak Nandi." Ujar sang komandan.


Nandi hanya terdiam sejenak sambil berpikir, lalu berkata. "Iya pak saya pun paham, hukuman apa nantinya yang akan di alami Johan, kalau pun itu terjadi, pastinya itu karma atas apa yang telah dia lakukan selama ini, ya saya cuma berharap semoga Johan bisa kembali ke jalan yang benar." Gerutu Nandi.


Setelah kepergiannya para petugas kepolisian itu Nandi beserta para pamili Gang Si'iran, langsung memburu pada kendara'annya masing-masing.


Mira yang yang tadinya berangkat sama Astuti, kini berboncengan dengan Gito, begitupun Astuti ia di bonceng oleh suaminya yaitu Kamal.


Kini para pasukan berani mati dari kubu Pamili Gang si'iran sudah melaju di jalan raya, menuju pulang ke gang Si'iran.


Nandi yang berboncengan dengan Toglo berada di garis depan yang di ikuti dengan yang lainnya.


Dalam iring-iringannya Nandi bersama para pamili Gang Si'iran tak luput dari perhatian orang-orang yang pro dan kontra atas aksinya para pamili Gang Si'iran.


Yang pro terhadap pamili Gang Si'iran tentu yang setuju atas petualangannya Para pamili Gang Si'iran dalam menegak kan ke adilan dan yang kontra tentunya saja hanya segelintir orang-orang atau kelompok yang membenci atas petualangannya dalam memberi pertolongan pada orang-orang yang tertindas.


seperti empat buah bola mata yang lagi terus mengawasi Nandi dan para pamili Gang Si'iran dalam perjalanannya pulang dengan sangat pelan dalam menjalankan kendara'annya, terus mengintai dari kendara'annya yang berada di belakangnya para pamili Gang Si'iran.


"Coba kamu lihat para pamili Gang Si'iran mendapat sambutan yang meriah dari orang-orang pro terhadapnya." Bisiknya.


"Kita lihat saja, sampai di mana para pamili Gang Si'iran bisa bertahan dalam membela orang-orang lemah, kali ini Nandi boleh berbangga atas kekalahannya Si Johan, tapi tunggulah ada saatnya kau jatuh Nandi." Balik berbisik.


Begitulah kehidupan seperti arus listrik ada ion positip dan ion negatip, kebaikan Nandi dan para sahabatnya tak luput dari incaran orang-orang atau kelompok yang membenci dirinya dan para sahabatnya.


Karena di dunia ini kejahatan da kebaikan selalu berdampingan, kejahatan tidak akan musnah selama dunia ini belum di hancurkan oleh sang murbeng alam(Tuhan yang menciptakan langit dan bumi berikut seluruh isinya) karena setan akan terus menghasut manusia untuk menjadi pengikutnya nanti kelak di alam ke abadian, alam setelah hancurnya dunia dan seluruh isinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung


mohon maap yang sebesar besarnya kalau Author jarang update, karena kondisi kesehatan yang belum benar membaik.


Terima kasih pada semua yang telah dengan setia memberikan dukungannya.


Salam sehat sejahtera dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2